Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar kantor baru Arlan Corp di lantai teratas gedung pusat kota. Arlan meletakkan kartu nama hitam pekat dengan logo rajawali itu di atas meja kerja kayu jati miliknya yang masih bersih. Siska berdiri di dekat jendela sambil memegang cangkir kopi, sementara Maya duduk di depan tiga monitor besar yang menampilkan data integrasi Federasi Logistik Terbuka.
"Arlan, kartu nama itu tidak memiliki nomor telepon atau alamat situs web," kata Siska sambil menatap kartu hitam tersebut dari kejauhan.
"Benda ini memang bukan dimaksudkan untuk dihubungi, Mbak Siska. Ini adalah sebuah pernyataan kehadiran," jawab Arlan dengan nada suara yang tenang.
Arlan menyentuh ujung kartu tersebut dengan jari telunjuknya. Dalam pandangan visualnya yang tidak bisa dilihat orang lain, sistem mulai memproses data yang tersembunyi di balik serat kertas kartu tersebut.
[Sistem: Mendeteksi Chip RFID Mikro di Dalam Kartu] [Status: Mengunduh Profil Perusahaan Megantara Global Division] [Data Terenkripsi: Aquila Logistics, Singapura. Aset: 4.500 armada udara dan laut. Fokus: Akuisisi Agresif.]
Arlan menarik tangannya kembali setelah informasi tersebut terserap sepenuhnya ke dalam memorinya. Ia tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun di depan rekan-rekannya.
"Maya, bagaimana perkembangan migrasi data dari server lama ALN ke infrastruktur kita?" tanya Arlan sambil mengalihkan perhatian ke arah monitor.
"Sembilan puluh persen selesai, Arlan. Tapi aku menemukan banyak sekali 'pintu belakang' yang sengaja ditinggalkan oleh tim teknis Wiratama di dalam sistem," jawab Maya sambil terus menekan tombol pada papan tik dengan sangat cepat.
"Tutup semuanya tanpa sisa. Kita tidak ingin ada mata-mata digital yang melihat bagaimana federasi ini bekerja sekarang," perintah Arlan dengan nada yang sangat berwibawa.
Siska berjalan mendekati meja Arlan dan meletakkan cangkirnya. Ia tampak sedikit ragu sebelum akhirnya bicara.
"Pak Ketua baru saja menelepon. Beliau meminta kita hadir dalam rapat perdana dewan direksi FLT sore ini untuk membahas standarisasi tarif nasional," ucap Siska sambil melihat agenda di tabletnya.
"Sampaikan pada beliau bahwa kita akan hadir. Tapi pastikan Ibu Sari juga ikut serta sebagai penasihat strategis kita," jawab Arlan.
"Ibu Sari sedang berada di bank untuk mengurus pembukaan blokir rekening yayasan milik ayahku. Beliau akan langsung menyusul ke kantor federasi," kata Siska sambil mengangguk pelan.
Arlan bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju jendela besar. Ia melihat pemandangan kota Jakarta yang mulai dipenuhi oleh truk-truk logistik dengan logo baru Federasi Logistik Terbuka.
"Mbak Siska, menurutmu kenapa Megantara Global mengirimkan kartu itu lewat kurir biasa?" tanya Arlan tanpa menoleh.
"Mereka ingin kita tahu bahwa mereka bisa menyentuh kita kapan saja, bahkan di tengah kemenangan kita yang paling besar," jawab Siska dengan nada suara yang serius.
"Itu adalah taktik intimidasi klasik. Mereka ingin kita merasa tidak aman di kantor sendiri," sahut Arlan sambil berbalik badan.
Tiba-tiba, salah satu monitor di meja Maya mengeluarkan suara peringatan yang sangat nyaring. Maya segera memutar kursinya dan menatap layar dengan mata yang membelalak.
"Arlan! Ada upaya peretasan besar-besaran pada gerbang pembayaran federasi!" teriak Maya sambil jarinya menari di atas papan tik.
"Dari mana asalnya?" tanya Arlan sambil melangkah cepat menuju meja Maya.
"Alamat IP asalnya terlacak dari Singapura, tapi mereka menggunakan ribuan pelayan bayangan untuk menyamarkan jejaknya," jawab Maya dengan napas yang mulai memburu.
Arlan berdiri tepat di belakang Maya. Ia melihat barisan kode merah yang mencoba menembus dinding pertahanan Arlan Corp. Dalam hitungan detik, sistem dalam diri Arlan memberikan solusi instan.
{Sistem, aktifkan Protokol Pembalasan Digital. Alihkan lalu lintas peretasan kembali ke server pengirim.}
[Sistem: Protokol Aktif. Menginisiasi 'Mirroring' Data dalam 3... 2... 1...]
"Maya, biarkan mereka masuk ke dalam kotak jebakan nomor empat yang kita buat kemarin," perintah Arlan secara lisan untuk menutupi intervensi sistemnya.
"Tapi itu sangat berisiko, Arlan!" sahut Maya dengan nada cemas.
"Lakukan saja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya mereka cari di dalam sistem kita," jawab Arlan dengan penuh percaya diri.
Maya mengikuti instruksi Arlan. Ia membuka akses ke sebuah server tiruan yang berisi data palsu. Seketika itu juga, pergerakan peretasan melambat dan mulai tersedot ke dalam area isolasi yang sudah disiapkan.
"Mereka sedang mengambil data palsu tentang jalur distribusi baru kita di wilayah timur," ucap Maya sambil memperhatikan grafik unduhan.
"Bagus. Biarkan mereka berpikir bahwa mereka sudah menang," kata Arlan sambil tersenyum tipis.
Siska yang sejak tadi memperhatikan dari samping meja merasa ada sesuatu yang aneh dengan ketenangan Arlan. Ia merasa Arlan seolah-olah sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum Maya melaporkannya.
"Arlan, bagaimana kamu bisa begitu yakin bahwa mereka akan mengincar data jalur timur?" tanya Siska dengan nada penuh rasa ingin tahu.
"Megantara Global tidak akan mengincar apa yang sudah kita kuasai. Mereka akan mencoba memotong langkah kita di wilayah yang baru akan kita kembangkan," jawab Arlan dengan penjelasan yang sangat masuk akal secara bisnis.
Setelah serangan peretasan mereda, suasana kantor kembali menjadi sunyi. Namun, kedamaian itu hanya berlangsung sebentar ketika pintu lift kantor terbuka dan Tegar masuk dengan langkah yang sangat terburu-buru.
"Mas Arlan! Ada masalah di gudang utama kita yang ada di pinggiran kota!" teriak Tegar sambil memegang ponselnya yang masih menyala.
"Masalah apa, Tegar? Bukankah penjagaan di sana sudah ditingkatkan?" tanya Arlan sambil menghampiri Tegar.
"Seluruh armada truk kita yang baru saja dipasangi perangkat pelacak Arlan Corp mendadak mati mesin secara bersamaan saat sedang dalam perjalanan!" jelas Tegar dengan wajah yang penuh keringat.
Arlan terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa serangan Megantara Global bukan hanya terjadi di dunia digital, melainkan juga secara fisik pada aset perusahaan mereka.
"Berapa banyak truk yang terdampak?" tanya Siska dengan nada yang sangat khawatir.
"Dua puluh unit truk pengangkut bahan pangan untuk wilayah ibu kota. Mereka semua mogok di tengah jalan tol sekarang juga," jawab Tegar.
Arlan segera memfokuskan pikirannya pada sistem panduan kariernya. Ia ingin tahu apakah ada malfungsi teknis atau intervensi sinyal jarak jauh yang menyebabkan hal itu terjadi.
[Sistem: Terdeteksi Sinyal EMP (Electro-Magnetic Pulse) Skala Kecil di Sepanjang Jalur Tol Barat] [Status: Perangkat Pelacak Arlan Corp Mengalami Hubungan Arus Pendek]
Arlan mengepalkan tangannya. Serangan ini sangat terencana dan bertujuan untuk merusak reputasi Arlan Corp sebagai penyedia teknologi logistik yang andal di mata para anggota federasi.
"Maya, kirimkan tim teknis lapangan sekarang juga. Tegar, hubungi pengelola jalan tol dan minta izin untuk melakukan evakuasi darurat," perintah Arlan.
"Mas, kita butuh waktu lama untuk memperbaiki sirkuit yang terbakar itu," sahut Tegar dengan nada putus asa.
"Gunakan unit cadangan yang ada di gudang terdekat. Jangan biarkan pengiriman itu terlambat lebih dari dua jam," jawab Arlan dengan nada yang sangat tegas.
Saat Tegar dan Maya sibuk menjalankan perintah, Arlan kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil kartu nama hitam itu dan membakarnya menggunakan korek api yang ada di laci meja.
"Mereka baru saja menyatakan perang terbuka, Mbak Siska," ucap Arlan sambil melihat abu kartu itu jatuh ke asbak.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Reputasi kita sedang dipertaruhkan," tanya Siska sambil berdiri di samping Arlan.
"Kita akan menyerang balik ke tempat yang paling menyakitkan bagi mereka. Mbak Siska, tolong hubungi Kapten Bramanto. Aku ingin tahu siapa pemilik izin terbang helikopter yang mengejar kita semalam," kata Arlan.
"Maksudmu, kita akan menuntut mereka secara hukum?" tanya Siska.
"Hukum adalah langkah kedua. Langkah pertama adalah membuat mereka tahu bahwa setiap serangan pada Arlan Corp akan dibalas dengan kerugian yang jauh lebih besar," jawab Arlan dengan mata yang berkilat tajam.
Namun, tepat saat Arlan hendak keluar untuk bersiap menuju rapat federasi, layar televisi di ruang tunggu kantor menyiarkan sebuah berita mendadak yang membuat seluruh staf Arlan Corp berhenti bekerja.
"Sebuah perusahaan logistik raksasa asal Singapura, Aquila Logistics, baru saja mengumumkan akuisisi terhadap tiga puluh persen saham maskapai kargo nasional secara mendadak pagi ini."
Arlan membeku di tempatnya mendengar berita tersebut. Ia menyadari bahwa Megantara Global tidak hanya menyerang truknya, tetapi mereka sedang mencoba menutup jalur udara bagi seluruh anggota Federasi Logistik Terbuka.
"Arlan, jika mereka menguasai kargo udara, maka sistem distribusi cepat kita akan lumpuh total," bisik Siska dengan wajah yang tampak sangat pucat.
Arlan tidak menjawab. Ia hanya menatap layar televisi itu dengan tatapan yang sangat dingin. Di sudut matanya, sistem memberikan sebuah notifikasi baru dengan warna emas yang berkilau.
[Misi Baru: Perang Perebutan Langit] [Tujuan: Membatalkan Akuisisi Aquila Logistics melalui Intervensi Dewan Komisaris] [Hadiah: Membuka Akses ke Teknologi Satelit Logistik Mandiri]
Arlan mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang selama ini ia simpan sebagai kontak darurat paling rahasia.
"Halo, Pak Ketua? Saya rasa kita perlu mempercepat rapat sore ini menjadi sekarang juga. Kita punya penyusup asing yang baru saja mendarat di bandara kita."