NovelToon NovelToon
Dragon Emperor: Rebirth Of The Alchemist

Dragon Emperor: Rebirth Of The Alchemist

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Di mata Lin Xiao, tekanan spiritual tingkat 8 ini hanyalah angin sepoi-sepoi. Jiwanya adalah jiwa seorang Kaisar Alkemis yang pernah menahan tekanan Dewa. Tekanan sekecil ini tidak berarti apa-apa.

"Tetua Agung," suara Lin Xiao tenang, membelah tekanan udara itu dengan mudah. "Kau memanggilku untuk 'menguji' kemajuanku, bukan untuk memaksaku berlutut tanpa alasan. Apakah ini cara tetua mendidik generasi muda? Menindas yang lemah?"

Mata Lin Zhen menyipit. Anak ini... dia bisa bicara lancar di bawah tekanan auraku? Bagaimana mungkin?

Lin Zhen perlahan menarik kembali auranya, menyadari bahwa dia mulai terlihat buruk di depan para murid.

"Bagus. Mulutmu tajam," geram Lin Zhen. "Kau bilang Lin Hong kalah karena trik kotor? Kalau begitu, buktikan kemampuanmu di atas panggung ini. Jika kau bisa bertahan sepuluh jurus melawan murid tingkat rendah, aku akan mengampuni kelancanganmu memukul cucuku."

"Sepuluh jurus?" Lin Xiao tersenyum tipis, senyum yang meremehkan. "Itu buang-buang waktu."

Dia melompat ringan ke atas panggung batu yang tingginya dua meter. Gerakannya mulus tanpa cela. Dia berbalik menatap Lin Hong yang masih berdiri di bawah.

"Naiklah, Sepupu," tantang Lin Xiao. "Kita selesaikan ini sekarang. Bukan sepuluh jurus. Jika kau bisa menahan satu seranganku dan tetap berdiri, aku akan menganggap diriku kalah."

Keheningan melanda aula. Jarum jatuh pun akan terdengar.

Satu serangan? Lin Xiao menantang Lin Hong—seorang kultivator Tingkat 4—untuk menahan satu serangannya? Bukankah seharusnya sebaliknya?

Lin Hong merasa harga dirinya diinjak-injak hingga hancur. Rasa malunya berubah menjadi amarah yang membabi buta.

"Kau sombong sekali, Sampah!" Lin Hong melompat ke atas panggung, menarik pedang baja dari pinggangnya. Bilah pedangnya bersinar biru tipis—tanda dia mengalirkan Qi. "Tadi aku lengah. Sekarang, aku akan memotong lidahmu!"

"Mati!"

Lin Hong menerjang maju. Dia menggunakan teknik andalannya: Tebasan Angin Membelah. Pedangnya bergerak cepat, mengarah ke bahu Lin Xiao.

Para murid menahan napas. Serangan itu cepat dan mematikan.

Lin Xiao berdiri diam. Tangan kanannya perlahan bergerak ke gagang pedang hitam di pinggangnya.

Saat pedang Lin Hong tinggal satu jengkal dari tubuhnya, Lin Xiao bergerak.

Bukan menarik pedang sepenuhnya. Dia hanya menghantamkan sarung pedang hitamnya—bersama dengan pedang yang masih di dalamnya—ke depan.

Sebuah gerakan sederhana. Tapi di balik gerakan sederhana itu, ada kekuatan fisik setara Tingkat 5 dan berat pedang Xuan yang mencapai 50 kilogram.

CLANG!

Suara logam beradu memekakkan telinga.

Pedang baja Lin Hong tidak patah, tapi getaran dahsyat merambat dari pedang ke lengannya.

"Argh!"

Mata Lin Hong melotot saat merasakan kekuatan seperti gunung menabrak pedangnya. Dia tidak bisa menahannya.

BUM!

Sarung pedang hitam Lin Xiao terus melaju, menghantam dada Lin Hong setelah menepis pedangnya.

Tubuh Lin Hong terlempar ke belakang seperti layang-layang putus tali. Dia melayang melewati pinggiran panggung, terbang sejauh lima meter, dan mendarat dengan keras di lantai batu aula.

Uhuk!

Lin Hong memuntahkan darah segar, matanya memutih, dan dia langsung pingsan tak sadarkan diri.

Satu serangan. Bahkan pedang belum dicabut dari sarungnya.

Seluruh aula gempar. "A-apa yang baru saja terjadi?!" "Lin Hong... kalah? Dalam satu gebrak?" "Kekuatan macam apa itu? Dia bahkan tidak menggunakan teknik pedang!"

Di kursi tetua, Lin Zhen berdiri kaku. Wajahnya pucat pasi, lalu berubah ungu. Dia melihat cucu kesayangannya pingsan seperti anjing mati.

"Binatang kecil! Kau kejam sekali!" raung Lin Zhen. "Kau berniat membunuh saudaramu sendiri?!"

Lin Zhen tidak bisa menahan diri lagi. Dia melompat dari kursinya, terbang ke arah panggung dengan telapak tangan yang dilapisi api merah menyala. Telapak Api Hangus—Teknik Tingkat Tinggi!

Dia berniat melumpuhkan Lin Xiao di tempat dengan dalih "mendisiplinkan".

Bahaya! Serangan tetua Tingkat 8 bukanlah main-main.

Namun, sebelum telapak api itu mengenai Lin Xiao, sebuah bayangan biru melesat dari pintu masuk aula.

BANG!

Dua telapak tangan beradu di udara. Gelombang kejut meledak, membuat para murid di barisan depan terpelanting jatuh. Debu beterbangan memenuhi panggung.

Saat debu menipis, terlihat dua sosok berdiri berhadapan.

Lin Zhen mundur tiga langkah, wajahnya terkejut. Di hadapannya, berdiri kokoh Lin Hai, sang Patriark, yang melindungi Lin Xiao di belakang punggungnya.

"Lin Zhen!" suara Lin Hai menggelegar, penuh wibawa dan amarah. "Sebagai Tetua Agung, kau menyerang seorang junior di panggung duel yang adil? Di mana wajahmu kau taruh?!"

Lin Zhen menggertakkan gigi, tangannya yang tadi beradu dengan Lin Hai gemetar dan terasa panas. Kultivasi Lin Hai ternyata sudah mencapai puncak Tingkat 9, selangkah lagi menuju Ranah Inti Emas.

"Dia melukai cucuku dengan kejam, Patriark! Itu bukan duel, itu pembantaian!" elak Lin Zhen.

Lin Xiao melangkah keluar dari balik punggung ayahnya. Dia menatap Lin Zhen dengan tatapan dingin.

"Semua orang mendengar tantanganku, Tetua Agung. 'Satu serangan'. Lin Hong menerimanya. Dia kalah karena dia lemah. Jika aku berniat kejam, aku sudah mencabut pedangku dan kepalanya sudah menggelinding di lantai sekarang."

Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, namun membuat bulu kuduk semua orang meremang. Mereka sadar Lin Xiao berkata jujur. Dia menahan diri.

Lin Hai menatap putranya dengan bangga, lalu beralih menatap tajam ke arah Lin Zhen dan tetua lainnya.

"Mulai hari ini," Lin Hai mengumumkan dengan lantang, "Siapa pun yang berani menyebut putraku 'sampah', akan berurusan denganku. Lin Xiao telah membuktikan kemampuannya. Dia berhak mengikuti Turnamen Berburu mewakili Keluarga Lin!"

Lin Zhen tahu dia kalah hari ini. Dia tidak bisa melawan Lin Hai secara terbuka, dan Lin Xiao menang secara sah dalam duel.

"Baik," desis Lin Zhen penuh kebencian. Dia melompat turun dari panggung, menghampiri tubuh Lin Hong yang pingsan, dan membopongnya. "Kita lihat saja nanti di Turnamen. Keberuntungan tidak akan menyelamatkannya dua kali."

Tetua Agung itu pergi dengan membawa dendam, diikuti oleh tetua lainnya yang tampak canggung.

Suasana aula perlahan mencair. Para murid menatap Lin Xiao dengan pandangan baru: takut, kagum, dan penasaran. Legenda "Sampah Kota Batu Hijau" telah mati hari ini, digantikan oleh sosok misterius yang menakutkan.

Lin Hai berbalik menghadap putranya, meletakkan tangan kekarnya di bahu Lin Xiao.

"Tingkat 3," bisik Lin Hai, bisa merasakan aura putranya dari jarak dekat. "Dan kekuatan fisik yang aneh. Xiao'er, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Lin Xiao tersenyum tipis. "Hanya sedikit pencerahan setelah mati suri, Ayah. Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi sekarang..."

Lin Xiao menatap pedang hitam di tangannya.

"...Aku butuh berlatih di Hutan Kabut Hitam. Latihan di rumah terlalu nyaman. Aku butuh darah binatang buas untuk menajamkan pedang ini sebelum turnamen."

Lin Hai terkejut. Hutan Kabut Hitam adalah daerah berbahaya di pinggiran kota. "Itu berbahaya. Banyak Binatang Iblis di sana."

"Naga tidak tumbuh di dalam sangkar, Ayah," jawab Lin Xiao tegas.

Malam harinya, di kediaman Tetua Agung.

Lin Zhen sedang mengobati luka dalam Lin Hong. Cucu kesayangannya itu sudah sadar, tapi mentalnya hancur.

"Kakek... aku takut... tatapannya bukan tatapan manusia..." racau Lin Hong.

"Diam!" bentak Lin Zhen. "Kau memalukan!"

Tiba-tiba, seorang pelayan masuk membawa surat yang disegel dengan lilin merah bergambar elang. Lambang Keluarga Wang.

Mata Lin Zhen berkilat licik saat membaca isi surat itu.

"Tetua Agung Lin, sepertinya kita memiliki masalah yang sama bernama Lin Xiao. Jika Anda ingin 'membersihkan' masalah ini tanpa mengotori tangan Anda sendiri, temui saya di Paviliun Bulan Merah tengah malam nanti. - Wang Tian."

Lin Zhen meremas surat itu hingga hancur. Senyum keji perlahan terukir di wajah tuanya.

"Patriark... kau melindunginya terlalu keras. Tapi bagaimana jika dia mati di tangan 'bandit' di luar kota? Kau tidak bisa menyalahkan siapa pun."

Api lilin di ruangan itu berkedip-kedip, seolah merasakan konspirasi gelap yang akan segera menumpahkan darah.

1
jamanku
ga sabar nunggu
Op L
lanjutkan tor
Yuu Li
gas
Yuu Li
oke
Yuu Li
makinnnn seruuuu👍
Lucy Sandy
makin seru👍👍👍
Lucy Sandy
lanjutkan sampai tamat
Roy Kkk
ceritanya menarik
Roy Kkk
bagus👍👍👍👍👍
Roy Kkk
matap bangat karyamu
King Salman
bagus
Jinan 2
cepat update
Raikuu 1
bagus
Rayhan Purwanto
lanjutkan
Lamia Dante
semangat namatin
Lamia Dante
bagus ceritanya👍👍👍
Jake King
luar biasa ceritanya
Jake King
makin sery👍
Op L
ceritannya seru
Op L
makin seru lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!