Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ronde Kedua di Toilet
Pintu ruangan Noah tertutup rapat, mengunci kebisingan kampus yang masih heboh di luar sana. Di dalam ruangan yang beraroma kayu cendana dan buku-buku tua itu, suasana tegang yang tadi pagi menyelimuti mereka mendadak mencair, berganti dengan aura yang jauh lebih hangat dan... nakal.
Noah bersandar di pinggiran meja kerjanya, melipat kedua tangan di dada sambil menatap Viona yang kini berdiri mematung di tengah ruangan. Senyum miring yang selama ini hilang dari wajahnya kini kembali muncul, kali ini lebih lebar dan penuh kemenangan.
"Akhirnya lo nyerah. Cemburu, kan?" goda Noah. Suaranya rendah, penuh nada kemenangan yang membuat telinga Viona memerah.
Viona memalingkan wajah, berusaha keras menatap deretan buku di rak daripada menatap mata Noah yang seolah bisa menelanjanginya. "Siapa yang cemburu coba," gerutunya pelan, meski jantungnya masih berdegup gila akibat aksi nekatnya tadi.
"Yaelah! Masih aja ngelak. Ngaku nggak?" Noah melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia menunduk sedikit, mencoba mencari mata Viona yang terus menghindar.
"Aksi ciuman maut di depan ratusan mahasiswa tadi itu apa kalau bukan karena lo takut gue diambil Miss Clara, hm?"
"Noah... stop," rengek Viona. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa sangat malu karena baru menyadari betapa impulsifnya dia tadi. "Gue cuma... gue cuma nggak mau reputasi kita rusak karena foto sampah itu!"
Noah tertawa kecil, suara tawa yang sudah sangat dirindukan Viona. Ia meraih pergelangan tangan Viona, menariknya lembut agar wajah cantik itu kembali terlihat, lalu membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya. Kali ini, tidak ada penolakan. Viona justru menyandarkan keningnya di dada Noah, menghirup aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali.
"Emang apa salahnya sih, Vio, kalau dua sahabat ini jadi lebih romantis?" ucap Noah lembut. Ia mengusap puncak kepala Viona, lalu mengecupnya pelan.
"Gue takut, Noah. Gue takut semuanya jadi beda," bisik Viona jujur di balik dada Noah.
Noah menjauhkan sedikit tubuh mereka, mengangkat dagu Viona agar menatapnya.
"Beda itu nggak selalu buruk. Kita tetap sahabat, Vio. Sahabat yang saling cinta, sahabat yang terikat janji, dan sahabat yang punya hak buat cemburu kalau ada yang coba-coba ganggu. Everything is under control, oke?"
Viona menatap mata Noah yang tulus, lalu melirik ke arah kantong kemeja Noah di mana ia tahu cincin itu tersimpan. "Janji jangan lepas cincinnya lagi?"
Noah tersenyum, lalu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan dua cincin pernikahan mereka. Ia meraih jemari Viona, menyematkan cincin itu kembali ke tempatnya semula, lalu melakukan hal yang sama pada jarinya sendiri.
"Nggak akan. Mulai sekarang, biar satu dunia tahu kalau lo itu milik gue, dan gue milik lo. No more hiding, Nyonya Willey."
———
Suasana makan malam di kediaman keluarga Willey terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma panggangan daging dan tawa kedua orang tua mereka mengisi ruangan, namun Viona tampak pucat. Gaun panjang sutranya yang elegan seolah tidak mampu menyembunyikan wajahnya yang lesu.
Rose, mama Viona, menyadari ada yang tidak beres dengan putri tunggalnya. Ia meletakkan garpunya dan menatap Viona khawatir. "Loh sayang, kenapa ini? Kamu pucat banget."
Viona memijat pelipisnya pelan, mencoba mengusir rasa pening yang berputar-putar.
"Gak tahu, Ma. Belakangan aku begadang terus buat ngerjain tugas dan proyek kantor," jawab
Viona beralasan, meski sebenarnya ia merasa tubuhnya sangat lemas sejak bangun tidur tadi.
Makan malam pun dimulai. Namun, baru beberapa suap risotto masuk ke mulutnya,
Viona tiba-tiba meletakkan sendoknya. Aroma bumbu rempah yang biasanya ia sukai mendadak terasa sangat menyengat dan memicu gejolak di perutnya.
"Ma, Bunda... Vio ke toilet dulu ya," pamitnya terburu-buru. Ia berjalan cepat menuju toilet sebelum sempat mendengar balasan dari mereka.
Begitu sosok Viona menghilang di balik pintu, Rose dan Clara saling bertukar lirik. Senyum penuh arti merekah di wajah kedua wanita paruh baya itu. Insting keibuan mereka menangkap sinyal yang sama.
"Noah," panggil Rose dengan nada penuh selidik namun terdengar sangat antusias.
Noah yang sedang memotong steaknya mendongak. "Ya, Ma?"
"Itu... kapan Viona terakhir menstruasi? Kamu ingat nggak?" tanya Rose tanpa basa-basi.
Noah nyaris tersedak. Ia berdeham, mencoba mengembalikan ketenangannya. Pertanyaan "ajaib" mertuanya ini benar-benar tidak terduga. "Hm... Noah nggak ingat, Ma," jawab Noah jujur, sambil melirik ke arah pintu toilet dengan cemas.
Clara, bundanya, ikut mencondongkan tubuh ke arah Noah. "Tapi... kalian udah sering 'goal', kan? Maksud Bunda, kalian nggak lagi nunda, kan?" timpal Siska dengan kedipan mata yang membuat Noah semakin salah tingkah.
Noah hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban aman agar tidak dicecar lebih jauh.
Padahal, dalam hatinya ia merasa sangat berdebar. Ia hanya pernah melakukannya satu kali, insiden di Jeju yang penuh drama itu.
Tapi melihat reaksi Viona yang mual dan pening secara tiba-tiba, pikiran Noah mulai terbang ke mana-mana.
Sekali... apa mungkin langsung jadi? batin Noah.
Ia segera bangkit dari kursinya. "Noah susul Viona dulu ya, Ma, Bun," pamitnya. Ia butuh memastikan kondisi istrinya, sekaligus melarikan diri dari interogasi "calon nenek" yang sudah terlalu bersemangat itu.
Suara air keran yang mengalir di dalam toilet tidak mampu meredam suara detak jantung Noah yang berpacu kencang. Dengan gerakan impulsif, ia memutar kenop pintu dan melangkah masuk, mendapati Viona sedang bersandar pada wastafel dengan wajah sepucat kapas.
"Vio... gue masuk ya," teriak Noah. Belum sempat Viona menyahut, pria itu sudah berdiri di sampingnya, memegang pundaknya dengan raut cemas yang tidak bisa ditutupi. "Kenapa? Lo ada salah makan? Apa risotto tadi amis?"
Viona mendongak, menatap Noah melalui pantulan cermin dengan tatapan kosong. "Noah... apa gue hamil ya?" ungkapnya spontan.
Noah tertegun, tangannya yang tadi mengusap punggung Viona mendadak kaku. "Hamil? Kita kan baru ngelakuin sekali, Vio. Masa langsung jadi sih?" tanya Noah, mencoba menggunakan logika meski otaknya sendiri sudah mulai membayangkan hal-hal yang jauh.
Viona mendengus pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk membalas ucapan suaminya. "Ya kali aja sperma lo bagus karena nggak pernah dipakai sama sekali, kan? Kayak barang limited edition yang masih segel. Dan gue... gue kebetulan mungkin lagi masa subur waktu itu," jelas Viona dengan nada bicara yang sangat frontal, khas obrolan mereka sebagai sahabat.
"Dih! Omongan lo soal punya gue kok gitu amat," gerutu Noah, wajahnya memerah mendengar deskripsi 'barang segel' dari mulut istrinya sendiri. Namun, dalam hati ia tidak bisa membantah teori 'kualitas' yang disebut Viona.
Viona mematikan keran air, lalu mengelap bibirnya dengan tisu. "Balik dari sini beli testpack aja ya," ajak Viona, matanya menatap Noah dengan serius. "Gue nggak mau mati penasaran gara-gara digodain mama sama bunda terus."
Viona menarik napas panjang, lalu tersenyum getir. "Gue nggak pernah kebayang sebenarnya bakal pergi beli testpack bareng lo. Sahabat yang dulunya sering gue ejek jomblo karatan."
Noah menarik Viona ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan di tengah rasa pusing yang melanda wanita itu. Ia berbisik tepat di samping kening Viona, "Bukan cuma beli testpack, Vio. Mulai saat ini lo bakal ngelakuin apa aja sama gue. Entah itu ngerawat bayi, atau hal-hal gila lainnya yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya."
Viona terdiam dalam pelukan itu. Ada rasa takut, tapi ada juga rasa aman yang aneh.
"Noah, kalau beneran ada... lo siap?"
Noah melepaskan pelukannya sebentar, menangkup wajah Viona dan menatapnya lurus. "Gue siap jadi apa pun buat lo. Sahabat, suami, atau bapak dari anak-anak lo. Sekarang, ayo keluar sebelum mama curiga kita lagi bikin 'ronde kedua' di toilet."
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca