Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 : Yan Er
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, membiaskan warna jingga yang suram di atas atap-atap tinggi kediaman Wu. Udara sore itu terasa berat, seolah membawa pesan dari jauh yang tak sempat tersampaikan. Qinqin berdiri di balkon Paviliun Utama, jemarinya mengetuk-ngetuk pagar kayu dengan gelisah. Meskipun ia sudah memenangkan melawan Nyonya Besar, hatinya tetap tidak tenang.
"Nona, Anda harus melihat ini," bisik Xue yang tiba-tiba muncul di belakangnya dengan napas tersengal. "Ada sebuah kereta kuda mewah baru saja berhenti di gerbang utama. Penjaganya mengenakan seragam keluarga Lin dari wilayah Utara."
Qinqin memicingkan matanya. "Keluarga Lin?"
"Benar, Nona. Namanya Yan Er. Keponakan dari Nyonya Wu."
"Oh, hama itu datang juga rupa nya." Gumam Qinqin.
***
Di depan gerbang besar, seorang gadis turun dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah setiap langkahnya telah dilatih di depan cermin selama bertahun-tahun. Ia mengenakan hanfu berwarna putih gading dengan sulaman teratai yang sangat halus di pinggirannya. Wajahnya mungil, matanya selalu terlihat berkaca-kaca, memancarkan aura kesucian yang membuat siapapun ingin melindunginya.
"Selamat datang, Nona Yan Er," sapa Bibi Liu dengan suara gemetar, nampak ia sedikit lega melihat bala bantuan telah tiba.
Yan Er tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat murni namun tidak mencapai matanya. "Bibi Liu, kenapa kediaman ini terasa begitu sunyi? Di mana Bibi Wu? Aku datang membawa dupa aromaterapi dan sulaman khusus untuknya."
Bibi Liu menunduk dalam. "Nyonya Besar sedang... sedang tidak enak badan, Nona. Beliau berada di ruang isolasi untuk beristirahat total."
Yan Er terdiam sejenak, jemarinya meremas bungkusan sutra merah yang ia bawa. "Begitukah? Padahal aku datang jauh-jauh dari Utara hanya karena merindukan kebaikan beliau. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga ini..." Ia mulai terisak kecil, menyeka ujung matanya dengan sapu tangan sutra. "Kenapa takdir begitu kejam pada wanita sebaik Bibi Wu?"
Qinqin mengamati adegan itu dari kejauhan sebelum akhirnya memutuskan untuk turun. Ia berjalan dengan langkah santai, hanfu ungunya menyapu lantai dengan elegan. Wu Lian yang kebetulan baru saja kembali dari barak juga muncul di aula utama, membuat suasana semakin tegang.
"Kakak Sepupu Wu Lian!" seru Yan Er. Ia segera berlari kecil---namun tetap anggun---dan bersujud di depan kaki sang Jenderal. "Yan Er memberi salam. Maafkan kedatangan saya yang tiba-tiba. Saya hanya mengikuti perintah surat Bibi Wu beberapa hari lalu... untuk datang membantu... membantu mengurus rumah tangga yang katanya sedang tidak teratur."
Wu Lian menatap gadis itu dengan pandangan datar. "Bangunlah. Kediaman ini sedang dalam kondisi yang tidak biasa. Han Luo akan mengantarmu ke Paviliun Samping." ujar Wu Lian dingin.
Yan Er berdiri dengan perlahan, tubuhnya tampak goyah seolah ia akan pingsan kapan saja. "Kenapa... kenapa Kakak Sepupu begitu dingin padaku? Apakah kehadiran Yan Er dianggap sebagai beban? Aku hanya ingin membawa kedamaian, aku hanya ingin melakukan kebaikan. Bukankah kita teman masa kecil." Air mata mulai mengalir di pipinya yang mulus.
Qinqin menyandarkan bahunya di pilar aula, lalu bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Akting yang sangat menyentuh, Nona Teratai Putih."
Yan Er tersentak, ia menatap Qinqin dengan tatapan yang sangat terluka, seolah Qinqin adalah iblis yang baru saja muncul dari tanah. "Anda, Anda pasti Nona Xu. Kenapa Anda berkata demikian pada saya? Saya tidak mengenal Anda, namun saya selalu mendoakan kebahagiaan Kakak Sepupu dari jauh. Saya hanya ingin menjadi kerabat yang berguna..."
"Sudahlah," potong Qinqin dengan nada renyah. "Simpan air matamu untuk Bibi Wu di ruang isolasi. Dia lebih butuh penonton daripada suamiku."
Yan Er menatap Wu Lian dengan pandangan memelas. "Kakak... kenapa Nona Xu begitu sinis padaku? Apa dia merasa kehadiranku membahayakan. Apa salahku hanya karena aku ingin berbakti pada keluarga Wu?"
Wu Lian mengerutkan kening. Ia benci keributan, apalagi tangisan wanita yang tidak ia mengerti maksudnya. "Qinqin adalah istriku, Nyonya di rumah ini. Yan Er, jika kau ingin tinggal, patuhi aturannya. Istirahatlah di paviliunmu."
Yan Er menunduk lesu. Ia sebenarnya mencintai Wu Lian sejak kecil. Namun, cinta nya bertepuk sebelah tangan. Wu Lian hanya menganggap nya sebagai adik, tidak lebih.
***
Malam pun tiba. Cahaya lilin menari-nari di dinding Paviliun Utama. Sesuai janjinya, Wu Lian masuk ke kamar Qinqin. Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Pria yang biasanya tegas di medan perang itu kini nampak bingung harus meletakkan tangannya di mana.
Qinqin sudah duduk di tepi ranjang, mengenakan jubah tidur sutra tipis. "Jadi, Jenderal Es... kau benar-benar menepati janjimu untuk tidur di sini?"
Wu Lian berdehem keras, wajahnya nampak memerah di bawah temaram lampu. "Aku... aku hanya ingin memastikan keamananmu. Penjagaan di luar mungkin saja ditembus."
"Oh ya? Keamananku atau kau memang rindu padaku?" goda Qinqin sambil menepuk sisi kosong di sampingnya. "Kemarilah. Tidur di samping istri sahmu tidak akan membuatmu berdosa."
Wu Lian perlahan merebahkan tubuhnya di samping Qinqin. Jantungnya berdegup kencang, sesuatu yang bahkan tidak pernah ia rasakan saat dikepung musuh. Qinqin tiba-tiba mendekat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Wu Lian dan memeluk pinggangnya erat.
Wu Lian terdiam, tangannya ragu sejenak sebelum akhirnya membalas pelukan Qinqin dengan sangat posesif, seolah takut wanita di pelukannya akan menghilang. "Aku tidak akan melepaskanmu, Qinqin. Tidak akan pernah."
"Kau bisa gombal juga yah, Jenderal Es." Qinqin sedikit ingin mual dengan kalimat nya yang dramatis. Namun, ia tak ingin membuat suasana romantis menjadi canggung.
Di sisi lain,
Paviliun Samping, Yan Er berdiri di depan jendela yang menghadap ke Paviliun Utama. Wajah polosnya kini berganti dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia meremas bungkusan merah di tangannya.
"Kakak Sepupu, kau milikku. Bibi Wu sudah menjanjikannya," gumamnya pelan. "Wanita liar itu harus tahu... bahwa kelembutan seorang teratai bisa lebih mematikan daripada pedang manapun."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
dan diabaikan🥹