"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Sabotase di Ketinggian 30.000 Kaki
Kabin jet pribadi itu seharusnya menjadi puncak kemewahan, sebuah gelembung kenyamanan yang memisahkan Elena dari kekejaman dunia di bawah sana.
Tapi, di ketinggian 30.000 kaki, di mana oksigen tipis dan suhu di luar mencapai titik beku, kemewahan itu terasa hampa. Elena duduk meringkuk di kursi kulitnya yang empuk, jemarinya yang masih gemetar memutar-mutar cincin perak milik Ayahnya yang baru saja ia terima dari tim medis Eros. Cincin itu dingin, membawa memori tentang kehangatan tangan Ayahnya yang kini mungkin sedang meregang nyawa di suatu tempat di Rusia.
Eros duduk di hadapannya, wajahnya tampak seperti pahatan batu granit—keras, dingin, dan tidak tertembus. Ia sedang menatap layar tabletnya, tapi Elena tahu pikiran pria itu sedang menyusun strategi perang. Di dalam kabin ini, hanya ada mereka berdua, sementara dua pengawal lainnya berada di kokpit dan area kru di belakang.
Namun, di balik dinding-dinding panel mahoni yang mengkilap, sebuah pengkhianatan sedang merangkak.
Rudy, kepala logistik keamanan yang telah dipercaya Eros selama bertahun-tahun, berdiri di area dapur kecil pesawat.
Tangannya yang berkeringat dingin menggenggam sebuah perangkat kecil. Rudy adalah pria yang setia, sampai tiga hari lalu ketika ia menerima foto istrinya dengan moncong senjata di pelipisnya. Pilihan itu sederhana tapi menghancurkan: mengkhianati Eros atau menjadi janda. Rudy telah memilih.
Ia memasukkan kode enkripsi ke panel kontrol sistem sirkulasi udara. Dengan satu tekanan tombol, ia mematikan sensor kimia dan membuka katup tangki yang telah diselundupkan ke dalam kompartemen oksigen cadangan sebelum lepas landas.
Sementara itu, jauh di bawah kaki mereka, di ruang kargo yang sempit dan pengap, Arkan merangkak keluar dari sebuah peti peralatan medis yang berlabel palsu. Tubuhnya terasa remuk setelah berjam-jam bersembunyi dalam posisi menekuk, tapi kegilaan di matanya memberikan energi yang tidak manusiawi. Ia mengenakan masker oksigen taktis yang menutupi setengah wajahnya, membuatnya tampak seperti monster dari dasar laut.
Arkan menarik sebuah tuas manual yang terhubung dengan pipa sirkulasi kabin utama. Ia memutar katupnya perlahan. Gas saraf Sarin yang tidak berwarna dan tidak berbau mulai mengalir, menyusup melalui lubang-lubang ventilasi di atas kepala Elena dan Eros.
Di kabin utama, Eros tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam menyapu sekeliling. Instingnya, yang telah terasah di medan perang Moskow yang paling berdarah, menangkap sesuatu yang tidak beres. Bau di kabin berubah—bukan bau yang menyengat, melainkan rasa manis yang samar dan ganjil yang menyentuh bagian belakang tenggorokannya.
"Elena, jangan bernapas dalam-dalam," ucap Eros tiba-tiba, suaranya rendah tapi penuh urgensi.
"Apa maksudmu, Eros?" Elena bertanya, mulai panik melihat ekspresi Eros yang berubah drastis.
Eros tidak menjawab. Ia segera menekan tombol interkom untuk menghubungi kokpit. "Kapten, periksa kadar oksigen dan tekanan kabin sekarang! Kita punya kebocoran!"
Hening. Tidak ada jawaban dari kokpit. Hanya suara statis yang berderak pelan, seolah-olah seluruh sistem komunikasi telah diputus dari dalam.
"Sialan!" Eros mengumpat. Ia bangkit berdiri, namun langkah pertamanya goyah. Ia merasakan dadanya menyempit, dan penglihatannya mulai sedikit mengabur di bagian pinggir. "Elena, di bawah kursimu... ada masker oksigen darurat. Pakai sekarang! Jangan tanya kenapa, pakai!"
Elena dengan tangan gemetar menarik tuas di bawah kursi. Sebuah masker plastik jatuh, dan ia segera menekannya ke wajahnya. Oksigen murni mengalir, memberikan sedikit kelegaan di tengah kepanikannya yang memuncak.
Eros, yang tidak memiliki masker cadangan di posisinya, mencoba menahan napas sambil bergerak menuju panel kontrol di dinding belakang. Tapi, tiba-tiba sebuah tawa pecah melalui sistem audio pesawat. Tawa yang parau, serak, dan penuh dengan kepuasan yang mengerikan.
"Eros... kau selalu merasa paling pintar, bukan?" Suara Arkan menggema, terdistorsi oleh masker yang ia kenakan. "Kau pikir kau bisa membawanya pergi ke ujung dunia? Tidak. Kita semua akan berakhir di sini, di tengah awan ini."
"Arkan..." bisik Elena di balik maskernya, matanya membelalak menatap layar monitor di dinding kabin yang tiba-tiba menyala, menampilkan rekaman CCTV dari ruang kargo.
Di sana, Arkan berdiri di tengah kegelapan yang remang, memegang sebuah botol gas saraf yang sudah kosong. Di sampingnya, Rudy terduduk lemas dengan mata kosong, tampaknya sudah menyerah pada nasibnya.
"Aku sudah merusak sistem navigasi pesawat ini, Eros," ucap Arkan, suaranya terdengar seperti desis ular. "Dalam sepuluh menit, gas ini akan melumpuhkan seluruh sistem sarafmu. Kau akan mati sambil menatap wanita yang kau cintai, sementara pesawat ini akan terjun bebas menuju tanah. Romantis, bukan?"
Eros berpegangan pada sandaran kursi, dadanya naik turun dengan berat. Efek Sarin mulai menyerangnya; otot-ototnya mulai berkedut secara involunter, dan keringat dingin membasahi seluruh kemeja hitamnya. Tapi, kemarahan yang membara di dalam dirinya menolak untuk tunduk.
"Elena... tetaplah... di kursimu," Eros berkata dengan susah payah, setiap kata seperti ditarik dari paru-parunya yang terbakar. Ia mengambil kapak darurat yang tersimpan di dekat pintu keluar, lalu menghantam panel elektronik pintu belakang dengan satu ayunan liar.
Percikan api keluar, dan pintu yang terkunci secara otomatis itu terbuka sedikit. Eros merangkak masuk ke lorong sempit yang menuju ke ruang kargo. Ia harus mematikan sumber gas atau setidaknya membuka katup pembuangan manual di bagian bawah pesawat.
Di kabin, Elena hanya bisa menonton melalui layar monitor dengan perasaan hancur. Ia melihat Eros merangkak di lorong yang kini dipenuhi kabut gas tipis. Di ujung lorong, Arkan sudah menunggu dengan sebuah pisau lipat panjang di tangannya.
"Ayo, Raja Mafia! Mari kita lihat bagaimana kau mati sebagai manusia biasa!" Arkan menerjang Eros.
Perkelahian itu terjadi dalam kondisi yang tidak seimbang. Arkan memiliki masker oksigen, sementara Eros bertarung sambil menahan napas dan menahan efek racun di tubuhnya. Arkan menyabetkan pisaunya, merobek kemeja Eros dan meninggalkan luka gores yang dalam di dadanya. Eros membalas dengan pukulan keras ke arah wajah Arkan, namun kekuatannya sudah berkurang drastis.
Elena berteriak di balik maskernya, suaranya tertahan oleh plastik. Ia melihat Arkan mulai mencekik Eros, menekan tubuh Eros ke dinding kargo yang bergetar hebat. Pesawat mulai miring dengan tajam karena pilot di kokpit tampaknya juga sudah kehilangan kesadaran.
"Aku tidak bisa hanya diam. Aku tidak bisa menjadi korban lagi," pikir Elena.
Ia teringat penjelasan Eros saat mereka baru naik ke pesawat tentang sistem keamanan darurat. Di dekat kursi pramugara, ada sebuah panel merah kecil. Panel itu digunakan untuk membuang kargo jika terjadi kebakaran besar.
Elena melepaskan sabuk pengamannya. Ia terjatuh saat pesawat miring, bahunya membentur meja mahoni, tapi ia terus merangkak menuju panel itu. Kepalanya terasa sangat berat, rasa pusing mulai menguasai warasnya karena gas yang menyusup lewat celah maskernya.
Ia sampai di panel itu. Ia melihat monitor; Arkan sedang mengangkat pisaunya, siap menusukkannya ke leher Eros.
"Cukup, Arkan!" Elena berteriak dengan sisa tenaganya.
Ia menarik tuas merah itu sekuat mungkin.
DHUAAARRR!
Suara ledakan dekompresi yang luar biasa menghantam pesawat. Pintu kargo bagian bawah meledak terbuka. Tekanan udara di dalam pesawat berubah secara instan, menciptakan pusaran angin raksasa yang menyedot segala sesuatu di area kargo.
Di monitor, Elena melihat Arkan terlempar ke arah lubang yang terbuka. Wajah Arkan yang tadinya penuh kemenangan kini berubah menjadi teror murni. Ia sempat mencengkeram sebuah kabel baja, tubuhnya bergantung di luar pesawat di tengah kegelapan malam dan angin yang menderu.
Sementara Eros... Eros terhempas ke sudut ruangan kargo, tapi kabel pengamannya yang tadi ia pasang di pinggang secara refleks menahannya agar tidak tersedot keluar. Namun, guncangan itu membuat monitor tiba-tiba mati total.
Pesawat mulai terjun dengan sudut yang berbahaya. Lampu-lampu di kabin berkedip gila-gilaan antara merah dan hitam. Elena terlempar kembali ke lantai, ia berusaha merangkak kembali ke maskernya yang terlepas, kesadarannya mulai memudar.
Tiba-tiba, pintu kabin belakang terbuka. Sesosok pria merangkak masuk. Tubuhnya tertutup debu dan noda darah. Pria itu memakai masker oksigen hitam milik Arkan yang entah bagaimana bisa ia dapatkan.
Pria itu mendekati Elena yang sudah hampir pingsan di lantai. Ia mengangkat tubuh Elena, menekankan masker oksigen itu ke wajah Elena.
Elena membuka matanya sedikit. Ia menatap sosok itu. Masker hitam itu menutupi seluruh wajahnya, tapi dari balik lensa kacanya, ada sepasang mata yang menatapnya. Elena tidak bisa mengenali siapa pria itu. Apakah itu Eros yang berhasil merebut masker Arkan, atau Arkan yang berhasil merangkak kembali ke atas sementara Eros terlempar keluar?
Pria itu tidak bicara. Ia hanya memeluk Elena erat-erat saat pesawat semakin menukik tajam, meluncur lurus menuju padang salju Rusia yang membeku di bawah sana.
Dalam detik-detik sebelum benturan, pria itu berbisik di telinga Elena di balik masker, namun suaranya teredam oleh deru angin yang masuk dari kargo yang terbuka. Ia menarik sebuah parasut darurat yang ada di dinding kabin dan memeluk Elena seolah-olah ingin menjadikan tubuhnya sendiri sebagai pelindung saat pesawat itu akhirnya meledak menghantam tanah.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya