Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dengan satu tendangan, Han Xiang terlempar ke arah laut yang sedang pasang.
Yue Niang, dengan sisa kekuatannya, merangkak menuju kecapinya. Ia memutus satu senar kecapinya dan menggunakannya sebagai tali busur, melesatkan sisa tenaga sakti terakhirnya dalam bentuk Gelombang Pemutus Jiwa.
Serangan Yue Niang berhasil mengenai bahu Si Pengetuk Gerbang Neraka dan menghentikan suara serulingnya. Namun, Yue Niang sendiri langsung pingsan dengan mulut mengeluarkan darah.
Suasana menjadi sunyi. Liang Shan tergeletak di antara puing kapal, napasnya tersengal-sengal. Racun di tubuhnya kini menyerang balik karena gagal mengendalikan salah satu jurus pamungkasnya.
Xue Me berjalan mendekat, mengangkat pedangnya untuk memberikan serangan terakhir. Tapi, tiba-tiba sebuah suara berat menghentikannya.
"Cukup. Dewa Tanpa Nama ingin dia hidup sampai dirinya membawa kita ke Puncak Langit Terlarang."
Seorang pria raksasa berpakaian zirah perunggu muncul. Ia adalah Jenderal Long Zhanyuan, musuh bebuyutan keluarga Liang yang memimpin pembantaian dulu.
Dia datang sendiri untuk memastikan buruannya tidak mati terlalu cepat.
Long Zhanyuan menatap Liang Shan dengan pandangan merendahkan. Ia menginjak dada Liang Shan yang sudah remuk.
"Kau sama lemahnya dengan Ayahmu, Liang Shan. Bedanya, Ayahmu mati sebagai pahlawan yang bodoh, sementara kau akan mati sebagai anjing yang tersiksa."
Long Zhanyuan mengambil kantong ikat pinggang Liang Shan. Lima serpihan permata itu kini berada di tangan musuh.
"Tidak! Berikan permata itu padaku!" rintih Liang Shan.
Long Zhanyuan tertawa. "Ingin ini kembali? Datanglah ke Benteng Laut Timur dalam tujuh hari. Jika kau tidak datang, aku akan memenggal kepala kedua gadis ini di depan umum."
Pasukan Long Zhanyuan muncul dari balik bukit, menyeret Han Xiang yang setengah sadar dan Yue Niang yang pingsan ke dalam kereta besi.
Mereka meninggalkan Liang Shan sendirian di pantai, terluka parah, kehilangan pusakanya, dan yang paling menyakitkan, gagal melindungi orang-orang yang dicintainya.
Hujan mulai turun dan membasuh darah yang menggenang di pasir. Liang Shan menatap langit dengan mata kosong. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa hancur di batinnya.
Dia merasa telah gagal menjadi putra Liang Qi dan merasa hanya menjadi beban bagi Han Xiang dan Yue Niang.
"Apakah ini akhirnya?" bisiknya.
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang pohon bakau, muncul kembali kakek pemancing, Fan Su si Pedang Pemecah Langit. Ia menatap Liang Shan dengan wajah tanpa ekspresi.
"Sudah aku bilang, amarah adalah api yang memakan pemiliknya sendiri," ucap Fan Su.
"Mereka membawa kedua gadis itu, Senior, semuanya hilang, termasuk permata itu," ujar Liang Shan dengan nada menyesal.
Fan Su mendekat dan menekan satu titik nadi di punggung Liang Shan, memaksa racun yang bergejolak untuk tenang kembali.
"Permata itu hanyalah benda. Kekuatan sejati Liang Qi bukan terletak pada apa yang ia jaga, tapi pada apa yang dimiliki di dalam dadanya. Kau ingin menyelamatkan mereka? Maka kau harus membuang kemanusiaanmu yang lemah ini, dan menjadi pedang yang sesungguhnya."
Fan Su menunjuk ke arah tebing karang yang curam.
"Di sana ada sebuah gua yang hanya bisa dimasuki saat air surut. Di dalamnya terdapat warisan terakhir yang ditinggalkan Ayahmu sebelum ia dibantai: Pedang Tanpa Wujud. Jika kau bisa memahaminya dalam tujuh hari, kau punya kesempatan. Jika tidak, bersiaplah melihat kedua gadismu menjadi persembahan hiu laut."
Liang Shan mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Matanya yang tadinya penuh kesedihan kini berubah menjadi api yang dingin.
"Aku akan pergi," ucap Liang Shan.
Dia segera menyeret tubuhnya yang terluka dan merangkak menuju gua karang itu di bawah guyuran hujan badai.
Inilah momen paling tragis sekaligus menentukan. Liang Shan harus bertarung melawan maut di dalam kesendirian, tanpa bantuan Han Xiang yang lembut atau musik Yue Niang yang menenangkan.
Hanya ada dia, racun yang membakarnya, dan dendam yang kini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap bernapas.
Suara deburan ombak yang menghantam tebing karang terdengar seperti suara genderang perang di telinga Liang Shan.
Dengan tubuh yang bersimbah darah dan napas yang terputus-putus, ia menyeret dirinya masuk ke dalam gua karang yang ditunjuk oleh Fan Su.
Air laut yang asin membakar luka-lukanya, namun rasa perih itu justru membantunya tetap sadar.
Di dalam gua yang lembap dan gelap itu, hanya ada keheningan yang mencekam. Di tengah ruangan gua, terdapat sebuah batu datar yang menyerupai altar.
Di atasnya, tidak ada pedang fisik yang berkilauan. Yang ada hanyalah sebuah gumpalan udara yang bergetar, seolah-olah ruang di atas batu itu terdistorsi oleh kekuatan yang tidak terlihat.
Inilah Pedang Tanpa Wujud, warisan terakhir Liang Qi yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya seperti Fan Su.
"Ayah ..." bisik Liang Shan. Ia jatuh berlutut di depan altar itu.
Kesadarannya mulai memudar. Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang yang sempat ia jinakkan kini mengamuk hebat karena kehilangan keseimbangan batin. Hawa dingin mulai membekukan organ-darah di dalam dadanya.
Di saat yang sama, ia melihat bayangan Han Xiang yang disiksa dan Yue Niang yang menderita di tangan Jenderal Long Zhanyuan.
"Aku tidak boleh mati di sini ..." bisiknya sambil menghentakkan gigi.
Malam pertama adalah malam siksaan. Liang Shan duduk bersila, mencoba menjalankan teknik pernapasan Sembilan Matahari yang diberikan Fan Su untuk menahan hawa dingin racunnya.
Namun, setiap kali mencoba mengumpulkan tenaga, bayangan sepuluh iblis pembantai keluarganya muncul dalam ilusinya.
Ratu Es Gunung Selatan muncul dengan tawa yang merdu namun mematikan, menyayat jiwanya dengan kata-kata hinaan.
Jenderal Long Zhanyuan berdiri dengan kaki yang seolah menginjak lehernya.
Pada malam ketiga, tubuh Liang Shan mulai mengeluarkan bau hangus. Benturan antara panasnya teknik Sembilan Matahari dan dinginnya Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang menciptakan reaksi kimiawi yang mengerikan di dalam pori-porinya.
Kulitnya pecah-pecah dan mengeluarkan uap berwarna ungu gelap.
Tapi di tengah rasa sakit yang tak terperikan itu, Liang Shan mulai merasakan getaran dari Pedang Tanpa Wujud.
Senjata itu bukanlah benda padat, melainkan sebuah manifestasi dari "Tekad Murni". Ayahnya, Liang Qi, rupanya telah mencapai tingkat di mana senjata fisik tidak lagi diperlukan.
"Pedang bukan pada tangan ..., pedang ada pada niat," gumam Liang Shan dalam igauannya.
Sementara itu, di Benteng Laut Timur, suasana sangat mencekam. Han Xiang dan Yue Niang dirantai di sebuah tiang kayu di atas dermaga yang menjorok ke laut.
Di bawah mereka, ombak besar menghempas dengan ganas, dan beberapa ekor hiu terlihat berputar-putar, menunggu mangsa.
Jenderal Long Zhanyuan duduk di atas kursi kebesaran, menyesap arak sambil menatap ke arah laut. Di sampingnya, Si Pengetuk Gerbang Neraka terus memutar-mutar seruling hitamnya.
"Apakah kau yakin pemuda itu akan datang?" tanya Si Pengetuk Gerbang Neraka dengan suara mendesis.
"Dia memiliki darah Liang Qi," jawab Long Zhanyuan. "Liang Qi lebih memilih mati daripada melihat orang yang dicintainya menderita. Anaknya pun sama. Jika dia datang, dia akan mati. Jika dia tidak datang, dia akan hidup dalam kehancuran jiwa yang lebih buruk daripada kematian."