NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Malam itu, Kota Menara Langit tidak seperti biasanya. Langit di atas ibu kota tampak muram, tertutup awan hitam yang seolah hendak menelan rembulan.

Di gerbang timur, suara terompet perang membahana, disusul oleh kobaran api yang membumbung tinggi.

Pasukan Matahari Hitam di bawah pimpinan Lauw Bun telah memulai serangan pengalihan mereka. Ribuan tentara kekaisaran bergerak menuju gerbang, meninggalkan bagian belakang istana dalam penjagaan yang lebih longgar.

Namun, bagi Liang Shan, jalan yang ia tempuh jauh lebih sunyi.

Bersama Han Xiang dan Yue Niang, ia merayap di antara bayang-bayang tembok luar kompleks makam leluhur.

Makam ini bukan sekadar kuburan, melainkan adalah sebuah benteng bawah tanah yang luas, tempat bersemayamnya para kaisar dari dinasti terdahulu.

Orang-orang menyebutnya sebagai "Jantung Naga yang Berhenti Berdetak".

Mereka menemukan saluran air kuno yang tersembunyi di balik semak belukar berduri. Air di dalamnya dangkal, namun baunya menyengat, campuran antara lumut tua dan hawa kematian.

"Kau yakin ini jalannya?" bisik Han Xiang, tangannya mencengkeram erat bungkusan obat di pinggangnya.

Liang Shan mengangguk. Matanya menatap tajam ke dalam kegelapan lorong air.

"Peta dari pecahan ketiga menunjukkan bahwa ini adalah satu-satunya jalan masuk yang tidak dijaga oleh mekanisme gerbang utama. Kita harus bergerak cepat sebelum fajar menyingsing."

Mereka mulai melangkah masuk. Kegelapan seolah menyedot cahaya lampion kecil yang dibawa Yue Niang. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu terdengar seperti detak jam maut yang menghitung sisa umur mereka.

Semakin jauh mereka masuk, udara terasa semakin tipis dan dingin. Bukan dingin karena cuaca, melainkan hawa dingin yang berasal dari energi Yin yang sangat pekat.

Tiba-tiba, lorong itu berakhir di sebuah ruangan luas yang dipenuhi oleh ribuan patung prajurit terakota. Patung-patung itu berdiri tegak dengan senjata asli di tangan mereka.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah jembatan batu sempit yang melintasi jurang tak berdasar.

"Jangan menyentuh apapun," peringat Liang Shan. "Setiap patung di sini terhubung dengan sensor tekanan di lantai."

Namun, saat mereka berada di tengah jembatan, Liang Shan mendadak berhenti. Tubuhnya gemetar hebat. Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang bereaksi secara liar terhadap energi dari empat pecahan permata yang ia bawa.

Di dalam kepalanya, ia tidak lagi melihat ruangan patung, melainkan melihat kobaran api di rumah masa kecilnya. Liang Shan melihat ayah dan ibunya yang terkapar bersimbah darah.

Liang Shan berlutut, napasnya memburu. Han Xiang segera memeluknya dari belakang.

"Liang Shan! Itu hanya ilusi! Jangan biarkan racun itu menguasai pikiranmu!"

Yue Niang segera duduk dan memetik kecapinya. Nada-nada suci Pembersih Jiwa mengalun dan mencoba memecah kabut kegelapan yang menyelimuti batin Liang Shan.

Dengan sisa kekuatannya, Liang Shan menghantamkan tinjunya ke lantai batu. Rasa sakit fisik itu membantunya kembali ke kenyataan. Ia berdiri, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Terima kasih," bisiknya parau kepada kedua wanita itu. "Kita hampir sampai."

Mereka tiba di sebuah aula besar yang dijaga oleh sebuah pintu perunggu raksasa berukir naga emas. Di depan pintu itu, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang menjuntai hingga ke lantai.

Dia mengenakan jubah abu-abu sederhana, namun di pangkuannya terdapat sebuah pedang yang tidak memiliki sarung. Bilahnya berkilauan seperti cahaya bintang di tengah malam.

Pria tua berambut putih itu membuka matanya. Tidak ada cahaya di pupilnya, hanya kekosongan yang dalam, seolah-olah ia telah melihat akhir dari segala sesuatu.

Di belakangnya, tiga sosok berjubah hitam pekat muncul dari balik pilar-pilar naga. Mereka tidak menginjak lantai, melainkan melayang beberapa inci di atas tanah dan memancarkan hawa sakti yang begitu pekat hingga membuat api lampion Yue Niang berubah menjadi hijau pucat.

"Namaku adalah Zhuo Long, Penjaga Keabadian," suara pria tua itu terdengar parau, bergetar seperti gesekan batu kubur.

"Dan ketiga bayangan di belakangku adalah Tiga Pemetik Nyawa yang telah melepaskan kemanusiaan mereka demi menjaga rahasia ini. Anak muda, kau telah melangkah terlalu jauh."

Liang Shan tidak menjawab. Ia merasakan hawa dingin dari Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang mulai membekukan aliran darahnya.

"Xiang-er, Yue Niang, tetaplah di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan mendekat," bisik Liang Shan.

Zhuo Long menggerakkan ujung pedang. Tanpa aba-aba, Tiga Pemetik Nyawa ikut melesat maju.

Satu menggunakan tombak perak sepanjang satu depa, satu menggunakan belati kembar beracun, dan yang terbesar menggunakan palu godam raksasa.

Liang Shan langsung menghunus Golok Sunyi!

Suara dentingan logam memenuhi aula. Ia bergerak seperti kilat hitam di tengah badai. Goloknya menepis tombak, memblokir palu, dan menghalau belati dalam satu rangkaian gerakan yang sangat padat.

Setiap benturan membuat tangannya gemetar. Para penjaga ini memiliki tenaga dalam yang setara dengan ketua sekte besar.

Seiring berjalannya waktu, Zhuo Long mulai turun tangan. Ia tidak menyerang dengan kasar, melainkan melepaskan gelombang tenaga sakti melalui ujung pedangnya.

Setiap tusukannya mengincar celah di antara serangan ketiga anak buahnya. Liang Shan terdesak. Luka sayatan mulai muncul di bahu dan pahanya.

Darah segar menetes ke lantai makam, namun ia tetap bungkam, matanya hanya fokus pada ritme serangan lawan.

"Kau bertahan lebih lama dari yang aku kira," ucap Zhuo Long dingin.

Pertarungan terus berlanjut. Mencapai jurus empat puluhan, napas Liang Shan mulai tersengal. Wajahnya kini bukan lagi pucat, melainkan membiru.

Racun dingin itu sudah mencapai dadanya!

Han Xiang ingin bergerak maju, namun tekanan hawa sakti di ruangan itu begitu besar hingga membuatnya sulit bahkan untuk sekedar berdiri.

Yue Niang memetik kecapinya dengan liar, mencoba memberikan dukungan energi, namun suaranya tenggelam dalam deru palu dan pedang.

Pada jurus keempat puluh lima, Liang Shan terlambat setengah tarikan napas.

Palu godam raksasa itu menghantam lambungnya dengan suara yang tumpul namun menggetarkan jantung.

Tubuh Liang Shan terangkat dari lantai, lalu melayang sesaat di udara sebelum terlempar keras menghantam Pintu Naga di belakang aula.

BRAKK!!!

Kayu besi berukir naga itu retak, sisiknya terkelupas, dan separuh daun pintu terlepas dari engselnya. Liang Shan terjatuh berlutut di atas puing-puing, goloknya nyaris terlepas dari genggaman.

Darah hitam kental muncrat dari mulutnya, jatuh ke lantai batu dan mendesis, mengeluarkan bau amis bercampur racun.

Merasa mendapat kesempatan emas, Tiga Pemetik Nyawa melompat bersamaan dan mengunci semua arah pelarian Liang Shan.

Bersamaan dengan itu, Zhuo Long juga melesat di tengah-tengah mereka, pedang pusaka miliknya mengarah tepat ke jantung Liang Shan.

Pemuda itu mencengkeram gagang Golok Sunyi dengan kedua tangannya. Ia tidak lagi mencoba menekan racun di tubuhnya.

Sebaliknya, Liang Shan membiarkan racun itu mengalir deras, menyatukannya dengan seluruh sisa tenaga murninya.

Tiba-tiba matanya berubah menjadi hitam pekat tanpa putih mata. Sebuah aura kehancuran yang amat besar meledak dari tubuhnya, membuat pilar-pilar batu di sekeliling mereka mulai retak dan pecah.

"Ini adalah akhir bagi kalian," bisik Liang Shan, suaranya bukan lagi suaranya sendiri, melainkan suara ribuan jeritan dari masa lalu.

"Langit Retak, Jiwa Terbelah!"

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!