Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Laksmana Abimanyu
.
Gilang menyetir dengan pikiran yang campur aduk. Kata-kata ibunya terus terngiang di kepalanya. Ia mencintai Almira, sangat mencintainya. Tapi di sisi lain, ia juga merindukan Almira yang dulu, yang selalu menuruti perkataannya. Rasa gengsi dan ego seorang pria membuatnya sulit menerima perubahan sikap Almira.
Sesampainya di kantor, Gilang langsung menuju ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya dan memijat pelipisnya. Pertengkaran dengan Lila, sikap dingin Almira, dan hasutan ibunya membuatnya merasa dalam dilema. Apa benar ia harus melakukan itu?
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Gilang melihat nama Lila di layar ponselnya. Dengan berat hati, ia mengangkat telepon itu.
"Halo, Mas?" sapa Lila dengan suara yang terdengar bergetar.
"Ada apa?" tanya Gilang datar.
"Mas, aku minta maaf soal tadi pagi," ucap Lila dengan suara lirih. "Aku tahu aku salah. Aku terlalu cemburu."
Gilang menghela napas. Matanya terpejam sesaat. "Iya, aku juga minta maaf. Aku juga terlalu kasar sama kamu."
"Aku hanya takut, Mas," lanjut Lila dengan suara yang semakin bergetar. "Aku takut kehilangan kamu."
"Kamu terlalu banyak berpikir," jawab Gilang berusaha menenangkan. "Aku tidak akan mengkhianati kamu."
"Janji?"
"Iya, aku janji." Janji yang entah bisa ia tepati atau tidak.
Gilang menutup ponselnya lalu terdiam beberapa saat. “Ibu benar. Jika rumah itu aku alihkan atas namaku, Almira tak kan lagi bisa berontak dia akan kembali jadi istri yang manis. Aku harus membujuknya.”
*
Di kamarnya, Almira sudah bersiap untuk pergi. Ia mengenakan gamis modis berwarna emerald green, sengaja memilih ukuran yang sedikit kedodoran untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang mulai sedikit melar. Tas tangan kulit sudah menggantung elegan di pundaknya, berisi dokumen-dokumen penting dan dompet berisi dan ponsel yang tak pernah ia tinggalkan.
Ia akan pergi mengunjungi toko pakaian miliknya, sebuah usaha yang selama ini tak pernah diketahui oleh Gilang.
Toko pakaian? Ya, Almira punya. Di awal pernikahan, ketika ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan yang jauh berbeda dari masa lalunya sebagai seorang nona kaya, ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya di dunia bisnis online.
Bisnis besar? Bukan. Awalnya, ia hanya menjadi reseller tanpa stok barang. Sungguh sulit. Ia harus tertatih, bahkan merangkak untuk mempelajari seluk-beluknya. Namun, ilmu yang ia dapatkan saat kuliah di jurusan bisnis manajemen benar-benar ia manfaatkan sebaik mungkin. Ia juga tak pernah malas belajar, mengikuti kelas online, berbaur dengan para pelaku usaha sejenis, hingga perlahan tapi pasti, usahanya mulai berkembang.
Di tahun pertama pernikahan dan menggeluti bisnis online, Almira berhasil memiliki toko fisik sendiri. Tidak besar memang, tapi cukup berkembang dan menjanjikan.
Perlahan, ia merekrut reseller sendiri, mengembangkan tokonya hingga semakin besar, cukup untuk menopang kehidupan rumah tangganya, dengan jatah bulanan dari Gilang yang tak seberapa. Ia bahkan berhasil menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membeli mobil secara kredit. Jika mobil yang dipakai oleh Gilang, sebagian diangsur dengan gaji Gilang sendiri, tidak dengan mobil Almira. Itu benar-benar menggunakan uang Almira sendiri.
Di tahun kedua, tokonya sudah semakin besar bahkan memiliki beberapa cabang. Dan di tahun ketiga, saat usahanya makin berkembang dan dirinya berhasil mengandung, ia ingin memberikan kejutan manis pada Gilang.
Namun, semua yang ingin ia tunjukkan, terpaksa ia urungkan. Gilang lebih dulu memberinya kejutan yang sangat menyakitkan, kejutan bernama "madu" yang ia lebih suka menyebutnya sebagai "racun".
*
"Mau kemana kamu?" hardik Bu Rosidah saat melihat Almira bersiap untuk pergi.
"Cari hiburan," jawab Almira santai, bahkan tanpa sedikitpun rasa hormat. Ia terus berjalan menuju dapur untuk berpamitan pada Mbak Rini.
Bu Rosidah mengomel, "Suami pergi kerja, istri bukannya duduk diam di rumah jaga rumah atau bersih-bersih, malah keluyuran!"
"Itu sudah pernah kulakukan dulu," sahut Almira sinis. "Sekarang, tidak lagi. Apa gunanya? Toh, tidak akan terlihat," lanjutnya bahkan tanpa berhenti untuk menoleh ke arah mertuanya yang semakin geram.
Di dapur, ia berbicara pada Mbak Rini,
"Aku mau pergi sebentar, ya, Mbak. Jaga rumah baik-baik, istirahat jika lelah bekerja, tidak semua perintah mereka wajib Mbak kerjakan. Karena kita manusia, bukan robot," ucapnya tulus.
“Iya, Bu. Terima kasih." Mbak Rini tersentuh dengan ketulusan Almira. Majikannya ini sama sekali tidak seperti kebanyakan majikan yang hanya bisa memerintah ini dan itu.
Almira berjalan melewati ibu mertua, adik madu, dan adik ipar yang tampak seperti nyonya kaya, duduk santai bermain ponsel di sofa sambil terus mencibirnya.
"Dasar perempuan gak bener. Sukanya keluyuran. Kok aku ragu ya, Bu. Kalau dia itu dapat uang dari temannya yang namanya Sifa itu. Jangan-jangan dia nyari om-om di luar," celetuk Riana sinis dari sofa.
Almira berhenti sejenak lalu menoleh. “Kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?"
Riana melotot tajam, dadanya berdetak, wajahnya tampak gugup saat bertatapan dengan sorot mata Almira yang terlihat mengejek.
"Mbak Mira ini kalau orang nasehatin bukannya berterimakasih malah seperti itu. Itu gak sopan, Mbak. Bagaimana Ibu adalah orang tua yang harus dihormati.” Lila mengambil kesempatan membuat Almira terlihat buruk.
Almira memutar bola matanya malas, "Hormat itu pilih-pilih. Aku sih mending hormat pada bendera.”
Setelah berkata demikian, Almira melanjutkan langkah, tidak ingin lagi menanggapi cibiran mereka. Semua hanya ia anggap angin lalu. Almira berjalan menuju garasi dan segera pergi dengan mobilnya.
Dulu, jika Gilang tidak di rumah, ia biasa mengendalikan semuanya dari rumah, berbicara dengan para karyawan secara online. Sekarang, tidak lagi. Ada banyak kuping serakah yang akan berbahaya jika mendengar. Jadi, dia harus pergi langsung ke tokonya.
*
*
*
Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah mewah yang ada di pusat kota, Pak Sudarto sedang berhadapan dengan seorang pria paruh baya.
“Apa lagi yang ingin kau laporkan?" pria paruh baya itu menatap datar.
Pak Sudarto mengangkat wajah yang terlihat ragu, atau lebih tepatnya takut apa yang akan diucapkan salah.
“Saya mohon maaf sebelumnya," ucap Pak Sudarto. “Ini adalah tentang Gilang Pradipta. Kinerjanya semakin menurun. Laporan kacau, ditambah lagi dia juga jadi sering terlambat, sama sekali jauh berbeda dari sebelumnya. Terus terang ini akan sangat mempengaruhi karyawan lain. Jika kita terus mempertahankannya…”
“Perlakukan dia seperti karyawan lain,” sahut pria paruh baya itu. “Mulai sekarang, tidak ada lagi keistimewaan. Terapkan aturan yang seharusnya berlaku!"
Mata Pak Sudarto berbinar mendengar itu. “Anda yakin?"
Pria paruh baya di hadapannya mengangguk dan itu membuat pak Sudarto bernafas lega. Seakan ia baru saja terbebas dari beban berat.
Laksmana Abimanyu, pria paruh baya itu menghela nafas berat setelah kepergian pak Sudarto. Selama ini, ia diam-diam ingin menopang kehidupan rumah tangga Almira tanpa putrinya itu tahu. Memberikan pekerjaan dengan jabatan dan gaji yang tinggi pada Gilang, meskipun sebenarnya tak layak. Ia pikir dengan begitu kehidupan putrinya akan bahagia.
Dan benar, ia memang melihat putrinya begitu bahagia selama tiga tahun ini. Tapi, pertemuan tidak sengaja antara istrinya dan Sifa beberapa hari lalu membuat matanya terbuka. Ternyata, selama ini putrinya berjuang seorang diri. Kebahagiaan itu palsu. Hanya fatamorgana. Putrinya diselingkuhi. Sekarang, waktunya menarik kembali semuanya
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐