Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kota Tanpa Warna
(POV: Noah)
Oli hitam menetes perlahan dari sela-sela baut mesin yang berkarat, jatuh ke lantai beton yang dingin. Aku menatap tetesan itu selama beberapa detik, menghitungnya dalam hati, hanya untuk membunuh waktu.
Satu. Dua. Tiga.
Di luar, langit Norden berwarna abu-abu pucat, seperti warna air bekas cucian yang kotor. Tidak ada matahari hari ini. Sebenarnya, jarang sekali ada matahari terlihat di kota pelabuhan ini. Hanya ada angin laut yang membawa bau garam, amis ikan, dan keputusasaan.
Tanganku terasa kaku. Udara bulan Oktober mulai menggigit, menembus sarung tangan kerjaku yang sudah bolong di bagian jempol. Aku menghela napas, uap putih keluar dari mulutku.
Trang!
Kunci inggris yang kulempar menghantam meja kerja yang terbuat dari besi. Suaranya menggema di bengkel yang sunyi, memecah suara monoton hujan gerimis yang memukul atap seng.
Aku benci suara itu. Aku benci bengkel ini. Tapi lebih dari segalanya, aku benci fakta bahwa aku tidak punya tempat lain untuk pergi dari sini. Ayah mungkin sedang pingsan di belakang tumpukan kardus karena mabuk, atau mungkin dia sedang berhutang lagi di bar dekat dermaga. Yah... Itu bukan urusanku. Tugasku hanya memastikan bengkel tua ini tetap berjalan, setidaknya sampai aku punya cukup uang untuk membeli tiket kapal feri satu arah keluar dari sini.
Aku baru saja akan menyalakan rokok ketika lonceng pintu berbunyi.
Kring... Kring...
Suaranya nyaring, dan mengganggu.
Aku menoleh ke arah pintu kaca yang buram oleh embun. Seseorang mendorongnya terbuka. Angin dingin langsung menyerbu masuk, membawa serta aroma yang tidak seharusnya ada di sini. Aroma parfum mahal. Vanila dan kayu manis.
Seorang gadis melangkah masuk.
Dia berhenti tepat di ambang pintu, seolah ragu untuk menginjakkan kakinya lebih jauh ke dalam 'kandang babi' ini.
Mataku mulai menyipit. Penampilannya sangat kontras dengan segala sesuatu di sekitarnya. Dia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang terlihat sangat lembut, sepatu bot kulit hitam yang mengkilap tanpa noda lumpur, dan syal tebal yang menutupi sebagian wajahnya.
Rambutnya panjang, sedikit basah karena gerimis, menempel di pipinya yang pucat.
Tak. Tak. Tak.
Suara hak sepatunya beradu dengan lantai semen yang berminyak saat dia melangkah mendekat.
Dia melihat ke sekeliling dengan tatapan waspada, seperti seekor kucing rumahan yang tersesat di gang liar. Matanya menyapu tumpukan ban bekas, kaleng oli, dan akhirnya berhenti padaku. Ada kilatan aneh di matanya. Bukan karena takut, tapi... Terlihat sedikit gelisah.
"Apa ini sebuah bengkel?" tanyanya.
Suaranya halus, tapi ada nada mendesak di sana.
Aku menghisap rokokku yang belum dinyalakan, lalu menyelipkannya di telinga. "Apa kelihatannya seperti sebuah toko roti untukmu, nona?" jawabku sarkas. Aku mengambil lap kotor untuk membersihkan tangan. "Kami sudah tutup sekarang. Mesin kapal feri baru datang besok pagi."
Gadis itu menggeleng dengan cepat. Tangannya meremas tas kulit kecil yang dibawanya. Kuku-kukunya terawat dengan rapi, dicat dengan warna merah gelap.
"Aku tidak bicara tentang kapal," katanya. "Aku kesini karena butuh bantuan tentang listrik. Dan pemanas air."
Aku tertawa kecil, suara yang terdengar kering di tenggorokanku sendiri. "Nona, lihat papan di depan. Ini bengkel mesin diesel. Kalau kau mau tukang listrik, pergi ke pusat kota. Toko Pak Hans ada di sana."
"Mereka tutup," potongnya cepat. "Semuanya tutup karena ini hari Minggu."
Aku mengangkat bahu. "Kalau begitu nasibmu buruk sekali. Datang lagi saja besok."
Aku berbalik, berniat kembali ke mesin tua yang sedang kubongkar. Aku tidak butuh drama turis nyasar sore ini. Aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku, pulang, makan mie instan, dan tidur.
"Aku akan bayar tiga kali lipat."
Langkahku langsung terhenti.
Tiga kali lipat.
Kata-kata itu menggantung di udara, lebih berat daripada bau oli di ruangan ini. Di Norden, uang bukan sekadar alat tukar. Uang adalah tiket kebebasan.
Aku menoleh perlahan. Gadis itu sudah mengeluarkan dompetnya. Dia menarik beberapa lembar uang kertas pecahan besar. Mata uang asing? Tidak, itu mata uang lokal, tapi lembarannya masih kaku dan terlihat baru. Dia tidak main-main.
"Pemanas air di tempatku mati. Aku tidak bisa mandi dengan air dingin," katanya, suaranya sedikit bergetar. Entah karena dingin atau karena dia sedang menahan emosi, aku tidak tahu. "Dan lampu di lantai dua terus berkedip. Aku tidak bisa tidur kalau gelap."
Aku menatap uang di tangannya, lalu menatap wajahnya. Dia cantik, dengan cara yang menyakitkan. Wajah yang terlalu bersih untuk kota industri ini. Tapi ada kantung mata tipis di wajahnya. Dia terlihat lelah. Sangat lelah.
"Di mana tempatnya?" tanyaku akhirnya.
"Villa di atas bukit. Yang dekat mercusuar lama."
Dahiku berkerut. "Villa keluarga Blackwood? Tempat itu sudah kosong selama lima tahun. Hantunya lebih banyak daripada tikusnya."
"Aku menyewanya saat ini," jawabnya singkat. Dia meletakkan uang itu di atas meja kerja besiku yang kotor, tepat di samping kunci inggris. Kontrasnya sangat memuakkan. Kertas bersih di atas besi berminyak. "Sekarang. Tolong bantu aku."
Hahhh....!
Aku menghela napas panjang, mengusap wajahku yang kasar. "Tunggu di sini. Aku ambil tas perkakas dulu."
(POV: Alice)
Pria itu menghilang ke balik pintu gudang di belakang.
Alice akhirnya bisa menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Bahunya merosot turun. Dia melihat sekeliling bengkel itu dengan rasa jijik yang tertahan. Tempat ini bau, kotor, dan suram. Sama seperti suasana hatinya.
Tapi dia tidak punya pilihan lain.
Tangannya bergerak refleks merogoh saku mantel, mengambil ponsel pintarnya. Layarnya menyala dalam kegelapan bengkel.
25 Panggilan Tak Terjawab.
10 Pesan Baru.
Nama "Tunangan" dan "Papa" bergantian muncul di notifikasi.
Jantung Alice berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya. Rasa mual itu datang lagi. Perasaan tercekik yang membuatnya kabur dari apartemen mewahnya di Ibukota dua hari lalu. Dia tidak bisa bernapas di sana. Setiap senyumannya adalah palsu, setiap kata adalah sebuah skenario.
Di sini, di kota antah berantah yang bahkan tidak ada di peta wisata ini, setidaknya dia bisa bernapas. Meskipun udaranya bau oli.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di tangannya bergetar lagi. Panggilan masuk.
Wajah Alice memucat. Jempolnya gemetar di atas layar. Dia ingin mengangkatnya, berteriak bahwa dia baik-baik saja, tapi dia tahu itu adalah sebuah kebohongan. Dia tidak baik-baik saja. Jika dia mengangkat telepon itu, mereka akan melacaknya. Mereka akan datang dengan mobil hitam mengkilap, menyeretnya pulang, dan memaksanya kembali ke dalam sangkar emas itu.
"Tidak," bisiknya lirih.
Dengan gerakan cepat, dia menekan tombol power dan menahannya. Layar ponsel itu mati.
Dia memasukkan benda mati itu kembali ke dalam tasnya, lalu memeluk dirinya sendiri. Dingin di bengkel ini menusuk tulang.
Dia menatap pintu gudang tempat montir tadi menghilang. Pria itu, Noah, kalau dia tidak salah baca tulisan di baju kerjanya... terlihat kasar. Tatapannya tajam, tidak ramah, dan penuh curiga. Tipe orang yang tidak akan peduli siapa Alice sebenarnya.
Dan itulah yang Alice butuhkan. Dia tidak butuh seorang teman. Dia tidak butuh orang yang bertanya "kau kenapa?". Dia hanya butuh seseorang yang bisa dibeli jasanya untuk membuat tempat persembunyiannya layak huni.
Hanya itu. Tidak lebih.
(POV: Noah)
"Ayo."
Aku keluar dari gudang sambil menenteng kotak peralatan berat di tangan kanan. Gadis itu tersentak kaget, seolah baru saja tertangkap basah sedang melakukan kejahatan. Dia buru-buru membetulkan letak syalnya.
"Kita pakai trukku," kataku sambil berjalan melewatinya menuju pintu keluar. "Jangan harap ada jok kulit atau AC didalamnya."
Kami berjalan keluar menembus gerimis. Truk pickup tuaku terparkir miring di halaman depan. Catnya sudah mengelupas di sana-sini, memperlihatkan warna karat yang jelek.
Brakk!
Aku menutup pintu sisi pengemudi dengan keras, lalu mencondongkan badan untuk membuka pintu sisi penumpang dari dalam karena tuas luarnya rusak.
Gadis itu berdiri dengan ragu di samping truk, memandangi jok yang sobek dengan tatapan ngeri.
"Masuk llah atau aku akan kembali tidur," ancamku.
Dia akhirnya naik, mengangkat ujung mantel mahalnya tinggi-tinggi agar tidak menyentuh lantai mobil yang penuh tanah kering.
Aku memutar kunci kontak.
Ngik... Ngik... Brummmm!
Mesin tua itu meraung, batuk dua kali, lalu bergetar hebat. Getarannya terasa sampai ke tulang punggung.
"Kenakan sabuk pengamannya," kataku tanpa menoleh.
"Ini rusak," jawabnya pelan, menarik tali sabuk yang macet.
"Pegang pegangan di atas pintu kalau begitu. Jalan menuju ke bukit itu jelek."
Aku memasukkan gigi satu dan menginjak gas. Truk melaju perlahan meninggalkan bengkel, membelah jalanan Norden yang sepi dan basah.
Hanya ada suara mesin yang menderu dan suara wiper kaca yang bergerak dengan malas.
Swoosh... Swoosh...
Kecanggungan di dalam kabin mobil ini begitu tebal sampai rasanya mencekik. Aku meliriknya sekilas dari sudut mata. Dia duduk tegak, kaku, memandang lurus ke jalanan yang berkabut. Wajahnya terlihat kosong. Bukan kosong karena bodoh, tapi kosong karena terlalu banyak pikiran yang menumpuk sampai dia tidak tahu harus memproses yang mana.
"Siapa namamu?" tanyaku, memecah keheningan. Bukan karena aku peduli, hanya untuk memastikan aku tahu nama orang yang membayarku.
Dia diam sejenak, seolah menimbang-nimbang apakah namanyanya aman untuk diucapkan.
"Alice," jawabnya akhirnya.
"Oke, Alice. Aku Noah." Aku memutar setir, menghindari lubang besar di aspal. "Apa yang membuat gadis kota sepertimu mau tinggal di rumah hantu Blackwood di musim dingin seperti ini? Liburan?"
Pertanyaan yang standar. Hanya untuk basa-basi.
Tapi reaksi Alice terlihat berlebihan. Tubuhnya menegang. Dia menoleh padaku dengan tatapan defensif.
"Aku membayarmu untuk memperbaiki pemanasku. Bukan untuk mewawancarai ku."
Aku mengangkat alis. Galak juga.
"Terserahlah," gumamku. "Asal uangnya asli, aku tidak peduli kau buronan polisi atau putri seorang raja yang sedang kabur."
Aku melihatnya tersentak kecil mendengar kata 'kabur'. Tebakanku sepertinya tidak meleset jauh.
Jalanan mulai menanjak. Rumah-rumah penduduk sudah mulai jarang, digantikan oleh pepohonan pinus gelap yang menjulang di kiri kanan jalan. Kabut semakin tebal.
Di kejauhan, di puncak bukit yang menghadap laut lepas, siluet Villa Blackwood mulai terlihat. Bangunan tua bergaya gotik dengan cat yang sudah kusam, berdiri sendirian seperti monster yang sedang mengintai mangsanya. Jendelanya gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Kita sampai," kataku sambil membelokkan setir masuk ke pekarangan villa yang penuh ilalang liar.
Alice menatap bangunan itu. Aku melihat tangannya gemetar lagi. Kali ini bukan karena dingin.
Dia terlihat takut.
Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke bengkelku, aku merasakan sedikit rasa kasihan padanya. Sedikit. Sangat sedikit.
"Hei," panggilku.
Dia menoleh, matanya yang besar menatapku.
"Kalau hantunya muncul, sembunyi saja di belakangku. Aku bawa kunci inggris yang besar."
Itu lelucon yang buruk. Sangat buruk. Tapi kulihat sudut bibirnya berkedut sedikit. Setengah detik kira-kira. Lalu wajahnya kembali datar.
"Cepat selesaikan kerjaanmu," katanya dingin, lalu membuka pintu mobil dan melompat turun ke dalam kabut.
Aku melihat punggungnya menjauh, mantel krem itu satu-satunya titik terang di tempat suram ini.
Aku punya firasat buruk. Firasat bahwa uang bayaran tiga kali lipat ini tidak akan sepadan dengan masalah yang akan dibawa oleh gadis itu.
Tapi seperti orang bodoh, aku mematikan mesin, mengambil kotak peralatanku, dan menyusulnya ke dalam kegelapan.