Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Restoran Itu
Tara tidak berniat mencurigai siapa pun hari itu.
Ia hanya ingin makan.
Hari Sabtu, hujan turun sejak pagi, membasahi kota dengan gerimis tipis yang tidak cukup deras untuk membuat orang berlari, tapi cukup untuk membuat suasana muram. Tara keluar rumah sendirian, mengenakan jaket tipis, ponsel di saku, kepala penuh dengan hal-hal yang tidak bisa ia beri nama.
Ibunya sedang menghadiri acara keluarga. Ayahnya bilang ada urusan kantor dan pergi sejak siang.
Tara tidak bertanya.
Ia lelah bertanya.
Restoran kecil itu berada di sudut jalan yang jarang ia lewati—bukan tempat mewah, tapi hangat. Lampu kuning lembut, jendela besar yang menghadap jalan, aroma makanan rumahan yang menenangkan.
Ia mendorong pintu, lonceng kecil berbunyi pelan.
Tempat itu tidak ramai.
Beberapa meja terisi. Sepasang lansia di sudut. Dua anak muda tertawa pelan di dekat jendela.
Dan satu meja di bagian tengah.
Tara berhenti melangkah.
Jantungnya seperti dijatuhkan dari ketinggian.
Di sana—duduk membelakanginya, mengenakan kemeja biru tua yang sangat ia kenal—adalah ayahnya.
Rangga Pratama.
Tara refleks tersenyum kecil. Papa ternyata di sini, pikirnya. Mungkin urusan kantor batal.
Ia hendak melangkah mendekat.
Lalu ia melihat siapa yang duduk di seberang ayahnya.
Dunia Tara berhenti.
Perempuan itu duduk dengan posisi sedikit condong ke depan. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya—Tara mengenal wajah itu. Bukan karena sering bertemu, tapi karena terlalu sering melihatnya dari kejauhan.
Ibu Kia.
Tangan Tara dingin.
Bukan dingin karena hujan.
Bukan dingin karena AC.
Dingin karena sesuatu di dalam dirinya tiba-tiba tahu—tanpa penjelasan—bahwa apa yang ia lihat ini tidak seharusnya ada.
Ayahnya tertawa kecil.
Bukan tawa formal. Bukan tawa basa-basi.
Tawa yang lembut.
Tawa yang… jarang Tara dengar akhir-akhir ini.
Ibu Kia tersenyum, menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. Tatapannya hangat. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum tetap.
Mereka terlihat… dekat.
Bukan seperti rekan kerja.
Bukan seperti kenalan lama.
Bukan seperti dua orang yang bertemu tanpa sejarah.
Tara berdiri kaku di dekat pintu, tak seorang pun memperhatikannya.
Pelayan mendekat. “Mbak, mau berapa orang?”
Tara tidak langsung menjawab.
Matanya terpaku pada meja itu.
Pada cara ayahnya mencondongkan tubuh saat berbicara.
Pada cara ibu Kia mendengarkan—sungguh-sungguh.
Pada tangan ayahnya yang sesekali bergerak di atas meja, hampir menyentuh tangan perempuan itu, lalu menarik diri.
Hampir.
“Hampir” yang terlalu banyak artinya.
“Mbak?” tanya pelayan lagi, sedikit bingung.
“S-satu,” jawab Tara akhirnya.
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Pelayan mengangguk, menuntunnya ke meja dekat jendela—cukup jauh, tapi masih dalam jarak pandang.
Tara duduk.
Tangannya gemetar.
Ia membuka menu, tapi huruf-huruf di sana tidak bermakna.
Ia tidak mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.
Kenapa Papa di sini?
Kenapa dengan dia?
Kenapa bukan Mama?
Pertanyaan itu berdesakan, saling tabrakan.
Ayahnya menunduk, mengusap wajahnya dengan satu tangan—gestur lelah yang Tara kenal sejak kecil. Lalu ia berkata sesuatu.
Ibu Kia mengangguk pelan.
Tara tidak bisa mendengar kata-kata mereka. Tapi ia bisa membaca bahasa tubuh.
Dan bahasa itu berkata satu hal dengan jelas:
Ini bukan pertemuan biasa.
Kenangan menyerbu tanpa permisi.
Cara Papa selalu berubah saat nama Kia disebut.
Larangan menjauh yang terlalu keras.
Foto perempuan tak dikenal di ruang kerja.
Tulisan: Jangan sampai Tara tahu.
Jangan sampai Tara tahu apa?
Tara meremas serbet di tangannya.
Pelayan datang membawa air. “Mau pesan apa, Mbak?”
“Apa saja,” jawab Tara cepat.
Pelayan tersenyum sopan, lalu pergi.
Tara menelan ludah.
Ia ingin berdiri.
Ingin berjalan ke meja itu.
Ingin bertanya langsung: Papa, ini apa?
Tapi kakinya terasa berat.
Ada rasa takut yang aneh—bukan takut dimarahi, bukan takut disangkal—melainkan takut kalau jawabannya benar-benar akan menghancurkan sesuatu yang selama ini ia pegang sebagai kenyataan.
Ayahnya tiba-tiba menghela napas panjang. Ia menggeleng, lalu tersenyum kecil—senyum pahit.
Ibu Kia mengulurkan tangan.
Dan menyentuh tangan ayahnya.
Bukan lama.
Bukan erat.
Tapi cukup.
Cukup untuk membuat napas Tara terhenti.
Tangannya berkeringat. Matanya panas.
Tidak.
Kata itu berteriak di kepalanya.
Ini pasti salah paham.
Tapi tubuhnya tahu—tubuhnya bereaksi lebih cepat dari logika—bahwa apa yang ia lihat ini adalah bagian dari sesuatu yang sudah lama ada.
Sesuatu yang disembunyikan.
Sesuatu yang menjelaskan terlalu banyak hal.
Tara tidak sadar air matanya jatuh.
Ia cepat-cepat mengusap pipinya, menunduk, berharap tidak ada yang melihat.
Makanannya datang. Ia tidak menyentuhnya.
Ia hanya duduk, menatap meja itu seperti menatap kecelakaan yang tidak bisa dicegah.
Ayahnya berdiri lebih dulu. Mengambil dompet. Membayar di kasir.
Ibu Kia berdiri menyusul.
Mereka berdiri berhadapan, terlalu dekat untuk dua orang yang sekadar “teman lama”.
Ayahnya berkata sesuatu. Ibu Kia tersenyum kecil—senyum sedih.
Lalu mereka berpisah.
Ayahnya berjalan ke arah pintu.
Ke arah Tara.
Jantung Tara berdentum liar.
Ia menunduk cepat, pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Langkah kaki itu semakin dekat.
Berhenti.
Tara membeku.
“Papa?”
Suara itu bukan ayahnya.
Pelayan.
Ayahnya mengangguk singkat, lalu melangkah keluar.
Pintu tertutup.
Tara mengangkat wajahnya perlahan.
Ia baru sadar napasnya bergetar.
Tara tidak menunggu lama.
Ia bangkit, meninggalkan makanan utuh di meja, dan keluar restoran tanpa menoleh lagi.
Hujan masih turun.
Lebih deras sekarang.
Ia berjalan tanpa tujuan, membiarkan air membasahi rambut dan jaketnya.
Ibu Kia.
Nama itu berputar-putar di kepalanya.
Kenapa dia?
Kenapa bukan orang lain?
Kenapa harus seseorang yang begitu dekat dengan… Kia?
Kia.
Nama itu terasa seperti luka baru.
Semua interaksi mereka selama ini tiba-tiba berubah makna.
Tatapan Kia yang dingin.
Kata-katanya yang ambigu.
Kalimat: Ada hal-hal yang lebih baik kamu nggak tahu.
Tara berhenti di bawah halte kosong.
Dadanya naik turun.
Ia mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar.
Menatap kontak Papa.
Lalu kontak Mama.
Lalu… Kia.
Ia tidak menekan apa pun.
Ia tidak tahu harus bertanya ke siapa.
Karena siapa pun yang ia tanya, jawabannya akan menghancurkan sesuatu.
Di tempat lain, Kia duduk di kamar, memandangi jendela.
Ibunya belum pulang.
Ia tahu hari ini ibunya pergi makan siang.
Dengan siapa—Kia tahu.
Ia tidak bertanya.
Ibunya tidak menjelaskan.
Kia membenci kenyataan itu.
Ia membenci bahwa ibunya masih terjebak dalam bayang-bayang pria yang tidak pernah memilihnya sepenuhnya.
Ia membenci bahwa ayahnya masih punya kekuatan untuk membuat ibunya tersenyum.
Dan ia membenci—dengan rasa bersalah yang menghantam—bahwa bagian dari dirinya ingin ayah itu runtuh.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Dari Tara.
Kia menatap layar.
Tara:
Aku lihat Papa hari ini.
Sama ibumu.
Darah Kia terasa berhenti mengalir.
Tangannya kaku.
Ia membaca pesan itu berulang kali.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dia lihat.
Kia menutup mata.
Inilah yang ia takuti.
Inilah yang ia harapkan tidak terjadi secepat ini.
Ia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Akhirnya hanya satu kalimat yang terkirim.
Kia:
Kamu yakin?
Balasan datang hampir seketika.
Tara:
Iya.
Tidak ada emotikon.
Tidak ada tanda tanya.
Tidak ada amarah.
Itu yang paling menakutkan.
Di rumah besar dengan pagar tinggi, Tara masuk dengan pakaian basah.
Ibunya menoleh kaget. “Tara? Kamu ke mana? Kok kehujanan?”
“Aku capek,” jawab Tara singkat. “Aku ke kamar.”
Ibunya hendak menyusul, tapi Tara sudah menutup pintu.
Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya.
Air mata yang tadi tertahan akhirnya jatuh.
Ia bukan bodoh.
Ia hanya… belum siap.
Tara akhirnya menyadari:
Ayahnya bukan hanya menyembunyikan sesuatu.
Ayahnya menjalani dua dunia.
Dan ia—Tara—berdiri tepat di antara keduanya, tanpa pernah diberi peta.
Sementara itu, Kia menatap pesan terakhir Tara.
Ia tahu—setelah ini—tidak ada jalan kembali.
Kebenaran sudah mengintip dari celah.
Dan sebentar lagi…
Ia akan menerobos masuk.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya