Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: MENDEKATI ARJUNA
#
Pagi itu skorsnya aku masih berjalan.
Aku gak bisa ke sekolah. Jadi kami putuskan Vanya yang bakal dekatin Arjuna.
Kenapa Vanya?
Karena dulu, waktu Vanya masih jadi ratu sekolah, dia sama Arjuna pernah deket. Bukan pacaran. Tapi temen deket. Sering ngobrol. Sering ketawa bareng.
Tapi sejak Vanya jatuh miskin, Arjuna jadi jaga jarak. Kayak semua orang lain.
Kami berkumpul di rumahku pagi-pagi. Vanya, Adrian, Nareswari.
"Van... lu yakin bisa dekatin Arjuna?" tanya Adrian. Mukanya ragu.
Vanya ngangguk. Tapi aku liat tangannya gemetar dikit. "Aku... aku akan coba. Dulu kami deket. Mungkin... mungkin dia masih mau dengerin aku."
Nareswari buka buku catatannya. "Arjuna biasanya sendirian di perpustakaan jam istirahat pertama. Atau di belakang gedung olahraga jam pulang sekolah. Dia... dia jarang bergaul sama anak-anak lain meskipun dia ketua OSIS."
Aku liat Vanya. "Van... hati-hati ya. Jangan sampai ada yang curiga. Kalau Arjuna nolak, jangan paksa. Kita cari cara lain."
Vanya senyum tipis. "Aku ngerti, Sat. Aku janji aku hati-hati."
Mereka bertiga berangkat ke sekolah. Aku tinggal di rumah sendirian sama ayah dan ibu.
***
Vanya ceritain ke aku nanti malemnya gimana dia coba dekatin Arjuna.
Ini cerita dari sudut pandang Vanya.
***
Jam istirahat pertama.
Aku jalan ke perpustakaan. Jantung berdetak cepat. Tangan dingin.
Aku masuk. Perpustakaan sepi kayak biasa. Cuma ada beberapa anak yang lagi baca.
Aku liat Arjuna duduk di pojok. Sendirian. Dia lagi baca buku tebal. Mukanya... mukanya datar. Gak ada ekspresi.
Aku tarik napas dalam. Aku jalan ke arah dia.
"Jun..."
Arjuna angkat kepala. Dia liat aku. Matanya... matanya kosong.
"Vanya. Ada apa?"
Suaranya dingin. Beda banget sama dulu. Dulu dia selalu hangat. Selalu senyum.
"Aku... aku boleh duduk?"
Arjuna liat kursi kosong di sebelahnya. Dia ngangguk pelan.
Aku duduk. Jarak agak jauh. Gak mau terlalu deket. Takut dia risih.
Hening.
Gak ada yang ngomong.
Aku coba buka pembicaraan. "Jun... kamu... kamu gimana kabarnya?"
Arjuna nutup bukunya. Dia liat aku. "Baik. Kamu?"
"Aku... aku baik juga."
Bohong. Aku gak baik. Hidupku hancur. Tapi aku gak mau bilang itu.
Arjuna kembali buka bukunya. "Kalau gak ada yang penting, aku mau baca."
Dingin. Penolakan halus.
Aku gigit bibir bawah. "Jun... aku... aku mau ngomong sesuatu."
"Ngomong apa?"
"Tentang... tentang beasiswa kedokteran."
Arjuna berhenti baca. Dia liat aku. Matanya menyipit. "Kenapa?"
"Kamu... kamu tau kan beasiswa itu korupsi?"
Arjuna diem. Mukanya berubah. Dari datar jadi... jadi waspada.
"Vanya, jangan bahas itu di sini."
"Tapi Jun..."
"Aku bilang jangan!" suaranya keras dikit. Beberapa anak di perpustakaan noleh ke kami.
Arjuna berdiri. Dia ambil bukunya. Dia jalan keluar.
Aku berdiri juga. Aku kejar dia.
"Jun! Tunggu!"
Dia jalan cepat. Keluar perpustakaan. Aku ikutin dia sampe ke koridor sepi.
"Jun, kumohon dengerin aku!"
Arjuna berhenti. Dia berbalik. Mukanya marah. "Vanya, apa maumu? Kenapa kamu tiba-tiba bahas beasiswa itu? Kamu... kamu mau masalah?"
"Aku gak mau masalah. Aku cuma... aku cuma mau bantuin Satria. Dia... dia yang paling berhak dapet beasiswa itu. Tapi dia gak lolos. Gara-gara korupsi."
Arjuna geleng. "Vanya... kamu gak ngerti. Kamu gak tau seberapa berbahaya orang-orang di balik itu. Mereka... mereka gak main-main. Kalau kamu ngutak-ngatik, kamu bisa mati."
"Aku tau! Satria udah dipukulin preman! Tapi kami gak akan berhenti!"
Arjuna melotot. "Satria dipukulin?!"
Aku ngangguk. "Iya. Gara-gara dia nyelidikin korupsi beasiswa. Tapi kami... kami udah dapet bukti. Kami cuma butuh bantuan kamu."
Arjuna mundur selangkah. Dia geleng-geleng. "Aku gak bisa bantuin. Aku... aku gak mau terlibat."
"Jun, kumohon..."
"JANGAN LIBATKAN AKU, VANYA!"
Dia teriak. Terus dia jalan pergi. Cepat. Ninggalin aku sendirian di koridor.
Aku jatuh berlutut. Gagal. Aku gagal.
***
Hari kedua.
Aku coba lagi. Kali ini jam pulang sekolah.
Aku tunggu di belakang gedung olahraga. Kayak yang Nareswari bilang.
Benar. Arjuna datang. Sendirian. Dia duduk di tangga belakang gedung. Dia keluarin hape. Dia liat layarnya. Mukanya... mukanya sedih.
Aku bersembunyi di balik tembok. Aku gak langsung dekatin dia. Aku cuma ngawasin.
Tiba-tiba hapenya berdering.
Arjuna angkat. "Halo?"
Suara dari seberang gak kedengeran. Tapi aku liat muka Arjuna berubah. Dari sedih jadi... jadi takut.
"Iya, Ayah... iya... aku ngerti... iya, aku akan pulang sekarang... maaf, Ayah... maaf..."
Suaranya gemetar. Kayak orang yang lagi diteriaki.
Telepon ditutup.
Arjuna pegang hapenya erat. Tangannya gemetar.
Terus dia nangis.
Nangis keras. Isakannya keluar. Bahunya bergetar.
Aku kaget. Arjuna... Arjuna Dewantara yang selalu kuat, selalu senyum, selalu jadi panutan... nangis kayak anak kecil yang ketakutan.
Aku gak bisa diem lagi.
Aku keluar dari persembunyian. Aku jalan pelan ke arah dia.
"Jun..."
Arjuna angkat kepala. Dia liat aku. Matanya merah bengkak. Pipinya basah.
"Vanya... pergi... kumohon pergi..."
Suaranya serak. Putus asa.
Aku geleng. Aku duduk di sebelah dia. "Aku gak akan pergi."
Arjuna nangis lagi. Dia tutup muka pake kedua tangannya. "Kenapa... kenapa kamu gak pergi... kenapa kamu peduli sama aku... aku... aku bukan siapa-siapa..."
Aku pegang pundaknya. "Kamu bukan bukan siapa-siapa. Kamu Arjuna. Kamu temenku."
Arjuna geleng. "Aku bukan temen yang baik. Aku... aku ninggalin kamu waktu kamu jatuh miskin. Aku... aku pengecut."
"Kamu bukan pengecut. Kamu cuma... cuma lagi ketakutan. Kayak aku dulu."
Arjuna liat aku. Matanya penuh air mata. "Vanya... kamu gak ngerti... hidupku... hidupku neraka..."
"Ceritain ke aku. Aku dengerin."
Arjuna diem lama. Napasnya tersengal-sengal.
Terus dia mulai cerita.
"Ayahku... ayahku poligami. Dua tahun lalu dia nikah lagi. Sama perempuan muda. Anak pejabat. Kaya raya."
Suaranya pelan. Gemetar.
"Ibu kandungku... ibu kandungku diusir dari rumah. Ayah bilang ibu sudah gak berguna. Ibu udah tua. Gak cantik lagi. Ayah butuh istri yang lebih muda."
Air matanya jatuh lagi.
"Ibu pergi. Ibu tinggal di rumah kakek nenek di kampung. Jauh. Aku... aku gak boleh nemuin ibu. Ayah larang. Ayah bilang kalau aku nemuin ibu, ayah akan buang aku juga."
Dia gigit bibir bawah.
"Aku tinggal sama ayah dan ibu tiri. Ibu tiri... ibu tiri benci sama aku. Dia bilang aku penghalang kebahagiaannya. Dia... dia sering mukul aku. Waktu ayah gak ada. Dia pukul aku pake penggaris besi. Pake sapu. Pake apapun yang dia pegang."
Aku tutup mulut. Gak percaya.
"Aku... aku punya bekas luka di punggung. Banyak. Tapi aku tutupin. Aku pake baju lengan panjang terus. Biar gak ada yang tau."
Dia buka seragamnya sedikit. Di punggungnya ada bekas luka lecet yang udah jadi bekas. Banyak. Berjajar.
Aku nangis. "Jun... kenapa... kenapa kamu gak lapor? Kenapa kamu diem aja?"
Arjuna senyum pahit. "Lapor ke siapa? Ayahku orang kaya. Punya koneksi ke mana-mana. Polisi juga temen ayahku. Siapa yang akan percaya aku? Siapa yang akan peduli?"
Dia tutup bajunya lagi.
"Aku hidup di rumah mewah. Mobil mewah. Uang banyak. Semua orang iri sama aku. Tapi mereka gak tau... mereka gak tau aku disiksa setiap hari. Aku... aku hidup di neraka, Van. Neraka yang dibungkus emas."
Aku peluk Arjuna. Erat. Dia nangis di pundak aku.
"Kamu gak sendirian, Jun. Aku juga jatuh. Aku juga kehilangan semuanya. Tapi aku... aku nemu temen yang tulus. Satria, Adrian, Nareswari. Mereka... mereka peduli sama aku meskipun aku dulu jahat sama mereka. Mereka... mereka terima aku apa adanya."
Arjuna lepas pelukan. Dia liat aku. "Mereka... mereka baik?"
Aku ngangguk. "Mereka baik. Mereka tulus. Dan mereka... mereka butuh kamu, Jun. Bergabunglah dengan kami. Bantu kami bongkar korupsi beasiswa. Bantu kami tegakkan keadilan."
Arjuna geleng. "Vanya... aku gak bisa. Kalau ayahku tau aku bantuin kalian... ayahku bisa bunuh aku. Ayahku... ayahku kenal Pak Bambang. Mereka temen bisnis."
Aku pegang tangan Arjuna. "Jun... kalau kamu gak bantuin, berapa banyak anak miskin lain yang akan jadi korban seperti Satria? Berapa banyak anak yang akan kehilangan masa depan mereka? Berapa banyak keluarga yang akan hancur?"
Arjuna diem. Matanya kosong.
"Kamu... kamu bilang kamu hidup di neraka. Tapi setidaknya kamu punya uang. Punya rumah. Satria? Satria hidup di kontrakan yang bocor. Ayahnya lumpuh. Ibunya tukang cuci. Dia kerja sampe tangannya luka. Dia dipukulin preman. Tapi dia... dia gak menyerah. Dia tetep berjuang. Buat keadilan. Bukan cuma buat dirinya. Tapi buat semua anak miskin."
Air mata Arjuna jatuh lagi.
"Kamu... kamu mau jadi orang yang diem aja? Atau kamu mau jadi orang yang berjuang buat kebenaran?"
Arjuna tutup muka. Dia nangis lagi. Keras.
Aku nunggu. Aku gak ngomong lagi. Aku cuma duduk di sebelah dia.
Lama.
Sampai tangisannya berhenti.
Arjuna angkat kepala. Dia lap matanya.
"Aku... aku akan bantuin."
Jantungku berhenti.
"Serius?"
Arjuna ngangguk. "Aku gak tau apakah aku akan selamat. Tapi... tapi aku gak mau jadi pengecut lagi. Aku mau... aku mau jadi orang yang berguna. Meskipun cuma sekali."
Aku peluk Arjuna lagi. "Terima kasih, Jun. Terima kasih."
Arjuna senyum tipis. "Terima kasih juga, Van. Kamu... kamu yang pertama kali peduli sama aku."
***
Malam itu Vanya datang ke rumahku.
Bawa kabar baik.
"Sat! Arjuna mau bantuin kita!"
Aku, Adrian, Nareswari langsung berdiri. "Serius?!"
Vanya ngangguk sambil senyum lebar. Tapi aku liat matanya merah. Kayak abis nangis.
"Dia... dia setuju. Tapi dia minta kita hati-hati. Dia bilang ayahnya kenal Pak Bambang. Jadi kita harus ekstra hati-hati."
Adrian tepuk tangan sekali. "Bagus! Sekarang kita punya orang dalam! Kita bisa masuk ke ruang yayasan!"
Nareswari buka buku catatannya. "Besok aku akan kasih tau Arjuna apa yang harus dia ambil. Dokumen keuangan asli. Rekening koran. Surat perjanjian. Semua yang ada di lemari arsip Pak Bambang."
Aku liat mereka semua. Vanya, Adrian, Nareswari.
Sekarang... sekarang kita berlima.
Lima anak yang terluka. Lima anak yang dihina. Lima anak yang diinjak.
Tapi kami bersatu.
Dan kami... kami gak akan kalah.
"Besok kita kumpul lagi. Kita susun rencana detail. Kita pastiin gak ada yang salah. Karena... karena ini kesempatan terakhir kita."
Mereka semua ngangguk.
Kami tempelkan tangan di tengah. Berlima.
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
***
*