Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Tidak Tenang
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Raito tidak bisa tidur. Dia duduk di tepi tempat tidur, punggung bersandar ke dinding dingin, mata terpaku pada jendela kecil yang menghadap gang sempit di bawah. Lampu jalan di luar berkedip-kedip kuning pucat, seperti denyut nadi kota yang lemah. Hujan sudah berhenti, tapi udara masih basah, membuat setiap hembusan angin terasa seperti sentuhan lembab di kulit.
Mira tidur di tempat tidur sebelah—napasnya teratur, tapi tangan kanannya tetap berada di dekat pisau di bawah bantal. Bahkan dalam tidur, dia tidak pernah benar-benar rileks. Raito tahu itu. Dia sudah melihatnya berkali-kali: Mira terbangun dalam hitungan detik kalau ada suara langkah di koridor, atau kalau angin membuka jendela sedikit lebih keras.
Raito menghela napas pelan. Dia angkat tangan kanan, membiarkan Inner Light muncul tanpa paksaan. Cahaya kuning keemasan kecil berpendar di telapak tangannya—sekarang lebih stabil, lebih hangat, seperti bara kecil yang tidak mudah padam. Dia memandang cahaya itu lama, seperti sedang bicara dengan diri sendiri.
“Apa yang harus aku lepaskan?” gumamnya hampir tidak terdengar.
Cahaya itu berdenyut pelan, seolah menjawab—tapi tidak ada kata-kata, hanya rasa hangat yang menyebar ke lengan, ke dada, seperti pelukan dari dalam.
Dia ingat kata Harlan tadi siang: “Batu itu cermin. Ia memantulkan apa yang ada di dalam dirimu.”
Apa yang ada di dalam dirinya sekarang? Rasa ingin pulang? Rasa takut kehilangan Mira? Rasa kagum pada Gon yang masih terngiang dari flashback itu? Atau rasa bersalah karena dia mulai merasa “rumah” di dunia ini?
Raito menutup tangan. Cahaya padam. Dia berdiri pelan, berjalan ke jendela, membukanya sedikit. Angin dingin masuk, membawa bau aspal basah dan asap kendaraan jauh.
Tiba-tiba Mira bergerak. Matanya terbuka langsung, tajam.
“Kamu nggak tidur?” suaranya serak karena baru bangun.
Raito menoleh. “Nggak bisa. Pikiran penuh.”
Mira duduk, menggosok mata. “Soal batu itu?”
“Bukan cuma batu. Soal semuanya. Aku mulai mikir… kalau aku pulang, apa yang akan hilang? Kalau aku tinggal, apa yang akan hilang juga?”
Mira diam sejenak. Lalu dia bangun, berjalan ke samping Raito di jendela. Mereka berdiri berdua, memandang kota yang masih hidup meski jam sudah lewat tengah malam.
“Aku pernah punya mimpi yang sama,” kata Mira pelan. “Pulang ke desa kecil di pantai. Punya rumah kayu, kebun kecil, hidup tenang tanpa darah lagi. Tapi setiap kali aku bayangin itu… aku ingat orang-orang yang mati di perang karena aku selamat. Dan aku nggak bisa tidur nyenyak.”
Raito menoleh ke arahnya. “Kamu nggak pernah cerita detailnya.”
Mira tersenyum tipis—senyum yang pahit. “Karena nggak perlu. Yang penting sekarang adalah: aku pilih jalan ini. Aku pilih terus bergerak, terus bertarung, supaya rasa bersalah itu nggak pernah berhenti mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Kalau aku pulang… rasa itu akan bunuh aku pelan-pelan.”
Raito mengangguk pelan. “Aku takut kalau aku pulang… aku akan jadi orang yang sama seperti dulu. Kerja shift malam, cuci piring, pulang ke kamar kos. Tanpa tujuan. Tanpa cahaya ini.”
Mira memandangnya lama. “Kamu sudah berubah, Raito. Cahaya itu bukan cuma Nen. Itu bagian dari kamu sekarang. Kalau kamu pulang, cahaya itu ikut. Kamu nggak akan pernah jadi orang yang sama lagi.”
Raito menunduk. “Tapi kalau aku tinggal… aku takut Shadow Serpent akan terus datang. Aku takut mereka akan sakiti kamu. Atau Yuna, kalau kita beneran bawa dia ke sini.”
Mira tersenyum kecil. “Yuna itu keras kepala seperti kamu. Dia nggak akan tinggal diam kalau kita dalam bahaya. Dan aku… aku sudah terbiasa dengan bahaya. Yang aku nggak biasa adalah punya orang yang nggak mau tinggalin aku.”
Raito tertawa pelan—tawa yang lelah tapi hangat. “Kita sama-sama keras kepala.”
Mira mengangguk. “Makanya kita cocok.”
Mereka diam lagi. Angin malam menyapu masuk, membawa suara kota yang jauh.
Setelah beberapa menit, Raito bicara lagi. “Besok pagi kita ke lapangan latihan. Aku mau coba gabungkan Dawn Pulse dengan sinar tajam. Kalau Shadow Serpent datang lagi, aku nggak mau cuma bertahan. Aku mau siap menyerang kalau perlu.”
Mira mengangguk. “Bagus. Tapi ingat: serang bukan untuk bunuh. Serang untuk lindungi. Itu yang bikin cahaya-mu beda dari Nen orang lain.”
Raito mengepal tangan. Cahaya kecil muncul lagi di telapaknya—sekarang lebih terang, lebih stabil. “Aku janji. Aku nggak akan jadi seperti Hisoka. Aku nggak akan bertarung karena senang lihat orang menderita.”
Mira tersenyum. “Itu sudah cukup. Sekarang tidur. Besok pagi kita mulai jam lima. Aku mau lihat kamu pertahankan Dawn Pulse sambil aku serang dengan pisau.”
Raito menggeleng sambil tersenyum. “Kamu kejam.”
“Kamu butuh kejam untuk bertahan di dunia ini.”
Raito kembali ke tempat tidur. Dia berbaring, tapi sebelum menutup mata, dia bicara pelan.
“Mira.”
“Hm?”
“Terima kasih. Karena nggak tinggalin aku sejak hutan itu.”
Mira diam sejenak. Lalu jawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Terima kasih karena nggak ninggalin aku juga.”
Raito menutup mata. Kali ini dia tidur lelap—tanpa mimpi buruk, tanpa bisikan gelap.
Hanya mimpi samar tentang fajar yang pelan menyingsing di atas hutan Zevil, dan senyum Gon yang masih terngiang.
Retak di dalam hati Raito mulai terasa seperti tempat di mana cahaya baru bisa masuk.