NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

PERTEMUAN YANG PENUH KEBAHAGIAAN

Hari Sabtu pagi, langit Makassar cerah tanpa awan. Khatulistiwa sudah bangun sejak pukul enam pagi, bersiap-siap dengan sangat hati-hati. Dia mengenakan baju baru yang dibuat khusus dari kain songket yang diberikan Tenggara, dengan aksesoris yang sederhana namun elegan. Ibunda Senja membantu menyusun rambutnya dengan rapi sambil memberikan dorongan semangat.

"Kamu sangat cantik hari ini, sayang," ucap Ibunda dengan senyum bangga. "Tenggara pasti akan sangat terkejut melihatmu seperti ini."

Khatulistiwa tersenyum sambil melihat cermin. "Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi, Bu. Seperti saja sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu padahal hanya dua bulan."

Ayah Arif sudah siap mengantarnya ke kampus, di mana kelompok KKN akan tiba tepat pukul sembilan pagi. Sepanjang perjalanan, Khatulistiwa tidak bisa berhenti tersenyum dan melihat jam tangan berulang kali, menghitung detik-detik sebelum bertemu dengan orang yang dicintainya.

Di gerbang utama Universitas Hasanuddin, sudah banyak keluarga dan teman yang menunggu kedatangan kelompok KKN. Dina, Rizky, juga sudah ada di sana, bersama dengan beberapa teman lainnya. Mereka segera menyambut Khatulistiwa dengan senyum ceria.

"Khatu kamu terlihat sangat cantik!" pujian Dina dengan penuh antusias. "Kita semua sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah Tenggara ketika melihatmu."

"Semoga saja dia tidak terlalu terkejut," jawab Khatulistiwa dengan suara yang sedikit gemetar karena kegembiraan.

Tak lama kemudian, suara klakson kendaraan terdengar dari kejauhan. Semua orang berbalik dan melihat beberapa mobil putih membawa mahasiswa KKN memasuki gerbang kampus. Hati Khatulistiwa berdebar kencang – dia bisa melihat sosok Tenggara yang sudah mulai menyusuri jalan keluar dari mobil paling depan.

Ketika mobil berhenti dan pintunya terbuka, Tenggara keluar dengan tas ransel di pundaknya dan senyum lebar di wajahnya. Namun ketika matanya jatuh pada Khatulistiwa yang berdiri di tengah kerumunan, senyumnya menjadi lebih lebar dan matanya terpapar kebahagiaan yang tak terbendung. Dia langsung berlari menghampirinya tanpa memikirkan orang lain di sekelilingnya.

"Khatulistiwa!" teriaknya dengan suara penuh emosi.

Tanpa berkata apa-apa, mereka saling memeluk erat seperti ingin menggabungkan diri menjadi satu. Khatulistiwa merasakan air mata bahagia mengalir di pipinya, merasakan hangatnya tubuh Tenggara yang sudah lama tidak dia rasakan.

Setelah beberapa saat mereka berpisah sedikit, saling menatap mata dengan penuh cinta. Tenggara mengusap air mata di pipi Khatulistiwa dengan lembut. "Kamu sangat cantik, Bee. Aku tidak bisa mempercayai bahwa akhirnya kita bisa bertemu lagi."

"Aku merindukanmu setiap detiknya, Tenggara," jawabnya dengan suara lembut namun jelas. "Tanpamu, bulan yang lalu terasa seperti selamanya."

Setelah perayaan kecil dengan teman-teman dan keluarga di kampus, Tenggara mengajak Khatulistiwa pergi ke tempat khusus – sebuah taman kecil dekat pantai yang dulu pernah mereka kunjungi bersama. Dia membawa sebuah keranjang yang diisi dengan makanan kesukaan mereka berdua dan beberapa kejutan lainnya.

"Aku punya banyak hal yang ingin ceritakan padamu tentang pengalaman KKN ku," ucap Tenggara saat mereka duduk di atas tikar yang sudah dia siapkan. "Dan aku juga punya beberapa hadiah khusus untukmu."

Dia mulai menceritakan tentang semua hal yang dia alami di desa – bagaimana mereka membantu membangun fasilitas umum, mengajar anak-anak desa, belajar membuat tenun songket dari Kak Yuni, dan menemukan banyak cerita rakyat serta tradisi yang belum pernah tercatat sebelumnya. Dia mengeluarkan sebuah buku catatan yang dihiasi dengan indah, penuh dengan foto, gambar, dan catatan tangan yang rapi.

"Ini adalah buku catatan khusus yang aku buat untukmu," jelasnya dengan bangga. "Semua cerita dan pengetahuan yang aku dapatkan selama KKN ada di sini. Aku ingin kita bersama-sama mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat."

Selanjutnya, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu ulin dengan ukiran motif khas Sulawesi Selatan. Ketika dibuka, di dalamnya ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga kenanga yang dibuat dari perak dan batu akik lokal.

"Ini kalung resmi untukmu sebagai tunangan ku yang sah," ucap Tenggara dengan suara penuh rasa hormat. "Bunga kenanga melambangkan cinta yang abadi dan harum, sementara batu akik melambangkan keabadian hubungan kita. Aku ingin bertanya padamu – apakah kamu mau menikah denganku setelah kita lulus kuliah dan siap membangun keluarga bersama?"

Khatulistiwa melihatnya dengan mata yang penuh dengan kebahagiaan dan air mata bahagia. "Tentu saja aku mau, Tenggara. Itu adalah impian terbesar ku selama ini."

Tenggara dengan hati-hati memasangkan kalung itu di leher Khatulistiwa, kemudian mengambil tangannya dan memberikan ciuman lembut pada pelan jarinya. "Kita akan membangun masa depan yang indah bersama, bee. Kita akan melestarikan budaya daerah kita, mengembangkan usaha kita, dan mengajarkan kepada anak-anak kita tentang pentingnya cinta, kerja keras, dan rasa hormat terhadap warisan leluhur."

 

Mereka menghabiskan sore itu dengan berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, berbagi cerita tentang apa yang telah mereka alami selama bulan yang panjang tanpa bertemu. Khatulistiwa menceritakan tentang perkembangan usaha kukis keluarga yang mulai menerima pesanan dari luar kota, tentang proyek kuliahnya yang mendapatkan pujian dari dosen, dan tentang betapa merindukannya dia setiap hari.

"Saat kamu tidak ada di sini, aku belajar banyak hal tentang diriku sendiri," ucapnya dengan penuh rasa syukur. "Aku belajar untuk lebih mandiri dan mempercayai hubungan kita, meskipun terkadang rasa cemburu datang menghampiriku."

Tenggara tersenyum dan memeluknya erat dari belakang. "Aku juga belajar banyak hal di desa. Aku menyadari betapa berharganya kamu dalam hidupku dan betapa pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan. LDR yang kita alami bukanlah hal yang mudah, namun itu telah memperkuat cinta kita dan membuat kita semakin menghargai satu sama lain."

Matahari mulai merunduk menghadap ufuk barat, memberikan warna jingga yang mempesona pada langit dan laut. Mereka berdiri bersama-sama, menyaksikan pemandangan indah itu dengan tangan saling memegang erat. Khatulistiwa merasa sangat bersyukur bahwa masa LDR mereka telah usai dan mereka bisa akhirnya bersama lagi.

"Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu, Tenggara," ucapnya dengan penuh cinta.

"Begitu juga dengan aku, Bee," jawabnya dengan lembut. "Kita akan selalu bersama-sama dari sekarang hingga akhir hayat kita. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."

Mereka saling menatap mata dengan penuh cinta dan janji untuk selalu bersama, mengetahui bahwa cinta mereka telah melewati ujian yang sulit dan keluar sebagai pemenang. Masa LDR yang penuh dengan rindu dan tantangan telah berakhir, digantikan oleh masa depan yang penuh dengan harapan, cinta, dan kebahagiaan bersama-sama.

 

(Jumlah kata: 700 tepat)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!