Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Alamat itu membawa mereka ke bagian kota yang berbeda.
Bukan kawasan yang berbahaya, tapi bukan juga kawasan yang membuat orang merasa aman dengan cara yang meyakinkan. Deretan ruko tua berselang-seling dengan warung makan yang lampunya terlalu terang, gang-gang sempit yang mengarah ke hunian padat, dan trotoar yang tidak sepenuhnya rata. Yuna mengemudi pelan, mencocokkan nama jalan di ponselnya dengan papan-papan penunjuk yang beberapa di antaranya sudah pudar.
"Belok kiri setelah minimarket," kata Mega, matanya tidak lepas dari layar.
Yuna belok.
Gang yang mereka masuki lebih sempit dari yang terlihat dari jalan utama. Cukup untuk satu mobil, dengan dinding-dinding bangunan di kanan kiri yang berdiri terlalu dekat. Di ujungnya ada sebuah bangunan berlantai dua, bukan kos-kosan resmi, tapi bukan juga rumah biasa. Semacam penginapan harian yang tidak punya nama di papan, hanya nomor di pintu-pintunya.
"Nomor tujuh," kata Mega.
Yuna memarkirkan mobil seadanya di sisi gang, dan mereka berjalan masuk. Lantai bawah sepi. Seorang wanita paruh baya dengan sandal jepit melirik mereka sebentar dari balik pintu yang terbuka setengah, lalu tidak peduli lagi.
Kamar nomor tujuh ada di lantai atas, di ujung koridor yang lampunya satu tidak menyala sehingga setengah perjalanan ditempuh dalam remang.
Yuna mengetuk.
Hening sebentar. Lalu suara langkah kecil. Lalu bunyi kunci.
Pintu terbuka.
---
Yuna tidak langsung bicara ketika melihat Lily.
Butuh satu detik, dua detik untuk memproses bahwa gadis yang berdiri di depannya adalah orang yang sama yang duduk di sebelahnya di kelas seminggu yang lalu. Bukan karena Lily berubah secara fisik yang dramatis. Tapi ada sesuatu yang berbeda di cara ia berdiri, sedikit membungkuk, bahunya turun, matanya yang biasanya bergerak lincah kini terlihat seperti mata seseorang yang sudah lama tidak tidur cukup dan sudah lebih lama lagi tidak merasa aman.
Rambut Lily dikuncir asal. Ia mengenakan kaus oversized yang terlalu besar di bahunya dan celana pendek. Di belakangnya, kamar yang terlihat dari celah pintu memperlihatkan kasur yang tidak tertata, bungkus makanan ringan di sudut, dan tas besar yang isinya setengah terburai keluar seolah dibuka dalam terburu-buru dan tidak pernah dirapikan lagi.
"Lily." Suara Mega keluar lebih dulu, dan ada sesuatu dalam cara Mega mengucapkan nama itu...pelan, hati-hati, seperti mendekati sesuatu yang bisa pecah yang membuat tenggorokan Yuna terasa sempit.
Lily membuka pintu lebih lebar.
Ia tidak berkata apa-apa. Hanya mundur selangkah, memberikan ruang untuk mereka masuk.
Kamar itu lebih kecil dari yang terlihat.
Satu kasur, satu meja kecil, satu kursi plastik, satu kamar mandi di pojok dengan pintu yang tidak sepenuhnya menutup rapat. Jendelanya menghadap tembok bangunan sebelah, sehingga cahaya yang masuk hanya sepetak tipis di sore hari dan tidak ada sama sekali setelah matahari turun. Ada bau pengap yang sudah menetap, bau ruangan yang tidak dibuka ventilasinya cukup lama, bercampur dengan sesuatu yang samar-samar seperti mie instan dan mungkin air mata, meski yang terakhir itu mungkin hanya Yuna yang berlebihan.
Lily duduk di tepi kasur. Yuna dan Mega mengambil posisi di depannya, Mega di kursi plastik yang ia geser mendekat, Yuna di sisi kasur yang lain.
Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.
Lalu Lily menarik napas panjang. Mengembuskannya perlahan. Dan mulai bicara dengan suara yang terdengar seperti seseorang yang sudah mengulang kata-kata ini dalam kepalanya berkali-kali tapi tetap tidak menemukan cara yang tidak menyakitkan untuk mengucapkannya.
"Aku minta maaf sudah menghilang tiba-tiba."
"Lily..." Mega mulai.
"Biarkan aku selesai dulu." Lily tidak menoleh. Matanya di lantai. "Aku sudah lama ingin bilang ini tapi tidak bisa. Tidak tahu caranya. Tidak tahu... reaksi kalian bakal seperti apa."
Yuna menunggu.
Lily mengangkat tangannya dan Yuna baru sadar bahwa tangannya gemetar tipis, jari-jarinya saling menggenggam erat di atas pangkuannya seperti sedang mencoba menahan sesuatu agar tidak tumpah.
"Aku hamil."
Dua kata.
Delapan huruf.
Dan udara di kamar itu tiba-tiba terasa seperti diganti dengan sesuatu yang lebih berat dari biasanya...bukan sesak, tapi padat. Seperti ada tekanan yang tidak terlihat yang mendorong dari semua sisi sekaligus.
Mega tidak bersuara. Matanya bergerak ke arah perut Lily,yang tidak terlihat berbeda melalui kaus oversized lalu kembali ke wajahnya.
Yuna juga tidak langsung bersuara. Kepalanya memproses. Menghitung. Lily dan Juan sudah bersama berapa lama... delapan bulan? Sembilan? Dan usia kandungan...
"Berapa minggu?" tanya Yuna akhirnya. Suaranya keluar lebih tenang dari yang ia rasakan di dalam.
"Delapan minggu." Lily menjawab cepat, seperti sudah menghafal angka itu. "Aku baru tahu tiga minggu lalu. Sudah tes tiga kali karena tidak percaya. Hasilnya sama semua."
Mega menelan. "Juan tahu?"
Lily tertawa.
Bukan tawa yang ada lucunya. Tawa yang keluar karena ada sesuatu yang terlalu pahit untuk ditangisi dan terlalu absurd untuk direspons dengan cara lain.
"Tahu." Satu kata. Lalu diam sebentar. Lalu: "Waktu aku bilang ke dia, dia diam lama banget. Aku pikir dia sedang memikirkan sesuatu. Sedang memproses. Sedang..." Lily berhenti. Rahangnya mengencang. "Lalu dia bilang, ini bukan urusanku."
Mega mengeluarkan suara yang tidak sepenuhnya kata-kata.
"Bukan urusannya." Lily mengulang, dan kali ini ada lapisan yang berbeda di suaranya...bukan marah, melampaui marah, semacam kelelahan yang sangat spesifik yang hanya dimiliki seseorang yang sudah menghabiskan waktu terlalu lama memutar ulang kalimat itu di kepalanya. "Dia bilang dia tidak bisa memastikan itu anaknya. Bahwa aku mungkin salah. Bahwa aku harus periksa lagi." Jeda. "Padahal aku tidak pernah dengan orang lain selain dia."
Yuna merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya.
Ia ingat wajah Juan sore tadi,kantung di bawah matanya, cara jarinya dikaitkan terlalu erat, cara ia berbicara seperti seseorang yang juga tidak tidur nyenyak. Dan ia ingat bagaimana ia hampir percaya bahwa pria itu juga sedang khawatir.
Mungkin ia memang khawatir.
Khawatir tentang konsekuensi yang mengarah ke dirinya sendiri.
"Setelah itu?" suara Mega pelan.
"Setelah itu dia pergi." Lily mengangkat bahu, gerakan yang ingin terlihat acuh tapi gagal sepenuhnya karena bahunya bergetar sedikit saat melakukannya. "Tidak balik lagi. Nomor masih aktif tapi tidak diangkat. Sudah dua minggu."
Hening.
Di luar kamar, suara televisi dari kamar lain merembes masuk melalui dinding tipis. Suara presenter acara hiburan yang tertawa terlalu keras untuk sesuatu yang tidak Yuna dengar cukup jelas untuk pahami.
Kontras yang terasa seperti ejekan.
Lily mulai bicara lebih banyak setelah itu, dengan cara seseorang yang sudah terlalu lama memendam sesuatu sendirian dan akhirnya menemukan celah untuk mengeluarkannya.
"Aku takut pulang ke rumah," kata Lily. Kali ini suaranya tidak bergetar, justru terlalu datar, yang kadang lebih mengkhawatirkan daripada yang bergetar. "Mama sama Papa pasti. aku bahkan tidak bisa membayangkan ekspresi mereka. Mereka tidak tahu tentang Juan. Tidak tahu tentang... semua ini." Tangannya bergerak sebentar ke arah perutnya, lalu berhenti di tengah jalan. "Kalau mereka tahu sekarang, semuanya sekaligus..."
"Kamu tidak harus memberitahu mereka sekaligus," kata Mega.
"Tapi pada akhirnya semua akan ketahuan juga." Lily menatap Mega. "Tidak ada cara untuk menceritakan satu hal tanpa yang lain ikut keluar."
Mega tidak menjawab itu, karena itu benar dan mereka semua tahu itu benar.
Yuna duduk diam, mendengarkan, membiarkan Lily bicara. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyela, ingin menawarkan solusi, ingin mengatakan sesuatu yang berguna, tapi bagian yang lebih besar memahami bahwa kadang hal paling berguna yang bisa dilakukan seseorang adalah tetap diam dan hadir.
Lily sudah seminggu di kamar ini sendirian.
Seminggu dengan pikiran-pikiran itu hanya bersama dirinya sendiri.
Yang ia butuhkan sekarang bukan solusi. Yang ia butuhkan adalah tahu bahwa ia tidak sendirian.
"Kami tidak ke mana-mana," kata Yuna akhirnya. Sederhana. Tapi dengan cara pengucapan yang tidak meninggalkan ruang untuk ditafsirkan lain.
Lily menatapnya.
"Kami ada di sini." Yuna mempertahankan kontak mata. "Apapun yang kamu putuskan, apapun yang terjadi selanjutnya... kami ada."
Sesuatu di wajah Lily bergerak. Retak sedikit di sudut matanya, tapi ia menahannya.
Mega mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Lily tanpa kata-kata.
Lalu Lily berkata sesuatu yang memecah keheningan itu dengan cara yang berbeda dari yang Yuna perkirakan.
"Aku mau gugurkan kandungannya."
Tidak ada pembuka. Tidak ada jeda panjang sebelumnya. Keluar begitu saja dengan nada yang terdengar seperti seseorang yang sudah memikirkannya berulang kali hingga kata-katanya tidak lagi terasa besar, hanya terasa seperti fakta yang perlu diucapkan.
Mega melepaskan pegangan tangannya perlahan.
Yuna tidak bergerak.
Lily akhirnya mengangkat matanya, menatap mereka berdua bergantian, dengan ekspresi yang memiliki kualitas tertentu di dalamnya. Bukan memohon persetujuan. Bukan mencari izin.
"Aku sudah pikir panjang," katanya. Suaranya tidak bergetar. "Aku tidak siap. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku tidak punya..." Ia berhenti. Memulai lagi. "Aku tidak mau anak ini lahir ke situasi seperti ini. Dengan ibu yang masih SMA dan ayah yang bahkan tidak mau mengakuinya."
Kamar itu diam.
Hanya suara napas mereka bertiga.
Dan di luar jendela sempit yang menghadap tembok bangunan sebelah, malam berdiri dengan cara yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan mana pun yang sedang menggantung di udara kamar nomor tujuh itu.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya