Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit yang baru seson 2
Pagi di rumah kami kini selalu dimulai dengan aroma tanah dan suara burung kecil yang hinggap di ranting flamboyan.
Taman yang dulu penuh luka kini telah hidup kembali bunga-bunga lavender tumbuh dengan tenang di bawah cahaya matahari, dan rerumputan yang dulu gersang kini hijau kembali.
Setiap kali aku membuka jendela, angin membawa suara dedaunan bergesekan, seperti lagu pelan yang cuma bisa dimengerti oleh hati yang tenang.
Raka sedang duduk di teras, dengan secangkir kopi di tangan.
Ia menatap taman kami seperti sedang menatap sebuah karya yang tumbuh bersama waktu.
Aku menghampirinya sambil membawa dua roti panggang dan berkata,
“Lihat, taman kita nggak pernah kelihatan seindah ini sebelumnya.”
Raka tersenyum. “Mungkin karena sekarang kita lihatnya pakai hati yang tenang, bukan mata yang lelah.”
Aku duduk di sebelahnya, mengangguk kecil.
Dulu kami sering memaksakan waktu untuk bahagia sekarang kami membiarkan kebahagiaan datang sendiri lewat hal-hal kecil.
Sejak aku pulang dari Jepang, hidup kami berjalan sederhana tapi penuh rasa.
Aku kembali mengajar, dan sesekali berbagi pengalaman dengan murid-muridku tentang “langit di negeri orang.”
Sementara Raka mulai lebih sering bekerja dari rumah, katanya, “Aku udah cukup ngejar masa depan, sekarang aku mau ngerawat yang udah aku punya.”
Aku tersenyum waktu dia bilang itu.
Karena sekarang, rumah kami benar-benar terasa hidup bukan karena mewah, tapi karena setiap ruangnya punya cerita baru.
Kadang sore-sore kami duduk di taman, membaca buku, atau sekadar diam menikmati angin.
Tidak banyak kata, tapi tidak ada jarak.
Kadang kami saling berbicara hanya lewat tatapan, seperti dulu saat kami masih sama-sama belajar mengenal cinta di usia muda.
Suatu sore, setelah hujan ringan turun, aku keluar ke taman membawa teh hangat.
Langit tampak seperti lukisan sedikit kelabu di sisi barat, tapi berwarna oranye lembut di sisi timur.
Aku menatap langit itu dan berkata pelan,
“Kamu sadar nggak, Rak, kita nggak pernah punya langit yang sama dua kali?”
Raka menoleh dari kursinya. “Maksudnya?”
“Langit berubah setiap hari. Tapi yang bikin indah, kita tetap bisa menikmatinya bareng.”
Dia tersenyum kecil. “Berarti cinta kita kayak langit, ya nggak harus sama tiap hari, tapi selalu ada di atas kepala.”
Aku tertawa. “Kamu sekarang suka ngomong puitis banget.”
“Efek sering ngobrol sama kamu,” jawabnya sambil tertawa juga.
Beberapa hari kemudian, Raka punya ide.
“Gimana kalau kita tambah satu sudut taman lagi?” tanyanya sambil membawa sekop dan beberapa pot kecil.
“Sudut yang mana?” tanyaku penasaran.
“Di pojok barat, dekat jendela dapur. Biar tiap kali kamu masak, kamu bisa lihat bunga mekar.”
Aku mengangguk. “Ide bagus. Tapi kita tanam bunga apa kali ini?”
Dia tersenyum, lalu menunjukkan bibit kecil dari kantongnya. “Bunga matahari.”
Aku tertegun sesaat, lalu tersenyum. “Kenapa bunga matahari?”
“Soalnya dia selalu nyari cahaya, bahkan waktu mendung. Kayak kamu,” katanya pelan.
Aku menatapnya lama, tak bisa menahan senyum hangat. “Kalau gitu, kamu tanahnya. Tempat aku berdiri.”
Dia tertawa kecil. “Berarti kita nggak boleh pisah. Bunga tanpa tanah, tanah tanpa bunga nggak akan hidup.”
Kami mulai menanam bersama, tangan kami kotor oleh tanah tapi hati kami penuh rasa syukur.
Sore itu, taman kami bertambah satu warna baru, dan aku merasa seperti hidupku juga bertambah satu alasan baru untuk tersenyum.
Malam datang pelan.
Kami duduk di teras, menatap langit yang mulai gelap tapi dihiasi bintang-bintang kecil.
Raka menatap ke atas dan berkata,
“Kamu tahu, Ly, aku dulu sering nyalahin hujan karena bikin proyekku tertunda. Tapi sekarang aku sadar, hujan itu yang bikin taman kita tumbuh.”
Aku menatapnya. “Dan mungkin, hujan juga yang bikin cinta kita jadi lebih kuat.”
Dia mengangguk, matanya lembut. “Karena kita belajar, cinta nggak butuh langit cerah setiap hari. Kadang butuh mendung, biar kita tahu cara saling memeluk waktu dingin datang.”
Kami diam lama, menikmati keheningan yang damai.
Di tengah malam itu, suara jangkrik dan semilir angin terasa seperti doa kecil dari alam.
Hari-hari berlalu.
Flamboyan kami tumbuh lebih tinggi, dan bunga-bunga di taman mulai mekar bersamaan.
Aku sering melihat anak-anak kecil di sekitar datang bermain, tertawa, dan berlarian di antara rerumputan.
Raka tidak pernah melarang. Katanya, “Taman yang hidup itu taman yang berbagi.”
Kadang aku melihatnya tersenyum diam-diam dari jendela ketika anak-anak itu tertawa.
Dan aku tahu, di dalam hati Raka, ada kebahagiaan yang sederhana tapi penuh.
Suatu pagi, aku memandangi taman itu dari dapur sambil menyiapkan sarapan.
Raka datang dari belakang dan memeluk pinggangku pelan.
“Selamat pagi, Bu Guru.”
Aku tersenyum. “Selamat pagi juga, Pak Arsitek.”
Dia mengecup pipiku ringan. “Kamu tahu nggak, setiap kali aku liat taman itu, aku selalu inget sesuatu.”
“Apa?” tanyaku.
“Kalimat kamu dulu. Tentang cinta yang harus disiram meski hujan berhenti.”
Aku tertawa kecil. “Kamu masih inget?”
“Sekarang malah jadi pegangan hidup,” jawabnya.
Kami tertawa bersama.
Dan di antara aroma kopi dan suara burung pagi, aku tahu kami sudah tiba di tempat yang dulu cuma jadi impian.
Sore itu, aku duduk di bawah flamboyan sambil menulis di buku catatanku yang lama.
Buku itu masih sama buku yang dulu kugunakan untuk menulis surat-surat untuk Raka.
Halaman-halaman lamanya berisi kisah tentang hujan, jarak, dan janji.
Dan kini, aku menulis bab baru:
“Kami telah melewati badai, menunggu matahari, dan menanam harapan.
Kini, taman kami hidup lagi bukan hanya di halaman rumah, tapi di hati kami.
Cinta kami tidak lagi terburu-buru. Ia berjalan pelan, tapi pasti.
Dan setiap pagi, langit baru selalu memberi kami alasan untuk bersyukur.”
Aku menutup buku itu, lalu memandang langit senja.
Raka datang membawa dua cangkir teh, duduk di sampingku tanpa bicara.
Kami hanya duduk diam, menatap langit yang perlahan berubah warna.
Dan di momen itu, aku tahu kami tak perlu kata-kata besar untuk memahami cinta ini.
Cukup dengan satu pandangan, satu genggaman tangan, dan satu taman kecil yang hidup di antara kami.
Malam turun.
Lampu taman menyala lembut, menerangi jalan setapak yang kami buat dari batu-batu kecil.
Raka menggenggam tanganku dan berkata,
“Ly, kita udah lewat banyak hal. Kalau nanti langit berubah lagi, kamu masih mau jalan bareng aku?”
Aku menatapnya dan tersenyum. “Aku nggak cuma mau, Rak. Aku memang ditakdirkan buat jalan bareng kamu, di langit apa pun.”
Dia tertawa kecil, lalu memelukku.
Dan di tengah taman yang kini hidup dengan warna, aroma, dan cinta, kami berdiri di bawah langit baru langit yang lahir dari hujan, dari luka, dan dari keberanian untuk memulai lagi.
Langit yang tak selalu cerah, tapi selalu indah.
Karena di bawahnya, ada dua hati yang memilih untuk tetap tumbuh bersama.