NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suasana di lobi hotel yang semula tegang kini berubah menjadi medan pertempuran harga diri. Kehadiran Tuan Yusuf Edmond yang tiba-tiba, dengan langkah tegap dan pengawalan ketat, memecah intimidasi yang dibangun oleh Dante.

"Milikmu? Milik apa yang kau maksud, Dante?" Suara Tuan Yusuf menggelegar, penuh wibawa yang mematikan.

"Kau bicara soal altar? Kau membawa lari putriku seperti pencuri di malam hari, dan kecelakaan itu terjadi sebelum kalian sampai di tempat terkutuk itu. Pernikahan apa yang kau bualkan?"

Tuan Yusuf menatap Dante dengan tatapan menghina. "Putriku hanya akan menikah jika aku yang menjadi walinya. Dan kau? Kau tidak lebih dari seorang berandal yang hampir mencabut nyawanya dua tahun lalu. Beraninya kau muncul lagi di hadapannya?"

Mendengar penjelasan ayahnya, Adrian yang sempat ragu kini merasa harga dirinya kembali. Ia menarik Briana ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa wanita ini adalah miliknya yang sah.

"Dengar itu?" desis Adrian pada Dante. "Kau hanya pengganggu yang mencoba merusak kebahagiaan kami dengan Pernikahan palsu."

Namun, Briana justru membeku. Pelukan hangat Adrian seolah tidak terasa karena pikirannya dipenuhi oleh ketakutan yang luar biasa. Ia teringat kejadian semalam, saat ia menangis karena rasa sakit dan sesak yang ia rasakan. Ia takut Adrian akan menganggap rasa sakit itu adalah bukti bahwa ia pernah dimiliki pria lain. Ia takut Adrian akan menceraikannya karena masa lalu yang gelap ini.

"Adrian... Suamiku..." Briana menoleh pada Adrian dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar hebat. "Aku bersumpah... dalam ingatanku, aku belum pernah tidur dengannya. Aku... aku hanya milikmu, Adrian. Percayalah padaku."

Dante, yang melihat ketakutan di mata Briana, bukannya mundur malah tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar seperti syetan yang sedang merayakan kehancuran.

"Rupanya kalian belum sampai ke sana semalam?" tanya Dante dengan nada mengejek yang sangat kotor. "Pantas saja kau ketakutan, Briana sayang."

Dante melangkah maju, menatap Adrian dengan senyum penuh kemenangan palsu. "Kau pikir aku membawanya kabur berhari-hari hanya untuk mengelus rambutnya? Jangan naif, Adrian! Kami menghabiskan malam-malam di pelarian sebagai sepasang kekasih yang haus akan satu sama lain. Bagaimana mungkin pria sepertiku hanya menatap wajahnya saat kami tidur di bawah atap yang sama?"

Dante berbohong dengan sangat lancar, menciptakan skenario kotor untuk merusak kepercayaan Adrian. "Tanyakan padanya, kenapa dia merasa sesak dan sakit semalam? Mungkin itu karena tubuhnya merindukan caraku menyentuhnya, bukan caramu yang kaku itu!"

Wajah Adrian merah padam. Ia tahu Dante sedang memprovokasinya, namun bayangan Briana yang menangis kesakitan semalam kembali terlintas. Ia menatap istrinya yang kini pucat pasi, lalu menatap Dante dengan kebencian yang murni.

"Kau..." Adrian maju, namun Tuan Yusuf menahan bahunya.

"Jangan dengarkan dia, Adrian," ucap Tuan Yusuf dingin. "Dia hanya sampah yang ingin menyeret putriku kembali ke lumpur. Briana suci saat ia bangun dari koma, dan dia tetap suci hingga ia menjadi istrimu."

Briana menggenggam kemeja Adrian dengan kuat, air matanya jatuh deras. "Adrian, tolong... jangan percaya dia. Aku tidak ingat apa-apa, tapi hatiku bilang dia berbohong. Tolong jangan tinggalkan aku..."

Adrian tidak membiarkan kata-kata kotor Dante meracuni udara di sekitar istrinya lebih lama lagi. Dengan satu gerakan protektif, ia merangkul bahu Briana dan menuntunnya kembali masuk ke dalam hotel, mengabaikan teriakan Dante dan tatapan tajam Tuan Yusuf.

Begitu pintu kamar tertutup, sunyi kembali menyergap. Briana tampak begitu rapuh, tubuhnya bergetar hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela isak tangisnya. Ia mencengkeram lengan kemeja Adrian, menatap suaminya dengan tatapan memohon yang menyayat hati.

"Adrian... tolong, mari kita buktikan. Tidurlah denganku sekarang," bisik Briana dengan suara serak, seolah-olah penyerahan dirinya adalah satu-satunya cara untuk membersihkan namanya dari fitnah Dante.

 "Aku tidak ingin kau ragu... aku ingin menunjukkan bahwa dia bohong... aku ingin menjadi milikmu seutuhnya agar kau tidak meninggalkanku."

Adrian terdiam sejenak, menatap mata Briana yang dipenuhi ketakutan akan kehilangan. Ia memegang kedua pipi istrinya dengan sangat lembut, memaksa Briana untuk menatap matanya.

"Hey, sayang... lihat aku," ucap Adrian dengan nada rendah yang sangat menenangkan.

Adrian mengusap air mata di pipi Briana dengan ibu jarinya. "Dengar baik-baik. Keperawanan bukan tolak ukur pernikahan kita. Aku tidak menikahi mu hanya untuk mencari sebuah pembuktian fisik."

Briana tertegun, tangisnya sedikit mereda namun matanya masih memancarkan keraguan.

"Saat pria itu bicara tadi, aku tidak marah karena takut kau sudah tidak suci," lanjut Adrian jujur. "Aku marah karena aku takut kau sebenarnya mencintainya dulu. Aku takut kau sebenarnya adalah istrinya secara sah. Aku takut kehilanganmu bukan karena masa lalu mu, tapi karena aku takut kau bukan milikku."

Adrian menarik napas panjang, menempelkan keningnya ke kening Briana. "Aku mencintaimu, Briana. Mungkin pertemuan kita sangat singkat, mungkin pertemuan kita adalah sebuah kesalahan di rooftop waktu itu. Tapi demi Tuhan, aku sangat mencintaimu. Aku mencintai wanita yang berdiri di depanku sekarang, bukan wanita yang pria itu ceritakan."

Mendengar pengakuan tulus itu, pertahanan Briana runtuh sepenuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa. Ia menghambur ke pelukan Adrian, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi tempat teraman nya.

"Terima kasih... terima kasih sudah mempercayaiku, Adrian," isak Briana di balik pelukannya.

Adrian mendekapnya semakin erat, menciumi puncak kepala Briana dengan penuh kasih. Di dalam kamar yang sunyi itu, Adrian berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi benteng bagi Briana, melindungi istrinya dari bayang-bayang masa lalu yang mencoba merusak kebahagiaan yang baru saja mereka bangun.

Tiba-tiba saja Adrian terkekeh pelan, suasana yang tadinya begitu berat dan penuh air mata kini mencair berkat senyum tipis yang mulai terukir di wajah tampannya. Ia mengeratkan pelukannya, lalu berdehem pelan dengan nada menggoda yang membuat wajah Briana semakin panas.

"Ehem..." Adrian menjauhkan sedikit wajahnya agar bisa menatap mata Briana yang masih sembap. "Lagipula, sayang... kalau dipikir-pikir lagi, tangisanmu tadi malam itu justru membuatku yakin."

Briana mengerutkan kening, masih sesenggukan kecil. "Yakin soal apa?"

"Ya, yakin kalau itu memang yang pertama bagimu," ucap Adrian dengan kerlingan nakal di matanya.

"Teman-temanku sering sekali bercerita...yah, tahu sendirilah pembicaraan laki-laki, kalau saat mereka meniduri kekasihnya untuk pertama kali, memang akan terasa sakit dan sesak. Jadi, wajar sekali kalau kamu sampai menangis seperti itu semalam, sayang."

Wajah Briana seketika berubah merah padam, semerah mawar yang tersebar di ranjang mereka. Malunya bukan main mendengar Adrian membicarakan hal sepribadi itu dengan begitu santai, apalagi membawa-bawa cerita teman.

"Adrian! Berhenti bicara seperti itu!" seru Briana malu.

Dengan gemas, Briana mendaratkan cubitan maut di pinggang Adrian.

"Aduh! Aduh, ampun, sayang!" Adrian meringis sambil tertawa, mencoba menghindar namun tetap memegangi pinggang istrinya. "Aku hanya bicara fakta! Itu artinya si Dante itu cuma pembual besar. Dia tidak tahu apa-apa tentangmu."

Briana menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Adrian, merasa malu sekaligus lega. "Jangan bahas dia lagi. Dan berhenti mendengarkan cerita teman-teman mu yang tidak jelas itu."

"Siap, Permaisuriku," sahut Adrian lembut, kini suaranya kembali serius namun tetap hangat. Ia mengecup dahi Briana dengan sayang. "Mulai sekarang, cerita kita hanya milik kita. Tidak perlu pembuktian apa pun lagi. Aku sudah tahu siapa pemilik hati dan tubuhmu yang sebenarnya."

Briana tersenyum di balik dekapan Adrian. Meskipun badai di luar sana belum sepenuhnya reda, berada di pelukan suaminya membuat ia merasa sanggup menghadapi apa pun.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!