Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Leon memperlihatkan bayi itu kepadaku.
Tangannya yang hangat mengangkat tubuh mungil yang masih dibalut kain putih. Mataku berkaca-kaca saat melihat wajah kecil itu. Pipi merahnya begitu lembut, bibirnya mungil, dan jemarinya bergerak pelan seolah mencari sentuhan ibunya.
“Rania… lihat,” bisik Leon dengan suara bergetar.
Aku tersenyum lemah di atas ranjang rumah sakit. Rasa sakit yang tadi terasa seperti membelah tubuhku perlahan menghilang, tergantikan oleh perasaan haru yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Bayi lucu dan imut, sungguh sangat menggemaskan.
Tangisnya pecah lagi, kecil namun begitu kuat. Tangis yang menjadi saksi bahwa ia hadir ke dunia dengan selamat. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku mengulurkan tangan, dan Leon mendekatkannya kepadaku.
Saat tubuh mungil itu menyentuh dadaku, hatiku seperti penuh—penuh cinta, penuh syukur, penuh harapan.
“Iya… aku berhasil,” lirihku pelan. “Aku berhasil melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan imut.”
Leon tersenyum, matanya juga basah. Hari ini ia bahkan tidak membuka praktik. Ia memilih berada di sisiku, menggenggam tanganku sejak kontraksi pertama hingga detik terakhir persalinan. Tak sekali pun ia pergi.
“Kamu hebat, Rania,” ucapnya tulus. “Terima kasih sudah memperjuangkan dia.”
Aku menatap wajah putriku. Ada campuran wajahku dan… mungkin juga wajah Leon. Tapi yang jelas, ia adalah anugerah terindah dalam hidupku.
Di luar sana mungkin masih banyak masalah yang menunggu. Perkataan orang-orang, cibiran, dan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Namun saat ini, semua itu terasa jauh. Yang ada hanya aku, Leon, dan putri kecil kami.
Kubelai pipinya pelan. Ia berhenti menangis dan mulai tertidur di pelukanku.
“Selamat datang, bidadari kecil Mama,” bisikku.
--
Satu minggu setelah melahirkan, tubuhku mulai terasa lebih kuat. Meski jahitan masih sesekali nyeri dan malam-malamku dipenuhi tangis bayi, hatiku justru terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Pagi itu, Arumi menghampirikubdengan wajah berseri-seri.
“Ran! Kamu harus dengar ini!” serunya begitu masuk ke kamar.
“Ada apa, Rum?” tanyaku penasaran sambil menggendong bayi kecilku yang baru saja selesai menyusu.
Arumi duduk di sampingku. “Kedai ayam geprekmu semakin meningkat. Pesanan online naik terus! Bahkan kemarin sampai kewalahan. Banyak pelanggan baru, katanya tahu dari media sosial.”
Mataku melebar. “Yang benar?”
“Iya! Ini beneran. Kayaknya ini efek promosi kemarin sama… mungkin juga berkah bayi kamu,” godanya sambil tersenyum.
Aku menatap wajah mungil di pelukanku. Ia tertidur lelap, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Hati kecilku langsung bergetar.
Aku yakin ini rezeki putri kecilku.
Sejak ia lahir, rasanya semua pintu perlahan terbuka. Bukan hanya pintu kebahagiaan, tapi juga pintu rezeki. Padahal sebelumnya aku sempat takut—takut tak mampu membagi waktu antara mengurus bayi dan mengurus usaha. Takut tak sanggup membiayai semuanya sendiri.
Tapi Tuhan selalu punya cara menunjukkan kuasa-Nya.
“Rum,” lirihku pelan, “aku sudah siapkan namanya.”
Arumi mendekat. “Siapa?”
Aku tersenyum dan mencium kening bayi itu. “Alea.”
“Cantik banget, Ran…”
“Iya,” jawabku lembut. “Artinya kebahagiaan dan keberuntungan. Semoga hidupnya selalu dipenuhi itu.”
Leon yang berdiri di dekat pintu hanya tersenyum mendengar percakapan kami. Tatapannya hangat saat melihat Alea dalam gendonganku.
Hari itu, sejak melahirkan, aku merasa benar-benar percaya diri menatap masa depan. Aku bukan hanya seorang ibu sekarang. Aku juga seorang pejuang—untuk Alea.
Dan kalau benar kedai ayam geprekku semakin berkembang, aku akan bekerja lebih keras lagi. Bukan hanya untuk bertahan hidup… tapi untuk membangun masa depan yang layak bagi putriku.
“Leon, terima kasih ya untuk semuanya,” seruku menatapnya sambil tersenyum.
Ia yang sudah rapi dengan kemeja putih dan tas kerja di tangan menoleh ke arahku. Tatapannya lembut, hangat seperti biasanya.
“Iya, sama-sama,” jawabnya pelan. “Aku berangkat kerja dulu ya.”
Aku mengangguk. “Hati-hati.”
Leon tersenyum manis ke arahku, lalu berjalan keluar rumah. Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang entah kenapa terasa berbeda pagi ini.
Belum sempat aku menoleh, Arumi yang sejak tadi berdiri di dekat jendela tiba-tiba menyenggol lenganku.
“Benar kan, Ran,” bisiknya dengan senyum jahil. “Apa yang aku katakan waktu itu. Sepertinya dokter Leon yang tampan dan rupawan itu suka sama kamu.”
“Arumi…” desahku pelan, pura-pura tak peduli meski pipiku terasa hangat.
“Eh, jangan pura-pura nggak sadar. Cara dia lihat kamu itu beda,” lanjutnya sambil duduk di sampingku. “Dari awal kamu hamil sampai melahirkan, dia nggak pernah pergi. Bahkan rela izin nggak praktik cuma buat nemenin kamu.”
Aku menunduk, mengelus kepala kecil Alea yang tertidur di pelukanku.
Dokter Leon…
Sejak awal ia selalu ada. Saat aku kelelahan berjualan hingga kontraksi, saat aku ketakutan menghadapi persalinan, bahkan saat omongan orang-orang mencoba menjatuhkanku. Ia berdiri di sampingku tanpa banyak janji, tanpa banyak kata.
“Aku nggak mau salah paham, Rum,” jawabku pelan. “Aku cuma… nggak mau berharap terlalu jauh.”
Arumi menghela napas. “Tapi kalau memang dia tulus?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Hatiku memang tak lagi sekeras dulu. Ada ruang yang perlahan terbuka setiap kali Leon tersenyum padaku. Setiap kali ia menggendong Alea dengan penuh kasih. Setiap kali ia memanggilku dengan nada lembut seolah aku ini sesuatu yang berharga.
Namun aku takut.
Takut jika semua ini hanya perasaanku saja. Takut jika harapan justru kembali melukaiku.
Aku menarik napas panjang dan tersenyum kecil. “Biarlah semuanya berjalan apa adanya. Kalau memang jodoh, pasti Allah mudahkan.”
Arumi tertawa kecil. “Iya, iya… tapi kalau suatu hari dia nembak kamu, jangan pura-pura kaget ya.”
Aku hanya tersenyum, meski diam-diam jantungku berdegup lebih cepat.
Entah benar atau tidak, tapi satu hal yang pasti—
Sejak Leon hadir, hidupku terasa lebih hangat.
“Eem, Rum…” seruku ragu.
“Iya?” Arumi menoleh santai sambil memainkan tangan kecil Alea yang menggenggam jarinya.
“Bos kamu gimana? Kamu izin banyak banget kan akhir-akhir ini?”
Arumi terdiam sebentar. Lalu ia menarik napas panjang, seolah sedang menyiapkan sesuatu yang besar untuk diucapkan.
“Aku memutuskan untuk keluar dari toko bunga itu,” katanya pelan, tapi mantap. “Dan berniat kerja sama kamu.”
“Apa?!” Kagetku spontan sampai hampir berdiri dari dudukku.
Alea sedikit bergerak dalam pelukanku, dan aku buru-buru menenangkannya.
“Iya,” lanjut Arumi sambil meringis kecil. “Aku mau bantu kamu. Aku nggak tega, Ran… lihat kamu berjuang sendiri mengurus ayam geprek kamu. Urus bayi, urus pesanan, promosi, semuanya kamu tanggung sendiri.”
Mataku langsung berkaca-kaca.
“Aaa, Arumi…” nanarku terharu.
Ia tersenyum, kali ini tanpa nada bercanda seperti biasanya. “Kita mulai dari nol bareng-bareng. Aku bantu bagian dapur dan pengemasan. Kamu fokus resep dan branding. Kita kembangkan lebih besar. Siapa tahu nanti punya ruko sendiri.”
Aku tak mampu menahan air mata lagi. Selama ini aku terbiasa kuat sendirian. Terbiasa menguatkan diri sendiri saat orang lain meremehkanku. Tapi hari ini, sahabatku justru memilih meninggalkan pekerjaannya demi berdiri di sampingku.
“Tapi… kamu yakin? Itu pekerjaan tetap, Rum.”
“Aku yakin,” jawabnya tegas. “Aku lebih yakin sama mimpi kamu, Ran. Dan aku mau jadi bagian dari mimpi itu.”
Hatiku terasa penuh.
Di luar sana mungkin banyak yang meragukan aku. Menganggap usaha kecilku tak akan bertahan lama. Menganggap aku hanya perempuan yang hidupnya penuh drama.
Tapi hari ini, Arumi membuktikan satu hal—
Aku tidak sendirian.
“Kalau begitu,” kataku sambil menghapus air mata dan tersenyum lebar, “kita bikin ayam geprek ini jadi besar. Bukan cuma sekadar kedai pinggir jalan. Tapi brand yang orang kenal.”
Arumi langsung tertawa semangat. “Nah gitu dong! Itu baru Rania yang aku kenal!”
Aku menatap Alea yang tertidur tenang.
Untuk putriku.
Untuk sahabatku.
Untuk masa depan kami.
Perjuangan ini bukan lagi hanya tentang bertahan hidup.
Kini, ini tentang membangun kerajaan kecil kami—dari dapur sederhana, dengan hati yang penuh tekad.
***