Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34
Malam itu, Namjoon duduk di meja belajarnya dengan buku terbuka, tapi pikirannya tidak fokus sama sekali. Sudah hampir satu jam ia berada di posisi yang sama. Punggung tegak, tangan bertumpu di meja, dan tatapan mengarah ke halaman buku yang isinya seharusnya ia pahami dengan mudah. Biasanya, Namjoon adalah tipe yang bisa tenggelam dalam bacaan, bahkan lupa waktu. Tapi malam ini, setiap kalimat terasa seperti lewat begitu saja, tidak benar-benar singgah di kepalanya. Lampu meja menyala temaram, menerangi halaman buku yang terbuka di depannya. Pena tergeletak di sisi kertas kosong, belum disentuh selama hampir sepuluh menit. Jam dinding berdetak pelan, menjadi satu-satunya suara di kamar yang sunyi. Detik demi detik berjalan lambat. Terlalu lambat untuk seseorang yang pikirannya justru bergerak terlalu cepat. Ia memikirkan Ryn Moa. Namjoon tidak sedang berusaha memikirkan apa pun. Ia tidak sengaja mengingat. Nama itu tiba-tiba saja muncul di benaknya seperti sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan tanpa ia sadari.
Cara gadis itu tertawa, tidak pernah sepenuhnya tertahan. Selalu ada jeda kecil sebelum suaranya keluar, seolah ia sempat berpikir, bolehkah aku tertawa sekarang? sebelum akhirnya menyerah dan membiarkannya terjadi. Cara gadis itu bingung saat deg-degan, Cara alisnya mengerut, bibirnya terkatup rapat, lalu matanya berkelip cepat seperti sedang mencari pegangan. Namjoon sering memperhatikan itu, bukan karena ia sengaja, tapi karena selalu tertangkap begitu saja. Cara gadis itu terlihat berusaha memahami dunia. Bukan dengan ambisi berlebihan, bukan dengan keras kepala. Tapi dengan ketulusan yang kadang terasa terlalu jujur untuk dunia yang sering tidak ramah. Semua itu muncul begitu saja, seperti potongan film pendek yang terus diputar ulang di kepalanya. Namjoon menghela napas, tersenyum kecil sambil menatap langit-langit.
“Aku benar-benar…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.nKata-kata itu berhenti di ujung lidah, menggantung di udara yang hening. Namjoon tahu, jika ia menyelesaikan kalimat itu, jika ia memberi nama pada perasaan ini, maka semuanya akan berubah. Ia bukan tipe yang suka bermain-main dengan perasaan, terutama perasaan sendiri. Ia tahu jika ia mengucapkannya, perasaan itu akan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali. Tapi hatinya tahu. Kesadaran itu tidak datang tiba-tiba. Ia datang pelan, konsisten, dan tanpa drama seperti Namjoon sendiri. Ia menyukai gadis itu, bukan sekadar tertarik atau sekadar penasaran. Bukan karena ia cantik atau karena ia berbeda. Tapi karena bersama Ryn Moa, Namjoon merasa tenang. Ia menyukai cara gadis manis itu menjadi dirinya sendiri, tulus, canggung, dan selalu jujur pada perasaannya meski sering tidak paham apa yang sedang ia rasakan. Namjoon menyadari bahwa ia sering menahan senyum ketika Ryn Moa berbicara. Bahwa ia selalu mendengarkan lebih lama dari yang seharusnya. Bahwa ia mengingat detail kecil tentangnya tanpa pernah berniat menghafal. Dan itu, bagi Namjoon adalah tanda yang tidak bisa disangkal.
Namjoon menutup bukunya perlahan. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap malam kampus yang tenang. Lampu-lampu gedung menyala satu per satu, menciptakan suasana damai yang kontras dengan pikirannya. Di luar sana, kampus terlihat seperti dunia yang berbeda. Tidak ada tawa keras. Tidak ada hiruk-pikuk siang hari. Hanya cahaya lampu, bayangan pepohonan, dan jalan setapak yang lengang. Namjoon menyandarkan dahi ke kaca jendela. Dan ia teringat sesuatu. Percakapan sore itu. Cara Yoongi bicara dengan nada datar tapi bermakna. Cara Seokjin menatapnya seolah sudah tahu semuanya. Dan, tentu saja, nama Taehyung yang tidak sengaja disebut, tapi cukup untuk membuat situasi berubah. Jika Taehyung juga menyukai gadis itu, Maka ia harus bergerak sebelum terlambat. Bukan dengan terburu-buru. Bukan dengan memaksa. Tapi dengan kejujuran, hal yang selama ini selalu ia pegang. Namjoon tahu dirinya. Ia tidak pandai menggoda. Tidak jago membuat kejutan besar. Tidak lihai bermain kata-kata manis. Yang ia punya hanya konsistensi dan niat yang tulus. Lesung pipinya muncul saat ia tersenyum pelan.
“Besok… aku akan mulai.”
Kalimat itu diucapkannya hampir seperti janji. Bukan pada siapa pun, melainkan pada dirinya sendiri.
...⭐⭐⭐...
Di tempat lain, Ryn Moa merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan senyum kecil yang tidak kunjung hilang. Kamarnya gelap, hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut meja yang memberi nuansa redup yang hangat. Ponselnya tergeletak di samping bantal, layar mati, tapi pikirannya masih menyala terang. Ia memutar tubuh ke kiri, lalu ke kanan. Menarik selimut sampai ke dagu, lalu menurunkannya lagi karena merasa gerah.
“Aduh…” gumamnya pelan.
Senyumnya muncul lagi kemudian menghilang lalu muncul lagi. Ryn Moa tidak sedang memikirkan hal besar. Tidak sedang membayangkan masa depan dramatis. Ia hanya mengulang momen kecil. Cara Namjoon menatapnya saat dirinya bicara terlalu cepat. Cara ia menunggu Ryn Moa selesai berpikir tanpa menyela. Cara ia tersenyum kecil, yang entah kenapa terasa berbeda dari senyum orang lain. Ryn Moa menutup wajahnya dengan bantal.
“Kenapa sih jadi begini…” keluhnya pelan, tapi tidak benar-benar ingin perasaan itu pergi.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut dengan kebingungan di dadanya. Tidak merasa harus segera menemukan jawaban. Ia hanya membiarkannya ada.
Taehyung duduk sendirian, masih memikirkan satu nama yang semakin sulit ia abaikan. Kamar Taehyung berantakan seperti biasa, jaket tergantung di kursi, tas tergeletak di lantai, dan gitar bersandar di dinding tanpa disentuh. Ia duduk di tepi ranjang, ponsel di tangan, layar menyala tanpa ia perhatikan. Nama itu ada di kepalanya lagi, Ryn Moa. Taehyung menghela napas kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
“Gila,” gumamnya.
Ia tidak membuka chat. Tidak menulis apa pun. Tapi pikirannya sibuk menyusun kalimat yang tidak pernah dikirim. Ia tahu satu hal dengan pasti malam itu, perasaannya tidak lagi bisa ia sepelekan dan itu menyebalkan.
Dan Namjoon berdiri di dekat jendela, menyadari bahwa garis yang selama ini samar, kini mulai terbentuk dengan jelas. Garis itu tidak datang dengan ledakan atau dengan deklarasi drama berlebihan. Ia datang dengan kesadaran. Bahwa ada perasaan yang harus dihadapi. ada langkah yang harus diambil. Bukan garis yang memisahkan. Melainkan garis awal, untuk sesuatu yang tidak lagi bisa dianggap kebetulan.
...⭐⭐⭐⭐...
Bersambung....