Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Dewi Investasi
"Pak Kairo! Ya ampun, Pak Kairo!"
Nyonya Tan menghadang Kairo di pintu VIP, wajahnya pucat sisa kepanikan tapi matanya berbinar.
"Istri Bapak luar biasa! Kalau bukan karena Jeng Sora, saya sudah rugi sepuluh miliar di tambang bodong Bella!"
Kairo mengerjap. "Maksud Ibu... Sora menyelamatkan uang Ibu?"
"Bukan cuma menyelamatkan, dia memberi pencerahan!" Nyonya Rudi menimpali antusias. "Analisisnya tajam sekali, Pak! Langsung ke inti masalah. Pak Kairo beruntung sekali."
Kairo terdiam. Dia datang bersiap membela istri yang menangis, tapi malah menemukan istrinya disembah para nyonya julid Jakarta Selatan.
Elena berdiri, menepuk remah kue di celana, lalu berjalan menghampiri Kairo. Dia melewati Bella yang masih sesenggukan di lantai tanpa menoleh sedikitpun.
"Sudah kubilang, kan?" kata Elena datar saat berhenti di depan Kairo. Dia memakai kembali kacamata hitamnya.
"Aku sudah membersihkan nama baikmu, Kairo. Dan menyelamatkan dompet teman-temanku yang gullible ini. Sekarang ayo pulang. Aku mual bau kepalsuan."
Elena melenggang keluar membelah kerumunan bak membelah Laut Merah. Reza tergopoh menyusul.
"Hebat ya. Dingin, tapi smart. Cocok jadi istri CEO," bisik Nyonya Rudi di belakang.
Kairo tersentak. Sudut bibirnya berkedut. Perasaan hangat menjalar di dada, mengusir amarah. Itu rasa bangga yang arogan. Ya, wanita hebat itu milikku.
Kairo mengangguk singkat pada para nyonya, lalu berbalik cepat mengejar istrinya. Langkahnya ringan. Dia tidak lagi menyeret tahanan, tapi berjalan berdampingan dengan seorang ratu.
Di dalam Alphard, keheningan padat melanda. Elena memejamkan mata, kakinya beristirahat tanpa sepatu.
Kairo menatap profil samping istrinya. Noda teh di blazer putih itu terlihat seperti tanda jasa pertempuran.
"Darimana kau tahu?" tanya Kairo tiba-tiba.
"Tahu apa?"
"Izin tambang Winata dicabut. Beritanya baru rilis satu jam lalu. Tim risetku saja belum kirim memo," nada Kairo penuh rasa ingin tahu. "Kau tidak punya akses Bloomberg Terminal. Bagaimana kau tahu sebelum orang lain?"
Elena membuka mata, menurunkan kacamata hitam sedikit. "Data publik, Kairo."
"Data publik tidak secepat itu. Siapa orang dalammu? Budi si agen properti?"
Elena mendengus geli. Dia menegakkan duduknya.
"Kamu ini CEO tapi cara pikirmu linear. Aku tidak butuh orang dalam. Aku cuma butuh membaca footnote."
"Catatan kaki?"
"Laporan Tahunan PT Winata Coal tahun lalu. Halaman 154, paragraf tiga, font ukuran delapan. Ada sengketa lahan dengan warga desa di tiga tambang utama sejak dua tahun lalu."
Kairo terdiam, mendengarkan seksama.
"Orang bodoh cuma baca grafik profit hijau," lanjut Elena, matanya berkilat cerdas. "Orang pintar baca apa yang disembunyikan di bawah. Sengketa lahan ditambah isu lingkungan? Itu bom waktu. Aku tinggal cek website Mahkamah Agung tadi pagi. Putusan keluar kemarin sore: Izin dicabut."
Darah Kairo berdesir. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cemburu, tapi karena rangsangan intelektual. Dia belum pernah merasa seseksi ini melihat wanita menjelaskan laporan keuangan.
Kecerdasan itu... ketajaman analisis itu... menghipnotis.
"Kau..." suara Kairo serak. "Kau benar-benar berbahaya, Sora."
"Terima kasih," jawab Elena datar, kembali menyandar. "Sekarang diamlah. Menghancurkan mental orang butuh energi."
Kairo menatap istrinya dengan kacamata baru. Wanita ini bukan lagi "Istri Pajangan". Dia adalah aset undervalued yang baru saja Kairo sadari potensinya. Dan Kairo tidak akan melepaskan aset berharga.
Mobil berhenti di lobi rumah. Kairo menahan pintu mobil saat Elena hendak turun.
"Tunggu."
"Apa lagi? Aku mau mandi, bajuku lengket."
"Soal paspor."
Mata Elena berbinar waspada. "Kau mau mengembalikannya?"
"Belum."
Wajah Elena masam. "Pembohong. Kau bilang kalau aku berhasil membungkam Bella..."
"Kau berhasil, itu benar. Tapi kau belum membuktikan kau tidak akan kabur lagi."
"Ck. Dasar penipu!" Elena mendecih, mendorong tangan Kairo. "Minggir."
Elena turun dengan hentakan kaki kasar. Kairo menyusul, merasa tertantang.
Tepat di depan pintu utama, Kairo mengurung Elena di antara tubuhnya dan pintu kayu jati.
"Dengar dulu," bisik Kairo.
Elena berbalik cepat, tatapan mematikan. "Apa? Tambah masa tahanan? Atau pasang CCTV di kamar mandi?"
Kairo menatap intens, mendekatkan wajah. "Malam ini, jangan kunci pintu ruang kerjamu."
Elena bersedekap. "Kenapa? Mau menyelinap pakai kunci master? Atau menagih 'hak suami'? Maaf, aku tidak mood melayani nafsu priamu."
Kairo tersenyum miring. "Bukan nafsu itu, Sayang."
Dia meletakkan sebuah flashdisk hitam ke telapak tangan Elena.
"Apa ini?"
"Data mentah proyek Cikarang," jawab Kairo serius. "Proyek Greenlight City yang macet. Audit internal bilang bersih, tapi uang terus bocor. Aku butuh mata lain. Mata yang bisa melihat apa yang disembunyikan di footnote."
Elena menatap flashdisk itu. Ini akses rahasia. Kepercayaan. Kairo membuka pintu brankasnya.
"Kau memintaku mengaudit perusahaanmu? Tarifku mahal."
"Aku tahu," Kairo menyeringai. "Kalau kau temukan kebocorannya malam ini... besok pagi paspormu kembali. Dan bonus satu apartemen atas namamu. Deal?"
Mata Elena berbinar. Tawaran yang tak bisa ditolak.
"Dua apartemen," tawar Elena cepat. "Satu di Kuningan, satu di Menteng. Dan akses penuh ke server keuangan pusat."
Kairo tertawa kecil, matanya bersinar kagum. "Rakus. Oke. Deal."
Elena tersenyum menang, menggenggam flashdisk.
"Baiklah, Pak Kairo. Pintu ruang kerjaku buka jam delapan. Jangan telat. Dan bawa kopi."
Elena mendorong dada Kairo, masuk ke dalam rumah.
Kairo berdiri di teras, melonggarkan dasi dengan adrenalin terpompa. Malam ini akan panjang. Untuk pertama kalinya, dia tidak sabar menghabiskan waktu bersama istrinya—di depan layar monitor penuh angka.
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor