Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. SURPRISE
Rasanya aneh. Biasanya, Naya akan memakan nasi goreng sapi kesukannya dengan lahap di segala kondisi yang dihadapi. Entah itu ketika Naya sedang stres karena pekerjaan, lemas karena demam, atau patah hati karena idolanya dikabarkan berkencan.
Tetapi saat itu selera makan Naya seperti menghilang. Selain memang sudah dingin, nasi goreng sapi yang berada di hadapannya saat itu mendadak terasa hambar.
Naya benar-benar merasa sangat resah. Pikirannya seolah tak mau berhenti memikirkan Astrid, pesan suara, dan foto-foto mengerikan itu.
Air mata yang kembali meluncur menuju pipinya sepertinya bisa menjelaskan bagaimana rumitnya isi hati Naya saat itu.
Tetapi kemudian akal sehat Naya mulai menunjukkan kehadirannya. “Kamu gak boleh gini terus, Nay. Kalo kamu sakit, kamu gak bisa cari Astrid.” Naya menyedot ingus.
Pelan tapi pasti, nasi goreng sapi itu akhirnya Naya habiskan.
‘Demi Astrid’, pikir Naya.
#
Langit senja yang terlihat indah tak lantas menghilangkan kegelisahan yang terus menggulung dalam kepala Addam. Sejak tadi ia tak henti-hentinya memikirkan semua hal mengejutkan ini.
Semakin lama, langit menjadi semakin gelap dan udara menjadi sangat dingin. Saat itulah Addam akhirnya mendapat pesan dari Mahesa.
Mahesa || Dam. Jam 10, bisa?
Pesan dari Mahesa sangat singkat, tapi Addam langsung memahaminya.
Addam || Oke. Nanti berkabar lagi.
Balasan Addam juga sama singkatnya.
Mahesa || Sip.
Setelah mendapat balasan singkat itu, hati Addam seperti bisa membuka sedikit ruang untuk ditempati rasa tenang diantara cemas yang menyiksa. Addam benar-benar berharap bahwa upaya kecilnya sekarang bisa membantunya menemukan kebenaran tentang Astrid.
Saat ini, Addam terus terduduk di tepi tempat tidurnya. Selain Astrid, Addam juga teringat pada David yang tinggal di luar kota. Apakah David sudah mengetahui kabar tentang Astrid? Bagaimana cara Addam menanyakan hal itu pada David?
Tatapannya terhenti pada bingkai foto yang menggantung pada dinding, di atas tempat tidurnya. Potret yang menunjukkan kebersamaan Addam, Astrid, dan David sewaktu mereka masih tinggal bersama.
Addam mengambil nafas dalam, berusaha mengurai benang kusut yang memenuhi kepalanya. Bagi Addam, baik Astrid maupun David, mereka berdua adalah orang terpenting yang dimilikinya saat ini. Siapapun pasti tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada orang terkasih mereka, itu juga yang Addam rasakan sekarang.
Lalu ketika Addam masih bergelut dengan pikirannya, pria itu mendengar suara ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!
“Permisi ...” suara seorang wanita.
Addam merasa pernah mendengar suara itu. Dirinya kemudian segera bangkit dan menghampiri seseorang yang mengetuk pintu.
“Eh, Ibu ...” Addam tersenyum simpul pada seorang wanita yang terlihat berusia 50-an. Ia akrab dipanggil Bu Lela, pemilik kontrakan yang Addam dan Naya tempati.
“Ini,” Bu Lela menyodorkan sebuah tas belanja yang di dalamnya berisi sebuah kotak seukuran kotak sepatu, “Saya baru inget, tadi siang ada yang titip ini. Katanya buat Addam. Bener, ya?”
Addam sempat tercenung ketika Bu Lela menyodorkan kotak itu padanya sebab ia tak ingat dirinya pernah memesan barang.
“Eh? Iya. Makasih ya, Bu. Jadi repotin...” Addam tersenyum simpul sambil menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
“Iya. Nanti-nanti bilang aja ke kurirnya taruh di depan pintu. Takut saya lupa lagi,” balas Bu Lela diikuti senyum yang jelas dipaksa hadir. “Ya sudah, saya permisi,” pamitnya.
“Makasih, Bu ...” kata Addam dengan raut wajah sedikit memerah seperti habis ditampar–dan saat itu Addam memang merasa tertampar oleh kalimat yang didengarnya barusan.
Tapi Addam tak mau terlalu memikirkan hal itu. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah kotak yang baru saja ia terima.
Lagi-lagi kotak paket.
Bahkan hanya dengan melihat kotak itu saja, pikiran Addam sudah berprasangka yang tidak-tidak. Jantungnya berdegup lebih cepat melihat tampilan kotak itu yang lagi-lagi dikirim oleh ‘A’, persis seperti paket yang Naya terima.
Dengan segenap keyakinan yang dikumpulkannya, Addam membuka paket itu dengan hati-hati.
Lalu dilihatnya paket itu berisi sebuah diska lepas. Benar-benar menimbulkan banyak pertanyaan di benak Addam.
Segera saja Addam mencari laptopnya untuk kemudian memasang diska lepas yang kini ada di genggamannya.
Gurat wajah Addam jelas sekali terlihat cemas ketika dirinya mulai mengakses file di dalam diska lepas itu. Sebuah folder bernama “SURPRISE”. Apa lagi ini, pikir Addam.
Dengan ragu ia meng-klik folder itu dan selanjutnya munculah beberapa file video. Jika Addam hitung, di sana ada enam file video yang diberi nama aneh, lagi.
Video-video itu masing masing bernama:
Burn
Calling
Chaos
Diving
Hanging
Run
Addam membuka video paling atas yang berjudul ‘Burn’. Meski video itu hanya berdurasi dua belas detik, tapi Addam sempat terkesiap melihat apa isi video itu. Di sana, ia melihat kepala manekin yang tertancap pada besi dalam keadaan terbakar. Beberapa detik pertama video itu adalah gambar close-up si manekin. Lalu detik berikutnya manekin itu tampak berangsur menjauh dari lensa. Jelas sekali si perekam mengambil video itu dari jarak jauh.
Belum habis pikir tentang maksud video ‘Burn’ itu, Addam kini lanjut membuka video dengan judul ‘Calling’.
Video kedua itu pun tak kalah aneh. Addam melihat tayangan yang merekam langkah kaki seorang wanita tanpa alas kaki tengah berjalan di atas tanah yang terlihat seperti di daerah hutan. Terdengar suara ‘dial’ yang cukup kencang. Jelas sekali wanita itu tengah mencoba menghubungi seseorang dan ia juga menyalakan ‘loudspeaker’ di ponselnya. Tapi cara video itu diambil, apakah mungkin wanita itu memegang kamera dan ponsel? Atau dua ponsel? Dan video itu juga berdurasi singkat, hanya sembilan detik saja.
Kedua video berdurasi singkat itu mengundang banyak pertanyaan dalam kepala Addam dan sukses membuat perasaannya menjadi tidak nyaman. Pria itu bahkan tidak lanjut menonton keempat video yang lain. Ia menduga video-video itu akan berisi tayangan yang mengganggu lagi.
Laptop di hadapannya lalu Addam tutup begitu saja. Tubuhnya ia sandarkan pada dinding lalu Addam memejamkan kedua matanya. Kepalanya seperti mau pecah setelah terus dihadapkan dengan hal-hal yang masih sangat tak bisa ia pahami itu.
Tapi tiba-tiba saja Addam membelalakkan kedua matanya dan meraih ponselnya segera. Ia menggulir layarnya dan membuka lagi pesan dari akun anonim itu.
“Apa kau suka kejutan dariku?” kedua alis Addam tertaut kala ia membaca kembali pesan itu.
“Kejutan ... Maksudnya ‘surprise’ yang ini?!”
‘Surprise’ di sini merujuk pada nama folder dalam diska lepas yang baru Addam terima.
#
Biasanya, Naya selalu merasa waktu berjalan dengan cepat. Tahu-tahu pagi, tahu-tahu sudah jam makan siang, tahu-tahu sudah jam pulang kerja. Tapi hari itu berbeda. Waktu terasa berjalan dengan sangat lambat. Sejak Naya menerima paket aneh itu pada siang tadi hingga sekarang waktu telah menunjuk angka sembilan malam, belum ada sepuluh jam tapi Naya merasa seolah telah terkurung di kontrakannya selama berminggu-minggu lamanya.
Naya tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi jauh dalam hatinya, ia berharap Addam akan datang mengetuk pintu ruangannya dan mengajaknya pergi mengabulkan permintaannya. Dari tadi ia hanya terus terbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit.
Tak lama kemudian, Naya benar-benar mendengar pintu kontrakannya diketuk oleh seseorang di luar sana.
“Nay ...?” itu adalah suara Addam.
Kedua mata Naya seketika berbinar cerah seolah harapannya itu langsung didengar oleh Pemilik langit.
“Iya...!” balas Naya. Gadis itu beringsut menuju pintu.
“Nay. Temenku udah ngasih lokasi buat obrolin kasus ini. Ayo. Katanya kamu mau ikut,” Addam berdiri di depan ambang pintu. Tangan kanannya terlihat menenteng sebuah tas belanja berisi sebuah kotak yang masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Kedua mata Naya membulat. Ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena Addam benar-benar mendengarkan permintaannya. “Iya kak. Aku ikut. Tunggu aku ambil ponselku dulu.”
Dengan langkah cepatnya, Naya berbalik dan mengambil sebuah tas selempang yang menggantung di dinding. Tak lupa juga ia mengambil sebuah cardigan berwarna hitam untuk menutupi lengan bajunya yang pendek. Celana jeans itu memang sengaja Naya pakai sejak tadi karena dirinya memang sedang mengaktifkan mode ‘siaga’.
Ponsel, kartu transportasi, kartu ATM, semua Naya masukkan dalam tasnya. Segera setelahnya Naya kembali ke hadapan Addam.
“Ayo, Kak.” Naya tampak telah sangat siap.
Addam melengkungkan garis senyum di sudut bibirnya.
Kedua orang itu lalu berjalanan beriringan dipimpin oleh Addam, Naya mengekor di belakang.
“Taksinya bentar lagi datang, Nay.” Kata Addam sambil menatap layar ponselnya.
Naya hanya mengangguk. Sudah bagus Addam mau mengajaknya, batin Naya.
Kemudian hanya berselang sekitar dua menit setalah ucapan Addam, sebuah mobil berwarna biru akhirnya berhenti di area halaman kontrakan yang memang cukup luas itu.
“Atas nama Addam?” Pengemudi menurunkan jendela mobil.
“Iya, Pak,” balas Addam seraya membuka pintu di bagian belakang. “Kamu duluan, Nay,” Addam mempersilakan Naya memasuki taksi itu terlebih dahulu.
“Hati-hati, kepala kamu,” Addam memastikan puncak kepala Naya tidak mengenai pintu mobil.
“Makasih, kak,” ucap Naya ketika Addam telah duduk di sebelahnya dan menutup pintu mobil.
“Santai,” balas Addam singkat.