Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Nikah
Bang Dean: [aku minta ini dong, buat persiapan aja.] Katanya meminta beberapa dokumen untuk pengajuan pernikahan dan PTKP pajak kami nanti. Astaga secepat itu kah aku akan menjadi istri, rasanya aku sudah mantap hidup bersama bang Dean, kalau ditanya seberapa besar, di angka 90% ada but 10% nya aku masih ragu tentang satu hal. Apakah dia sudah lupa dengan mantannya, aku enggak mau aja hidup bayang-bayang seseorang. Sempat itu terjadi aku enggak terima banget sumpah, dia memberikan beberapa dokumen lagi. Ribet banget ya.
Ku berikan soft file dari beberapa dokumen, menyusul bukti fisiknya. Bang Dean dengan bangga bilang kepadaku "Kamu sudah percaya kan sama aku." Katanya memberikan slip gaji dan beberapa rahasia yang tak bisa ku tuliskan.
Langkah-langkah administrasi awal rencana pernikahan kami, padahal aku belum ngomong banyak soal ini ke Papa. Bagaimana nanti kalau kami pakai adat, salah kah aku memakai gelar Papa dibelakang ku. Setelah aku tau sebenernya— Aku enggak berani membahas itu ke bang Dean, pasti dengan keputusan panjang bang Dean memilih ku.
Satu hari itu aku penuh jadwal namun tidak mengerti mana dulu yang harus di prioritaskan. Jam kuliah sudah ditentukan, mulai malam nanti sudah ada zoom dan Minggu depan sudah ada pertemuan offline dikampus.
Untungnya aku punya bang Dean, dan untungnya aku mencintai di waktu yang
tepat dan finansial yang sehat. Walaupun umur kami tidak bisa dikatakan cinta remaja, namun dengan finansial yang sehat kami bisa mewujudkan cinta yang kuat. Berkat bang Dean juga aku tidak perlu jauh-jauh pulang balik antara kantor dan rumah, berkat dia juga aku semakin dewasa dan ada rasa memahami di dalam mengambil keputusan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuhan berikan aku dengan kasih yang baik, pernikahan kami ditentukan satu Minggu kedepan.Dengan identitas ku sebagai anak Papa aku akan diberkati di gereja dimana aku di baptis yaitu dikampung halaman ku.
Bang Dean dan aku pulang bersama, hubungan kami kian mendekat. Bahkan merekat, di sepanjang perjalanan walaupun membawa bantal leher tetap penyangga yang kuat ialah bahu dan tangan bang Dean. Ia terus berupaya memperhatikan ku, tidak sedikit pun dia biarkan aku sendiri.
Kemungkinan nanti bang Dean akan pulang lebih awal dari ku karena cuman mendapat cuti 10 hari, sementara aku bisa bekerja dari rumah untuk beberapa hari setelah libur ku habis.
Mama dan Papa mempersiapkan segala hal nya dengan baik, enggak ada satupun luput dari pengawasan Mama. Makanan dan tata acara semua rapi terkontrol oleh Mama. Atas kesepakatan beberapa acara adat Batak Simalungun akan di gabung dengan Batak Toba. Bang Dean dan keluarganya sepakat dengan itu, jadi tidak ada masalah di kedepan hari nya.
Papa Mama menyambut kedatangan kami di bandara, begitu juga dengan Bou Mama nya bang Dean beserta keluarganya. "Bou," kataku memberinya salam, ia menyambut ku dengan pelukan hangat. Lama banget pelukan itu baru berakhir, aku juga tidak lupa memeluk adek bang Dean. Dan terakhir baru memeluk Papa serta Mama, aku datang ma Pa batinku seakan ingin bicara seperti itu.
Air mata menjelaskan beberapa moment dalam pertemuan ini, kami diajak makan bersama.
Perpisahan sementara dimulai dari bandara, bang Dean mengganti kan iparnya untuk mengemudi sementara aku ikut dengan kedua orang tua ku. Sebenarnya ada sedikit rasa canggung dihati setelah beberapa kejadian terjadi tapi orang tua ku tetap menganggap nya itu bukan masalah. Mama terus bercerita tentang proses dan undang mengundang keluarga.
"Ma, keluarga mantan suami nya bou sudah di undang?" Apa kalian pikirkan? Aku akan memanggil bou ku itu Mama/ ibu. Enggak, aku bahkan tidak ingin tahu lebih detail tentang masalah ini, aku hanya memastikan satu hal, jangan ada keributan nanti di pesta akibat dari bangkai yang di tutupin.
Dari diamnya Mama seperti satu hal akan terjadi, aku mencoba tenang tidak marah mengikuti emosi ku. Pasti Mama juga bingung kalau soal beginian, toh kalau aku anak haram seharusnya suami Bou sekarang atau mantan-mantan pacar nya akan ada yang menuntut. Berarti selama ini aku aman.
Satu rumah makan khas makanan Batak kesukaan bang Dean menjadi destinasi perjalanan kami, kami memesan makanan,
berdoa kemudian menikmati berkat yang ada.
Mata bang Dean tertuju pada wajah ku, tangan nya mulai mengetik sesuatu, mengirimkan nya kepada ku. Padahal dia tepat di depanku kenapa enggak langsung bicara aja sih.
Bang Dean:[ kok di tekuk gitu mukanya, ada salah? Atau makanannya kamu kurang suka."
Mataku langsung melirik ke arah bang Dean usai pesan itu lengkap ku baca. Dia tidak ingin keluarga tau tentang percakapan kami.
Miwa:[ Lagi enggak enak hati aja, enak ko makanan nya] Aku lanjut makan walaupun sambil melamun, bou juga memperhatikan tapi tidak ingin banyak bicara kepada ku.
Mama, Papa dan Bou terus kompromi untuk acara berjalan dengan lancar tanpa ada halangan, kejujuran Papa tentang latar belakang ku tidak diberitahu kepada Bou selaku ibunya bang Dean. Aku takut itu dipermasalahkan nantinya, aku enggak sanggup kalau ada keributan di acara sakral, malunya pasti luar biasa.
"Nanti langsung istirahat ya Nang, biar vit di acara." kata Bou memelukku. Kami berpisah, bang Dean memelukku sebelum perpisahan kami.
Melanjutkan perjalanan tidak jauh dari restoran kami sudah sampai dirumah, kamar ini aku kembali pulang. Abang pertama ku beserta keluarga kecilnya sudah ada di rumah begitu juga istri Abang ke dua ku, nantinya Abang ke dua ku akan datang setelah aku datang.
"Mi sudah makan?" nampaknya istri Abang kedua ku sudah masak, ia makan tidak lupa menawarkan masakan nya kepada Papa dan Mama. Aku memeluknya, ia kakak kelas ku dulu waktu SMP sempat dekat juga waktu masih satu sekolah cuman gak ketemu waktu SMA eh taunya dia kakak ipar ku.
Orang nya perhatian,lemah lembut tidak suka kemunafikan ini yang aku suka dari dia. Kalau istri Abang ku yang pertama enggak begitu dekat, bukan berarti karena dia enggak baik, dia amat baik dan perhatian juga cuman rada pendiam, aku enggak biasa dengan orang pendiam.
Kami saling bertukar cerita bersama ipar ku, dia cerita sampai ngakak tentang suami nya dan kehidupan pernikahan. Inilah sangking akrabnya dunia ranjang pun tak hayal untuk di bahas, kami tertawa akan candaan 17+ yang kami buat.
"Ia Wa, kau bayangkan Abang mu kan dulu agak gemuk, terus di timpa nya aku yang kurus kering ini, apa gak mati gancet aku lama-lama. Nangis aku malam pertama biar kau WA." cerita nya di akhir episode.
"Kau masih balance lah sama Dean, Dean juga kan tinggi nya gak bangsa badan besar." Aku sudah sedari tadi ketawa mendadak diam dengan pernyataan Kakak ipar
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰