Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: HUKUMAN
Valerie melihat tangan Karin sudah menyentuh kenop pintu kamar mandi. Ia tahu, jika pintu itu terbuka, karier Revan dan rahasia mereka tamat.
"Karin!" panggil Valerie dengan suara lemas yang dibuat-buat.
Karin menoleh. "Apa, Val? Aku harus tahu siapa yang ada di..."
"Kepalaku... mendadak sakit sekali, Karin. Pandanganku... gelap..." Valerie memegangi keningnya, ia sedikit terhuyung dan dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke arah kasur.
"Val! Valerie!" Karin panik. Ia langsung melepaskan pintu kamar mandi dan menghambur ke arah Valerie yang kini memejamkan mata di atas tempat tidur. "Ya ampun, Val! Bangun! Kau kenapa? Apa kecoanya tadi mengandung racun?!"
Di dalam kamar mandi, Revan mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Mendengar suara Valerie yang ambruk, nalurinya sebagai pelindung ingin segera mendobrak pintu dan menggendong istrinya. Namun, akal sehatnya menahan, ia tahu ini adalah bagian dari sandiwara Valerie untuk menyelamatkannya.
"Aduh, bagaimana ini? Aku harus cari minum!" Karin berlari keluar kamar menuju dapur.
Begitu suara langkah Karin menjauh, Revan langsung keluar dari kamar mandi dengan kecepatan kilat. Ia tidak lari ke luar apartemen, melainkan menghampiri Valerie di tempat tidur.
"Erie..." bisik Revan, suaranya sarat dengan kecemasan. Ia menyentuh dahi Valerie, memastikan istrinya benar-benar tidak sakit.
Valerie membuka satu matanya, lalu berbisik panik, "Mas! Cepat pergi lewat balkon lagi! Bawa sepatu dan ponselmu! Karin sedang ambil minum!"
Revan menatap Valerie dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara bangga pada kecerdikan istrinya dan kesal karena harus terus bersembunyi. Revan menyambar sepatu dan ponselnya, namun sebelum melompat kembali ke balkon, ia menyempatkan diri mengecup kilat kening Valerie.
"Kau pintar, tapi kau akan kena hukuman karena membuatku jantungan," bisik Revan dingin namun penuh kasih, lalu ia menghilang di balik jendela.
Sepuluh Menit Kemudian
Karin kembali dengan segelas air putih. Valerie sudah duduk bersandar di bantal, berpura-pura baru tersadar.
"Minum dulu, Val. Duh, kau membuatku takut saja," ucap Karin lega. Ia melihat sekeliling kamar yang kini terasa "lebih sepi". "Ngomong-ngomong... suara keran di kamar mandi tadi sudah berhenti. Dan sepatunya... lho, sepatunya hilang?"
Valerie meneguk air dengan tenang (meski jantungnya masih maraton). "Sepatu? Ah, mungkin tadi itu cuma tumpukan baju kotor yang terlihat seperti sepatu, Karin. Kau kan tahu aku sedang pusing, mungkin kau juga tertular halusinasi dariku."
Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aneh. Aku yakin sekali melihat sepatu pria. Dan ponsel itu... ah, sudahlah. Mungkin aku memang terlalu banyak menonton drama suspense."
Malam itu, Karin akhirnya pulang setelah memastikan Valerie baik-baik saja. Begitu pintu apartemen terkunci, Valerie merosot di balik pintu, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari maut.
Tiba-tiba, lampu ruang tengah menyala. Revan berdiri di sana, sudah mengenakan kaos santai, bersedekap dengan wajah "Dosen Killer"-nya yang paling intimidasi.
"Sudah selesai dramanya, Nyonya Revanza?" tanya Revan dengan suara berat yang menggoda.
Valerie bangkit, wajahnya cemberut namun matanya bersinar. "Itu semua salahmu, Mas! Kenapa meletakkan sepatu sembarangan?"
Revan melangkah maju, memerangkap Valerie di antara tubuhnya dan pintu. "Karena aku tidak menyangka akan ada penyusup kecil yang masuk ke rumah kita. Sekarang, bagaimana dengan janji hukumanmu tadi?"
"Karena kau sudah membuat jantungku hampir berhenti dan memaksaku memanjat balkon seperti pencuri," ucap Revan dengan suara rendah yang berwibawa, "aku sudah memutuskan hukumanmu."
Valerie menelan ludah, menatap mata tajam suaminya. "Hukuman apa, Mas?"
"Mulai besok, di kelas Hukum Perdata-ku, kau tidak boleh lagi duduk di barisan paling belakang. Kau harus duduk di kursi paling depan, tepat di hadapanku."
"Apa?!" Valerie membelalak. "Tapi Mas, semua orang akan memperhatikanku! Dan Karin... dia pasti akan bertanya-tanya kenapa aku mendadak jadi mahasiswi ambisius!"
Revan mendekat, ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Valerie. "Itu bagian dari hukumannya, Erie. Aku ingin memastikan kau tidak melamun atau menggambar sketsa wajahku secara diam-diam saat aku mengajar. Dan satu lagi... jika kau tidak fokus, aku tidak akan segan memanggil namamu untuk menjawab pertanyaan."
Keesokan Harinya – Ruang Kuliah Hukum
Suasana ruang kuliah pagi itu sangat riuh sampai Pak Revanza Malik masuk. Seketika, ruangan menjadi sunyi senyap. Revan berjalan dengan langkah tegap, meletakkan tas kulitnya, dan membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat karismatik.
Mata tajamnya langsung tertuju pada barisan paling depan. Di sana, Valerie duduk dengan kaku, wajahnya menunduk dalam, mencoba bersembunyi di balik buku teks hukumnya yang tebal.
"Val, kenapa sih kita harus duduk di sini?" bisik Karin yang duduk di sebelah Valerie dengan wajah pucat. "Ini kursi maut! Kalau Pak Revan bersin, kita yang pertama kena traumanya. Ayo pindah ke belakang!"
"T-tidak bisa, Karin. Aku... aku ingin mencoba fokus hari ini agar nilaiku bagus," jawab Valerie bohong, meski tangannya di bawah meja meremas roknya sendiri.
"Selamat pagi," suara bariton Revan menggema, membuat Karin tersentak.
Revan mulai menjelaskan materi tentang hukum perikatan. Namun, sepanjang kuliah, pandangannya terus-menerus jatuh pada Valerie. Bagi mahasiswa lain, itu tampak seperti dosen yang sedang mengawasi mahasiswi yang mencurigakan, tapi bagi Valerie, setiap tatapan Revan terasa seperti sentuhan fisik yang membakar.
"Saudari Valerie Adiwijaya," panggil Revan tiba-tiba.
Valerie tersentak hingga pulpennya terjatuh. Seluruh kelas menatapnya. Karin di sebelahnya langsung pura-pura membaca buku, tidak mau ikut terseret.
"Ya... Pak?" jawab Valerie terbata.
Revan berjalan mendekati meja Valerie, bersedekap, dan sedikit membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak satu meter. "Bisa kau jelaskan unsur-unsur kesepakatan dalam pasal 1320 KUHPerdata? Kau tampak sangat... fokus, jadi saya yakin kau tahu jawabannya."
Valerie bisa mencium aroma parfum sandalwood milik Revan yang sama dengan yang ia hirup tadi pagi di apartemen. Ia merasa ingin menghilang ke bawah lantai.
"Unsur-unsurnya adalah... kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu pokok persoalan tertentu, dan suatu sebab yang tidak terlarang," jawab Valerie lancar, berkat sesi belajar paksa yang diberikan Revan setiap malam.
Revan terdiam sejenak, menatap mata Valerie dengan binar bangga yang sangat tipis yang tidak disadari orang lain. "Jawaban yang sempurna. Pertahankan fokusmu, Saudari Valerie. Jangan sampai pikiranmu melayang ke mana pun."
Karin menyenggol lengan Valerie setelah Revan menjauh. "Gila! Kau hebat sekali, Val! Tapi jujur, cara dia menatapmu tadi... kalau aku jadi kau, aku sudah pingsan di tempat. Dia seolah ingin memakanmu hidup-hidup dengan matanya!"
Valerie hanya bisa menghela napas panjang, wajahnya terasa panas. Ia tahu, di balik wajah kaku itu, Revan sedang menikmati setiap detik penderitaannya yang ia terima.