"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Rahasia di Balik Garis Dua
Di kamar mandi utama kediaman Adiguna, tangan Shena gemetar hebat. Di hadapannya, di atas wastafel marmer, tergeletak tiga buah alat tes kehamilan yang semuanya menunjukkan hasil yang sama: dua garis merah yang sangat jelas.
"Positif..." bisik Shena. Air mata bahagia seketika luruh membasahi pipinya. "Proyek kita berhasil, Mas."
Ia ingin detik itu juga berteriak, menelepon Devan, dan memberitahunya bahwa sebentar lagi akan ada anggota baru di keluarga mereka. Namun, Shena teringat sesuatu. Besok adalah tanggal 15 Oktober—hari ulang tahun Devan.
"Ini akan jadi hadiah terbaik seumur hidupnya," gumam Shena sambil menghapus air mata. Ia segera menyembunyikan alat tes itu di dalam kotak perhiasan yang terkunci rapat.
Shena keluar dari kamar dengan wajah yang jauh lebih cerah, meski rasa mual masih sesekali menyapa. Di ruang tengah, Mama Widya sedang sibuk menyiapkan teh herbal.
"Shena, kamu kelihatan lebih segar. Sudah tidak mual lagi?" tanya Mama Widya curiga.
"Sudah agak baikan, Ma. Mungkin benar kata Papa, hanya rindu Mas Devan," jawab Shena berbohong demi menjaga kejutan.
Tiba-tiba, ponsel rumah berbunyi. Itu telepon dari Singapura. Mama Widya segera mengangkatnya dan langsung mengomel tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya bicara.
"Devan Adiguna! Berani-beraninya kamu tidak memberi kabar selama 3 minggu! istri mu sedang sakit di sini?!" teriak Mama Widya.
Shena mendekat, jantungnya berdegup kencang saat Mama Widya memberikan gagang telepon padanya. "Ini, suamimu mau bicara. Suaranya aneh, seperti orang sedang menelan jeruk purut."
"Halo... Shena?" suara Devan di seberang sana terdengar sangat lemah dan payah.
"Mas? Kamu kenapa?kamu sakit?" tanya Shena cemas.
"Aku... aku tidak tahu, Sayang. Perutku melilit, kepalaku pusing, dan aku baru saja menghabiskan dua toples manisan mangga muda kiriman Rian. Aku merindukanmu sampai rasanya mau mati," keluh Devan.
Ia sengaja tidak memberitahu soal diagnosa dokter tentang Couvade Syndrome, ia ingin memastikannya sendiri.
Shena menahan tawa. Ia tahu sekarang, suaminya sedang mengalami "ngidam" bersamanya. "Mas, selesaikan urusanmu. Besok kan hari ulang tahunmu, apa kamu tidak pulang?"
"Aku sedang di jalan menuju bandara, Shena. Masa bodoh dengan rapat direksi. Aku akan pulang malam ini juga!"
Setelah menutup telepon, Shena segera bersiap. Ia meminta bantuan Bi Inah untuk menyiapkan makan malam spesial besok. Ia juga memesan sebuah kotak kado kecil yang sangat elegan.
Di dalam kotak itu, ia meletakkan sepasang sepatu bayi mungil berwarna putih dan alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua tersebut. Ia menyelipkan sebuah catatan kecil: "Selamat ulang tahun, Papa. Hadiahmu sedang diproses di dalam perut Mama."
Malam itu, Devan tiba di rumah pukul dua pagi. Ia masuk ke kamar dengan langkah lunglai dan wajah pucat. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk Shena yang terbangun dari tidurnya.
"Jangan pakai parfum dulu, Sayang. Baunya membuatku mual," gumam Devan sambil menyembunyikan wajahnya di leher Shena.
Shena mengelus rambut suaminya dengan penuh kasih. "Kamu pasti capek sekali ya, Mas?"
"Sangat. Tapi anehnya, begitu memelukmu, rasa mual ku sedikit berkurang," Devan mencium kening Shena berkali-kali. "Maafkan aku ya, selama di sana aku terlalu fokus bekerja sampai lupa memberimu kabar. Aku hampir gila memikirkan mu."
Shena tersenyum misterius. "Tidak apa-apa, Mas. Tidurlah. Besok ada kejutan besar untuk ulang tahunmu."
Hari ulang tahun Devan tiba. Pagi-pagi sekali, Mama Widya dan Papa Surya sudah menyiapkan tumpeng di meja makan. Devan turun dengan wajah yang sudah sedikit lebih segar, meski ia masih membawa sepotong lemon untuk dihirup baunya.
"Selamat ulang tahun, jagoan Papa," ujar Papa Surya sambil menepuk bahu anaknya.
"Terima kasih, Pa, Ma," jawab Devan. Matanya mencari-cari Shena.
Shena muncul dari arah dapur membawa sebuah kotak kecil berhias pita emas. Wajahnya berseri-seri, membuat Devan terpaku.
"Selamat ulang tahun, Mas Devan," ucap Shena lembut. "Ini hadiah dariku. Maaf kalau tidak semahal jam tangan atau mobil koleksimu."
Devan menerima kotak itu dengan tangan bergetar. "Apapun darimu adalah harta karun bagiku, Shena."
Mama Widya dan Papa Surya ikut mendekat, penasaran dengan isi kado tersebut. Devan perlahan membuka pitanya, lalu membuka tutup kotaknya.
Seketika, suasana di ruangan itu menjadi sangat sunyi. Devan terpaku melihat sepasang sepatu bayi itu. Matanya kemudian beralih ke alat tes kehamilan di bawahnya. Ia membacanya pelan, lalu membaca catatan kecil dari Shena.
"Shena... ini..." Devan mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ini serius? Kamu... kita...?"
Shena mengangguk pelan dengan air mata bahagia. "Iya, Mas. Proyek Cucu berhasil. Aku sudah hamil."
"YEEESSS!!!" Devan berteriak kencang sampai suaranya menggema ke seluruh rumah. Ia mengangkat Shena dan memutarnya di udara, melupakan rasa mualnya, melupakan wajah pucat nya.
"Devan! Turunkan! Shena sedang hamil!" teriak Mama Widya yang juga sudah menangis bahagia sambil memeluk Papa Surya.
Devan menurunkan Shena, lalu berlutut di depan perut Shena dan menciumnya dengan sangat takzim. "Terima kasih, Shena. Ini hadiah ulang tahun terindah yang pernah ada dalam sejarah hidupku. Aku akan menjadi Papa terbaik untuknya."
"Dan Papa yang paling posesif," goda Shena sambil tertawa.
"Tentu saja! Mulai hari ini, tidak ada yang boleh membuatmu stres! Rian! Telepon kantor! Bilang aku cuti satu bulan untuk menjaga istriku!" seru Devan pada Rian yang baru saja masuk membawa bunga.
Rian hanya bisa menghela napas. "Satu bulan, Pak? Baru juga hamil, pak. Udah ambil cuti satu bulan?"
"Diam kamu, Rian! Ini urusan pewaris takhta!"
...****************...