Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Daratan
Seminggu setelah aku membunuh Sarah, kami meninggalkan pulau. Helikopter yang sama. Pemandangan yang sama. Tapi aku yang berbeda.
Aku duduk di samping Damian dengan wajah kosong. Tidak menatap keluar jendela. Tidak merasakan apapun tentang kepulangan ini.
Hanya kekosongan. Kekosongan yang nyaman dengan caranya sendiri.
"Kau tidak bicara banyak sejak hari itu," kata Damian sambil meraih tanganku.
Aku menatap tangannya yang menggenggam tanganku. Tangan yang membimbingku menyiksa. Membimbingku membunuh.
"Tidak ada yang perlu dikatakan," jawabku. Suaraku datar. Tanpa emosi.
Damian tersenyum tipis. "Itu tidak apa-apa. Kadang keheningan lebih baik."
Kami mendarat di mansion satu jam kemudian. Pelayan-pelayan sudah berbaris di depan untuk menyambut. Seperti biasa.
Tapi ketika aku turun dari helikopter, aku melihat sesuatu yang berbeda di mata mereka.
Takut.
Mereka takut padaku.
Bukan kasihan lagi seperti dulu. Bukan simpati. Tapi takut yang nyata.
Aku berjalan melewati mereka dengan kepala tegak. Langkah pasti. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi gemetar.
Salah satu pelayan muda membungkuk terlalu lambat. Aku berhenti. Menatapnya.
Dia langsung pucat. Membungkuk lebih dalam. Tangan gemetar.
"Maaf, Nyonya," bisiknya. "Maafkan saya."
Aku hanya menatapnya beberapa detik, tidak mengatakan apapun, lalu aku melanjutkan berjalan. Tapi aku tahu tatapan itu sudah cukup untuk memberikan pesan. Di belakangku, aku mendengar Damian tertawa pelan, namun terdengar begitu puas.
***
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang baru. Aku bangun. Sarapan dengan Damian. Mengikutinya ke rapat-rapat bisnis.
Duduk di sampingnya seperti ratu yang sesungguhnya, mendengarkan, mengamati, dan belajar. Ketika ada yang tidak sopan, ada yang meremehkan, aku tidak lagi diam. Tidak lagi membiarkan Damian yang bicara.
Aku bicara sendiri dengan suara dingin, dengan tatapan yang membuat orang-orang itu langsung tutup mulut.
"Kalau kau bicara seperti itu lagi pada suamiku," kataku pada salah satu partner bisnis, yang mencoba menipu Damian, "Aku yang akan menanganimu, bukan dia. Dan percaya padaku, kau tidak mau itu terjadi."
Pria itu menatapku dengan mata membelalak, lalu menatap Damian seperti mencari bantuan. Tapi Damian hanya tersenyum, dan membiarkanku.
"Nyonya tidak main-main," kata Damian dengan nada yang bangga. "Jadi lebih baik kau dengarkan saja."
Pria itu akhirnya mengangguk, dan menerima syarat yang kami tawarkan. Tanpa negosiasi lagi. Setelah rapat, Damian menatapku dengan tatapan yang intens.
"Tadi kau begitu luar biasa," katanya.
"Aku hanya bilang yang sebenarnya," jawabku datar.
"Tidak," katanya sambil meraih daguku. Memaksaku menatapnya. "Kau lebih dari itu. Kau menunjukkan kekuasaan, menunjukkan bahwa kau bukan hanya istriku. Tapi penguasa yang setara denganku."
Dia menciumku lembut tapi posesif.
"Aku sangat bangga padamu," bisiknya.
Tapi aku tidak merasakan apapun dari pujian itu, yang aku rasakan hanya kekosongan.
***
Malam itu ada jamuan makan malam dengan beberapa Don dari keluarga lain. Di ruang makan besar mansion.
Aku duduk di samping Damian. Mengenakan gaun hitam elegan. Rambut ditata sempurna, makeup menutupi wajah yang sudah kehilangan warna.
Dari luar terlihat sempurna, tapi dari dalam sudah mati.
"Donna Alexa," sapa Don Russo. Pria yang dulu meremehkanku. Sekarang menatapku dengan hormat dan sedikit takut. "Kabar tentang transformasimu sudah tersebar. Mereka bilang kau sudah menjadi sama berbahayanya dengan Damian."
"Mereka tidak salah," jawabku sambil menyesap wine. "Aku belajar dari yang terbaik."
Don Caruso, yang dulu menuntut wilayah selatan, tertawa canggung. "Aku senang kita sekarang di pihak yang sama, Donna."
"Kita selalu di pihak yang sama," kataku sambil menatapnya. "Selama kau tidak mencoba mengambil apa yang bukan milikmu."
Ruangan senyap sebentar, bahkan terlihat begitu tegang.
Lalu Damian tertawa. "Istriku sangat protektif. Aku sangat menyukai itu."
Yang lain ikut tertawa, tapi aku melihat keringat di dahi mereka. Melihat ketakutan di mata mereka. Dan bagian kecil diriku, sangat menikmatinya.
Menikmati kekuasaan ini, rasa hormat dan Ketakutan ini. Karena itu berarti, aku tidak lagi lemah, dan tidak lagi menjadi korban. Sekarang akulah yang berkuasa.
***
Setelah jamuan makan, ketika semua tamu sudah pulang, Damian membawaku ke balkon kamar. Kami berdiri di sana dalam hening. Menatap kota yang berkelap-kelip di kejauhan.
"Kau tahu apa yang kusuka dari malam ini?" tanyanya.
"Apa?"
"Kau," jawabnya sambil memelukku dari belakang. "Kau yang duduk di sampingku bukan sebagai hiasan. Tapi sebagai ancaman yang nyata. Sebagai kekuatan yang harus mereka hormati."
Dia mencium bahuku.
"Akhirnya," bisiknya, "akhirnya kau menjadi Ratu yang kusebut istri. Bukan hanya nama. Tapi kenyataan."
Aku berbalik menghadapnya, menatap mata gelapnya.
"Apa yang terjadi pada gadis di perpustakaan?" tanyaku. "Gadis yang kau katakan, dan gadis yang kau cintai?"
Damian tersenyum, senyum yang menyedihkan.
"Dia mati," jawabnya. "Mati ketika aku membunuh ayahnya di altar, dan lahirlah kau, Alexa. Versi yang lebih kuat, lebih berbahaya, bahkan lebih sempurna."
"Sempurna," ulangku. Kata itu terasa asing di lidah.
"Ya," katanya sambil menyentuh pipiku. "Sempurna untukku, untuk dunia ini, dan untuk kehidupan yang kita jalani."
Dia menarikku dan mencium bibirku dengan begitu Dalam. Dan aku membalasnya dengan intensitas yang sama, tapi tanpa perasaan.
Karena aku sudah tidak merasakan apapun lagi, tidak ada cinta, tidak ada benci, atupun sedih.
Hanya kekosongan yang luas. Dan mungkin itu yang terbaik, karena perasaan hanya membuat sakit dan lemah. Lebih baik tidak merasakan apapun, dari pada harus merasakan segalanya.
***
Malam itu ketika Damian sudah tidur, aku berdiri di depan cermin. Menatap pantulanku.
Wanita yang menatap balik bukan lagi Alexa Cheline Vasquez. Bukan lagi gadis yang tersenyum di perpustakaan.
Ini Alexa Vincenzo. Donna. Ratu dari kerajaan berdarah. Dengan mata yang dingin, wajah yang tanpa ekspresi, dan jiwa yang sudah mati.
Transformasi sudah selesai sepenuhnya, tidak ada lagi perlawanan. Tidak ada lagi pertanyaan moral, dan tidak ada lagi keraguan.
Hanya penerimaan dingin atas siapa aku sekarang, monster yang berdiri setara dengan monster lain. Dan bagian yang paling menyedihkan, aku tidak yakin aku ingin kembali. Bahkan kalau ada kesempatan.
Karena gadis yang dulu, terlalu lemah untuk dunia ini, terlalu polos, dan terlalu rapuh. Tapi sekarang aku kuat, aku yang berkuasa, bahkan aku ditakuti. Dan mungkin itu lebih dari cukup.
Air mata mengalir di pipiku, tapi wajah tidak berubah, tetap dingin, dan kosong. Bahkan air mata pun sudah kehilangan artinya, hanya reflex tubuh, bukan ekspresi dari perasaan yang sudah mati.
Aku mengusap air mata itu, kembali ke tempat tidur, dan berbaring di samping Damian. Dan untuk pertama kalinya, sejak semua ini dimulai, aku tidur tanpa mimpi buruk, tanpa teriakan Sarah, ataupun tanpa wajah Matteo.
Hanya kegelapan yang tenang, karena aku sudah menjadi bagian dari kegelapan itu. Dan kegelapan tidak takut pada dirinya sendiri.
Tapi di suatu tempat di kota, ayah menatap foto lama. Foto aku dan Sarah tersenyum bersama, di perpustakaan waktu berusia sepuluh tahun.
Dan dia berbisik sambil menangis. "Maafkan ayah, Sarah. Maafkan ayah tidak bisa melindungimu. Dan maafkan ayah Alexa, karena ayah akan melakukan satu hal terakhir. Walau itu berarti ayah harus menghancurkan putri ayah sendiri untuk menyelamatkan jiwanya. Karena lebih baik kau membenciku selamanya, dari pada harus menjadi monster selamanya."
Dan dia membuka laptop, mengirim satu email terakhir. Ke FBI. Dengan semua bukti rekaman, semua kejahatan Damian selama dua puluh tahun. Termasuk video pembakaran rumah, rencana terakhir yang akan menghancurkan segalanya. Termasuk dirinya sendiri.