NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA BELAS: MENJERAT

Pagi di mansion Valentinus tidak pernah datang dengan suara ayam berkokok atau bising kendaraan, melainkan dengan keheningan yang mahal dan aroma bunga lily segar yang diletakkan di setiap sudut ruangan. Bagi Seraphina, kesadaran yang perlahan kembali dari alam mimpi terasa seperti sebuah hantaman kenyataan yang berat. Ia terbangun di atas ranjang king size yang terasa seperti awan, tenggelam di balik selimut sutra yang begitu halus hingga nyaris tak terasa menyentuh kulitnya. Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai beludru yang berat, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang mengkilap.

Sesaat, Seraphina tertegun menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan malaikat kecil yang melayang di balik awan. Ia hampir lupa di mana ia berada, sampai kemudian rasa perih yang tajam dan denyutan yang belum hilang di antara kedua kakinya kembali menyergap. Ingatan tentang malam itu—tentang napas Orion yang panas dan robekan paksa yang mengakhiri masa polosnya—kembali menghujam benaknya bagaikan sembilu.

Tiba-tiba, pintu kamar yang besar itu terbuka dengan suara nyaring yang memutus lamunannya. Giselle Valentinus muncul dengan wajah yang jauh lebih ceria daripada matahari pagi itu sendiri. Ia tidak datang sendirian; ia membawa sebuah nampan perak besar yang penuh dengan sarapan yang tampak terlalu indah untuk dimakan.

"Selamat pagi, Putri Tidur Mama yang paling cantik!" Giselle berseru dengan nada yang melengking riang, suaranya memenuhi kamar yang luas itu bagaikan kicauan burung yang terlalu bersemangat. Ia melangkah cepat dan meletakkan nampan itu langsung di atas pangkuan Seraphina yang masih setengah sadar. "Ayo, bangun, Sayang! Lihat apa yang Mama bawakan untukmu! Pancake blueberry setinggi gunung dengan limpahan sirup maple dan whipped cream yang super tebal! Mama menyuruh Bibi Yani membuatnya khusus untuk menyambut hari pertamamu sebagai putri resmi di rumah ini!"

Seraphina menatap tumpukan makanan itu dengan pandangan takjub sekaligus ngeri. Di panti asuhan, sarapan berarti sepotong roti tawar dan segelas susu yang dibagi rata. Di sini, sarapan untuk satu orang tampak cukup untuk memberi makan sepuluh anak yatim. "Terima kasih... Tante Giselle... eh, Mama," bisik Seraphina, mencoba membiasakan lidahnya dengan panggilan baru yang terasa sangat berat itu.

Giselle langsung bersorak senang, tangannya yang penuh dengan cincin berlian bertepuk tangan dengan gemas. "Nah, begitu dong! Mama sangat bahagia mendengarnya! Cepat habiskan sarapanmu, karena setelah ini kita punya agenda yang sangat padat! Mama sudah memesan tempat di butik paling eksklusif, dan kita akan memborong semuanya untukmu!"

Dan janji itu bukan sekadar bualan. Siang itu, Seraphina merasa seolah-olah ia sedang ditarik masuk ke dalam pusaran dunia yang belum pernah ia bayangkan keberadaannya. Giselle membawanya ke pusat perbelanjaan paling mewah, tempat di mana pintu-pintu kaca dibuka oleh pria-pria berseragam dan setiap pelayan membungkuk hormat saat melihat wajah Giselle Valentinus. Di dalam butik-butik itu, Seraphina tidak lebih dari sekadar boneka hidup bagi Giselle.

Giselle memilihkan setiap potong pakaian dengan ketelitian seorang kurator seni yang sedang memamerkan koleksi berharganya. Gaun-gaun malam yang berkilauan dengan payet, blus sutra yang transparan dan lembut, rok pensil yang membentuk lekuk tubuh, hingga pakaian dalam berbahan renda yang sangat halus. Seraphina hanya bisa berdiri kaku di depan cermin besar, sementara para pelayan butik sibuk mengukur dan memakaikan berbagai busana padanya.

"Oh, lihatlah ini! Warna ungu muda ini sangat cocok dengan kulitmu yang seputih susu, Nana! Ini akan sangat nyaman memeluk vagina yang sensitif, pasti rasanya sangat lembut!" Giselle berseru dengan santainya sambil memegang sepotong dalaman renda di depan wajah Seraphina.

"Mama! Kumohon, jangan bicara begitu di depan orang lain!" Seraphina berbisik dengan wajah yang memerah padam, rasa malunya mencapai titik nadir saat melihat para pelayan butik hanya tersenyum sopan seolah pembicaraan itu adalah hal yang sangat biasa.

"Kenapa harus malu, Sayang? Itu kan fakta! Kamu harus memakai sesuatu yang membuatmu merasa cantik dari dalam," Giselle terkikik genit, matanya berkilat penuh rahasia. "Lagipula, Orion itu pria yang sangat detail. Dia tidak suka sesuatu yang kasar atau kumal. Dia sangat menyukai kebersihan dan keharuman, apalagi di tempat-tempat yang paling tersembunyi. Kamu harus selalu siap memberikan yang terbaik untuknya!"

Seraphina menelan ludah, rasa mual kembali muncul di ulu hatinya. Setiap perkataan Giselle yang tampak polos selalu memiliki makna ganda yang mengerikan baginya. Ia merasa seolah-olah sedang dipersiapkan bukan untuk menjadi seorang putri, melainkan untuk menjadi hidangan yang sempurna bagi putranya.

Setelah urusan butik selesai, mereka beralih ke toko perhiasan legendaris. Di sana, di bawah sorotan lampu yang membuat segalanya tampak berkilauan, Giselle memilihkan sebuah kalung berlian dengan mata yang kecil namun sangat jernih. "Ini untukmu, Nana. Berlian ini melambangkan kemurnianmu yang sekarang sudah menjadi milik keluarga kami," ucap Giselle sambil memasangkan kalung itu ke leher Seraphina. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit leher Seraphina, memberikan sensasi yang membuat gadis itu merinding. "Nanti jika Orion sedang gemas dan ingin menggigit lehermu, biarkan berlian ini yang menjadi saksi betapa berharganya dirimu."

Sepanjang perjalanan belanja itu, Seraphina merasa kepalanya berputar. Dari toko perhiasan ke toko sepatu, di mana ia dipaksa mencoba belasan pasang sepatu hak tinggi yang membuatnya kesulitan berjalan. "Aduh!" Seraphina terhuyung-huyung saat mencoba berjalan dengan stiletto setinggi sepuluh sentimeter.

Giselle justru tertawa terbahak-bahak, tawanya yang nyaring menarik perhatian pengunjung lain. "Hahaha! Ya ampun, Nana! Kamu lucu sekali, persis seperti kelinci yang baru pertama kali belajar memakai sepatu manusia! Jangan khawatir, lama-lama kamu akan terbiasa menjadi seorang Valentinus yang harus selalu berjalan tegak di atas segalanya!"

Meskipun awalnya merasa terhina, Seraphina menemukan sebuah sisi dari Giselle yang sulit untuk ia benci. Wanita itu memiliki keceriaan yang sangat menular. Di sebuah kafe mewah sambil menikmati es krim cokelat yang sangat mahal, Giselle mulai bercerita tentang hal-hal kecil di mansion. Tentang hobi Orion yang suka mengoleksi guling saat tidur karena ia sebenarnya takut akan kesepian yang dingin, atau tentang betapa mudahnya Orion marah jika vas bunga kesukaan mamanya diletakkan di tempat yang salah.

Mendengar cerita-cerita itu, Seraphina menemukan dirinya sedikit melonggarkan pertahanannya. Ia merasa bahwa ia dan Giselle memiliki satu kesamaan: mereka berdua adalah wanita yang harus hidup di bawah bayang-bayang pria Valentinus yang dominan. Hubungan mereka perlahan berubah dari rasa takut menjadi sebuah persahabatan yang aneh namun hangat. Seraphina mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa bertahan di tempat ini asalkan ia tetap berada di samping Giselle.

Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik pilar-pilar butik atau di dalam mobil yang mengikuti mereka dari jauh, Orion selalu mengawasi. Melalui pantulan kaca atau celah pintu, mata hitam sang serigala tidak pernah melepaskan pandangannya dari Seraphina.

Narasi internal Orion mencatat setiap perubahan pada wajah gadis itu dengan kepuasan yang dingin. "Tertawalah, kelinciku. Nikmati setiap es krim dan setiap sutra yang ibuku berikan padamu. Semakin kau merasa nyaman di dunia ini, semakin kau akan lupa bahwa kau sebenarnya hanyalah seekor burung di dalam sangkar emas yang pintunya aku pegang. Biarkan ibuku mendandanimu menjadi sangat cantik, karena semakin cantik dan wangi tubuhmu, semakin besar hasratku untuk mengotorinya kembali dengan jejak-jejak kepemilikanku. Kau pikir gaun-gaun itu melindungimu? Tidak, itu hanyalah pembungkus kado yang akan aku robek dengan tanganku sendiri saat saatnya tiba."

Beberapa hari berlalu dalam kemewahan yang memabukkan. Seraphina mulai terbiasa dengan pelayan yang menyiapkan mandinya, Bibi Yani yang menyisir rambutnya, dan Giselle yang selalu menemaninya bercerita hingga larut malam. Rasa takut yang dulu mencekik perlahan mereda, digantikan oleh rutinitas yang menjanjikan rasa aman palsu.

Sampai suatu pagi, saat ia harus kembali ke dunia nyata: kampus seni rupa.

Seraphina berdiri di depan cermin besar kamarnya, menatap bayangan dirinya yang sangat berbeda. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem yang sangat elegan, rok pensil yang menonjolkan bentuk pinggulnya, dan rambutnya yang hitam panjang kini tertata rapi dengan kilau yang sehat. Ia tampak seperti seorang wanita bangsawan muda, jauh dari kesan gadis yatim piatu yang malang.

Orion sudah menunggunya di lobi bawah. Pria itu berdiri tegak, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya tampak sangat mengintimidasi. "Sudah siap untuk kembali ke duniamu?" tanya Orion dengan suara datar, namun matanya menyapu setiap inci tubuh Seraphina dengan tatapan yang seolah-olah sedang meraba kulitnya.

Seraphina mengangguk gugup. "I-iya."

"Jangan lupakan ini," Orion menyodorkan sebuah kartu plastik berwarna hitam pekat dengan logo emas keluarga Valentinus. "Gunakan ini untuk apa pun yang kau inginkan. Jangan pernah biarkan dirimu terlihat kekurangan di depan orang lain. Kau adalah bagian dari keluarga ini sekarang."

Seraphina menerima kartu itu dengan tangan gemetar. Ia merasa kartu itu lebih berat daripada kelihatannya, seolah kartu itu adalah bukti bahwa ia telah sepenuhnya terjual.

Di kampus, kepulangan Seraphina menjadi sebuah ledakan berita. Saat Mercedes-Benz hitam berhenti di depan gerbang dan Seraphina turun dengan segala kemewahannya, Cika dan Ciko—sahabat dekatnya—hanya bisa berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar.

"Sera? Apa ini benar-benar kau?!" Cika menjerit kencang, suaranya menarik perhatian mahasiswa lain yang lewat.

Seraphina tersenyum kaku, ia melihat melalui jendela mobil yang mulai tertutup, Orion masih menatapnya dengan seringai tipis yang mematikan. Ia menyadari bahwa meskipun ia berada di kampus, ia tidak pernah benar-benar lepas dari cengkeraman sang serigala. Dan di balik tawa serta kenyamanan yang diberikan Giselle, ada sebuah janji gelap yang sedang menunggu untuk ditunaikan di balik pintu ruang kerja Orion malam nanti.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!