PROLOG
-MENENTANG SEGALA DUNIA
-MENENTUKAN TAKDIR SENDIRI
-MERANGKAI TAKDIR YANG DIINGINKAN
-BILA LANGIT JADI PENGHALANGKU KU ROBEKAN LANGIT
-BILA BUMI MENAHAN KAKIKU KU HANCURKAN BUMI
-AKU ADALAH PEMILIK TAKDIR KU SENDIRI-
Di Kota Yinhu, di bawah langit kelabu Kerajaan Bela Diri Selatan, seorang pemuda bernama Shen Tianyang tumbuh dalam bayang-bayang kehinaan.
Terlahir dari keluarga bela diri, ia justru dianggap sebagai noda—tak berbakat, tak berguna, dan tak layak mewarisi darah leluhur.
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Shen Tianyang hidup lebih rendah dari orang biasa.
Tatapan meremehkan dan bisikan hinaan menjadi kesehariannya, perlahan mengikis martabat dan harapannya. Namun dari jurang keputusasaan itulah, takdir yang lebih kejam mulai bergerak.
Sebuah pertemuan terlarang mengubah segalanya. Akar Spiritual yang menentang hukum langit terbangun di dalam tubuhnya, menyeretnya ke jalan yang tak dapat ditinggalkan—jalan yang dipenuhi darah, penderitaan, dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beruang Terbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Keberhasilan Pil
Begitu nyala api memasuki tungku alkimia, ramuan spiritual di dalamnya seketika terpanggang kering.
Bahkan sebelum esensi spiritualnya sempat menyatu, seluruh ramuan itu layu dan mati, menandai kegagalan yang terjadi dalam sekejap mata.
Namun Shen Tianyang tidak menunjukkan sedikit pun keputusasaan. Dalam keheningan batinnya, ia segera memahami akar masalah—api Qi Sejatinya terlalu buas, dan kendali panasnya masih belum cukup halus.
Ia kembali memilih ramuan-ramuan spiritual itu dengan saksama. Pada percobaan kedua, Shen Tianyang menahan nyala api, mengaturnya setipis benang sutra, memanggang ramuan di dalam tungku dengan kehati-hatian penuh.
Namun kegagalan kembali menghampiri.
Tiga kali kegagalan berlalu. Dari abu dan panas yang terbuang, pengalaman perlahan terukir di dalam kesadarannya. Ia akhirnya menyadari bahwa seluruh keberhasilan alkimia bergantung pada satu hal mutlak—pengendalian panas yang sempurna.
Pada percobaan keempat, roda takdir mulai berputar ke arah yang benar. Shen Tianyang berhasil menembus tahap-tahap awal dan melangkah ke fase lanjutan pemurnian pil.
Tungku alkimia itu merupakan artefak khusus. Dengan menyalurkan energi spiritual ke dalamnya, isi di dalam tungku dapat terlihat jelas.
Dalam pandangannya, ramuan-ramuan spiritual memancarkan cahaya beraneka warna, gelombang energi yang berdenyut lembut.
Shen Tianyang mengendalikan aliran energi itu, memaksanya berputar dan membentuk pusaran demi pusaran. Ramuan-ramuan yang telah mengering perlahan berubah menjadi abu halus.
Pada saat inilah ia menggerakkan energi spiritualnya, mencampurkan energi ramuan dengan “serbuk obat” yang terbentuk dari abu ramuan terbakar itu, menyatukannya dalam harmoni yang rapuh namun penuh potensi.
Sebagai kultivator tingkat kelima Ranah Bela Diri Fana, fondasi energi spiritual Shen Tianyang tergolong kokoh.
Namun, ia tetap merasakan batasnya semakin dekat. Ia harus membagi “energi spiritual obat” itu menjadi lima pusaran sekaligus, lalu menyatukannya dengan serbuk obat untuk memurnikan lima pil dalam satu proses.
Ketika lima pusaran itu terbentuk, alis Shen Tianyang berkerut dalam. Keringat dingin membasahi dahinya.
Pada saat yang sama, ia harus terus mengalirkan Qi Sejati untuk mempertahankan api, sekaligus mengerahkan energi spiritual dalam jumlah besar demi mengendalikan panas dan memadatkan pil.
Ini harus berhasil! raungnya dalam hati.
Lima pusaran energi spiritual berputar kencang, menyatu dengan lima gumpalan serbuk obat yang terdistribusi merata. Kini tinggal satu langkah terakhir—menambahkan air yang telah dipelihara oleh Qi Sejati, agar energi dan serbuk dapat memadat sempurna menjadi pil.
Begitu air itu ditambahkan, lima pil segera terbentuk di dalam tungku. Permukaannya masih lembap, diselimuti energi spiritual yang pekat dan hidup.
Pil telah terbentuk! teriak Shen Tianyang dalam benaknya. Seketika, kabut putih mengepul memenuhi tungku—uap air yang keluar ketika sisa kelembapan di dalam pil dipanggang hingga kering.
Tubuh Shen Tianyang telah basah oleh keringat, wajahnya tampak pucat kelelahan. Ia hampir menguras habis Qi Sejatinya setelah seharian penuh mempertahankan api dan mengendalikan energi spiritual tanpa henti.
“Akhirnya… selesai juga. Seharian penuh hanya untuk ini. Alkimia benar-benar menyita waktu,” gumamnya pelan, napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
Ia membuka tungku alkimia dan menatap kabut yang perlahan menghilang dari lima Pil Penempaan Tubuh. Lima pil putih sebersih salju tergeletak di dalamnya.
Senyum lebar tak tertahan menghiasi wajahnya. Ia pernah mengonsumsi Pil Penempaan Tubuh sebelumnya, namun nalurinya berkata—tak satu pun yang sebanding dengan pil hasil tangannya sendiri ini.
Seandainya para alkemis tua mengetahui bahwa ia berhasil memurnikan Pil Penempaan Tubuh hanya dalam satu hari, rasa malu pasti akan membunuh mereka seketika.
Banyak orang membutuhkan tiga hingga lima tahun hanya untuk meraih keberhasilan pertama, bahkan para jenius sekalipun memerlukan lebih dari setahun—dan itu pun biasanya hanya memurnikan satu pil dalam sekali percobaan.
Namun Shen Tianyang berhasil memurnikan lima pil sekaligus pada keberhasilan pertamanya. Jika kabar ini tersebar, niscaya akan mengguncang dunia alkimia dan menumbangkan kepercayaan diri banyak alkemis kawakan.
Bukan hanya para alkemis tua. Bahkan Su Meiling dan Bai Yanhan pun terpaku oleh bakat alkimia Shen Tianyang. Mereka menatap pil-pil di telapak tangan ramping mereka, wajah dipenuhi keterkejutan yang sulit disembunyikan.
“He he he he he, Kakak Meiling,” ujar Shen Tianyang dengan senyum bangga, “Bukankah sebelumnya kau berkata aku membutuhkan satu setengah tahun? Tapi aku menyelesaikannya dalam satu hari. Kalian berdua sekarang berutang hadiah padaku.”
Su Meiling tersenyum lembut, matanya berkilau oleh kegembiraan yang tulus. Dengan suara halus ia bertanya.
“Kalau begitu, Tuan Muda Shen… hadiah seperti apa yang kau inginkan dari kami berdua?”
Shen Tianyang menyilangkan kedua lengannya, senyum nakal tersungging di sudut bibirnya.
Dengan nada bercanda namun penuh keberanian, ia berkata,..
“Cium pipiku.”
“Bermimpilah!” Bai Yanhan menjawab dingin, tanpa sedikit pun emosi. Sosoknya segera memudar dan kembali ke dalam cincin, seolah percakapan barusan tak pernah layak mendapat perhatian lebih.
Berbeda dengan Bai Yanhan, Su Meiling justru tersenyum memesona. Ia melangkah mendekat, auranya lembut bak kabut musim semi.
Bibir merah delima yang halus menyentuh pipi Shen Tianyang dengan ringan, nyaris seperti sentuhan angin.
Sambil terkekeh pelan, ia berbisik,...
“Adik kecilku yang manis, teruslah berusaha dengan tekun. Jangan pernah membiarkan kesombongan merusak jalanmu.”
Shen Tianyang sebenarnya hanya bergurau. Namun ia sama sekali tak menyangka kecantikan memikat itu benar-benar menepati ucapannya.
Saat Su Meiling melihat ekspresi Shen Tianyang yang tertegun, ia menutup mulutnya sambil tertawa kecil, lalu kembali menghilang ke dalam cincin.
Shen Tianyang menarik napas panjang. Aroma lembut yang tertinggal masih menyentuh indra penciumannya, menenangkan sekaligus menggugah.
Perasaan nyaman yang sulit dijelaskan mengalir di dalam dadanya. Ia bergumam lirih,...
“Dia benar-benar siluman penggoda… entah kenapa, aku justru merasa jauh lebih bersemangat.”
Tangannya menyentuh cincin tak kasatmata di jarinya, seolah sedang membelai wajah kekasih. Demi membantu dua peri bak dewata di dalam cincin itu memulihkan kekuatan mereka secepat mungkin, tekad Shen Tianyang kian membara.
Satu Pil Penempaan Tubuh bernilai tujuh ratus batu roh tingkat tinggi. Kini ia memiliki lima butir—setara dengan tiga ribu lima ratus batu roh.
Keuntungan yang luar biasa. Belum lagi, ia masih menyimpan satu set bahan lagi untuk dimurnikan.
Jika berhasil, itu berarti tambahan tiga ribu lima ratus batu roh.
Dalam kitab yang pernah ia baca, tertulis jelas bahwa satu set bahan mampu memurnikan lima Pil Penempaan Tubuh dalam satu tungku.
Sejak awal, Shen Tianyang memang menargetkan lima pil sekaligus.
Namun yang tidak ia ketahui sebelumnya adalah bahwa memurnikan lima pil berarti memeras potensi bahan hingga batas tertinggi. Hanya alkemis dengan pemahaman luar biasa yang mampu menangkap momen paling krusial—saat pemadatan pil.
Pengendalian energi spiritual dan pengaturan panas harus terus disesuaikan dengan perubahan sekecil apa pun di dalam tungku alkimia. Satu kesalahan kecil saja, dan seluruh usaha akan runtuh menjadi sia-sia.
Pil Penempaan Tubuh sangat bermanfaat bagi penempaan tubuh, tetapi hanya efektif bagi mereka yang berada di bawah tingkat ketiga Ranah Bela Diri Fana.
Shen Tianyang kini telah mencapai tingkat kelima, sehingga pil-pil ini tak lagi terlalu berguna baginya—kecuali untuk satu hal: pemulihan Qi Sejati dengan cepat.
Ia menelan satu pil. Dalam sekejap, Qi Sejatinya pulih lebih dari setengah. Sisanya, empat pil, ia bungkus dengan rapi. Pil-pil itu ingin ia berikan kepada ayahnya, Shen Tianwu.
“Rasanya memang luar biasa… tapi barusan aku menelan tujuh ratus batu roh sekaligus!” gumamnya dengan sedikit penyesalan. Tanpa menunda lagi, ia segera berlari menuju ruang kerja ayahnya.
Malam telah larut, namun Shen Tianwu belum juga beristirahat. Di ruang kerjanya, ia masih merenungi jurus-jurus bela diri—sebuah kebiasaan yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
“Tianyang, ada keperluan apa malam-malam begini?” tanya Shen Tianwu sambil mengerutkan dahi, hidungnya menangkap aroma keringat yang kuat dari tubuh putranya.
Shen Tianyang tersenyum lebar.
“Aku pernah bilang, begitu pil berhasil dimurnikan, Ayah yang pertama kali harus mencobanya.”
“Apa?!” Shen Tianwu tiba-tiba berdiri.
Matanya membelalak, wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Dalam benaknya, ia semula mengira Shen Tianyang setidaknya memerlukan delapan atau sepuluh tahun untuk berhasil. Namun kini—hanya dalam satu hari..?!
Shen Tianyang mengeluarkan empat Pil Penempaan Tubuh seputih salju dan menyerahkannya. Mulut Shen Tianwu ternganga. Tatapannya terpaku pada keempat pil itu, seolah tengah menatap keajaiban yang melampaui nalar.
“Masih hangat…” gumamnya dengan suara bergetar.
Pikiran Shen Tianwu seketika kosong. Ia tak sanggup mempercayai kenyataan bahwa putranya mampu memahami inti alkimia hanya dalam satu hari.
Bakat semacam ini—bukan sekadar jenius.
Ini adalah anugerah langit yang mungkin hanya muncul sekali dalam seribu tahun.
----
Seorang jenius tak tertandingi semacam ini, selain menjadi incaran banyak kekuatan besar, juga tak luput dari rasa iri dan dengki.
Ada yang ingin merekrutnya demi kejayaan, namun ada pula yang diam-diam ingin menyingkirkannya sebelum ia tumbuh terlalu tinggi.
Di dunia kultivasi, bakat luar biasa sering kali berjalan beriringan dengan bahaya yang mengintai di balik bayangan.
Shen Tianwu menarik napas dalam-dalam, menekan gejolak emosi di dadanya. Dengan nada serius, ia berkata,
“Kualitas pil ini jauh melampaui yang dijual di Paviliun Pil Roh. Masing-masing setidaknya bisa dilepas dengan harga delapan ratus batu roh tingkat tinggi...!!"
"Untuk sementara, Ayah akan membawa empat Pil Penempaan Tubuh ini, menukarnya dengan batu roh, lalu membantumu membeli bibit ramuan spiritual.”
Dalam benaknya, sejak Shen Tianyang menunjukkan kemampuan mematangkan ramuan spiritual hingga memurnikan pil, semua itu terjadi hanya dalam hitungan hari.
Namun Shen Tianwu sudah dapat melihat masa depan putranya dengan jelas—Shen Tianyang pasti akan melangkah menjadi Mahaguru Alkimia yang mengguncang dunia.
“Namun, jangan terburu-buru,” lanjutnya dengan suara penuh kebijaksanaan. “Mulailah dengan memurnikan pil fana tingkat rendah. Setelah fondasimu benar-benar kokoh, barulah melangkah ke pil dengan tingkat yang lebih tinggi.”
Shen Tianyang mengangguk patuh. Ia kembali ke kediamannya untuk beristirahat. Setelah energi spiritualnya pulih sepenuhnya, ia berniat memurnikan set bahan obat terakhir yang masih tersisa.
Keesokan harinya, Shen Tianyang bangun sejak fajar. Hanya dengan memikirkan kemampuannya memurnikan Pil Penempaan Tubuh, hatinya sudah dipenuhi semangat.
Berbekal satu keberhasilan sebelumnya, ia kini sepenuhnya akrab dengan setiap tahapan alkimia. Proses pemurnian pun mengalir mulus, dan ia dengan mudah mencapai tahap pemadatan pil.
Di dalam tungku alkimia, lima gumpalan serbuk obat dan energi spiritual telah menyatu menjadi kelompok-kelompok Qi yang stabil.
Kali ini, Shen Tianyang tampak jauh lebih santai. Tidak ada lagi perasaan kelelahan ekstrem seperti sebelumnya, seolah energi spiritual dan Qi Sejatinya akan terkuras habis.
“Selesai,” gumamnya lega.
Ia membuka penutup tungku dan mengeluarkan Pil Penempaan Tubuh yang masih memancarkan aura spiritual lembut.
Seluruh proses ini hanya memakan waktu dua jam.
Hari-hari berikutnya, Shen Tianyang tenggelam dalam kesibukan mematangkan ramuan spiritual dan memurnikan pil.
Ia tidak lagi terpaku pada Pil Penempaan Tubuh semata, tetapi juga mulai memurnikan berbagai pil fana tingkat rendah yang praktis—Pil Pemulihan Qi, Pil Penciptaan Emas, Pil Penawar Racun, serta Pil Kondensasi Qi.
Meski pada awal setiap jenis pil ia masih mengalami kegagalan, begitu ia memahami sifat-sifat ramuan yang digunakan, kendali panasnya menjadi semakin halus.
Dari sana, ia perlahan menemukan berbagai trik tersembunyi dalam seni alkimia.
Su Meiling, wanita misterius itu, ternyata adalah seorang alkemis dengan pencapaian yang sangat tinggi. Jika sebelumnya Shen Tianyang tidak menyaksikannya sendiri, ia tak akan pernah percaya bahwa sosok secantik dan selembut itu memahami alkimia sedalam ini.
Dalam benaknya dahulu, alkemis selalu identik dengan lelaki tua berambut putih dan wajah penuh keriput.
Hari-hari yang dilaluinya terasa padat namun memuaskan. Aktivitas alkimia ini sama sekali tidak mengganggu kultivasinya.
Pada malam hari, ia tetap berkultivasi dengan tekun, sambil menjalankan Seni Liur Naga untuk memadatkan embun hijau—esensi langit dan bumi yang mampu mempercepat pertumbuhan ramuan spiritual.
Sebulan berlalu tanpa terasa.
Kini, Shen Tianyang telah sepenuhnya mahir dalam memurnikan pil fana tingkat rendah. Fondasinya kian kokoh, langkahnya semakin mantap,...
....dan jalan menuju puncak alkimia perlahan terbentang di hadapannya—sebuah jalan yang kelak akan mengguncang seluruh Benua Xuanyu.
Bersambung Ke Bab 9