Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Jarak di Antara Kita
Pagi di safe house tidak lagi disambut dengan aroma kopi yang menenangkan atau candaan kecil dari Bumi. Udara terasa kaku, seolah-olah setiap dinding di rumah itu ikut membeku setelah pengakuan Dante semalam. Aruna berdiri di depan jendela besar di ruang makan, menatap kabut yang menyelimuti hutan pinus. Matanya sembab, namun tatapannya sekeras batu karang.
Ia tidak lagi mengenakan gaun merah marun yang dramatis. Hari ini, ia memilih setelan celana panjang hitam dan kemeja sutra berwarna abu-abu baja. Rambutnya diikat ekor kuda dengan sangat rapi, tidak menyisakan satu helai pun yang berantakan. Cincin Valerius masih melingkar di jarinya, namun ia menggunakannya bukan sebagai tanda cinta, melainkan sebagai alat pertahanan diri.
Dante masuk ke ruangan dengan langkah yang masih diseret. Ia sudah tidak menggunakan kursi roda, namun tangannya terus menekan perutnya yang dibalut perban baru. Ia berhenti di ambang pintu, menatap punggung Aruna.
"Bumi sudah sarapan bersama Martha di lantai bawah," ucap Dante, suaranya parau, mencoba memecah kesunyian.
Aruna tidak berbalik. "Bagus. Pastikan dia tidak melihat luka-lukamu lagi. Dia mulai bertanya kenapa 'Paman Robot' selalu berdarah."
Nada suara Aruna yang dingin dan datar seperti sembilu yang menyayat hati Dante. Pria itu berjalan mendekat, mencoba berdiri di sampingnya. "Aruna, tentang semalam—"
"Jangan," potong Aruna cepat. Ia akhirnya menoleh, menatap Dante dengan mata yang asing. "Semalam adalah akhir dari kebohongan kita, Dante. Aku tahu siapa kau, dan kau tahu betapa aku membenci kenyataan itu. Tapi kita berada di tengah perang. Julian Thorne tidak akan menunggu kita menyelesaikan urusan perasaan."
Aruna meletakkan sebuah tablet di atas meja makan, menampilkan data satelit yang dikirimkan Enzo pagi tadi. "Ada pergerakan di pelabuhan utara. Kapal-kapal milik Thorne mulai berlabuh tanpa izin otoritas pelabuhan yang kita kontrol. Dia sedang mencoba memotong jalur suplai kita."
Dante menatap data itu, namun pikirannya masih tertuju pada jarak yang diciptakan Aruna. "Aku akan mengirim Branko dan tim pemukul."
"Tidak," sahut Aruna. "Branko terlalu kasar. Thorne ingin kita bereaksi secara militer agar dia punya alasan untuk melibatkan kepolisian federal. Kita akan menggunakan cara lain. Kita akan membocorkan manifes ilegal kapal-kapal itu ke pihak Bea Cukai yang belum dibayar oleh Thorne. Biarkan hukum yang menjadi anjing penjaga kita kali ini."
Dante tertegun. Strategi itu bersih, efisien, dan sangat berisiko rendah bagi mereka. "Siapa yang mengajarimu berpikir seperti itu?"
"Kebencian," jawab Aruna singkat. "Kebencian membuat otakku bekerja lebih jernih daripada cinta."
Di saat yang sama, di sebuah bandara swasta di pinggiran kota, sebuah jet pribadi berlambang emas mendarat dengan mulus. Julian Thorne berdiri di landasan, memegang payung hitam di bawah gerimis tipis. Pintu jet terbuka, dan seorang wanita turun dengan langkah anggun.
Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar dan mantel bulu berwarna krem. Saat ia melepas kacamatanya, siapa pun yang melihatnya akan tersentak. Wajahnya adalah replika sempurna dari Aruna Kirana—tulang pipi yang sama, bentuk bibir yang sama, namun matanya memiliki kilatan predator yang tidak pernah dimiliki Aruna.
"Selamat datang kembali, Elena," sapa Julian dengan senyum tipis.
"Kota ini masih berbau sampah," ucap Elena, suaranya lebih dalam dan lebih berat daripada suara Aruna. "Jadi, di mana kembaranku yang malang itu? Dan kenapa kau membutuhkanku untuk menghancurkan seorang janda penjahit?"
"Dia bukan lagi sekadar janda penjahit, Elena. Dia sekarang adalah otak di balik Dante Valerius. Dan dia baru saja membakar gudang emas kita," Julian membukakan pintu limosin untuknya. "Aku butuh kau menjadi 'Aruna' yang diinginkan Dante. Aku ingin kau masuk ke dalam rumah aman itu dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita: flashdisk asli dan hati sang Vulture."
Elena tersenyum licik. "Kau tahu aku lebih suka menghancurkan hati daripada mencurinya, Julian."
Kembali ke safe house, suasana semakin tegang saat Enzo masuk dengan wajah pucat. Ia membawa sebuah tablet komunikasi.
"Nyonya, Tuan... kita punya masalah besar," ucap Enzo. "Seseorang baru saja terlihat di kamera pengawas di pinggiran kota. Dia... dia terlihat persis seperti Nyonya Aruna."
Aruna mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Aku ada di sini seharian."
Enzo memutar rekaman video itu. Di sana, terlihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Aruna sedang masuk ke sebuah bank swasta yang merupakan salah satu tempat pencucian uang Valerius. Wanita itu menggunakan identitas Aruna, tanda tangan Aruna, dan bahkan sidik jari yang tampaknya lolos dari pemindai keamanan.
"Dia baru saja menguras salah satu akun cadangan kita atas nama 'Aruna Kirana'," tambah Enzo.
Dante mengepalkan tinjunya hingga perban di tangannya kembali memerah. "Elena..." geramnya.
"Siapa Elena?" tanya Aruna, merasa ada sesuatu yang ditarik dari bawah kakinya.
Dante menatap Aruna dengan tatapan penuh rasa bersalah yang baru. "Dulu, sebelum aku mengenalmu, ada seorang wanita yang bekerja untuk Marco. Dia adalah seorang agen infiltrasi kelas atas. Namanya Elena. Dia menghilang setelah sebuah misi gagal di Rusia. Banyak yang mengira dia sudah mati. Tapi ada rumor bahwa dia adalah... saudari kembarmu yang dipisahkan saat bayi karena hutang orang tuamu pada sindikat lama."
Aruna terduduk di kursi, tubuhnya bergetar. "Saudari kembar? Orang tuaku tidak pernah bilang—"
"Mereka tidak akan bilang, Aruna. Mereka menjualnya untuk menyelamatkanmu," Dante berlutut di depan Aruna, mencoba meraih tangannya, namun Aruna menarik tangannya menjauh.
"Semua ini... semua hidupku adalah tentang hutang darah yang tidak pernah aku ketahui," bisik Aruna. "Suamiku mata-mata, pelindungku adalah pria yang membiarkannya mati, dan sekarang aku punya kembaran yang mencoba mencuri identitasku?"
"Julian Thorne sedang memainkan kartu terakhirnya," ucap Dante, suaranya mengeras. "Dia tidak bisa mengalahkanmu secara mental, jadi dia akan menghancurkan citramu. Dia ingin semua anak buahku meragukanmu. Jika mereka melihat 'Aruna' mengkhianati organisasi di luar sana, mereka akan memberontak melawanmu di sini."
Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di kepalanya. Ia berdiri, menatap Dante dan Enzo secara bergantian.
"Kalau begitu, biarkan dia bermain," ucap Aruna dengan nada yang sangat dingin. "Jika ada orang di luar sana yang mengaku sebagai aku, maka aku harus membuktikan siapa Aruna yang asli. Enzo, siapkan pertemuan dengan semua kepala divisi malam ini. Dan Dante... jangan pernah mencoba menyentuhku lagi sampai urusan ini selesai. Aku butuh kepalaku tetap dingin, dan kehadiranmu hanya membuatnya panas."
Dante berdiri mematung saat Aruna keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi. Pria itu menyadari bahwa rahasia Julian Thorne telah berhasil. Aruna tidak lagi mempercayai dunianya, dan sekarang, ia bahkan meragukan identitasnya sendiri.
Malam itu, Aruna mengunci diri di kamar. Ia menatap cermin, menyentuh wajahnya sendiri. Apakah ia benar-benar Aruna? Atau ia hanyalah sisa dari sebuah transaksi gelap masa lalu? Di tangannya, ia memegang pistol yang diberikan Dante semalam.
Ia tahu, pertempuran berikutnya bukan lagi tentang emas atau wilayah. Ini adalah pertempuran untuk mempertahankan satu-satunya hal yang ia miliki: namanya sendiri. Dan di Bab 21 ini, ia menyadari bahwa di dunia mafia, tidak ada yang benar-benar unik. Semua bisa digantikan, semua bisa ditiru, kecuali rasa sakit yang ia rasakan di dadanya.
Sementara itu, di lantai bawah, Bumi sedang bermain dengan boneka beruangnya, tidak tahu bahwa di luar sana, seorang wanita dengan wajah ibunya sedang merencanakan sesuatu yang akan menghancurkan masa kecilnya selamanya.