NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Yang tak Terkirim

Beberapa waktu telah berlalu, Raja telah mendapatkan laporan bahwa Sylvaine tak terlibat dengan kematian Victor. Lalu memerintahkan Sylvaine untuk menemuinya. Tak lama waktu berselang, Sylvaine menghadap Raja. Raja pun memulai bicara, "Karena kau terbukti tak ada kaitannya dengan kematian putraku, maka kumaafkan ketidaksopananmu tempo hari. Namun, aku tak bisa mengabaikan ambisimu yang ingin mengontrol kerajaan ini."

"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tak berpikir panjang dan cukup terbawa suasana hingga mengucapkan hal yang pantas untuk dihukum. Sekali lagi maafkan saya, Yang Mulia." Ucap Sylvaine sambil tertunduk.

"Tetap saja, meskipun bocah aib itu naik tahta. Posisinya tak akan kuat sebab tak ada pendukung sama sekali, memang dia memiliki hak untuk naik tahta. Tapi jika semua orang membencinya, kerajaan jelas akan kesulitan. Lebih buruk lagi muncul perpecahan internal, sehingga kerajaan-kerajaan lain akan mengambil kesempatan untuk menaklukkan dan mengambil alih kerajaan." Raja menjelaskan kemungkinan buruk jika Theo naik tahta tanpa pendukung. Sylvaine pun sudah mengerti arah pembicaraan Raja. Sebelum Raja memojokkannya, dia mengajukan diri terlebih dahulu. "Mohon ijinkan saya untuk mengutarakan pendapat saya."

"Ya, coba katakan." Ucap Raja sedikit kesal.

"Saya terlahir di wilayah kerajaan Cyrven, sebab itu Cyrven adalah bagian dari saya. Saya sangat mencintai kerajaan ini. Jika Pangeran Kedua pada akhirnya naik tahta, saya akan berusaha untuk tetap mendukung beliau semaksimal mungkin yang bisa saya lakukan." Ucap Sylvaine dengan percaya diri.

"Yah aku percaya dengan kesetiaanmu terhadap kerajaan, tapi pasti ada hal lain yang kau inginkan. Katakan sekarang!" Kata Raja dengan ekspresi yang lebih serius.

"Saya akan berterus terang, jika memang benar Pangeran Kedua yang akan naik tahta. Saya menginginkan menjadi pendamping beliau untuk menempati posisi Ratu. Sebagai gantinya, saya akan mendukung dan memperkuat posisi beliau sebagai Raja selanjutnya."Ungkap Sylvaine dengan rasa percaya diri yang kuat.

"Kuakui, kau memang kompeten dan pantas untuk menempati posisi itu. Kurasa aku bisa mengabulkan keinginanmu itu. Namun ingat baik-baik, posisimu tak bisa lebih tinggi dari posisi Raja. Jadi kau kelak saat menjadi Ratu, posisi Raja selalu di atasmu." Raja menekankan dan menegaskan pada Sylvaine untuk selalu ingat posisi dirinya.

"Akan selalu saya ingat ucapan Baginda ini." Jawab Sylvaine dengan anggun.

"Bagus, kau cukup mampu memahami situasi dengan cepat." Raja memuji Sylvaine.

"Pujian anda terlalu berlebihan untuk saya, Yang Mulia. Namun, sebenarnya ada hal yang mengganggu pikiran saya."Ucap Sylvaine.

"Apa yang kau cemaskan?" Tanya Baginda Raja pada Sylvaine.

"Bagaimana caranya untuk menemukan Pangeran Kedua dan membawanya kemari? Sebab jejaknya benar-benar telah menghilang. Dan kita harus menemukannya dengan cepat, sebelum membuat rakyat khawatir"

"Kau tak perlu memikirkan hal itu, cukup persiapkan saja untuk menyambut kedatangan Theo ke sini. Nah kau boleh kembali sekarang." Kata Raja. Setelahnya Sylvaine undur diri. Setelah Sylvaine pergi, Raja meminta ajudannya untuk memanggilkan Silas.

***

Saat Silas menuju ruang kerja Raja, dia berpikir dalam hatinya, 'Ini cukup lama sejak aku menghadap Yang Mulia.' Lalu ia bergegas dan menghadap Raja.

"Salam, Yang Mulia Raja." Silas memberi salam sambil menunduk.

"Ya, duduklah. Aku akan keintinya saja. Setelah membaca surat yang kau berikan itu. Akhirnya aku telah memutuskan untuk mengijinkan kau menjemput Theo. Kau sudah pasti maksudku." Ucap Raja.

"Sesuai keinginan anda, saya akan menjemput Pangeran Kedua Theo." Silas menjawab yakin.

"Lakukan secepatnya, jika bocah sialan itu menolak. Kau bisa menyeretnya jika diperlukan." Ucap Raja dengan nada dingin. Lalu Silas ijin undur diri dan bersiap untuk berangkat menjemput Theo.

Di sisi lain, Sylvaine yang menyadari ketidakhadiran Silas selama beberapa hari membuatnya berpikir harus mempersiapkan beberapa kemungkinan. Dia semakin waspada dan mulai bergerak semakin memperluas pengaruh politiknya. Sejak namanya kembali baik, para bangsawan mulai satu persatu kembali mendukungnya. Dan ia mulai perlahan mendekati Raja kembali. Dia mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan terjadi saat Theo kembali.

Sementara itu, Raja lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar mendiang Ratu dan menatap potret lukisan mendiang Ratu yang berdiri di sampingnya waktu mereka masih muda. Raja selalu menggumankan hal yang sama bahwa dia sangat-sangat merindukan mendiang istri nya. Perasaan rindu, malu dan bersalah. Perasaan itu berkumpul dan menyatu hingga sesekali ia memegangi dada kirinya sebab terasa nyeri.

***

Beberapa minggu telah berlalu, tibalah Silas di desa tempat Theo tinggal. Silas tak ingin terlihat mencolok, jadi ia cukup berbaur dengan normal. Ia cukup terkejut mengetahui hal-hal yang baru dilihatnya. Sekitar seminggu Silas diam-diam mengamati Theo. Cukup ironis, bahwa melihat Theo yang terlihat tak tertekan seperti saat masih tinggal di dalam istana. Melihat banyak perubahan pada Theo yang tak mungkin bisa dilihat oleh Victor. Dalam hatinya ada rasa bersalah yang membebaninya karena hal itu. Hingga akhirnya kesempatan Silas muncul di hadapan Theo tiba. Saat itu Theo sedang memancing seorang diri, Silas tiba-tiba menyapanya. "Salam, Pangeran Kedua kerajaan Cyrven."

Mendengar ucapan itu Theo langsung berdiri karena sangat terkejut dan melihat ke arah sumber suara itu.

"Anda..." Ucap Theo, namun dipotong oleh Silas.

"Benar, Yang Mulia. Saya Silas Corven, ajudan mendiang Putra Mahkota Victor." Ucap Silas seolah sedang memperkenalkan diri.

"Stttttt... jangan panggil aku begi...Tunggu, kurasa tadi aku salah mendengar sesuatu. Tadi aku mendengar kau menyebutkan 'mendiang'." Kata Theo penuh penasaran.

"Oh maaf, anda tidak salah mendengar sama sekali. Seharusnya saya menginformasikannya terlebih dahulu bahwa Yang Mulia Putra Mahkota telah wafat sembilan minggu yang lalu." Silas kemudian menjelaskan penyebab Victor meninggal dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dibaca oleh Theo.

"Apaaaaa, tidak mungkin. Kakak sangat kuat. Kakak tak mungkin meninggal secepat ini dan semudah itu. Bahkan Kakak baru saja berulang tahun yang ke 25 beberapa bulan lalu. Tidak... tidak, ini pasti tidak benar. Kakak pasti sedang mencoba cara agar aku bisa kembali ke istana." Ucap Theo sambil terduduk lemas dan membuang alat pancingnya yang semula dipegangnya. Dia masih menggumankan bahwa ini hanyalah trik kakaknya. Saat Theo sudah tak terlihat terguncang, Silas menyodorkan sepucuk surat.

'Adik bodohku, kakakmu ini sangat merindukanmu. Saat mendengarmu telah menikah, sebenarnya aku ingin berlari dan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untukmu. Dan maaf aku tak bisa menghiburmu saat kau kehilangan orang-orang yang kau anggap keluarga, bahkan kehilangan calon bayimu juga. Sebenarnya setelah beberapa bulan kau meninggalkan istana, kupikir kau akan kembali. Nyatanya sebaliknya, aku merasa bahwa kau tak akan pernah kembali. Jadi aku mengirim mata-mata untuk mengawasi serta melindungimu. Maafkan kakakmu ini, dan maafkan aku yang telah gagal melindungimu, adik tersayangku. Selamat tinggal.'

"Itu adalah surat yang hendak dikirim mendiang Putra Mahkota untuk Anda. Namun tak pernah dikirimkannya sama sekali. Surat itu selalu beliau bawa, namun seminggu sebelum beliau meninggal. Beliau menyerahkannya pada saya untuk dikirimkan pada anda jika telah terjadi hal buruk pada beliau." Ucap Silas yang terlihat mencoba untuk tetap terlihat tenang.

Theo hanya bisa menangis sambil berlutut dan meremas erat surat itu dengan kedua tangannya. Air mata membanjiri wajahnya. Dia benar-benar tak bisa mempercayai kenyataan yang menamparnya dengan sangat kuat itu. Silas mendekat dan memegang salah satu pundak Theo seolah mencoba menenangkannya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!