💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — DUDUK TANPA DIUNDANG
Pintu ruang kerja Arsenio kebuka tanpa diketuk.
Alinea udah siap ngomel, tapi lidahnya mendadak kelu. Perempuan itu masuk dengan langkah yang 'berisik'—tipe heels mahal yang bunyi klik-kliknya sengaja bikin seisi ruangan nengok. Wangi parfumnya? Jangan ditanya. Nyegrak tapi elegan. Tipe aroma yang bikin kamu sadar kalau dia yang pegang kendali, dan oksigen di ruangan ini cuma numpang lewat di hidungnya.
Alinea nggak perlu dikenalin buat tahu siapa.
Nadia.
Calon menantu idaman versi Mama Arsenio.
...Dan cewek itu—kalau dilihat dari sorot matanya—udah nge-scann Alinea dari ujung poni sampai ujung sepatu. Tipikal tatapan yang nggak cuma ngelihat, tapi langsung ngasih skor, dan Alinea yakin banget nilainya nggak sampai KKM.
Nadia duduk.
Tanpa diundang.
Di kursi tamu depan meja Arsenio.
“Sen,” ucapnya ringan, sesantai lagi di acara keluarga, tapi suaranya punya daya ledak sendiri. Dia melirik ke arah Arsenio sebelum kembali menatap Alinea dengan senyum tipis yang nggak sampai ke mata. “Kamu nggak bilang kalau sekarang seleramu… berubah.”
Ruangan langsung turun dua derajat.
Alinea senyum. Tipis. Santai.
Oh. Jadi gini mainnya.
Arsenio nggak jawab. Dia cuma berdiri tegak di belakang mejanya dengan tangan yang tersembunyi di saku celana dan satu tangan bertumpu di atas meja. Wajahnya datar, sedatar tembok beton, nggak terbaca kayak biasanya. Tapi Alinea bisa lihat ada yang beda,rahang cowok itu kelihatan mengeras, menciptakan garis tegas yang nunjukin kalau dia lagi nahan sesuatu entah itu emosi atau kata-kata yang hampir tumpah.
“Selera?” ulang Alinea lembut, pura-pura polos. “Maaf Mbak, maksudnya makanan atau manusia?”
Sunyi.
Di sudut ruangan, Mbak Sari mendadak jadi orang paling sibuk sedunia. Dia nunduk dalam-dalam, pura-pura fokus ke tablet di tangannya padahal mungkin dari tadi cuma scrolling menu makan siang dan malah cuma liatin wallpaper.
Nadia menoleh ke Alinea pelan.
Tatapannya manis. Tapi dingin.
“Kamu staff baru ya?” tanyanya.
“Alinea. Staff pribadi Pak Arsenio,” jawabnya santai. “Yang katanya nggak jadi dipecat.”
Kalimat itu sengaja ditekan.
Sedikit.
Nadia tersenyum.
“Sayang sekali. Biasanya Sen nggak suka orang ceroboh.”
Oke.
Alinea hampir ketawa.
Oh jadi ini mau adu masa lalu?
“Biasanya ya,” Alinea mengangguk kecil. “Tapi kadang orang pintar tahu kapan harus mempertahankan sesuatu yang berguna.”
Arsenio mendadak batuk kecil.
Bukan batuk sakit.
Batuk nahan senyum.
Nadia pasti sadar.
Tangannya terlipat di pangkuan.
“Berguna? Untuk apa?”
Hening.
Ini titiknya.
Pilihan jawaban udah ngumpul di ujung lidah Alinea. Dia bisa pura-pura bego buat ngeles, atau malah nekat nantang balik. Tapi semua rencana itu buyar pas dia ngerasain sesuatu yang hangat di punggung tangannya.
Sentuhan itu singkat banget, hampir kayak nggak sengaja, tapi Alinea tahu itu disengaja. Arsenio—cowok yang rahangnya tadi mengeras—sekarang justru ngasih ketenangan lewat satu sentuhan ringan itu.
Nggak ada yang sadar, bahkan mungkin Mbak Sari yang lagi sibuk sama tabletnya pun nggak lihat. Tapi buat Alinea, efeknya lebih dahsyat daripada ledakan. Jantungnya langsung glitch, detaknya nggak beraturan, dan tiba-tiba rasa minder karena di-scann dari ujung poni ke ujung sepatu tadi nguap gitu aja.
Arsenio berdiri di sampingnya sekarang.
Dekat.
Terlalu dekat.
“Untuk saya,” jawab Arsenio datar.
Nadia menoleh cepat.
Tatapan tajam.
“Perisai saya,” lanjut Arsenio tenang.
Udara langsung berat.
Alinea ngerasain panas yang mulai merayap ke pipinya. Duh, jangan sekarang, batinnya panik. Dia berusaha keras narik kembali kewarasannya yang sempat terbang gara-gara sentuhan singkat tadi.
Perisai. Kata itu terus dia putar di kepala kayak mantra. Harusnya semuanya terdengar profesional. Harusnya ini cuma hubungan transaksional—dia di sini buat jadi tameng Arsenio dari serangan-serangan macam si cewek "mahal" ini. Nggak lebih. Nggak boleh ada bumbu jantung salah ketuk segala.
Tapi masalahnya, perisai mana yang pipinya bisa mendadak matang kayak kepiting rebus cuma karena sentuhan nggak sampai dua detik? Alinea menarik napas pendek, berusaha menormalkan raut wajahnya di depan Mbak Sari yang masih sibuk pura-pura buta dan si tamu yang matanya masih setajam silet.
Tapi kenapa rasanya… beda?
Sentuhan Arsenio tadi nggak terasa kayak rekan kerja yang lagi kasih kode taktik. Rasanya lebih personal, lebih "melindungi" daripada sekadar "memanfaatkan". Dan itu yang bikin Alinea makin kacau.
Nadia tertawa kecil.
Suaranya renyah,Tawa itu seolah-olah Nadia baru saja menonton pertunjukan komedi yang sangat receh—dan dalam hal ini, "komedi" itu adalah Alinea yang berdiri mematung dengan pipi merah.
“Ah. Jadi kamu main sandiwara sekarang, Sen?”
“Tidak,” jawab Arsenio singkat.
“Tapi kamu tahu Mama nggak akan tinggal diam.”
Dan itu kalimat pertama yang bikin Alinea ngerasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar drama cewek rebutan.
Nadia berdiri.
Tinggi. Elegan. Percaya diri.
Dia mendekat satu langkah ke Alinea.
“Kalau kamu pikir ini permainan, hati-hati,” ucapnya pelan. “Keluarga Arsenio bukan tempat buat coba-coba.”
Alinea balas tatapan itu tanpa mundur.
“Tenang, Mbak. Saya bukan tipe yang coba-coba. Kalau main, saya biasanya menang.”
Oh.
Itu keluar begitu aja.
Jujur.
Arsenio ngerasa denyut di pelipisnya makin keras. Bukan karena marah.
Tapi karena… bangga.
Dan itu bahaya.
Nadia menghela napas kecil.
“Sen, kamu yakin?”
Kalimatnya lembut. Tapi ada tuntutan di sana.
Arsenio menatap lurus ke depan.
“Saya nggak pernah ragu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Nadia masuk, Arsenio benar-benar berdiri di sisi Alinea. Bukan secara posisi—karena sejak tadi mereka memang berdekatan—tapi secara sikap. Ada perubahan aura yang drastis; Arsenio yang tadinya seolah membiarkan Alinea "berjuang sendiri", sekarang justru pasang badan dengan cara yang sangat tenang tapi tegas.
Nadia sadar.
Perempuan itu bukan orang sembarangan yang bisa dikelabui. Dia menangkap perubahan kecil pada cara Arsenio memandang atau mungkin cara cowok itu menggeser tumpuan berat tubuhnya demi menghalangi pandangan Nadia ke Alinea.
Matanya menyipit.
Kilat di mata Nadia bukan lagi cuma ejekan, tapi rasa penasaran yang berbahaya. Dia kayak lagi ngitung ulang strategi di kepalanya. Alinea yang tadinya dianggap cuma "pajangan selera rendah", mendadak naik level jadi ancaman yang harus dia waspadai. Karena kalau Arsenio—si manusia es itu—sudah mulai menunjukkan sikap "berpihak", berarti taruhannya bukan lagi sekadar soal siapa yang punya selera lebih bagus.
“Oke,” katanya akhirnya. “Kita lihat saja sampai mana perisai kamu bisa bertahan.”
Nadia berbalik.
Heels-nya kembali berbunyi, tapi kali ini iramanya lebih cepat, seolah-olah dia lagi membawa pergi sisa-sisa kemarahan yang tertahan. Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan dentuman yang lebih keras dari seharusnya. Brak! Suara itu seolah jadi penutup resmi untuk drama yang barusan terjadi.
Ruangan mendadak sunyi senyap. Saking sunyinya, Alinea bisa denger detak jantungnya sendiri yang masih balapan. Dia baru sadar kalau dari tadi dia nahan napas, seolah oksigen di ruangan itu terlalu mahal buat dihirup secara gratis.
Alinea mencoba buat narik napas pelan, berusaha mengumpulkan kembali kepingan kewarasannya. Tapi ada satu hal yang bikin otaknya makin blank,tangannya masih ada di bawah tangan Arsenio.
Dan yang paling bikin dia salah tingkah... tangan itu belum juga dilepas. Arsenio nggak bergerak. Dia tetap di sana, menjaga kehangatan itu tetap menempel di kulit Alinea, seolah-olah dia juga butuh waktu buat mastiin kalau "badai" bernama Nadia itu beneran udah lewat.
“Apa kita baru aja lolos dari sidang keluarga?” gumamnya pelan.
Arsenio menoleh.
Dekat banget.
Serius. Kalau Alinea maju dua senti aja, hidung mereka bisa bersentuhan.
“Belum,” jawabnya rendah. “Itu baru pembuka.”
Dan suara itu.
Suara Arsenio yang lebih pelan dari biasanya.
Bikin perut Alinea mendadak mules.
Aneh.
“Pak,” katanya cepat, mencoba mundur sedikit. “Kalau gitu kita butuh strategi.”
Arsenio nggak mundur.
Sebaliknya, dia justru mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Apa kamu takut?”
Pertanyaan itu pelan. Hampir seperti bisikan.
Alinea mendongak.
“Takut? Sama Mbak Nadia?”
“Bukan.”
Tatapan Arsenio turun sedikit.
Ke bibirnya.
Satu detik.
Dua detik.
“Takut terlalu dalam,” lanjutnya.
Deg.
Oke.
Ini bukan lagi soal sandiwara.
Ini zona berbahaya.
Alinea menelan ludah.
Bodohnya, dia malah berdiri makin tegak.
“Pak Arsenio,” katanya hati-hati.
“Perisai nggak boleh goyah.”
Senyum tipis muncul di sudut bibir Arsenio.
“Bagus.”
Akhirnya dia mundur satu langkah.
Dan jarak itu terasa… kehilangan sesuatu.
Alinea langsung kesel sama diri sendiri.
Kenapa sih kepikiran begitu?
“Mulai sekarang,” lanjut Arsenio profesional lagi, “Mama saya akan lebih agresif. Nadia tidak akan berhenti.”
“Berarti saya harus upgrade skill?”
“Kamu harus terlihat meyakinkan.”
“Seberapa meyakinkan?”
Arsenio terdiam sebentar
Lalu—keadaan jadi makin nggak masuk akal buat logika Alinea.
Tiba-tiba, Arsenio menggenggam tangan Alinea lebih jelas. Nggak ada lagi sentuhan sembunyi-sembunyi di bawah meja atau gesekan kulit yang ragu-ragu. Kali ini jelas. Tegas. Jarinya mengunci jemari Alinea seolah itu adalah hal paling alami yang harus dia lakukan sekarang.
Alinea terpaku.Rasanya seolah Arsenio lagi bilang, "Lo aman," tanpa perlu bersuara.
Alinea mau narik tangannya, tapi genggaman Arsenio nggak kasih ruang buat itu. Cowok itu masih menatap pintu yang baru saja tertutup, tapi seluruh energinya terasa berpusat pada tangan mereka yang saling bertaut.
“Seperti ini,” katanya.
Pintu mendadak diketuk.
Dan terbuka.
Beberapa staff berdiri di luar, membawa dokumen.
Mata mereka otomatis turun ke tangan yang tergenggam itu.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Alinea pengen hilang.
Arsenio justru terlihat santai.
“Masuk,” katanya.
Dan sepanjang briefing lima menit berikutnya, tangan itu nggak dilepas.
Alinea bisa ngerasain detak jantungnya sendiri di telapak tangan.
Hangat.
Stabil.
Kontras banget sama jantungnya yang lagi marathon.
Ini cuma akting.
Ini cuma akting.
Ini cuma—
“Sudah cukup,” ujar Arsenio setelah staff keluar.
Baru kali ini tangannya dilepas.
Dan Alinea hampir protes dalam hati.
Kenapa rasanya kayak dicabut tiba-tiba?
“Pak,” ucapnya pelan. “Kita masih akting kan?”
Arsenio nggak langsung jawab.
Dia berjalan kembali ke mejanya.
Duduk.
Menatapnya lama.
“Menurut kamu?”
Pertanyaan itu nggak adil.
Alinea mendekat satu langkah.
“Aku cuma nggak mau salah paham.”
Kata “aku” keluar tanpa sadar.
Arsenio menangkapnya.
Dan itu bikin sudut bibirnya naik tipis.
“Bagus,” katanya pelan. “Karena salah paham itu mahal.”
“Dalam bentuk apa?”
“Hati.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya, Alinea nggak punya jawaban cepat. Otaknya yang biasanya penuh kalimat balasan mendadak kosong melompong, cuma fokus ke jemari Arsenio yang masih mengunci tangannya.
Tapi momen itu nggak bertahan lama.
Telepon meja tiba-tiba berdering. Suaranya melengking, membelah kesunyian ruangan dan memaksa realita masuk kembali tanpa izin.
Arsenio mengangkatnya tanpa melepaskan genggamannya di detik pertama. Tapi, begitu suara di seberang sana terdengar, Alinea bisa ngerasain perubahan suhu yang drastis. Hanya dalam dua detik, wajah Arsenio berubah total.
Datar. Kaku.
“Iya, Ma.”
Oh.
Ibunya.
Alinea langsung bisa nebak topiknya apa.
Hening beberapa detik.
Lalu—
“Saya akan bawa dia.”
Deg.
Apa?
Alinea refleks menoleh.
Arsenio menutup telepon pelan.
Tatapannya kembali ke Alinea.
“Kita diundang makan malam.”
“Kita?”
“Dengan keluarga saya.”
Oke.
Ini bukan lagi perang kantor.
Ini perang medan rumah.
“Dan Nadia?” tanya Alinea pelan.
Arsenio terdiam sepersekian detik.
“Akan ada di sana.”
Jantung Alinea rasanya turun ke perut.
Ini bukan sekadar jadi perisai.
Ini gladiator arena.
Dan Alinea baru sadar Alinea belum tahu semua aturan mainnya. Kontrak yang dia setujui mungkin cuma puncak gunung es, dan sisanya? Sisanya adalah teka-teki berbahaya yang baru saja Nadia lempar ke wajahnya.
Arsenio menutup telepon dengan gerakan yang lambat tapi penuh penekanan. Dia berdiri.
Alinea refleks menahan napas saat cowok itu mulai bergerak memutar meja, melangkah mendekat ke arahnya. Bukan cuma sekadar mendekat untuk bicara, tapi benar-benar memangkas jarak. Lebih dekat dari sebelumnya.
“Masih mau lanjut?”
Tantangan.
Tapi ada sesuatu lain di baliknya.
Seperti dia nggak cuma nanya soal sandiwara.
Tapi soal… mereka.
Alinea mengangkat dagu.
“Nggak ada kata mundur, Pak.”
Senyum Arsenio kali ini bukan tipis.
Tapi jelas.
“Bagus.”
Arsenio membungkuk sedikit.
Bibirnya nyaris menyentuh telinga Alinea.
“Nanti malam… jangan lepas tangan saya.”
Dan sebelum Alinea sempat memproses kalimat itu—
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Isinya cuma satu kalimat.
Kamu yakin dia belum pernah mempermainkan perempuan lain sebelumnya?
Dan di bawahnya—
Satu foto.
Foto Arsenio.
Dengan seorang perempuan.
Sangat dekat.
Sangat intim.
Dan perempuan itu bukan Nadia.
Alinea menunduk, menatap benda di tangannya. Layar ponsel itu mendadak terasa seberat bongkahan timah, seolah semua beban rahasia di dalamnya menekan telapak tangannya sampai ke tulang.
Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena kedekatan Arsenio, mendadak dingin. Beku.
Akinea tahu sekarang. Alinea tahu apa yang sebenarnya sedang dia hadapi.
Ini bukan lagi soal kontrak profesional. Bukan soal menjadi perisai atau sekadar selera yang berubah. Ini racun. Dan dengan satu lirikan pada pesan di layar itu, Alinea baru saja menelannya bulat-bulat.
Sudah terlambat untuk memuntahkannya kembali.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨