NovelToon NovelToon
Simfoni Dua Deru

Simfoni Dua Deru

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
​Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
​Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konspirasi dapur tengah malam

Malam di Pesantren Al-Fathan selalu memiliki aroma yang khas; perpaduan antara tanah basah, sisa embun di daun jati, dan keheningan yang seolah-olah bisa didengar. Namun bagi Syra Aliyah Farhana, malam itu terasa mencekik. Kata-kata Arkan tentang "tiga ribu jamaah" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia tidak bisa tidur. Bayangan ribuan orang pingsan karena masakannya membuat keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Sekitar pukul satu pagi, Syra memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia mengenakan kaos hitam polos dan celana training, kepalanya ditutupi asal-asalan dengan sebuah kerudung instan yang ia temukan di gantungan. Tujuannya satu: dapur besar dhalem. Ia harus berlatih. Ia tidak boleh membiarkan nama "debu" yang diberikan Sabrina benar-benar menjadi kenyataan.

Dapur itu gelap dan dingin saat Syra memutar knop pintunya. Setelah menyalakan lampu neon yang berkedip beberapa kali sebelum terang benderang, Syra berdiri di depan talenan kayu yang besar. Di depannya ada tumpukan bawang merah, bawang putih, dan cabai yang seolah-olah menertawakannya.

"Oke, Syra. Lo bisa bongkar mesin motor dalam gelap. Masa potong ginian aja nggak bisa?" gumamnya menyemangati diri sendiri.

Ia mulai memegang pisau. Srak! Srak! Potongannya tidak beraturan. Ada yang setebal kamus, ada yang setipis helai rambut. Dan yang paling parah, uap dari bawang merah mulai menyerang matanya. Syra mengerjap-ngerjap, air mata mulai mengalir deras, membasahi pipinya.

"Sialan, ini bawang apa gas air mata sih?!" umpat Syra sambil mencoba mengusap matanya dengan punggung tangan yang—celakanya—tadi bekas memegang cabai. "Aduh! Perihhh! Mata gue!"

Syra meringis, memegangi matanya yang kini terasa terbakar. Di saat ia sedang panik dan buta sesaat, sebuah tangan yang dingin dan kokoh memegang pergelangan tangannya, menghentikan Syra yang hendak mengucek matanya lebih parah lagi.

"Jangan dikucek. Nanti iritasi," suara itu rendah, tenang, dan sangat familiar.

Syra tersentak. Ia membuka mata sebelah kiri yang sedikit kurang perih. Arkanza Farras Zavian berdiri di sana. Ia tidak memakai peci, membiarkan rambut hitamnya sedikit berantakan jatuh ke dahi—sebuah pemandangan yang membuat jantung Syra berhenti berdetak sesaat. Arkan telah menggulung lengan baju kokonya hingga ke siku, menampakkan lengan bawahnya yang kokoh.

"Gus? Kok... kok lo di sini?" tanya Syra dengan suara sengau karena menahan tangis (dan pedas).

"Saya mencium aroma kegagalan dari arah dapur, jadi saya datang mengecek," canda Arkan tipis, hampir tak kentara. Ia menuntun Syra ke arah wastafel, menyalakan keran, dan membasuh tangan Syra terlebih dahulu. "Diamlah. Biar saya bantu."

Arkan mengambil sapu tangan bersih dari sakunya, membasahinya sedikit dengan air dingin, lalu dengan sangat perlahan dan lembut, ia mengusap kelopak mata Syra. Jarak mereka sangat dekat. Syra bisa merasakan hembusan napas Arkan di keningnya. Wangi kayu cendana yang menenangkan mulai menetralisir bau menyengat bawang di udara.

"Kenapa lo belum tidur?" bisik Syra, mendongak menatap rahang tegas Arkan.

"Saya baru selesai mengecek persiapan tenda di depan. Lalu saya melihat lampu dapur menyala," Arkan menjauhkan sapu tangannya setelah memastikan mata Syra membaik. Ia kemudian mengambil pisau dari tangan Syra. "Pisau itu jangan ditekan seperti mau memotong rantai motor. Harus ditarik perlahan. Lihat ini."

Arkan mulai mengiris bawang dengan kecepatan dan presisi yang luar biasa. Suara pisau yang beradu dengan talenan terdengar seperti ritme musik yang teratur.

"Lo... kok bisa jago begini?" Syra melongo.

"Waktu di Mesir, saya tinggal di apartemen kecil. Kalau tidak masak sendiri, saya tidak makan," Arkan menoleh sekilas, memberikan senyum miringnya yang khas. "Sini, coba lagi. Pegang pisaunya seperti ini."

Arkan berdiri di belakang Syra, melingkarkan tangannya untuk membimbing tangan Syra yang memegang pisau. Posisi ini membuat Syra seolah-olah sedang dipeluk dari belakang. Hawa hangat dari tubuh Arkan merambat ke punggung Syra, membuat bulu kuduknya meremang bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang ia sendiri belum paham namanya.

"Fokus, Syra. Tarik pisaunya..." bisik Arkan tepat di telinga Syra.

"Arkan," suara Syra melemah. "Kenapa lo mau repot-repot begini? Lo kan bisa biarin gue gagal. Kalau gue gagal, semua orang bakal setuju kalau lo nikah sama Sabrina. Dia sempurna, dia pinter masak, dia... dia segalanya yang nggak ada di gue."

Gerakan tangan Arkan terhenti. Ia tidak melepas tangan Syra, justru mempererat genggamannya sedikit. Arkan terdiam sejenak, menatap tumpukan irisan bawang di depan mereka.

"Karena kesempurnaan itu membosankan, Syra," jawab Arkan dengan nada yang dalam. "Sabrina adalah jawaban dari semua doa para santri tentang sosok Ibu Nyai. Tapi bagi saya, dia seperti kitab yang sudah saya hafal isinya. Sedangkan kamu... kamu adalah teka-teki. Kamu adalah 'sandi' yang tidak bisa saya pecahkan hanya dengan dalil. Dan entah kenapa, saya lebih suka memecahkan sandi daripada membaca hal yang sudah pasti."

Syra terpaku. Ia bisa merasakan kejujuran dalam nada suara Arkan. Baru saja ia hendak membalas, suara langkah kaki dari arah koridor membuat mereka berdua tersentak dan segera merenggangkan jarak.

Pintu terbuka.

Nabila Khairina berdiri di sana dengan mata mengantuk, memegang botol minum kosong. Namun di belakangnya, berdiri Sabrina Dhikra Alya. Sabrina mengenakan mukena rapi, tampaknya ia baru saja selesai shalat malam.

Mata Sabrina langsung tertuju pada talenan, lalu ke arah tangan Arkan yang masih sedikit basah, dan terakhir ke arah Syra yang wajahnya memerah. Suasana dapur yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin kutub utara.

"Gus Arkan?" suara Sabrina terdengar sangat tenang, tapi ada getaran luka di sana. "Sedang apa Gus di dapur jam begini bersama... Mbak Syra?"

Arkan kembali ke mode "Gus"-nya yang tenang dan tanpa ekspresi. Ia mengambil kain lap, mengeringkan tangannya. "Mbak Syra sedang berlatih untuk acara Haul besok. Saya hanya memastikan dia tidak melukai dirinya sendiri. Ada masalah, Sabrina?"

Sabrina tersenyum paksa, matanya melirik sinis ke arah Syra. "Tidak ada, Gus. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa besok pagi kita ada pertemuan dengan panitia inti. Saya harap Gus tidak terlalu lelah karena... urusan dapur."

Setelah Sabrina dan Nabila pergi, Syra menghela napas panjang. "Tuh kan, baru latihan potong bawang aja udah jadi drama."

Arkan menatap pintu dapur yang tertutup, lalu kembali menatap Syra. "Biarkan saja. Fokus pada masakanmu. Besok malam, temui saya di ruangan rahasia itu. Kita akan mulai 'balapan' yang sebenarnya."

Syra tersenyum kecil. Ia tahu, perang baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan "matahari" Al-Fathan itu jatuh ke tangan orang lain tanpa perlawanan yang barbar.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Hartini Donk
dalemmmm banget terhura aku...👍👍👍💪
falea sezi
sweet amat sih gus
falea sezi
suka deh endingnya g ribet g bertele Tele kerennnn
falea sezi
ini dibuat sinet pendek bagus deh
falea sezi
jd mereka uda nikah
Hartini Donk
jossss
Hartini Donk
ini n kdi film po sinetron mini keren banget thorrrr...
Isti Mariella Ahmad: wah semoga aja ya
total 1 replies
Rahma Sari
keren loh ceritanya.
Rahma Sari
keren loh ceritanya
Isti Mariella Ahmad: Terimakasih sayang, baca yang lain juga ya
total 1 replies
Hartini Donk
aku sukaaa...
Rahma Sari: aq juga suka (maaf y u yg sentuhan fisik bukan bermaksud membenarkan) tp ini novel.
total 1 replies
Muharlita Muharlita
Wahhh seru ceritanya
Isti Mariella Ahmad: Makasih sayang, baca cerita yang lain juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!