Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6
Seorang gadis berparas cantik dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda berteriak hingga suaranya menggema di dalam ruangan. Namun teriakannya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh dentuman musik bar yang keras dan brutal.
Irama DJ menghentak dada setiap pendengarnya, memaksa jantung berdetak mengikuti tempo yang liar. Lampu-lampu neon berpendar tak beraturan, menari di antara asap tipis dan tubuh-tubuh yang saling berhimpitan. Di lantai dansa, orang-orang sibuk berjoget tanpa peduli apa pun, tawa, alkohol, dan keringat bercampur menjadi satu.
Malam itu, bar memang sedang menggelar acara besar dari rombongan yang menginap di hotel bintang 3 kelas rendahan bagi Jay.
Pengunjung dari luar yang di perbolehkan masuk pun membludak, suasana riuh, dan keamanan nyaris tak terkendali. Tempat sempurna untuk menenggelamkan suara dan menghilangkan seseorang tanpa menarik perhatian.
Gadis itu berusaha meronta, matanya liar mencari pertolongan. Namun tak satu pun pasang mata menoleh. Di tengah gemerlap dan kegilaan malam, jeritannya hanyalah bagian dari musik, tak lebih dari dentuman tambahan yang segera terlupakan.
“Hei—!!! Sadar!” teriak gadis itu sekuat tenaga. “Aku bekerja di sini! Apa kau mau masuk penjara? Aku bisa melaporkanmu karena melecehkan karyawan!”
Meski suaranya terdengar keras, wajahnya justru memucat. Matanya bergetar, napasnya tak beraturan, jelas ketakutan. Tangannya mengepal, berusaha tampak berani di tengah situasi yang sama sekali tidak seimbang.
Pria itu tertawa kasar, mencondongkan tubuhnya dengan tatapan merendahkan.
“Semua wanita yang kerja di bar sama saja,” ujarnya sinis. “Tidak perlu jual mahal. Sok suci.”
“Aku cleaning sevice!” Teriak gadis itu lagi.
“Apapun itu tak penting, tetap saja kau bekerja di Bar! Apalagi kau bekerja sampai tengah malam begini. Apa namanya kalau bukan gadis murahan!”
Pria gendut itu melangkah mundur sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
“Aku akan menunggumu di luar bar.”
Kalimat itu lebih menyerupai ancaman daripada janji.
Gadis itu terdiam. Musik masih menghentak, lampu masih berkelip, dan orang-orang masih menari seolah dunia berjalan normal. Namun bagi dirinya, malam itu mendadak terasa sempit dan berbahaya. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan gemetar di tubuhnya, sambil menoleh ke arah pintu, menyadari bahwa begitu ia melangkah keluar, ia mungkin tak akan sendirian.
Dan tanpa ia sadari, dari sudut bar yang remang, sepasang mata sedang mengamati kejadian itu dengan tenang.
Tatapan dingin. Tajam. Tanpa emosi.
Malam ini, ada seseorang yang sedang menilai, apakah pria itu pantas pulang dengan selamat.
Drew melirik ke arah Jay. Kedua mata tuannya tak sekali pun melepaskan pandangan dari gadis itu. Tatapan itu tenang, dingin, namun terlalu fokus untuk sekadar rasa ingin tahu.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun pengabdiannya, dan dalam 4 tahun ini mengikuti kegiatan Jay yang aneh hampir membuat Drew tertawa geli. Jay akhirnya mengeluarkan titah.
Singkat. Datar. Tanpa emosi.
“Kirim beberapa pengawal dan bereskan.”
Drew menarik napas pelan.
“Aaah… “ gumamnya dalam hati. Bukan terkejut, lebih kepada akhirnya dia paham dan mengerti.
Kini semuanya mulai tersusun di kepala Drew. Selama hampir 4 tahun terakhir, ia memang sering melakukan hal-hal yang terasa janggal dan aneh, rute yang berulang, tempat yang berulang dan tampak biasa, pemberhentian yang berulang seolah tak penting. Dan di setiap tempat itu, selalu ada gadis yang sama.
“Wajah itu…”
Akhirnya Drew mengingatnya dengan jelas sekarang. Butuh 4 tahun Drew akhirnya paham apa yang di lakukan tuannya yang tak banyak bicara itu.
Gadis yang tak pernah disentuh, tak pernah didekati, namun selalu diam-diam diawasi. Selalu berada dalam jarak pandang Jay.
Namun Drew tak berani menyimpulkan apa pun terlalu jauh. Ia tahu betul, Jay bukan tipe pria yang mudah ditebak. Bukan pula sosok yang membiarkan dirinya terikat pada hubungan apa pun.
Tuannya adalah penyendiri. Selalu sendiri.
Dan memilih kesendirian sebagai bentuk kendali.
Itulah yang membuat Drew bertanya-tanya, bukan tentang gadis itu siapa, melainkan tentang Jay sendiri.
“Apa sebenarnya hubungan mereka berdua?
Dan sejak kapan Jay, pria yang tak mengenal belas kasihan, mulai memberi perhatian pada satu nyawa yang sama sekali tak seharusnya ia pedulikan?”
“Apa hubungan Anda dengan gadis itu, Tuan?” tanya Drew akhirnya. Suaranya tetap sopan, namun kali ini terselip kehati-hatian yang lebih dalam.
Jay tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat gelas jusnya, menyedot perlahan melalui sedotan, seolah pertanyaan itu tak lebih penting daripada rasa minuman di lidahnya.
“Lakukan saja perintahku,” ucap Jay dingin tanpa menoleh. “Jika kau akhirnya benar-benar sadar dengan apa yang kulakukan selama ini, kau boleh melaporkannya pada ayahku.”
Nada suaranya datar. Tidak mengancam, tidak pula membela diri. Seolah nama ayah bukan sesuatu yang perlu ia takuti, melainkan sesuatu yang sudah lama ia perhitungkan.
Drew menunduk tipis. Ia paham batasnya. Lagi pula Drew juga sudah berjanji akan bekerja di bawah perintah Jay. Jadi Drew tahu apa saja yang harus ia laporkan pada Jackman dan apa saja yang harus ia simpan.
“Akan saya urus, Tuan,” katanya patuh. “Saya akan mengirim orang untuk membereskan pria gendut itu.”
Jay mengangguk samar, matanya kembali tertuju ke arah meja-meja yang berantakan. Gadis itu masih di sana, gelisah, pucat, berusaha tampak kuat di tengah gemerlap yang menipu. Untuk sesaat, sorot mata Jay mengeras, lalu kembali kosong.
Bagi dunia, ini hanyalah malam di sebuah bar.
Namun bagi Jay, ini adalah keputusan lain yang diambil diam-diam, keputusan yang, cepat atau lambat, akan menyeret banyak darah dan rahasia ke permukaan.
Dan Drew tahu satu hal pasti, jika ayah Jay sampai mengetahui alasan di balik perintah ini, perang dalam keluarga mereka tak akan bisa dihindari lagi.
“Bawa pria itu ke tempat biasa,” perintah Jay singkat. Ia berdiri, merapikan jas hitamnya, lalu meninggalkan bar lebih dulu tanpa menoleh ke belakang.
Drew segera bergerak. Ia menghubungi beberapa orang kepercayaannya dan menunggu hingga tengah malam. Udara semakin dingin ketika bar mulai sepi. Tak lama kemudian, pria gendut itu keluar, langkahnya terhuyung, napasnya berbau alkohol.
Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, sebuah karung hitam langsung menutup kepala pria gendut tersebut.
Beberapa pengawal menghajarnya secara bersamaan. Pukulan datang dari berbagai arah hingga tubuh pria itu melemas, kehilangan tenaga untuk melawan.
“Aaa!”
“Sakit.”
“Siapa itu!”
“Aaarh!”
Teriakan demi teriakan terdengar samar dari balik karung hitam. Ketika akhirnya pria gendut itu terjatuh, Drew mengangkat tangannya memberi isyarat berhenti.
“Buka,” perintah Drew.
Karung hitam itu ditarik. Wajah pria gendut itu babak belur, napasnya terengah.
“Periksa, lalu bawa menghadap Tuan Jay,” lanjut Drew dingin.
“Baik, Tuan Drew.”
Mereka pun membawa pria itu pergi.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....