Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang yang Tertarik
Sudah satu minggu sejak Julius memintaku membantunya dalam riset ekonomi. Selama itu pula, komunikasiku dengan Mr. A semakin intens. Mr. A seolah-olah menjadi pemandu sorak pribadiku, mendorongku untuk tampil lebih berani di depan Julius.
"Jane, fokus. Jangan hanya melihat punggungku," suara dingin Julius memecah lamunan di perpustakaan sore itu.
Aku tersentak, segera memperbaiki letak kacamata. Kami sedang duduk berhadapan bukan lagi selisih tiga meter di meja kayu oak yang berat. Hanya ada kami berdua di sudut paling sunyi.
"Maaf, Tuan Randle. Saya hanya memikirkan variabel distribusi tekstil untuk data ini," bohongku.
Julius menutup laptopnya dengan suara pelan namun tegas. Mata birunya yang tajam menatapku lurus. "Berhenti memanggilku Tuan Randle saat kita hanya berdua. Kita sedang bekerja sama, bukan dalam sesi kontrak kerja."
"Lalu... aku harus memanggil apa?" tanyaku hampir berbisik.
"Julius."
Jantungku berdegup kencang. Nama itu terasa terlarang di lidahku. "Tapi, Grace Liberty..."
"Grace tidak ada hubungannya dengan bagaimana kau memanggilku," potongnya cepat. Tatapannya melembut sesaat, sebuah anomali yang belum pernah kulihat. "Kau selalu membawa-bawa namanya seolah dia adalah pemilik naskah hidupmu, Jane Montmartre."
Aku tertegun. Kalimat itu... sangat mirip dengan apa yang dikatakan Mr. A semalam di aplikasi chat.
Mr. A: "Jangan biarkan orang lain menulis naskah hidupmu, Ms. J. Kamu adalah pemeran utamanya, meskipun kamu belum menyadarinya."
Tanganku mulai gemetar. Aku memberanikan diri untuk bertanya, sesuatu yang mungkin akan merusak persembunyianku selamanya.
"Julius... apakah kau percaya pada takdir yang tidak tertulis? Maksudku, unscripted fate?"
Julius terdiam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang sama dengan jantungku.
"Aku tidak percaya takdir, Jane. Aku tipe orang yang menulis sendiri apa yang kuinginkan. Dan saat ini..."
Ia mencondongkan tubuh ke depan, membuatku bisa mencium wangi sandalwood yang maskulin dari tubuhnya.
"...aku sedang menulis ulang posisi seseorang dalam hidupku. Dari seseorang yang dianggap tidak relevan oleh dunia, menjadi satu-satunya orang yang relevan bagiku."
Tepat saat suasana menjadi sangat intim, pintu perpustakaan terbuka kasar.
"JULEEEESS! Lo dicariin Grace di depan! Katanya ada fitting baju buat pesta Randle Group!" seru Henry dengan suara cemprengnya yang khas, diikuti oleh Patrick dan Lucia yang tertawa-tawa.
Seketika, sihir itu pecah. Julius kembali ke mode dinginnya yang sempurna. Ia berdiri, merapikan jasnya tanpa melihatku lagi.
"Selesaikan bagianmu, Jane. Kirim lewat email," ucapnya datar sebelum melangkah pergi bersama teman-temannya yang berisik.
Aku menghela napas panjang, merasa kembali menjadi figuran yang terlupakan. Namun, saat aku hendak membereskan bukuku, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Mr. A.
Mr. A: Jangan cemburu pada fitting baju itu. Kain yang indah tidak akan berarti apa-apa jika dipakai oleh orang yang salah. Tetaplah pada posisimu, Ms. J. Matahari itu akan segera pulang padamu.
Aku menatap punggung Julius yang menjauh di lorong perpustakaan.
.
.
Aku menatap layar ponselku dengan tangan gemetar. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Mr. A tahu bahwa Julius sedang pergi untuk fitting baju dengan Grace? Padahal di kampus tadi, Mr. A sama sekali tidak terlihat di sekitar perpustakaan.
"Dia bukan manusia biasa," gumamku sambil memeluk bantal di kamar. "Dia pasti peramal. Atau mungkin... seseorang yang punya akses ke CCTV kampus?"
Pikiran itu terdengar gila, tapi lebih masuk akal daripada membayangkan Julius si pangeran es itu mengetik kata-kata manis padaku.
Ms. J: Mr. A, jujur padaku. Apakah kau seorang peramal? Atau kau penguntit? Bagaimana kau tahu dia sedang pergi untuk fitting baju?
Aku menunggu dengan jantung berdebar. Lima menit, sepuluh menit. Akhirnya, balasan itu muncul.
Mr. A: Aku bukan peramal, Ms. J. Aku hanya pandai membaca tanda-tanda alam. Di dunia seperti milik Julius Randle, semuanya sudah dijadwalkan. Dan di dunia seperti milikmu, semuanya terasa seperti kebetulan. Padahal tidak ada yang kebetulan di bawah langit ini.
Jawaban yang sangat filosofis. Sangat... bukan Julius. Julius yang kukenal di kelas hanya bicara tentang angka, profit, dan efisiensi. Mr. A adalah personifikasi dari jiwa yang puitis.
Keesokan harinya, aku mencoba menguji ramalan Mr. A. Sebelum masuk ke kantin yang penuh sesak, aku mengirim pesan singkat.
Ms. J: Mr. A, aku lapar tapi aku benci kerumunan. Apakah si Matahari itu akan ada di sana? Aku ingin menghindar.
Mr. A: Masuklah. Beli sandwich tuna kesukaanmu. Duduklah di meja paling pojok dekat mesin kopi. Dia tidak akan mengganggumu hari ini. Dia sedang terjebak dalam rapat senat yang membosankan.
Aku menarik napas dalam-dalam dan masuk. Benar saja. Meja besar yang biasanya dikuasai oleh Julius, Henry, dan Lucia tampak kosong. Hanya ada Henry yang sedang menggoda salah satu pemandu sorak di meja lain. Julius tidak ada.
Aku memesan sandwich tuna, tunggu, bagaimana Mr. A tahu itu kesukaanku? dan duduk di pojok.
"Eh, cewek tekstil!"
Suara cempreng itu. Henry tiba-tiba sudah berdiri di depanku dengan cengiran brengseknya. "Jules mana? Biasanya lo kan kayak bayangannya, ada di radius tiga meter."
"Aku tidak tahu, Henry," jawabku pelan, berusaha mengabaikannya.
"Dia lagi rapat senat. Sok sibuk banget emang si bos satu itu," Henry mengambil sejumput kentang gorengku tanpa izin. "Tapi denger-denger, setelah rapat dia mau ke lab komputer. Lo nggak mau kebetulan lewat sana?"
Aku tertegun. Rapat senat. Tepat seperti kata Mr. A.
"Tidak, terima kasih," kataku sambil beranjak pergi.
Sore harinya, rasa penasaranku mengalahkan logikaku. Aku sengaja berjalan melewati lab komputer, bukan untuk menemui Julius, tapi untuk membuktikan bahwa Mr. A salah. Tidak mungkin peramalannya seakurat itu, kan?
Namun, saat aku melewati pintu kaca lab, aku melihatnya.
Julius sedang duduk sendirian di depan layar monitor besar. Jasnya tersampir di kursi, lengan kemejanya digulung hingga siku menampakkan urat-urat tangan yang maskulin dan jam tangan mahalnya. Dia tampak sangat lelah, memijat pangkal hidungnya.
Tiba-tiba, ponselku bergetar.
Mr. A: Aku bilang dia lelah, bukan? Jangan masuk. Dia sedang tidak ingin diganggu. Tapi jika kau punya sebotol air mineral dingin, letakkan saja di loker nomor 112. Itu lokernya.
Aku membeku di tempat. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Lorong ini sepi. Tidak ada orang. Tidak ada kamera yang mengarah langsung padaku kecuali CCTV di ujung lorong.
Mr. A pasti penyihir, batinku dengan ngeri sekaligus takjub.
Dengan tangan gemetar, aku berjalan ke mesin penjual otomatis, membeli sebotol air mineral, dan meletakkannya di loker nomor 112. Aku berlari pergi sebelum Julius keluar.
Aku tidak tahu, bahwa di dalam lab, Julius sedang menatap layar monitornya yang tidak menampilkan grafik ekonomi sama sekali, melainkan sebuah dasbor aplikasi chat berwarna hitam.
Julius melihat bayangan Jane yang berlari menjauh dari balik pintu kaca. Ia menyentuh layar ponselnya, jemarinya berhenti di atas nama Ms. J.
"Peramal, huh?" Julius bergumam pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Jika itu bisa membuatmu tetap bicara padaku, aku tidak keberatan menjadi peramalmu, Jane."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍