NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16: Breaking Point

Tiga hari setelah perang dingin berakhir, Arsen menepati janjinya.

Ia mengurangi bodyguard dari empat menjadi dua hanya Pak Budi dan Tim yang bertugas, dan mereka hanya mengikuti Aluna saat keluar mansion. Di dalam rumah, Aluna bebas bergerak tanpa pengawalan.

CCTV di beberapa area dimatikan terutama di kamar tidur dan beberapa ruangan pribadi lainnya. Hanya CCTV di area umum seperti lobby, taman, dan garasi yang tetap aktif untuk keamanan.

Dan yang paling penting Arsen belajar untuk tidak menelepon setiap dua jam. Ia menahan diri, hanya menelepon dua kali sehari, saat makan siang dan sore hari sebelum pulang.

Aluna bisa merasakan perjuangan Arsen. Ia melihat bagaimana tangan Arsen menggenggam ponselnya dengan erat saat menahan diri untuk tidak menelepon. Ia melihat bagaimana mata Arsen sesekali melirik ke arah ruangan lain, seolah ingin memastikan Aluna masih ada di sana. Ia melihat bagaimana Arsen bangun di tengah malam, hanya untuk memastikan Aluna masih tidur di sampingnya.

Perubahan ini sulit untuk Arsen. Sangat sulit.

Tetapi ia mencoba. Dan itu yang terpenting.

Hari ketiga pagi itu, Aluna bangun dengan Arsen sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Pria itu berdiri di depan cermin, mengenakan jas hitam dengan dasi yang belum terpasang sempurna.

Aluna bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekat.

"Biar saya bantu," ucapnya sambil meraih dasi di tangan Arsen.

Arsen terdiam, membiarkan Aluna merapikan dasinya. Mata kelamnya menatap wajah Aluna yang fokus pada dasi wajah yang sudah menjadi segalanya baginya.

"Hari ini aku ada meeting dengan investor dari Singapura," ucap Arsen pelan. "Mungkin pulang agak malam. Sekitar jam delapan."

Aluna mengangguk sambil tangannya menyelesaikan simpul dasi dengan sempurna.

"Hati-hati di jalan."

Arsen mengangkat tangannya, menyentuh pipi Aluna dengan lembut.

"Kamu... kamu akan baik-baik saja, kan? Di rumah sendirian?"

Aluna tersenyum senyum yang menenangkan.

"Saya akan baik-baik saja. Pak Budi ada di luar. Bu Sinta ada di dapur. Dan..." ia menyentuh kalung di lehernya, "saya punya ini. Pengingat bahwa ada seseorang yang akan selalu pulang pada saya."

Sesuatu melembut di mata Arsen. Ia menarik Aluna ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut Aluna.

"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih karena sabar denganku. Terima kasih karena... membantuku belajar."

Aluna membalas pelukan itu dengan hangat.

"Kita belajar bersama."

Arsen mencium puncak kepala Aluna, lalu kening, lalu hidung, dan akhirnya bibir ciuman yang lembut, yang penuh cinta.

"Aku mencintaimu," bisiknya saat terpisah. "Lebih dari kemarin, kurang dari besok."

Aluna tertawa kecil mendengar kalimat romantis yang tidak biasa dari mulut Arsen yang biasanya possessive.

"Saya juga mencintai Anda."

Siang hari berlalu dengan tenang. Aluna mengerjakan tugas akhirnya di perpustakaan, membaca beberapa jurnal arsitektur, dan mendesain model bangunan di laptopnya.

Pukul 15.00 WIB, ponselnya berdering. Arsen menelepon seperti biasa.

"Halo?" jawab Aluna sambil tersenyum.

"Sayang, kamu sudah makan siang?" suara Arsen terdengar sedikit tegang di seberang sana.

"Sudah. Bu Sinta masak nasi goreng kesukaan saya. Anda sudah makan?"

"Sudah. Meeting pertama selesai. Sekarang istirahat sebentar sebelum meeting kedua."

Jeda sejenak.

"Aluna... aku merindukanmu."

Jantung Aluna berdetak lebih hangat.

"Anda baru pergi enam jam yang lalu," godanya lembut.

"Aku tahu," jawab Arsen dengan suara yang sedikit malu. "Tetapi rasanya seperti enam hari. Aku... aku tidak terbiasa tidak bisa melihatmu seharian."

"Anda belajar dengan baik," ucap Aluna dengan bangga. "Saya tahu ini sulit untuk Anda."

"Sangat sulit," akui Arsen. "Tetapi untuk mu... aku akan terus mencoba."

Mereka mengobrol sebentar lagi sebelum Arsen harus kembali ke meeting. Saat sambungan terputus, Aluna menatap ponselnya dengan senyum lembut.

Mereka sedang menuju ke arah yang benar. Perlahan, tetapi pasti.

Pukul 19.30 WIB, ponsel Arsen berdering. Aluna mengangkat dengan ceria.

"Halo? Sudah dalam perjalanan pulang?"

Tetapi suara yang menjawab bukan Arsen.

"Nona Aluna?" Suara sekretaris Arsen Dira terdengar panik. "Tuan Arsen... beliau..."

Jantung Aluna langsung berhenti.

"Ada apa? Terjadi apa pada Arsen?!"

"Meeting tadi... ada masalah besar. Investor dari Singapura membatalkan kontrak secara sepihak. Dan kami baru tahu... ini ulah Tuan Darren. Beliau menyuap investor itu untuk membatalkan kesepakatan."

Aluna merasakan darahnya membeku.

"Dan Tuan Arsen... beliau sangat marah. Beliau menghancurkan setengah ruang meeting. Sekarang beliau dalam perjalanan pulang, tetapi... Nona Aluna, beliau dalam kondisi yang sangat... tidak stabil."

"Tidak stabil bagaimana?"

"Saya belum pernah melihat beliau semarah ini sejak... sejak insiden Nona Anjani dulu. Tolong, Nona Aluna. Hanya Anda yang bisa menenangkan beliau."

Sambungan terputas.

Aluna merasakan dadanya sesak. Ia tahu apa artinya Arsen dalam kondisi tidak stabil amarah yang tidak terkontrol, possessiveness yang meledak, dan...

Suara mobil di luar membuat Aluna tersentak. Bentley hitam Arsen melaju masuk dengan kecepatan yang tidak wajar, berhenti dengan rem mendadak yang membuat bunyi decitan keras.

Pintu mobil terbuka dengan kasar. Arsen keluar jasnya kusut, dasi sudah dilepas, dua kancing teratas kemeja terbuka, rambutnya berantakan, dan matanya...

Matanya penuh amarah yang membara.

Ia berjalan cepat masuk ke mansion, pintu dibanting keras hingga bergetar.

"ALUNA!" teriaknya dengan suara yang menggelegar.

Aluna turun dari lantai atas dengan hati-hati, berdiri di ujung tangga.

"Arsen, saya..."

Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimat, Arsen sudah menaiki tangga dengan cepat, meraih pergelangan tangan Aluna dan menyeretnya tidak kasar hingga menyakiti, tetapi dengan urgensi yang menakutkan.

"Arsen, tunggu! Apa yang..."

Arsen menyeret Aluna ke kamar mandi utama di kamar mereka, memasukkan Aluna ke dalam, lalu mengunci pintu dari dalam.

Aluna mundur hingga punggungnya menyentuh wastafel marmer yang dingin, menatap Arsen dengan mata membelalak.

Pria itu berdiri di depan pintu, dada bidangnya naik-turun dengan napas yang berat, tangan-tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, dan mata kelamnya menatap Aluna dengan tatapan yang... berbahaya.

"Arsen, apa yang terjadi?" tanya Aluna dengan suara gemetar. "Dira bilang ada masalah dengan investor..."

"Darren," desis Arsen dengan suara yang bergetar karena amarah. "Darren menghancurkan kontrak senilai 500 miliar rupiah. Dia menyuap investor. Dia sabotase presentasiku. Dia..."

Suaranya terputus, tangannya menghantam dinding di samping pintu dengan keras, membuat Aluna terlonjak.

"Dia melakukan ini untuk memancingku," lanjut Arsen sambil perlahan berjalan mendekat pada Aluna. "Dia tahu aku akan marah. Dia tahu aku akan... kehilangan kontrol."

Ia sudah sangat dekat sekarang, mengurung Aluna di antara tubuhnya dan wastafel.

"Dan yang paling membuatku gila," bisiknya dengan suara rendah yang berbahaya, "adalah aku tahu ini baru permulaan. Dia akan terus menyerang. Terus mengancam. Dan target terbesarnya... adalah kamu."

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Aluna dengan gerakan yang kontras lembut meski tubuhnya dipenuhi amarah.

"Aku mencoba, Aluna," bisiknya dengan suara yang mulai pecah. "Aku mencoba memberikanmu kebebasan. Aku mencoba tidak terlalu mengontrol. Aku mencoba untuk... melepas."

Tangannya bergerak ke belakang kepala Aluna, jemarinya terbenam di rambut Aluna.

"Tetapi setiap kali aku melepas, setiap kali aku memberimu ruang... aku merasakan ketakutan yang menghancurkan. Ketakutan bahwa Darren akan menggunakan celah itu untuk mengambil mu dariku."

Dahinya menyentuh dahi Aluna, napasnya bercampur dengan napas Aluna.

"Dan hari ini, saat dia menghancurkan kontrakku... yang aku pikirkan hanya satu hal: ini peringatan. Peringatan bahwa dia bisa menghancurkan apa pun yang aku miliki. Termasuk... kamu."

Air mata mulai mengalir di pipi Arsen campuran amarah, frustrasi, dan ketakutan.

"Aku tidak tahu bagaimana melakukan ini, Aluna," isaknya. "Bagaimana aku bisa melindungi mu tanpa mengurung mu? Bagaimana aku bisa menjagamu tetap aman tanpa... kehilanganmu?"

Aluna merasakan hatinya hancur melihat pria yang begitu kuat ini runtuh. Tangannya terangkat, menyentuh wajah Arsen, mengusap air mata di sana.

"Dengan percaya pada saya," bisiknya lembut. "Dengan percaya bahwa saya tidak akan kemana-mana. Bahwa tidak peduli apa yang Darren lakukan, saya akan tetap..."

Kata-katanya terputus saat Arsen tiba-tiba menciumnya ciuman yang bukan lembut, bukan romantis.

Ini ciuman yang putus asa. Yang menuntut. Yang penuh dengan emosi yang meledak amarah, ketakutan, cinta, obsesi, semuanya bercampur jadi satu.

Bibirnya menghancurkan bibir Aluna dengan intensitas yang membuat lutut Aluna lemas. Tangannya di belakang kepala Aluna menarik lebih dalam, memperdalam ciuman, sementara tangan lainnya melingkari pinggang Aluna, menekan tubuh Aluna pada tubuhnya sendiri hingga tidak ada jarak sama sekali.

Aluna mencoba mengimbangi, tangan-tangannya mencengkeram bahu Arsen, berusaha menahan tubuhnya yang mulai melemas.

Arsen mengangkat Aluna dengan mudah, mendudukkannya di atas wastafel marmer yang dingin. Tubuhnya bergerak di antara kaki Aluna, semakin mendekatkan mereka.

Ciuman itu berlangsung lama terlalu lama hingga Aluna hampir kehabisan napas.

Saat Arsen akhirnya melepaskan ciuman, bibirnya bergerak ke rahang Aluna, turun ke leher, mencium, menggigit lembut, menandai.

"Arsen..." Aluna mendesah, tangannya mencengkeram rambut Arsen. "Arsen, tunggu..."

"Aku butuh ini," gumam Arsen di leher Aluna, suaranya serak dan penuh hasrat. "Aku butuh merasakan mu. Aku butuh tahu kamu nyata. Kamu di sini. Kamu... milikku."

Tangannya bergerak ke bawah, menyentuh paha Aluna melalui dress yang ia kenakan, membelai naik-turun dengan gerakan yang membuat Aluna menggigil.

"Katakan kamu milikku," bisiknya sambil kembali menatap mata Aluna mata kelam yang dipenuhi dengan hasrat dan keputusasaan. "Katakan tidak ada yang bisa mengambil mu dariku. Katakan..."

"Saya milik Anda," bisik Aluna, tangannya memegang wajah Arsen. "Hanya Anda. Tidak ada yang bisa mengambil saya. Tidak Darren. Tidak siapa pun."

Sesuatu berubah di mata Arsen keputusasaan perlahan berganti menjadi... kepuasan yang gelap.

"Ulangi," perintahnya dengan suara rendah.

"Saya milik Anda, Arsen Mahendra," ulang Aluna dengan lebih tegas. "Sepenuhnya. Selamanya."

Arsen menarik napas dalam, seolah kata-kata itu adalah oksigen yang ia butuhkan untuk bertahan hidup.

Lalu ia mencium Aluna lagi kali ini lebih lambat, lebih terkontrol, tetapi tidak kalah intens. Tangannya menjelajah tubuh Aluna dengan sentuhan yang possessive namun lembut, memastikan setiap inci tubuh Aluna tahu siapa yang memilikinya.

Aluna kehilangan hitungan berapa lama mereka berada di kamar mandi itu berapa kali Arsen menciumnya, menyentuhnya, berbisik kata-kata possessive di telinganya. Yang ia tahu adalah saat mereka akhirnya keluar, tubuhnya penuh dengan tanda-tanda kepemilikan Arsen di leher, bahu, bahkan di tulang selangka.

Dan entah kenapa, ia tidak keberatan.

Karena ini adalah cara Arsen melepaskan keputusasaannya. Cara Arsen memastikan dirinya sendiri bahwa Aluna masih di sini, masih aman, masih... miliknya.

Malam itu, mereka berbaring di tempat tidur dengan tubuh yang lelah tetapi hati yang lebih tenang.

Arsen memeluk Aluna dari belakang seperti biasa, tetapi pelukannya lebih erat malam ini seolah takut Aluna akan menguap jika ia melepaskan.

"Maaf," bisiknya di telinga Aluna. "Maaf aku kehilangan kontrol tadi. Aku..."

"Tidak apa-apa," potong Aluna sambil tangannya menyentuh tangan Arsen yang melingkari pinggangnya. "Saya mengerti. Anda butuh... pelepasan."

"Bukan hanya itu," ucap Arsen. "Aku butuh kamu. Aku butuh merasakan mu. Aku butuh tahu kamu... belum muak padaku meski aku terus seperti ini."

Aluna berbalik dalam pelukan Arsen, menghadap pria itu. Tangannya menyentuh wajah Arsen dengan lembut.

"Saya tidak akan pernah muak pada Anda," bisiknya. "Saya mencintai Anda. Dengan semua kegelapan Anda. Dengan semua obsesi Anda. Karena di balik semua itu... saya tahu ada pria yang mencintai saya dengan segenap hatinya."

Air mata menggenang di mata Arsen.

"Bagaimana aku bisa seberuntung ini?" bisiknya. "Menemukan seseorang yang mau tetap bersamaku meski aku... rusak?"

"Karena saya juga rusak," jawab Aluna dengan senyum tipis. "Rusak karena jatuh cinta pada pria possessive yang mengurung saya. Rusak karena mulai menikmati dikurung. Rusak karena... merasa aman dalam kepemilikan Anda."

Arsen menatapnya lama, lalu tersenyum senyum tulus yang jarang ia tunjukkan.

"Kita memang cocok," gumamnya. "Dua jiwa rusak yang saling melengkapi."

Ia mencium Aluna dengan lembut ciuman yang berbeda dari di kamar mandi tadi. Ini ciuman yang penuh cinta, yang lembut, yang... menyembuhkan.

"Aku mencintaimu," bisiknya saat terpisah. "Lebih dari yang bisa diungkapkan kata-kata."

"Saya juga mencintai Anda," bisik Aluna. "Dengan cara saya yang rusak."

Mereka tertidur dalam pelukan erat, dengan tubuh Aluna yang penuh tanda kepemilikan Arsen, dan hati mereka yang sedikit lebih utuh meski masih penuh luka.

Karena itulah cinta mereka.

Gelap. Possessive. Obsesif. Salah.

Tetapi nyata. Dan untuk mereka itu sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!