Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMENANGAN KECIL
Richard dan Anton pergi jam empat sore setelah ngobrol informal tentang timeline dan next steps.
Begitu pintu kantor tertutup, Arief langsung teriak.
"YESSSS! KITA DAPAT FUNDING!"
Rian loncat dari kursinya, joget-joget gak jelas di tengah ruangan. Dina tertawa sambil tepuk tangan, matanya berbinar.
Rajendra berdiri diam di depan pintu, tersenyum kecil melihat mereka bertiga merayakan dengan cara masing-masing.
Arief menghampiri Rajendra, memeluknya erat.
"Bro, lu amazing! Cara lu negosiasi tadi keren banget! Dari 25 persen jadi 20 persen!"
Rajendra menepuk punggung Arief.
"Ini bukan cuma gue. Ini tim. Kalau platform lu jelek, Richard gak akan invest. Kalau presentation Dina gak bagus, dia gak akan tertarik. Kita semua contribute."
Dina berjalan mendekat, ikut memeluk Rajendra dari samping.
"Lu tetep yang lead, bos. Lu yang bawa visi ini. Kita cuma execute."
"Visi tanpa eksekusi cuma mimpi. Kalian yang bikin ini jadi nyata."
Mereka semua diam sebentar, merasakan momen ini.
Momen pertama mereka sebagai tim yang benar-benar berhasil achieve sesuatu yang besar.
Rian memecah keheningan.
"Kita rayain gak nih? Makan di luar? Ke restoran yang agak layak dikit?"
Arief nyengir.
"Setuju! Gue udah bosen makan nasi goreng warung terus. Pengen makan yang ada AC-nya."
Dina menatap Rajendra.
"Lu gimana, bos? Lu treat kita?"
Rajendra tertawa kecil.
"Uang funding belum masuk, tapi oke deh. Gue treat. Tapi jangan yang mahal-mahal ya. Gue masih miskin."
"Jangan bohong. Lu anak konglomerat."
"Mantan anak konglomerat. Sekarang gue sama miskinnya kayak kalian."
Mereka semua tertawa.
Jam lima sore, mereka keluar kantor bersama, berjalan kaki ke restoran Padang terdekat yang punya AC dan kursi yang nyaman.
Pesan nasi padang lengkap dengan rendang, ayam pop, gulai ikan, sayur nangka, sambal hijau. Minum es teh manis sebotol besar untuk berempat.
Total bill seratus lima puluh ribu. Mahal untuk standar mereka, tapi hari ini special occasion.
Mereka makan sambil ngobrol, tertawa, bercanda seperti teman kuliah biasa, bukan tim startup yang baru saja dapat funding setengah miliar.
"Lu tahu gak sih," kata Arief sambil ngunyah rendang. "Waktu pertama kali lu tawarin gue kerja di LokalMart, gue sebenernya ragu."
"Kenapa?"
"Karena lu masih anak dua puluh tahun yang belum pernah punya pengalaman kerja. Gue mikir, ini orang ngerti bisnis gak sih? Atau cuma modal uang keluarga terus main-main?"
Rajendra tersenyum.
"Terus kenapa lu tetep join?"
"Karena pas interview, lu jelasin visi lu dengan detail yang gila-gilaan. Lu tahu semua pain point e-commerce Indonesia. Lu tahu solusinya. Lu bahkan tahu timeline industri ini bakal kemana. Gue mikir, ini orang bukan sembarangan. Dia beneran ngerti."
Dina menambahkan.
"Gue juga awalnya skeptis. Gue udah kerja di agensi yang established, gaji stabil, meski bosen. Terus tiba-tiba ada anak muda nawarin gaji dua kali lipat tapi di startup yang bahkan belum ada produknya. Sounds too good to be true."
"Terus kenapa lu tetep join?"
"Karena lu gak ngejual mimpi kosong. Lu ngejual plan konkret. Lu bilang, ini yang kita mau bikin, ini timeline-nya, ini target-nya, ini risikonya. Lu honest. Gue respect itu."
Rian yang dari tadi diam, akhirnya bicara.
"Gue join karena Arief yang ajak. Gue percaya Arief. Dan setelah liat lu kerja, gue percaya sama lu juga."
Rajendra menatap mereka bertiga, merasakan sesuatu hangat di dadanya.
Orang-orang ini percaya padanya.
Mereka taruh karir mereka, waktu mereka, energi mereka, untuk sesuatu yang bahkan belum jelas akan berhasil atau tidak.
"Thanks, guys," kata Rajendra pelan tapi tulus. "Serius. Gue gak bisa lakuin ini sendirian. Kalian yang bikin LokalMart jalan."
"Jangan lebay, bos," canda Arief. "Nanti gue nangis."
Mereka tertawa lagi.
Setelah makan, mereka jalan kaki balik ke kantor untuk ambil barang masing-masing sebelum pulang.
Di tengah jalan, ponsel Rajendra berdering.
Nomor Hartono.
Rajendra mengangkat sambil berjalan.
"Halo, Pak Hartono."
"Rajendra, kabar bagus. Ahli grafologi sudah selesai analisis tanda tangan di dokumen klinik. Hasilnya jelas. Tanda tangan itu palsu. Tidak match dengan tanda tangan almarhum di dokumen resmi lainnya."
Rajendra berhenti berjalan, fokus penuh ke telepon.
"Bapak sudah dapat laporan tertulis?"
"Sudah. Lengkap dengan foto perbandingan dan analisis teknis. Ini bukti kuat. Ditambah dengan surat keputusan IDI yang buktikan Dr. Hendra tidak punya izin praktik tahun 2009, kasus mereka akan runtuh."
Rajendra menghela napas lega.
"Berarti kita punya peluang menang?"
"Peluang besar. Tapi tetap harus hati-hati. Daniel Kusuma pengacara licik. Dia bisa saja bawa bukti tambahan atau saksi baru di menit terakhir. Kita harus tetap waspada."
"Saya paham. Sidangnya kapan lagi?"
"Dua minggu lagi. 29 Juli. Jam sepuluh pagi. Jangan lupa."
"Saya gak akan lupa."
"Oh ya, satu lagi. Saya dengar kamu dapat funding untuk startup kamu. Congratulations."
Rajendra tersenyum.
"Terima kasih, Pak. Berita cepet banget."
"Dunia bisnis kecil, Rajendra. Semua orang tahu segalanya. Anyway, selamat. Tapi jangan sampai startup kamu ganggu fokus untuk sidang. Ini tetap penting."
"Saya tahu. Saya akan balance keduanya."
"Bagus. Sampai jumpa di sidang."
Sambungan terputus.
Rajendra memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu menyusul Arief, Rian, dan Dina yang sudah jalan duluan.
"Ada masalah?" tanya Dina melihat ekspresi Rajendra.
"Enggak. Justru kabar bagus. Sidang pengadilan gue kayaknya bakal menang."
"Serius? Wah, double good news hari ini!"
"Hopefully."
Mereka sampai kantor, ambil barang masing-masing, lalu berpisah di depan gedung.
Arief dan Rian naik motor ojek online bareng. Dina naik bus. Rajendra berjalan kaki ke halte terdekat.
Jakarta sore mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, jalanan mulai macet dengan orang pulang kerja.
Rajendra berjalan pelan, menikmati angin sore yang sedikit lebih sejuk dari siang tadi.
Ponselnya bergetar lagi, kali ini pesan.
Dari nomor tidak dikenal.
"Rajendra. Ini Papa. Tolong kita bicara. Papa tahu kamu marah. Tapi ini sudah terlalu jauh. Kita masih keluarga. Papa mohon."
Rajendra menatap pesan itu lama.
Papa mohon.
Julian Baskara, orang yang tidak pernah mohon ke siapa pun, sekarang mohon ke anaknya sendiri.
Ada bagian kecil di hati Rajendra yang tersentuh.
Tapi bagian yang lebih besar ingat, kehidupan pertamanya. Bagaimana Julian tidak pernah benar-benar peduli. Bagaimana semua ini bukan tentang keluarga, tapi tentang kontrol dan uang.
Rajendra mengetik balasan singkat.
"Kita bicara di pengadilan."
Pesan terkirim.
Lalu ia blokir nomornya.
Tidak ada gunanya terus-terusan buka komunikasi yang hanya akan bikin dia ragu.
Dia sudah pilih jalannya.
Sekarang tinggal jalan sampai akhir.
Bus datang sepuluh menit kemudian, cukup penuh tapi masih ada tempat duduk.
Rajendra duduk di pojok, menatap jendela, melihat Jakarta yang bergerak cepat di luar.
Hari ini adalah hari yang baik.
Dapat funding. Dapat bukti kuat untuk sidang. Tim solid. Semua berjalan sesuai rencana.
Tapi dia tahu, ini baru awal.
Funding baru masuk sebulan lagi. Sidang masih dua minggu lagi. Launch publik masih sebulan lagi.
Masih banyak yang bisa salah.
Masih banyak yang harus dikerjakan.
Tapi untuk malam ini, dia akan nikmati kemenangan kecil ini.
Karena kemenangan kecil adalah yang membuat perjalanan panjang jadi bearable.
Sampai kamar kos jam delapan malam, Rajendra langsung mandi, ganti baju rumah, lalu duduk di tepi kasur dengan laptop terbuka.
Ada email dari Richard, masuk jam tujuh tadi.
Subjek: Term Sheet - LokalMart Investment
Rajendra,
Attached term sheet untuk investment kami. Please review dan kalau ada pertanyaan, feel free untuk diskusi. Target signing seminggu dari sekarang, transfer dana pertengahan Agustus.
Key terms: - Investment amount: IDR 500,000,000 - Equity: 20% - Valuation: IDR 2,000,000,000 (pre-money) - Board seat: 1 seat untuk investor - Anti-dilution protection: weighted average - Reporting: monthly financial report
Best regards,
Richard Tanuwijaya
Rajendra membuka attachment, membaca term sheet halaman demi halaman.
Semua sesuai dengan yang mereka diskusikan tadi siang.
Tidak ada hidden clause. Tidak ada jebakan.
Bersih.
Dia balas email.
Pak Richard,
Terima kasih untuk term sheet-nya. Semua terlihat baik. Saya akan review dengan tim dan advisor saya, lalu kita schedule signing minggu depan.
Salam,
Rajendra Baskara
Email terkirim.
Rajendra menutup laptop, berbaring di kasur, menatap langit-langit.
Lima ratus juta.
Angka yang gila besar untuk dia yang dua bulan lalu cuma punya tiga juta di rekening.
Tapi angka itu juga tanggung jawab.
Tanggung jawab untuk deliver hasil. Tanggung jawab untuk tidak mengecewakan orang yang percaya padanya. Tanggung jawab untuk prove bahwa dia bukan anak konglomerat yang main-main, tapi entrepreneur serius yang tahu apa yang dia lakukan.
Ponselnya bergetar lagi, kali ini telepon.
Dari Dina.
Rajendra mengangkat.
"Halo?"
"Bos, sorry ganggu malem-malem. Gue cuma mau bilang, thanks buat hari ini. Thanks udah percaya sama gue, thanks udah kasih kesempatan, thanks udah jadi leader yang bener-bener lead, bukan cuma ngomong doang."
Rajendra tersenyum.
"Lu gak perlu bilang thanks. Lu udah kerja keras. Lu deserve semua ini."
"Gue tahu. Tapi tetep pengen bilang. Good night, bos. Besok kita lanjut kerja lagi."
"Good night, Din."
Sambungan terputus.
Rajendra menaruh ponselnya di meja, lalu menutup mata.
Besok masih panjang.
Masih banyak yang harus dikerjakan.
Tapi malam ini, untuk beberapa jam, dia akan tidur dengan tenang.
Tidur tanpa mimpi buruk.
Tidur dengan senyum kecil di wajah.
Karena hari ini, untuk pertama kalinya sejak lama, dia merasa dia berada di jalan yang benar.
Jalan yang dia pilih sendiri.
Bukan jalan yang dipilihkan oleh orang lain.
Pagi berikutnya, Selasa, Rajendra bangun jam enam dengan perasaan segar.
Tidak ada mimpi buruk semalam. Tidur nyenyak dari jam sepuluh sampai pagi.
Dia mandi, sarapan roti tawar dengan selai yang tersisa, lalu berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya.
Sampai kantor jam tujuh setengah, masih sepi, tidak ada siapa-siapa.
Rajendra membuka laptop, mulai menulis roadmap detail untuk tiga bulan ke depan.
Juli: finalisasi platform, soft launch untuk tester internal, mulai onboarding seller lebih banyak.
Agustus: hard launch publik, marketing campaign intensif, target GMV sepuluh juta.
September: evaluasi performance, iterate berdasarkan feedback, mulai hire tim tambahan dengan funding yang masuk.
Semua ditulis detail, dengan timeline spesifik, PIC jelas, KPI terukur.
Jam sembilan, Arief dan Rian datang, langsung lanjut coding untuk fitur-fitur tambahan yang masuk wishlist.
Jam sepuluh, Dina datang dengan laptop dan notes penuh dengan ide campaign marketing.
Mereka kerja seperti biasa, tapi ada energi berbeda hari ini.
Energi orang yang tahu mereka sedang membangun sesuatu yang real.
Sesuatu yang bukan cuma mimpi lagi.
Jam dua belas, Rajendra dapat telepon dari Anton.
"Rajendra, congratulations lagi untuk kemarin. Richard bilang dia impressed sama kamu. Jarang dia langsung approve investment secepat ini."
"Terima kasih, Pak Anton. Tanpa Bapak, gue gak akan ketemu Richard."
"Sama-sama. Oh ya, satu lagi. Minggu depan ada networking event untuk startup dan investor di Jakarta. Kamu mau datang? Good opportunity untuk expand network."
Rajendra berpikir sebentar.
Networking event berarti ketemu banyak orang, potential investor, potential partner, potential customer.
Tapi juga berarti waktu yang terpakai, energi yang terkuras.
"Kapan eventnya?"
"Sabtu depan, jam tiga sore sampai malam. Di hotel Mulia."
"Oke. Saya datang."
"Bagus. Nanti saya kirim invitation-nya. Dress code semi formal. Bawa business card kalau punya."
"Siap."
Sambungan terputus.
Rajendra menatap kalender di laptop.
Sabtu depan. Seminggu sebelum sidang pengadilan berikutnya.
Tight schedule.
Tapi opportunity seperti ini jarang datang.
Dia harus manfaatkan.
Sore itu, setelah semua orang pulang, Rajendra duduk sendirian lagi di kantor.
Laptop terbuka, tapi dia tidak kerja.
Cuma duduk. Menatap layar kosong. Berpikir.
Semuanya berjalan cepat.
Terlalu cepat.
Dua bulan lalu dia masih mahasiswa yang baru keluar dari keluarga, bingung mau ngapain, punya rencana tapi belum ada eksekusi.
Sekarang dia founder startup dengan funding setengah miliar, tim empat orang, platform yang hampir siap launch, investor yang percaya, dan sidang pengadilan yang hampir dimenangkan.
Semua bergerak sesuai rencana.
Terlalu sesuai rencana.
Dan itu yang bikin dia sedikit khawatir.
Karena di kehidupan pertamanya, setiap kali sesuatu berjalan terlalu mulus, pasti ada sesuatu yang salah di belakangnya.
Pasti ada jebakan yang belum kelihatan.
Pasti ada musuh yang bergerak diam-diam.
Rajendra menutup laptop, berdiri, berjalan ke jendela.
Menatap Jakarta sore yang mulai gelap.
Kota besar dengan jutaan orang, jutaan cerita, jutaan mimpi yang saling berbenturan.
Dia cuma satu orang kecil di kota ini.
Tapi dia punya keuntungan yang tidak dimiliki orang lain.
Dia tahu masa depan.
Atau setidaknya, dia tahu sebagian masa depan.
Dan dia akan pakai keuntungan itu untuk survive.
Untuk menang.
Untuk membuktikan bahwa kesempatan kedua ini tidak sia-sia.
[ END OF BAB 16 ]