NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 15: Gema di Ibu Kota

Asap dari api perak yang padam di menara Pharos perlahan menyatu dengan kabut pagi yang dingin di Pelabuhan Utara. Keheningan yang menyusul keruntuhan menara itu terasa asing—sebuah ketenangan yang memekakkan telinga setelah badai sihir yang hampir menghancurkan segalanya. Elara duduk di atas tumpukan peti kayu di dermaga yang masih utuh, bahunya dibungkus rapat oleh jubah militer Alaric. Ia menatap telapak tangannya; bekas luka sayatan untuk ritual tadi sudah dibalut rapi oleh Alaric sendiri, namun sensasi panas dari relik yang hancur masih terasa seperti hantu di kulitnya.

Di depannya, Alaric sedang memberikan perintah terakhir kepada Kael untuk mengevakuasi sisa ksatria manusia. Para Ksatria Perunggu—The Drowned Knights—kini kembali menjadi patung-patung tak bernyawa yang berdiri tegak di sepanjang pantai, seolah menunggu perintah berikutnya dari darah Lane yang telah membebaskan mereka.

"Julian sudah mati, tapi dia bukan pemimpinnya," ucap Elara tiba-tiba, suaranya parau namun jernih.

Alaric menghentikan bicaranya dengan Kael dan berbalik. Ia berjalan mendekati Elara, lalu berlutut di depannya agar mata mereka sejajar. "Aku tahu. Julian hanyalah ujung tombak yang haus kekuasaan. Solis Invicta masih memiliki hierarki yang lebih dalam di ibu kota. Penghancuran menara ini akan membuat mereka murka."

"Biarkan mereka murka," balas Elara, matanya berkilat tajam. "Aku sudah lelah bermain bertahan, Alaric. Selama ini aku hanya mencoba mencegah kematianku sendiri. Tapi sekarang, aku akan menghancurkan alasan mengapa mereka ingin aku mati."

Perjalanan Kembali yang Berbahaya

Keputusan diambil untuk segera kembali ke ibu kota sebelum berita tentang kehancuran dermaga tujuh menyebar dan diputarbalikkan oleh musuh. Kereta kuda mereka melaju lebih cepat dari biasanya, dikawal oleh ksatria pilihan yang telah melewati sumpah darah di depan Alaric.

Di dalam kereta, Elara tidak beristirahat. Ia membentangkan sebuah perkamen tua yang ia ambil dari reruntuhan kantor Barney. Itu adalah daftar nama investor lama Pelabuhan Utara yang telah dihapus secara resmi, namun masih tercatat di pembukuan rahasia kakeknya.

"Lihat ini, Alaric," Elara menunjuk sebuah nama yang ditulis dengan tinta emas pudar. "Keluarga Valois. Mereka adalah menteri keuangan kekaisaran saat ini. Mengapa mereka mendanai pembangunan dermaga tujuh lima puluh tahun lalu, padahal saat itu mereka dikenal sebagai musuh bebuyutan keluarga Lane?"

Alaric menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Menteri Valois adalah orang kepercayaan Kaisar. Jika dia terlibat dalam Solis Invicta, berarti jantung pemerintahan kita sudah membusuk."

"Itulah sebabnya Adrian dan Isabella begitu percaya diri," Elara menyimpulkan. "Mereka bukan hanya didukung oleh keluarga bangsawan jatuh miskin, tapi oleh orang-orang yang memegang kunci pundi-pundi negara. Kita tidak bisa langsung menyerang Valois tanpa bukti kuat, atau kita akan dianggap sebagai pemberontak."

Tiba-tiba, kereta berguncang hebat. Suara dentingan pedang terdengar dari luar, diikuti oleh teriakan peringatan dari Kael.

"Penyergapan!"

Hujan Panah Hitam

Pintu kereta ditendang terbuka dari luar oleh Alaric yang langsung menarik Elara keluar tepat saat sebuah anak panah berapi menembus atap kereta. Di sekeliling mereka, di jalan setapak hutan yang sempit menuju ibu kota, puluhan pembunuh bayaran berpakaian hitam dengan topeng matahari terbelah muncul dari balik pepohonan.

Ini bukan sekadar preman bayaran; gerakan mereka sangat terkoordinasi. Mereka menggunakan panah yang telah diolesi sihir penghambat gerakan.

"Lindungi Nona Elara!" Kael berteriak sambil membelah kepala salah satu penyerang.

Alaric berdiri di depan Elara seperti tembok yang tak tertembus. Duskbringer menari di tangannya, memotong anak panah di udara dan menebas siapa pun yang berani mendekat dalam radius tiga meter. Namun, jumlah musuh terus bertambah.

"Mereka ingin kita tidak sampai ke ibu kota hari ini," Elara menyadari. Ia meraba kantong alkimianya, namun ia tersadar bahwa sebagian besar persediaannya habis di menara bawah laut. Ia hanya memiliki satu botol cairan sisa—Flash of Purity.

"Alaric! Merunduk!" teriak Elara.

Elara melemparkan botol itu ke tanah di tengah kerumunan penyerang. Bukan ledakan yang terjadi, melainkan kabut putih yang sangat menyilaukan dan bersifat korosif bagi mereka yang memiliki energi sihir hitam di tubuhnya. Para pembunuh Solis Invicta berteriak kesakitan saat kulit mereka yang terinfeksi sihir hitam mulai melepuh.

Memanfaatkan celah itu, Alaric menerjang maju dan menghabisi sisa penyerang dalam hitungan detik. Hutan itu kembali sunyi, menyisakan bau daging terbakar dan besi.

Pesan dari Bayangan

Di saku salah satu penyerang yang tewas, Alaric menemukan sebuah gulungan kecil yang disegel dengan lilin hitam. Ia membukanya dan wajahnya berubah drastis.

"Apa isinya?" tanya Elara cemas.

Alaric menyerahkan gulungan itu. Di sana hanya tertulis satu baris kalimat:

"Marquess Lane sedang menunggumu untuk minum teh terakhirnya."

Jantung Elara seolah berhenti. Ayahnya. Musuh tahu bahwa Elara telah memenangkan pertempuran di pelabuhan, dan mereka langsung menggunakan kartu truf terakhir mereka di ibu kota.

"Kita harus sampai di sana sekarang, Alaric! Persetan dengan protokol!" Elara berlari menuju salah satu kuda ksatria yang masih berdiri.

Alaric menangkap lengannya. "Elara, ini jebakan. Jika kita masuk tanpa rencana, kita akan mati bersama ayahmu."

"Aku tidak peduli!" Elara berteriak, air mata kemarahan menggenang di matanya. "Aku tidak kembali dari kematian hanya untuk melihat ayahku dibunuh lagi! Jika mereka ingin darah Lane, mereka akan mendapatkannya, tapi aku akan memastikan mereka tenggelam di dalamnya!"

Alaric menatap intens ke dalam mata merah muda Elara yang kini membara. Ia menghela napas, lalu melompat ke atas kuda yang sama dan menarik Elara ke depannya. "Kael! Bawa sisa pasukan langsung ke kediaman Lane. Gunakan otoritas Grand Duke untuk menutup jalan-jalan utama! Siapa pun yang menghalangi, anggap sebagai pengkhianat negara!"

Konfrontasi di Kediaman Lane

Mereka memacu kuda dengan kecepatan gila, mengabaikan rasa lelah dan luka-luka kecil. Saat gerbang kediaman Lane terlihat, Elara melihat pemandangan yang aneh. Tidak ada tanda-tanda pertempuran. Gerbang terbuka lebar, dan lampu-lampu rumah menyala terang benderang seolah-olah sedang menyambut tamu kehormatan.

Elara turun dari kuda dan berlari masuk ke dalam aula utama, diikuti oleh Alaric dengan pedang terhunus.

Di ruang makan utama, Marquess Lane duduk dengan tenang di kepala meja. Namun, di sampingnya, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian menteri yang sangat rapi. Pria itu sedang menuangkan teh ke dalam cangkir Marquess Lane dengan gerakan yang sangat anggun.

Menteri Valois.

"Ah, Nona Elara, Grand Duke," Valois tersenyum ramah, seolah-olah mereka hanya terlambat untuk makan malam. "Kalian tampak sangat berantakan. Apakah perjalanan dari pelabuhan begitu melelahkan?"

Marquess Lane menatap Elara dengan mata sayu, seolah-olah ia berada di bawah pengaruh sihir manipulasi pikiran. "Elara... duduklah. Menteri Valois baru saja menjelaskan tentang investasi baru yang akan menyelamatkan keluarga kita."

Elara mengepalkan tangannya di balik jubahnya. Ia bisa mencium aroma samar melati di ruangan itu—aroma yang sama dengan racun yang membunuhnya di masa lalu.

"Lepaskan ayahku, Valois," suara Elara dingin seperti es. "Aku tahu tentang koin emas itu. Aku tahu tentang dermaga tujuh. Dan aku tahu Julian hanyalah pelayanmu."

Valois meletakkan tekonya dan tertawa kecil. "Nona Elara, Anda terlalu cerdas untuk kebaikan Anda sendiri. Memang benar, Julian adalah eksperimen yang gagal. Tapi Pelabuhan Utara? Itu hanyalah permulaan. Yang kami inginkan adalah apa yang mengalir di dalam pembuluh darah keluarga Lane sejak zaman kuno—kemampuan untuk berkomunikasi dengan 'Sesuatu' di balik pintu kehampaan."

Alaric melangkah maju, ujung pedangnya berada beberapa inci dari leher Valois. "Satu kata lagi, dan kepalamu akan menghiasi meja makan ini."

Valois sama sekali tidak tampak takut. "Bunuhlah aku, Alaric. Tapi jika jantungku berhenti berdetak, pelayan di dapur akan menjatuhkan satu tetes racun 'Lethos' ke dalam teko ayahmu. Dan kita semua tahu, tidak ada alkimia di dunia ini yang bisa menyembuhkan Lethos setelah masuk ke aliran darah."

Elara membeku. Ini adalah jalan buntu yang mematikan. Ia menatap ayahnya, lalu menatap Valois yang tersenyum penuh kemenangan.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Elara, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.

Valois berdiri, merapikan jasnya. "Sangat sederhana. Besok adalah Sidang Agung Kekaisaran. Kau akan berdiri di sana, di depan Kaisar, dan menyatakan bahwa Grand Duke Alaric telah memaksamu untuk menghancurkan Pelabuhan Utara demi keuntungan pribadinya. Serahkan hak milik pelabuhan kepada kementerian keuangan, dan ayahmu akan tetap hidup untuk melihat hari tua."

Elara melirik Alaric. Jika ia melakukan itu, Alaric akan dituduh sebagai pengkhianat dan kemungkinan besar akan dieksekusi atau diasingkan. Namun jika tidak, ayahnya akan mati.

"Kau punya waktu sampai matahari terbit, Elara," Valois berbisik sambil berjalan melewati mereka menuju pintu keluar. "Pilihlah dengan bijak. Kekasih, atau keluarga?"

Setelah Valois pergi, Elara jatuh terduduk di lantai aula yang dingin. Alaric berlutut di sampingnya, mencoba menyentuh bahunya, namun Elara menarik diri.

"Dia benar, Alaric," bisik Elara. "Ini adalah jebakan yang tidak memiliki jalan keluar."

Alaric terdiam sejenak, lalu ia melepaskan pedangnya dan meletakkannya di depan Elara. "Jika kematianku bisa menyelamatkan ayahmu dan memberimu posisi untuk menghancurkan Valois dari dalam, maka ambillah kepalaku, Elara. Aku sudah memberikan hidupku padamu sejak hari pertama kita bertemu."

Elara mendongak, menatap mata Alaric yang penuh dengan pengabdian murni. Di saat itulah, sebuah rencana gila mulai terbentuk di kepala Elara—rencana yang melibatkan penipuan terbesar yang pernah dilihat kekaisaran.

"Tidak, Alaric," Elara berdiri dengan mata yang kini tidak lagi penuh air mata, melainkan penuh dengan kelicikan predator. "Kita tidak akan memberikan kepala siapa pun. Kita akan memberikan Valois sesuatu yang lebih baik: sebuah kemenangan palsu yang akan menjadi peti matinya sendiri."

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!