Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ubud
Kami berangkat ke Ubud keesokan paginya. Dua hari tiga malam—kalau tidak salah. Angkanya tidak terlalu penting bagiku, karena yang terasa jauh lebih jelas adalah perasaan saat itu. Seperti sedang keluar dari hidupku sendiri, meski hanya sebentar.
Perjalanan menuju Ubud terasa berbeda. Jalanan mulai menanjak, udara berubah lebih sejuk, dan pemandangan perlahan berganti menjadi hijau yang luas. Moses menyetir dengan santai, musik mengalun pelan di dalam mobil. Aku menatap keluar jendela, membiarkan mataku mengikuti setiap lekukan jalan, setiap pohon yang kami lewati.
Aku tidak banyak bicara. Tapi keheningan itu tidak berat.
Kami berhenti di sebuah tempat dengan hamparan persawahan. Aku tidak ingat namanya. Yang kuingat hanyalah hijau yang membentang sejauh mata memandang, angin yang bergerak pelan, dan rasa tenang yang datang tanpa diminta. Kami duduk, memesan kopi. Cangkir hangat di tanganku, aroma kopi bercampur dengan udara pagi yang bersih.
“Beautiful, right?” katanya.
Aku mengangguk. “Yeah. It’s quiet.”
Kami tidak membahas hal-hal besar. Tidak ada rencana masa depan. Tidak ada luka yang diungkit. Kami hanya duduk, menikmati kopi, menikmati keberadaan satu sama lain. Sesuatu yang terasa sangat sederhana, tapi entah kenapa langka dalam hidupku.
Setelah itu kami menuju villa. Tempatnya sunyi, agak tersembunyi, dikelilingi pepohonan. Kami meletakkan barang, lalu memutuskan untuk tidak ke mana-mana. Seolah dunia di luar pagar villa tidak penting untuk sementara waktu.
Malamnya hujan turun.
Hujan yang tidak deras, tapi cukup membuat udara terasa lebih dingin. Kami keluar berjalan kaki. Sekitar satu kilometer, mungkin lebih sedikit. Jalanan sepi. Lampu-lampu kecil dari rumah penduduk memantul di jalan basah. Aku menarik jaketku lebih rapat, dan Moses meraih tanganku.
Kami berjalan beriringan, bergandengan tangan.
Aku membeli buah-buahan di pinggir jalan. Pisang, dan beberapa buah lain yang namanya tidak lagi kuingat. Aku juga membeli pembalut dan obat kontrasepsi. Aku tidak mengatakan apa-apa saat membelinya. Moses juga tidak bertanya. Tapi di dalam diriku, ada keputusan yang kuambil dengan tenang.
Aku tidak ingin mengulang luka yang sama.
Aku tidak ingin tubuhku kembali menjadi tempat kehilangan.
Kami berjalan lagi. Bercanda. Tertawa kecil. Langkah kami selaras, seperti tidak terburu-buru ke mana pun. Di sepanjang jalan itu, perasaan aneh menyusup perlahan ke dadaku.
Oh ya Allah… ini yang selama ini aku cari.
Bukan janji besar. Bukan rencana yang megah. Tapi kebersamaan yang tidak menekan. Kehadiran yang tidak membuatku merasa harus selalu kuat. Untuk sesaat, aku lupa pada semua yang pernah membuatku runtuh.
Kami kembali ke villa, makan sebelum tidur. Aku memesan makanan sederhana—bakso dan nasi goreng. Kami makan sambil duduk berdekatan, berbagi porsi, berbagi cerita ringan. Perut kenyang, tubuh lelah, hati terasa lebih tenang.
Aku tertidur tanpa banyak pikiran malam itu.
Keesokan harinya kami pergi ke monkey Forest. Udara lembap, sedikit berkabut. Hujan turun rintik-rintik, tidak cukup deras untuk membuat kami lari, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih intim. Aku menggenggam tangannya lebih erat, mencoba menghangatkan jemarinya.
Aku bilang padanya bahwa tempat itu indah. Dan aku menyadari, keindahan bagiku bukan hanya soal pemandangan. Tapi tentang siapa yang berdiri di sampingku saat aku melihatnya.
Kami bercanda, menunggu hujan reda, lalu kembali. Di perjalanan, ada rasa tidak nyaman yang mulai muncul perlahan. Bukan pada Moses, tapi pada tempat kami menginap. Aku merasa tidak betah. Ada sesuatu yang mengganggu—kasurnya tidak nyaman, suara-suara kecil di malam hari, pinggangku mulai terasa sakit.
Aku mengatakannya padanya. Jujur, tanpa drama.
Ia mendengarkan.
Padahal ia sudah memesan villa itu untuk beberapa malam. Tapi aku sudah tidak tahan. Aku ingin pindah. Aku ingin ruang yang membuatku bisa tidur tanpa gelisah. Setelah beberapa usaha dan pertimbangan, Moses menurut. Kami pindah ke Canggu.
Namun Canggu juga tidak memberi apa yang kuharapkan.
Jarak ke mana-mana terasa jauh. Tempat-tempat di sekitar villa mahal dan sulit dijangkau. Aku mulai merasa lelah. Moses pun merasakan hal yang sama. Villanya kecil, ruangnya sempit. Kami seperti memaksakan diri untuk bertahan di tempat yang salah.
Akhirnya, kami memutuskan pindah lagi.
Padahal kami masih memiliki dua malam di villa itu. Tapi rasa tidak nyaman terasa lebih mahal daripada uang yang sudah terbayar. Kami pindah ke hotel di Seminyak. Hotelnya bagus, bahkan terasa terlalu mahal. Tapi di sana, aku bisa bernapas.
Di sana, kami tertawa lagi.
Kami menonton, bercerita, bercanda. Moses menyalakan musik dan mulai menari. Gerakannya kaku, tapi penuh semangat. Aku tertawa melihatnya. Ia tertawa balik, tanpa malu.
Untuk sesaat, kami seperti dua orang yang tidak membawa beban apa pun.
Di tengah semua itu, Moses tiba-tiba terdiam. Lalu ia berkata bahwa ia sedih melihatku seperti tidak punya teman untuk berbagi cerita. Ia menyuruhku mengundang Siki dan Amanda. Ia ingin aku tidak merasa sendirian. Ia ingin aku punya dunia selain dirinya.
Malam itu kami minum bersama. Alkohol mengalir, tawa terdengar lebih keras. Kami pergi ke klub. Musik berdentum, lampu berkilat. Aku berdansa, membiarkan tubuhku mengikuti irama.
Untuk sesaat, aku lupa bahwa hatiku pernah pecah.
Aku lupa bahwa tubuhku pernah kehilangan.
Aku hanya menjadi diriku—perempuan yang sedang mencoba hidup lagi.
Dan di tengah semua itu, aku sadar: kebahagiaan ini mungkin tidak sempurna. Mungkin tidak selamanya. Tapi nyata. Dan untuk saat itu, aku memilih menerimanya tanpa bertanya terlalu jauh.