Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian menyakitkan di acara keluarga
Helena hanya berdiri kebingungan karena Farhan pergi entah kemana, Nael yang dari awal datang sudah di ambil alih oleh oma dan opanya, sedangkan Freya juga Kenzo, tentu saja sudah bergabung dengan saudaranya yang lain. Jadi tinggal Helena sendiri yang tidak tahu harus melakukan apa.
Helena berdiri canggung diantara banyaknya saudara Farhan, tapi tidak ada satu pun yang menyapa dirinya, mereka melihatnya, tapi tidak ada satupun yang berniat menyapanya.
Helena tidak pernah tahu mengapa seluruh keluarga dari suaminya benar-benar tidak menyukai kehadiran dirinya, padahal mereka tidak pernah bertemu juga tidak pernah berinteraksi. Apakah ada hal yang salah dengan dirinya?
Helena menghela napas kecil, lalu mencari tempat duduk yang masih kosong, karena acara ini hanya menyediakan beberapa kursi dan sisanya akan berdiri, rasanya pegal sekali hanya berdiri dalam satu jam.
Begitu ia menemukannya, tempat itu malah langsung di duduki seorang bocah berumur lima tahun, Lagi-lagi Helena menghela napasnya.
Matanya mencari-cari keberadaan suaminya yang entah berada di mana, karena dari awal masuk rumah, Farhan langsung di bawa seorang pria yang tampak lebih tua darinya, sehingga mereka terpisah.
Helena tersenyum kecil ketika seorang wanita berkerudung putih memperhatikan dirinya, berharap wanita itu mau mengajaknya berbincang, karena canggung sekali berdiri di tengah keramaian tapi tidak ada satupun orang yang bisa diajak berbincang.
Tapi dugaan Helena salah, wanita itu langsung memalingkan wajahnya begitu Helena tersenyum kepadanya, Helena bisa apa? Ia sama sekali tidak berhak untuk marah kepada mereka.
Karena bosan, Helena mencoba mengelilingi rumah mertuanya, ia keluar dari tempat acara menuju ke halaman belakang yang ternyata langsung tersambung dengan ruangan tempat acara tadi diadakan.
Helena menatap takjub halaman belakang rumah yang dihiasi banyak lampu, bahkan ada kolam renang di dalam sebuah rumah yang terbuat dari kaca, belum lagi berbagai macam bunga yang menghiasi sekeliling taman, bangku-bangku putih panjang yang di desain khusus berbentuk hewan seperti kucing di atasnya, juga sebuah lampu yang menyorot ke setiap bangku di taman itu. Indah sekali.
Helena hendak melangkah ke arah bunga yang paling besar di antara bunga lainnya, tapi suara seseorang menghentikan langkahnya, tidak kencang, mirip seperti bisik- bisik, perlahan Helena melangkah mencari sumber suara itu.
Dan kakinya berhenti tepat di depan sebuah pohon besar yang begitu ri dang, tapi masih di penuhi lampu kuning yang melingkari pohon berwarna coklat itu.
Helena menyipitkan matanya begitu matanya melihat dua orang yang sedang duduk di atas bangku membelakangi pohon, satu perempuan dan satunya laki-laki, Helena mencoba berjalan lebih dekat lagi, agar ia bisa melihat siapa yang berbincang itu.
"Mas Farhan?" Helena mengerutkan keningnya heran begitu ia melihat Farhan, suaminya. Ia sangat mengenali perawakan suaminya, dari atas kepala sampai ujung kaki.
Karena penasaran, Helena sedikit maju untuk menguping pembicaraan mereka, karena sesuai yang diajarkan Farhan kepadanya, seorang wanita dan pria dilarang berduaan, apalagi jika bukan muhrim, itulah yang sedikit mengganggu pikiran Helena, ia benar-benar menerapkan apa yang pernah suaminya ajarkan Jadi ia sedikit heran melihat suaminya berbincang berduaan dengan seorang wanita di belakang pohon besar.
"Apa itu saudaranya?" monolog Helena.
Helena berjongkok di bawah pohon besar itu, dari tempatnya itu, ia bisa mendengar dengan jelas suara Farhan yang sedang berbincang-bincang itu. Helena melebarkan kupingnya agar ia tahu apa yang sebenarnya suaminya bicarakan di sini, bersama wanita lain.
"Aku minta maaf untuk kesalahanku yang membuat terluka, Farhan, tapi aku benar-benar menyesal sudah menyelingkuhi dirimu, aku benar-benar tidak bisa jauh dari anak-anak," ujar suara itu.
Helena melebarkan matanya begitu ia mendengar suara yang tidak asing, "apakah itu mbak Elnara? Dari apa yang dia ucapkan kepada mas Farhan, sepertinya itu memang mbak Elnara," lirih Helena.
"Aku butuh waktu enam bulan lagi untuk benar-benar bisa memaafkanmu, setidaknya satu tahun kamu harus bisa berubah menjadi lebih baik lagi Nara," suara lembut Farhan mengalun pelan, dan masuk ke dalam indra pendengaran Helena.
Helena merasa heran, kenapa sekarang suaminya berbicara begitu lembut kepada Elnara? Bukankah waktu itu ia mengatakan hal-hal kasar kepada mantan istrinya itu? Mengapa sekarang berubah menjadi lembut dan halus?
"Aku tahu, mama dan papa sudah memberitahuku, aku juga tahu alasan kamu menikahi seorang gadis bernama Helena itu," balas Elnara menatap Farhan dengan senyum kecilnya yang mampu mengingat para pria buaya di luar sana.
"Apa yang mama katakan?"
"Kamu menikahinya hanya karena kasian, kamu tahu betul keluarga besarmu sangat menentang siapapun menikah dengan seseorang yang awalnya bukan beraga islam,"
Farhan menoleh, membalas tatapan Elnara.
"Kamu lupa, jika kamu pun awalnya bukan islam?" tanya Farhan datar.
Elnara tersenyum, "memang aku bukan terlahir sebagai orang yang memeluk agama islam, tapi keluarga kamu pun memiliki hutang nyawa kepada ayah dan ibuku, itulah kenapa mama dan papamu merestui hubungan dan pernikahan kita, Farhan,"
"Apa kamu yakin keluarga besarmu masih akan menerima dirimu kembali, apalagi setelah kamu bermain di belakangku?" Farhan tersenyum remeh kepada mantan istrinya yang hanya bisa diam menunduk.
"Baik kamu dan juga Helena, tidak ada yang bisa di terima dengan baik di keluargaku, apalagi orang tua Helena yang sampai sekarang masih menjadi pelacur," ucap Farhan membuat Helena yang sedang mengupingnya menahan napas. Datanya tiba-tiba saja sesak, jadi inilah alasan kenapa keluarga Farhan tidak ada yang menyukai dirinya.
"Jelas aku dan Helena berbeda Farhan, Karena sampai kapanpun, keluarga Helena akan sangat terlihat rendah di hadapan keluargamu, terlebih lagi mamanya pernah menjadi pelacur kakak laki-lakimu,"
Farhan mengepalkan tangannya erat, apa bedanya mereka? sama-sama rendahan.
"Tidak ada bedanya, kamu dan Helena sama-sama menjijikan, jadi berhenti mengejar maaf dariku, aku tidak akan pernah kembali denganmu, Nara," ucap Farhan kembali dengan suara datar juga tegasnya.
"Lalu bagaimana dengan istrimu itu? Apa kamu akan tetap mempertahankannya, hah? Kamu bilang aku dan Helena sama saja, tapi mengapa kamu masih mempertahankan dirinya, terlebih anak-anakku tidak menyukai dirinya," balas Elnara sedikin menaikkan suaranya beberapa oktaf.
"Tidak perlu urus campur lagi dengan rumah tanggaku, Nara, aku bisa mengatasinya sendiri, dan untuk urusan Helena, itu menjadi urusanku,"
Elnara terkekeh, "rupanya kamu sudah jatuh cinta pada anak pelacur itu, hmm?"
Farhan semakin mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang sejak awal sudah terpancing dengan kehadiran Elnara di dalam acara ini.
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku dan juga rencanaku, aku bukan pria rendahan yang mau menikahi gadis hasil perzinahan sepertinya, suatu saat nanti dia akan sama sepertimu, Nara,"