NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Kamar utama yang luas itu terasa seperti ruang isolasi yang kedap udara.

Citra duduk meringkuk di atas sofa kulit di sudut ruangan, memeluk lututnya erat-erat. Ia tidak berani mandi, apalagi mengganti seragam kerjanya yang kusut. Ia hanya diam mematung di sana selama hampir dua jam, menunggu sang algojo datang. Setiap detak jarum jam raksasa berhias emas di dinding terasa seperti palu yang menghantam kepalanya yang masih berdenyut sisa demam. Luka bakar di punggung tangannya akibat tumpahan kopi semalam pun masih berair dan terasa perih setiap kali bergesekan dengan kain bajunya.

Tepat pukul setengah sebelas malam, suara knop pintu yang diputar memecah keheningan yang mencekam itu.

Ceklek.

Pintu terbuka lebar. Putra Mahesa Aditama melangkah masuk. Aura dingin seketika menyergap seisi ruangan, membuat bulu kuduk Citra berdiri.

Pria itu mengenakan kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku. Wajahnya keras bak pahatan es. Langkah kakinya yang terbalut sepatu kulit mahal berbunyi ketukan ritmis yang mengintimidasi di atas lantai parket. Hal yang paling menakutkan bagi Citra adalah... Putra sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Keangkuhannya begitu pekat, menganggap sosok istrinya yang gemetar di sudut ruangan tak lebih dari seonggok debu yang tak sengaja terbawa angin masuk ke kamarnya.

Putra berjalan ke meja rias, melepaskan jam tangan Rolex-nya dengan bunyi tang yang keras di atas kaca, lalu melonggarkan dasinya dengan tarikan kasar.

Citra menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. Tangannya gemetar hebat. Ia tahu, diam saja hanya akan membuat amarah pria itu semakin menumpuk. Dengan kaki yang terasa seperti jeli, Citra memaksakan diri bangkit berdiri.

"Mas Putra..." panggil Citra lirih, suaranya nyaris seperti bisikan angin yang rapuh.

Gerakan tangan Putra terhenti. Ia menatap pantulan Citra dari cermin meja rias. Matanya menyapu tubuh Citra dari atas ke bawah, seolah menilai barang rongsokan yang salah alamat. Tatapannya begitu tajam, menusuk tepat ke ulu hati.

"Siapa yang mengizinkan kamu bersuara?" desis Putra pelan, namun nadanya sangat mengancam.

Putra berbalik, berjalan perlahan mendekati Citra. Setiap langkah kakinya membuat Citra secara refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak sandaran sofa. Ia terjebak, persis seperti rusa yang tersudut oleh pemangsa.

"Ma-maafkan saya, Mas Putra..." Citra menunduk dalam-dalam, air matanya mulai menetes membasahi lantai. "Saya salah... Kemarin saya demam tinggi, saya takut merepotkan Mas Putra dan seisi rumah, jadi saya pulang ke rumah Ibu..."

"Tutup mulutmu."

Kalimat itu meluncur tajam bak silet, memutus segala pembelaan. Putra berdiri menjulang tepat di hadapan Citra. Ia tidak berteriak, tidak membentak histeris seperti Putri atau Kinan di lantai bawah tadi. Kemarahan Putra adalah jenis kemarahan yang hening, gelap, dan mematikan.

"Kamu pikir saya peduli kamu sakit, sekarat, atau mau mati sekalipun haa?" ucap Putra dingin, menatap jijik pada wajah istrinya yang pucat. "Yang saya pedulikan adalah, kamu melanggar aturan saya. Kamu keluar dari rumah ini tanpa izin, mematikan ponsel seolah mencari perhatian, dan membuat kekacauan di pagi hari karena tugasmu tidak beres."

"Saya minta maaf, Mas..." isak Citra tertahan, bahunya bergetar hebat.

"Maaf tidak akan menyetrika kemeja saya tadi pagi. Maaf tidak akan membuat sarapan saya terhidang tepat waktu," potong Putra tanpa belas kasihan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, mengurung Citra dengan aura intimidasinya. "Kamu sadar tidak betapa tidak bergunanya kamu disini? Kamu dibayar dengan status Nyonya Aditama, tinggal di mansion mewah, tapi melakukan tugas dasar sebagai pelayan saja kamu malah kabur benar-benar tidak becus."

Dada Citra sesak luar biasa, serasa dihimpit batu raksasa. Kata-kata Putri dan Kinan di ruang tamu tadi kembali terngiang. Beban. Benalu. Useless. Dan kini, suaminya sendiri mengonfirmasi semua hinaan itu tanpa ragu.

Putra menegakkan tubuhnya kembali, membuang muka seolah menatap Citra terlalu lama bisa membuatnya tertular penyakit mematikan.

"Mulai malam ini, saya tidak mau melihat wajahmu berkeliaran di area kamar saya," titah Putra mutlak. Pria itu menunjuk sebuah garis imajiner di karpet berbulu tebal itu. "Batasmu hanya dari pintu masuk sampai ke sofa itu. Jangan pernah melewati batas itu. Jangan sentuh kasur saya, jangan mencoba membuka lemari saya, dan jangan masuk ke walk-in closet saat saya ada di dalam."

Citra membelalakkan matanya yang basah. "Ta-tapi Mas... kamar mandinya ada di sebelah sana... Bagaimana.."

"Gunakan kamar mandi tamu di lantai bawah kalau kamu mau mandi atau buang air di malam hari. Kamar mandi di dalam sini eksklusif hanya untuk saya. Saya tidak sudi berbagi ruangan privasi dengan pembangkang yang bau sepertimu."

Citra menunduk sedih dengan aturan tersebut.

Aturan itu sungguh tidak masuk akal dan sangat merendahkan. Bagaimana jika ia ingin buang air kecil jam dua pagi? Ia harus menuruni tangga melingkar yang gelap, melewati ruang tamu yang sepi, dan menapak lantai marmer sedingin es dengan kaki telanjang. Namun, melihat rahang Putra yang mengeras, Citra tahu ia tidak punya ruang untuk membantah sekecil apa pun.

"Satu hal lagi," Putra melangkah mengambil remote AC di atas nakas, lalu dengan kejam menurunkan suhunya hingga 16 derajat Celcius. Hembusan angin buatan yang menusuk tulang itu langsung mengarah tepat ke sofa tempat Citra berada. "Saya suka tidur dalam keadaan sangat dingin. Kalau kamu kedinginan karena tidak punya selimut tebal di sofa rongsokanmu itu, itu deritamu. Jangan berani-berani mematikan AC atau menyentuh remote-nya."

Putra melempar remote itu ke kasur, lalu mengambil pakaian gantinya dan masuk ke kamar mandi, membanting pintunya dengan keras. Blam!

Tinggallah Citra yang mematung dengan tubuh yang mulai menggigil hebat. Bukan hanya karena hembusan AC yang menusuk kulit dan sisa demam yang belum sepenuhnya sembuh, tapi karena hatinya benar-benar beku.

Kamar yang luas ini kini terasa seperti penjara es di kutub. Citra duduk perlahan di sofanya, memeluk lututnya kuat-kuat. Ia bahkan tidak berani mengambil jaket tebal atau daster lengan panjang di dalam kopernya, karena koper butut itu berada di dekat lemari Putra melewati "batas" yang baru saja dibuat suaminya.

Malam itu, Putra tidur dengan lelap dan nyaman di bawah selimut goose down impor yang tebal di atas kasur king size-nya.

Sementara di sudut ruangan yang gelap, Citra meringkuk kedinginan, menggigit bibir bawahnya sendiri hingga berdarah agar suara giginya yang gemeretak atau isak tangisnya yang pilu tidak terdengar. Ia merasa seperti debu kotor di sudut ruangan, di mana kemewahan yang ada di sekelilingnya justru menyiksanya perlahan-lahan.

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!