⚠️MC NON MANUSIAWI‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Kematian 2
Semakin dalam mereka melangkah ke jantung Lembah Kematian, ilusi tentang sebuah hutan lebat perlahan memudar, digantikan oleh realitas geografis yang kejam.
Vegetasi merah karat menghilang, menyisakan lanskap berbatu yang tandus, diwarnai oleh retakan-retakan bumi yang memancarkan cahaya magma redup. Udara di zona ini tidak lagi berbau seperti darah segar atau tembaga, melainkan berbau belerang pekat dan ozon yang terbakar.
Namun, yang paling mengerikan dari zona ini bukanlah absennya kehidupan, melainkan kehadiran hukum alam yang menindas.
Gravitasi.
Setiap langkah terasa seperti memikul gajah jantan di atas pundak. Daya tarik bumi di sini berlipat ganda secara eksponensial setiap beberapa ratus meter. Tulang-tulang rawan mulai berderit. Paru-paru harus memompa lebih keras hanya untuk mengembang.
Lu Daimeng berjalan di barisan sayap kanan, dikelilingi oleh para kultivator Keluarga Qin. Mata Triple Pupil-nya berputar pelan, menengadah ke arah langit lembah yang tertutup oleh kabut tebal bercahaya merah.
"Formasi alami," gumam Lu Daimeng dalam hatinya. Enam pupilnya membedah untaian energi di langit.
Itu bukan buatan manusia. Itu adalah konvergensi Ley Lines (Nadi Bumi) yang telah memadat selama jutaan tahun, menciptakan jaring laba-laba energi di angkasa. Siapa pun yang berani terbang melebihi ketinggian lima meter akan memicu sistem pertahanan alam tersebut. Melanggar wilayah udara di sini sama dengan meminta eksekusi mati.
Dan seolah gravitasi belum cukup menyiksa, ujian sebenarnya turun dari atas.
WUUUSH... SSSHHH...
Suara mendesis terdengar dari balik kabut merah di langit.
"Berlindung! Aktifkan barier!" teriak Lei Zuan dari garis depan.
Dari langit, ribuan titik api meluncur turun. Itu bukan hujan air, melainkan hujan kerikil batu yang terbakar oleh gesekan formasi alami. Masing-masing batu itu hanya sebesar kepalan tangan, tapi kecepatannya menembus batas suara, dan massanya dipadatkan oleh gravitasi lembah.
Setiap kerikil jatuh dengan kekuatan setara pukulan ahli Ranah Roh Tahap 1.
BAM! BAM! BAM!
Hujan batu api itu menghantam tanah, menciptakan kawah-kawah kecil yang niezliczona.
Pasukan ekspedisi langsung panik. Tiga keluarga besar segera mengaktifkan kubah Qi perlindungan mereka. Cahaya keemasan, biru, dan ungu berpendar menahan gempuran dari langit.
Namun, menahan serangan setara Ranah Roh secara terus-menerus memakan biaya yang sangat mahal. Qi di dalam Dantian para kultivator tersedot dengan kecepatan yang mengerikan.
"Argh!"
Sebuah jeritan menyayat hati terdengar dari kubu Keluarga Lei.
Kubah pertahanan sayap kiri mereka berkedip akibat ketidaksinkronan aliran energi antar tetua. Dalam sepersekian detik celah itu terbuka, lima kerikil api melesat masuk.
Tiga tetua Keluarga Lei (Puncak Ranah Jiwa) tidak sempat bereaksi. Batu-batu itu menembus Qi pelindung tubuh mereka seperti peluru menembus kertas basah.
Dada mereka berlubang. Bau daging hangus seketika menyengat. Tubuh mereka ambruk ke tanah berbatu, mati sebelum sempat menyadari apa yang membunuh mereka.
Lei Zuan mengertakkan gigi, tombaknya memancarkan kilat untuk menambal celah tersebut. "Fokuskan Qi kalian! Jangan ada yang lengah atau kita semua mati di sini!"
Sementara kepanikan dan kematian melanda barisan lain, pemandangan di area Keluarga Qin sedikit berbeda.
Qin Chen mengibaskan kipas tulang naganya, menciptakan kanopi angin tajam yang mengiris setiap batu api yang jatuh ke arah kelompok intinya. Dia melakukannya dengan keanggunan seorang pelukis, tapi keringat tipis di dahinya menunjukkan bahwa ini bukan tugas yang mudah.
Lalu, mata Qin Chen tertuju pada sosok yang berjalan beberapa langkah darinya.
Lu Daimeng.
Dia tidak mengeluarkan satu tetes Qi pun. Dia tidak membentuk kubah pelindung.
Di punggungnya, cairan logam hitam pekat dari Pedang Jiwa Surgawi mengalir keluar, membentuk sayap tapi bukan untuk terbang, melainkan menyebar dan melengkung di atas kepalanya seperti sebuah payung raksasa atau perisai.
Ting! Ting! KLANG!
Batu-batu api itu menghantam sayap logam hitam tersebut dengan brutal. Namun, alih-alih tembus atau membuat logam itu memerah karena panas, batu-batu itu kehilangan momentumnya. Dark Null yang melapisi permukaan logam itu meniadakan energi kinetik dan panas dari batu-batu tersebut. Batu yang tadinya mematikan, jatuh menggelinding dari tepi 'payung' Lu Daimeng sebagai kerikil biasa yang sudah dingin.
Lu Daimeng berjalan di bawahnya dengan santai, langkah kakinya teratur, seolah sedang berjalan-jalan di taman saat gerimis musim semi. Sesekali, matanya memindai tanah, mencari logam dari senjata tetua yang mati untuk dikonsumsinya nanti.
"Teknik yang luar biasa," puji seorang Tetua Keluarga Qin, menatap Sayap logam itu dengan mata berbinar. "Strukturnya sangat kokoh. Tidak ada kebocoran energi sedikit pun. Pemuda itu memiliki efisiensi kontrol Qi yang berada di luar jangkauan pemahaman kita."
Qin Chen tersenyum tipis. "Itu karena dia tidak menggunakan Qi, Tetua. Dia menggunakan sesuatu yang lain. Mungkin dia memiliki metode kultivasi yang berbeda dari kita."
Di kubu Keluarga Lu, pemandangan itu tidak menimbulkan kekaguman, melainkan iritasi.
Lu Huang, yang berjalan di tengah formasi dengan zirah emasnya yang bersinar, menepis batu-batu api yang tembus dengan pukulan tangan kosongnya. Dia sangat kuat, tapi dia harus terus bergerak. Melihat adiknya berjalan santai di bawah 'Sayap' logam yang kini seperti sayap naga agung itu memicu arogansinya.
"Hei, Sampah!" Lu Huang berseru, suaranya menggelegar mengalahkan suara hujan batu. "Kudengar kau membantai banyak anjing di luar sana. Kenapa kekuatanmu hanya segini?."
Lu Zhuxin yang berada di dekat Lu Huang ikut tersenyum sinis. "Biarkan saja, Kakak Pertama. Dia hanya berani melawan binatang yang tidak memiliki akal. Di hadapan amarah alam, dia hanya tikus yang bersembunyi."
Provokasi murahan.
Di bawah sayap hitamnya, Lu Daimeng mendengarnya dengan sangat jelas. Telinganya yang telah berasimilasi dengan genetik naga bahkan bisa mendengar detak jantung mereka yang berdebar karena lelah.
Namun, Lu Daimeng bahkan tidak menoleh.
Ekspresinya sedatar permukaan danau es. Dia tidak merasa marah. Dia hanya merasa... bosan.
"Mereka memancingku untuk bereaksi," otak hibridanya melakukan kalkulasi instan. "Jika aku menyerang Lu Huang di sini, fluktuasi energi pertarungan kami akan memicu titik buta dari formasi udara. Hujan batu ini akan berubah menjadi badai meteor. Siapa pun yang bergerak memicu pertarungan eksternal di zona ini, dialah yang akan dibunuh oleh alam."
"Dia sengaja membuatku marah, untuk membunuhku tanpa mengotori tangannya." Gumam Lu Daimeng, wajahnya datar, pandangannya hanya berfokus ke depan.
Dia adalah seorang ahli strategi. Amarah karena provokasi adalah penyakit orang bodoh; bertahan hidup dan mendominasi di saat yang tepat adalah seni dari seorang jenius.
Dia mengabaikan mereka sepenuhnya, seolah Lu Huang dan Lu Zhuxin hanyalah suara jangkrik di pinggir jalan.
Melihat dirinya diabaikan, urat di dahi Lu Huang menonjol. Sebagai jenius tertinggi Keluarga Lu, diabaikan oleh seorang buangan adalah penghinaan terbesar.
Tiba-tiba, intensitas dari formasi alam berubah.
Kabut merah di langit berpusar hebat. Bukan lagi kerikil yang terbentuk, melainkan sebuah bongkahan batu magma seukuran kereta kuda.
WUUUUUSSSHH!
Batu raksasa itu jatuh, menargetkan area tepat di antara kubu Keluarga Lu dan posisi Lu Daimeng. Tekanan angin dari jatuhnya batu itu saja sudah cukup untuk membuat beberapa kultivator berlutut.
Lu Daimeng menatap batu itu dengan Triple Pupil-nya.
Kalkulasi selesai dalam seperseribu detik: Massa 500 ton. Kecepatan 300 meter per detik. Energi kinetik melampaui kapasitas penyerapan kanopi logamku saat ini. Jika aku memaksakan Dark Null untuk menghancurkannya itu akan menguras 40% energiku.
Tindakan rasional: Menghindar.
Lu Daimeng menarik kanopi logamnya, membiarkannya mencair ke punggungnya, lalu dengan gerakan footwork yang sangat efisien, dia meluncur sepuluh meter ke belakang, meninggalkan titik jatuhnya batu.
Melihat Lu Daimeng mundur, mata Lu Huang menyala oleh arogansi. Ini adalah panggungnya.
"Perhatikan baik-baik, Sampah!" raung Lu Huang.
Lu Huang tidak menghindar. Dia melangkah maju, langsung menuju jalur jatuhnya batu raksasa itu.
Aura Ranah Roh Tahap 5 miliknya meledak ke langit. Emas murni. Dari dalam tubuhnya, Qi spiritual memadat dan mewujud secara eksternal.
"Manifestasi Roh: Kura-kura Penopang Langit!"
Di atas tubuh Lu Huang, sebuah siluet kura-kura emas raksasa setinggi empat meter terbentuk dari energi murni. Cangkang kura-kura itu tampak nyata, dipenuhi dengan rune kuno yang berputar. Ini adalah bukti sejati seorang kultivator mencapai Ranah Roh.
Lu Huang menarik tinjunya ke belakang, lalu meninju ke langit, berbarengan dengan kura-kura rohnya yang mengangkat kepalanya.
DUUUAAARRRR!!!
Tinju Lu Huang dan batu magma seukuran kereta itu berbenturan.
Ledakan suara memekakkan telinga. Gelombang kejut menyapu radius lima puluh meter, menerbangkan debu dan kerikil.
Batu raksasa itu tidak hanya berhenti; ia hancur berkeping-keping. Hancur menjadi debu dan kerikil kecil yang meledak ke segala arah dalam satu pukulan absolut. Lu Huang berdiri di bawah hujan debu batu itu tanpa tergores sedikit pun, cangkang kura-kura rohnya melindunginya dengan sempurna.
Sorak sorai meledak dari pasukan Keluarga Lu. Ini adalah demonstrasi kekuatan mutlak.
Lu Huang menurunkan tinjunya, menoleh ke arah Lu Daimeng dengan seringai merendahkan.
"Inilah kekuatan Ranah Pembentukan Roh, Daimeng," kata Lu Huang, suaranya menggema penuh kemenangan. "Kami bisa mengeluarkan kekuatan jiwa kami, memberikannya bentuk, dan memperkuat serangan serta pertahanan hingga melampaui batas fisik. Sementara kau? Kau hanya ranah roh palsu."
Hening sejenak. Angin membawa debu vulkanik melewati wajah Lu Daimeng.
Lu Daimeng menatap kakaknya. Senyum tenang, namun mematikan, perlahan terbentuk di bibirnya.
"Tapi faktanya aku..." suara Lu Daimeng terdengar santai, tapi entah bagaimana menembus hiruk-pikuk lembah, "...lebih kuat darimu, jika kita ada diranah yang sama."
Lu Huang memicingkan mata. "Mulutmu besar untuk seseorang yang level energinya mentok di Ranah Jiwa."
"Tetap saja, Jika kita berada di ranah kultivasi yang sama," sambung Lu Daimeng, memiringkan kepalanya sedikit, "mungkin kau hanya akan setara dengan debu di bawah sol sepatuku."
Wajah Lu Huang mengeras. "Kau mencari mati!"
"Mati? Apa kau yakin bisa membunuhku Lu Huang," balas Lu Daimeng.
Dia menengadah ke langit.
Di atas sana, formasi alam tampaknya merespons fluktuasi energi besar dari pukulan Lu Huang tadi. Kabut merah berpusar lagi. Kali ini, sebuah batu magma raksasa dengan ukuran yang persis sama dengan yang dihancurkan Lu Huang, meluncur turun. Targetnya kali ini lurus ke arah Lu Daimeng.
Keluarga Qin, Lei, dan Lu menahan napas. Mereka ingin melihat apakah monster ini akan lari lagi, atau dia akan mati diremukkan batu.
Lu Daimeng tidak lari. Dia melebarkan kuda-kudanya.
"Kau membuatku tertawa Lu Huang, Kesombonganmu hanya sebatas menghancurkan batu," ucapnya.
Dari punggungnya, bukan logam yang keluar, melainkan kegelapan padat.
Bayangan itu membumbung tinggi, lalu memadat. Dalam sekejap, sesosok Avatar Ketiadaan setinggi tiga meter berdiri menjulang di belakang Lu Daimeng. Avatar itu tidak memiliki ciri wajah, hanya mata ungu menyala dan tubuh yang terbuat dari Dark Null murni yang menelan cahaya di sekitarnya.
Mata semua ahli Ranah Roh di tempat itu membelalak hampir keluar dari rongganya.
"Itu... Manifestasi Roh?!" jerit seorang Tetua Keluarga Lei. "Mustahil! Tingkat kepadatan energinya... dia jelas-jelas masih berada di Ranah Jiwa! Bagaimana dia bisa membentuk jiwa energi menjadi wujud solid?!"
"Tidak, itu berbeda," mata Qin Chen menyipit tajam, menganalisis dengan cepat. "Itu bukan Qi yang diberi jiwa. Itu adalah energi asing yang dipaksa mengambil bentuk oleh manipulasi mental yang ekstrem itu hanya manifestasi tiruan dari ranah roh. Tapi yang anehnya... stabilitas wujudnya sebanding dengan Manifestasi Ranah Roh Tingkat 2!"
"Tidak masuk akal, seorang Kultivator Ranah Jiwa tahap 6 (Soul Transformasi) membentuk Roh ( Spirit )." ucap salah satu Tetua keluarga Lei.
Batu raksasa itu jatuh semakin dekat. Angin panasnya mulai membakar rambut Lu Daimeng.
Lu Daimeng melapisi seluruh tubuhnya dengan Dark Null transparan hingga tubuhnya mengeluarkan uap panas.
Dia memasang kuda-kuda untuk meninju kearah atas. Avatar Ketiadaannya mengikuti gerakan itu dengan sinkronisasi sempurna.
HANTAM!
Tinju hitam Avatar itu menabrak batu magma.
BUMMM!
Berbeda dengan Lu Huang yang menghancurkan batu itu dalam satu pukulan epik, benturan ini terasa lebih mentah.
Avatar Lu Daimeng bergetar hebat. Lutut Avatar itu menekuk sedikit. Lu Daimeng sendiri merasakan tekanan fisik yang luar biasa mengalir kembali ke tubuh aslinya, memaksanya mundur setengah langkah. Batu itu tertahan di udara, retak di bagian bawahnya, tapi tidak hancur seketika.
Sorot mata Lu Huang berubah menjadi cemoohan. "Apa! Hanya itu? Sampah!"
"Aku bahkan mulai," bisik Lu Daimeng.
Otak hibridanya bekerja dengan kecepatan gila. "Uji coba pertama: gagal menghancurkan ikatan molekul batu. Kedua : Tingkatkan massa Avatar dan ubah menjadi serangan beruntun."
Lu Daimeng memompa lebih banyak energi dari keempat singularitas di perutnya.
"Memperbesar."
Dalam hitungan detik, Avatar Ketiadaan yang tadinya setinggi tiga meter, membengkak dua kali lipat menjadi raksasa enam meter. Bayangan hitamnya menutupi seluruh area keluarga Qin.
Lu Daimeng tidak mencoba menghancurkannya dalam satu pukulan—Energinya saat ini memang hanya setara kultivator jiwa, jika dia memaksa lebih tenaganya akan terkuras dan memberikan peluang Lu Huang atau Lu Zhuxin untuk menyerangnya.
Lu Daimeng kembali memukul hingga kedua lengan Avatar itu bergerak kabur.
ORA! ORA! ORA! ORA! (BAM! BAM! BAM! BAM!)
Avatar itu menggunakan batu raksasa seberat lima ton yang tertahan di udara itu sebagai samsak tinju.
Setiap pukulan dilapisi Dark Null yang merusak struktur batu. Pukulan pertama membelah batu itu menjadi dua. Pukulan ketiga memecahnya menjadi empat. Pukulan kesepuluh menghancurkannya menjadi seratus bongkahan.
Dalam waktu tiga detik, Avatar itu melontarkan dua puluh pukulan brutal berturut-turut.
Batu raksasa itu tidak meledak ke segala arah, melainkan dihancurkan menjadi kerikil-kerikil kecil yang berjatuhan tanpa tenaga di sekitar kaki Lu Daimeng.
Avatar hitam itu perlahan menyusut dan kembali masuk ke dalam punggung Lu Daimeng.
Lu Daimeng menarik napas panjang. Jantung manusianya terus melemah dan berdenyut nyeri, tapi jantung naganya memompa adrenalin yang memuaskan.
Keheningan yang mencekam turun di atas plato itu.
Lu Huang terdiam. Seringainya hilang.
Secara kekuatan mutlak, perbandingannya sangat jelas. Lu Huang (Ranah Roh Tahap 5) bisa menghancurkan batu itu dengan santai dalam satu pukulan. Lu Daimeng (setara Jiwa Tahap 6) butuh usaha ekstra, membesarkan avatarnya, dan memukulnya berkali-kali. Jarak kekuatan murni di antara mereka masih sangat jauh.
Tapi itu bukan poin yang membuat semua orang merinding.
Poinnya adalah: Lu Daimeng mampu menghancurkannya.
Seseorang dengan energi setara Ranah Jiwa baru saja menunjukkan daya hancur yang mampu mengancam nyawa seorang ahli Ranah Roh biasa. Hukum dunia kultivasi menyatakan bahwa Ranah Jiwa di depan Ranah Roh adalah semut di depan sepatu bot.
Lu Daimeng baru saja membuktikan bahwa dia adalah semut besar yang bisa melubangi perut lawannya.
Qin Chen menutup kipasnya perlahan, senyum penuh kekaguman terukir di wajahnya. "Monster apa yang dibuang keluarga Lu ini," batinnya. "Jika dia berhasil menembus belenggu Ranah Jiwa dan benar-benar mencapai kepadatan Ranah Roh... bahkan Lu Huang tidak akan bisa bertahan sepuluh jurus melawannya."
Di sisi lain, Lei Zuan tidak ingin kalah panggung. Ketika sebuah batu raksasa mengarah ke kubu Keluarga Lei, dia melompat dengan tombaknya.
"Bor Petir Pembelah Langit!"
Lei Zuan memutar tombaknya, memanifestasikan ular piton petir raksasa yang mengebor lurus menembus batu tersebut, menghancurkannya dari dalam.
Qin Chen juga bereaksi saat serpihan batu besar mengancamnya. Dia mengibaskan kipasnya dengan gemulai. "Tebasan Pemisah."
Angin tak terlihat memotong ruang di depan batu itu, membuat batu raksasa tersebut terbelah menjadi dua bagian halus yang jatuh melewati sisi kiri dan kanannya tanpa menyentuh jubahnya sedikit pun.
Ketiga pemimpin sejati dari ekspedisi ini telah menunjukkan taring mereka.
Lu Daimeng menatap mereka satu per satu. Dia menyimpan data kekuatan mereka di dalam otaknya. Lei Zuan cepat dan mematikan. Qin Chen presisi dan manipulatif. Lu Huang adalah monster dengan daya hancur dan pertahanan paling mengerikan disini.
"Lanjutkan perjalanan," perintah Qin Chen, memecah keheningan. "Banyak sumber daya yang sudah menunggu kita. Simpan tenaga kalian untuk beast tingkat tinggi didalam."
Rombongan kembali bergerak maju. Hujan batu api perlahan mereda seiring mereka keluar dari zona formasi, memasuki jurang terdalam Lembah Kematian.
Bersambung...