Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Lobi utama gedung Design NYU pagi itu mendadak hening seolah seseorang baru saja menekan tombol mute pada keramaian Manhattan. Suara sepatu bot kulit Audrey yang beradu dengan lantai marmer terdengar ritmis, namun jantung di balik trench coat kremnya berdegup jauh lebih liar.
Hari ini, Danisha Audreyna Richard tidak lagi membiarkan rambutnya terbang dipermainkan angin. Sehelai hijab sutra berwarna nude melilit rapi, membingkai wajahnya yang cantik dengan cara yang sangat anggun dan berwibawa.
POV: Audrey
Aku bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju padaku. Ada bisikan yang merambat di antara koran-koran mahasiswa, ada tatapan kaget dari mereka yang mengenalku sebagai gadis bebas di SMA. Tapi aku tidak peduli. Satu-satunya sepasang mata yang kucari adalah milik pria yang duduk di meja tinggi dekat jendela kafe kampus.
Keenan.
Dia ada di sana, seperti biasa, tenggelam dalam dunianya sendiri. Aku berjalan melewatinya, sengaja memperlambat langkahku. Hatiku berteriak, Lihat aku, Keenan. Lihat apa yang kulakukan setelah kata-katamu malam itu.
Aku berharap dia mendongak. Aku berharap dia menatapku dengan tatapan yang sama seperti saat dia membelaku di lobi apartemennya. Namun, dari sudut mataku, dia tetap bergeming. Wajahnya sedingin es, fokusnya seolah hanya pada layar laptop di depannya. Tidak ada sapaan, tidak ada lambaian tangan seperti kemarin.
"Dia benar-benar tidak peduli," bisikku dalam hati dengan rasa kecewa yang mendalam.
Aku terus berjalan menuju meja teman-temanku. Chloe, Bella, dan Sarah sudah menungguku dengan mulut ternganga.
"Audrey? Demi Tuhan, kau... kau memakainya?" Bella hampir menjatuhkan gelas kopinya.
"Ya. Ini keputusanku," jawabku singkat sambil duduk.
"Tapi Drey," Sarah mendekat, berbisik dengan nada cemas. "Kau tahu kan, kalau kau melakukan ini untuk menarik perhatian Keenan, itu akan sia-sia."
Aku mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Keenan itu bukan Muslim, Audrey," Sarah melanjutkan, wajahnya serius. "Dia mengikuti maminya. Semua orang tahu itu. Keluarga besarnya dari pihak ibu adalah kalangan elit Amerika-Prancis yang sangat liberal. Dia tidak akan mengerti kenapa kau membungkus dirimu seperti ini. Baginya, kau mungkin baru saja membangun tembok yang tidak akan pernah dia lompati."
Aku terdiam. Dadaku sesak. Aku tidak tahu tentang latar belakang ayahnya, yang kutahu hanyalah apa yang teman-temanku katakan. Jadi, ini alasannya dia bahkan tidak menoleh padaku? Karena baginya, aku kini adalah simbol dari sesuatu yang tidak ia pahami?
POV: Keenan
Aku tahu dia datang sebelum dia menginjakkan kaki di lobi. Aroma parfumnya yang lembut, perpaduan antara melati dan vanila, selalu lebih dulu sampai sebelum bayangannya. Tapi saat sudut mataku menangkap warna kain yang melilit kepalanya, tanganku yang sedang mengetik di atas keyboard mendadak kaku.
Danisha.
Dia benar-benar melakukannya. Dia tidak hanya bersumpah dengan lisan, dia kini memanifestasikan sumpahnya dalam identitas yang paling berani di kota yang menghakimi ini.
Aku tetap menunduk, menatap layar laptopku yang kini hanya berisi barisan huruf yang tak terbaca. Aku tidak berani mendongak. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku takut jika aku menatapnya sekarang, wajah dinginku akan hancur. Aku takut dia akan melihat betapa besarnya kekaguman yang membuncah di dadaku.
Luar biasa, pikirku.
Semua orang di meja ini berbisik tentang betapa "sayangnya" kecantikan Audrey disembunyikan. Mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu betapa mahalnya sebuah prinsip di mata pria yang tumbuh dengan ajaran ayah yang taat namun memilih jalan yang berbeda.
Aku melihatnya dari pantulan kaca jendela. Dia tampak sangat tenang, meski aku tahu dia sedang mencariku. Aku melihat kekecewaan di matanya saat aku tetap bergeming.
Maafkan aku, Audrey, batin dan jiwaku bersuara. Aku tidak bisa menatapmu sekarang karena aku sedang menghormati kesucian yang baru saja kau pilih. Jika aku menatapmu dengan cara yang sama seperti pria lain menatap keindahan fisikmu, maka aku tidak ada bedanya dengan Rafael.
Mendengar bisikan teman-temannya yang mengatakan aku bukan Muslim, aku hanya bisa tersenyum sinis di dalam hati. Mereka tidak tahu bahwa di dalam darahku mengalir garis keturunan seorang pria yang bersujud lima kali sehari. Mereka tidak tahu bahwa justru karena aku memahami Islam melalui ayahku, aku tahu betapa besarnya keberanian yang Audrey miliki pagi ini.
Bagiku, dia bukan sedang membangun tembok. Dia sedang membangun singgasana. Dan seorang pria sepertiku, yang sudah memilih jalannya sendiri, merasa belum cukup layak untuk sekadar menyapa ratu yang baru saja mengenakan mahkota kesuciannya.
Audrey mencoba fokus pada buku desainnya, namun bayangan Keenan yang dingin tetap menghantuinya. Tiba-tiba, sesosok pria berdiri di depan mejanya. Bukan Keenan, melainkan Rafael.
"Wah, wah," Rafael tertawa hambar, matanya menatap hijab Audrey dengan tatapan merendahkan. "Jadi ini gaya baru kesetiaan untuk kekasih barumu? Kamu benar-benar sudah gila, Audrey. Kamu pikir dengan begini pacar mu itu akan makin cinta? Kamu makin terlihat seperti lelucon di NYU."
Audrey merasa tangannya gemetar di bawah meja. Ia ingin membalas, namun lidahnya kelu.
Tiba-tiba, suara kursi yang digeser dengan kasar terdengar dari meja pojok. Keenan berdiri. Ia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tajam dan berjalan lurus ke arah mereka.
Langkah kaki Keenan yang mantap membuat Rafael refleks mundur satu langkah. Keenan berdiri tepat di samping Audrey, tidak menyentuhnya, namun kehadirannya seperti badai yang siap menghancurkan apa saja.
"Rafael," suara Keenan rendah, namun setiap katanya terasa seperti belati es. "Aku pikir aku sudah memintamu untuk tidak mengganggu mahasiswi di sini."
"Nan, lihat dia! Dia jadi aneh begini—"
"Dia tidak aneh," potong Keenan tajam. Matanya yang dingin kini menatap Rafael dengan kilat yang mengerikan. "Dia hanya memiliki sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti: Kelas. Dan jika kau mengucapkan satu kata lagi tentang pakaiannya, aku pastikan keanggotaanmu di klub mobil akan dicabut sore ini juga. Keluar."
Rafael memucat. Ia tahu Keenan tidak pernah main-main. Tanpa kata, Rafael berbalik dan pergi dengan langkah seribu.
Setelah Rafael pergi, suasana kembali sunyi. Audrey mendongak, matanya bertemu dengan mata Keenan. Untuk pertama kalinya hari itu, Keenan menatapnya. Bukan tatapan dingin, bukan tatapan menilai.
Itu adalah tatapan penghormatan.
"Terima kasih, Keenan," bisik Audrey. "Aku pikir kau tidak menyukai... perubahanku."
Keenan terdiam sejenak. Ia melirik hijab Audrey, lalu kembali ke matanya. "Aku tidak perlu menyukai atau tidak menyukainya, Audrey. Itu pilihanmu. Tapi aku harus mengakuinya..."
Keenan menjeda kalimatnya, suaranya melembut hanya untuk didengar oleh Audrey. "Kau tampak jauh lebih bercahaya hari ini daripada malam itu. Jangan biarkan siapa pun meredupkannya."
Setelah mengatakan itu, Keenan berbalik dan pergi meninggalkan kantin tanpa menoleh lagi. Audrey terpaku di kursinya. Teman-temannya di sampingnya terdiam, bingung dengan interaksi singkat yang penuh ketegangan itu.
Audrey tersenyum di balik rasa harunya. Sarah bilang Keenan tidak akan mengerti karena dia bukan Muslim. Tapi Audrey merasa, justru Keenan-lah satu-satunya orang di kampus ini yang benar-benar memahami arti dari kain yang ia kenakan.
Di kejauhan, Keenan berjalan menuju kelasnya dengan tangan di saku. Ia menarik napas panjang. Ayahnya benar, mencintai satu wanita itu dimulai dengan cara menghormati prinsipnya. Dan meskipun ia tidak berdiri di atas sajadah yang sama, Keenan tahu, hatinya baru saja menemukan rumah yang ingin ia tuju.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
siap2....
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku