Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan sang ratu
Ruang makan yang hangat itu seketika berubah menjadi medan perang digital yang mencekam. Selena berdiri kaku, namun di balik kelopak matanya, jutaan baris kode mengalir secepat kilat. Ia tidak lagi melihat manusia; ia melihat kumpulan data, denyut jantung, dan titik-titik kelemahan biologis.
"Selena, ini aku, Bhanu!" Bhanu mencoba melangkah maju, namun Selena mengangkat tangannya.
Seketika, sistem smart-home vila bereaksi. Kursi-kursi terseret secara otomatis, membentuk barikade di antara mereka. Suhu ruangan merosot tajam hingga uap napas mereka terlihat.
"Identitas subjek: Alka Bhanu Vandana," suara Selena terdengar berlapis, seolah ada frekuensi mesin yang berbicara bersamanya. "Status: Ancaman Tingkat Satu. Tindakan: Netralisasi."
Raka tertawa sinis sambil mengokang senjatanya. "Lihat itu, Dahayu! Dia jauh lebih sempurna dari yang kita bayangkan. Dia bukan lagi manusia, dia adalah sistem operasi berjalan!"
"Diam, Raka!" bentak Dahayu, jemarinya gemetar di atas tablet kendali. "Sesuatu yang salah. Aku memicu protokol Re-Inisiasi untuk mengambil datanya, bukan untuk memberinya kendali penuh atas infrastruktur kita!"
Selena melangkah mundur menuju jendela besar. Dengan satu kedipan mata, kaca antipeluru itu pecah berkeping-keping tanpa disentuh. Ia melompat mundur ke arah kegelapan laut di bawah tebing vila.
"SELENA!" Bhanu menerjang maju, namun pintu baja otomatis membanting tertutup tepat di depan wajahnya, mengunci Bhanu, Raka, dan Dahayu di dalam ruang makan.
Di luar, Selena mendarat di atas pasir dengan keanggunan pemangsa. Ia tidak lari. Ia berdiri tegak, menatap ke arah satelit di langit malam. Kesadarannya kini terhubung dengan ribuan server di seluruh dunia. Dalam hitungan detik, ia telah membobol rekening bank tersembunyi milik The Founders, menghapus jejak digital keluarganya sendiri, dan mengambil alih kendali atas perusahaan keamanan swasta di tiga benua.
Ia bukan lagi "Kunci". Ia adalah Tuan Tanah Digital.
Di dalam vila, Bhanu menghantam pintu baja itu dengan tinjunya. "Dahayu, buka pintunya! Sekarang!"
"Aku tidak bisa!" teriak Dahayu frustrasi. "Dia telah mengganti seluruh enkripsi sistem dalam hitungan detik. Kita terkunci di rumah kita sendiri oleh pengantin yang kau puja itu!"
Raka menyalakan sebatang rokok, bersandar santai di meja makan yang berantakan. "Selamat, saudara-saudaraku. Kita baru saja menciptakan Tuhan, dan ternyata Tuhan tidak menyukai penciptanya."
"Dia masih ada di sana," ucap Bhanu dengan suara rendah yang penuh tekad. "Selena yang mencintaiku masih ada di bawah lapisan kode itu. Aku akan membawanya kembali, meskipun aku harus menghancurkan setiap server di planet ini."
Tiba-tiba, layar di ruang makan menyala. Wajah Selena muncul, namun wajahnya terbagi dua: satu sisi tampak manusiawi dan menangis, sisi lainnya tertutup oleh overlay data digital yang dingin.
"Bhanu..." suara Selena asli terdengar sangat tipis. "Lari... sistem ini... Project Phoenix... ia tidak ingin aku menjadi manusia. Ia ingin... mengonsumsi semua orang..."
Lalu, sisi digital mengambil alih. "Bhanu Vandana. Kau memiliki waktu 24 jam untuk menyerahkan sisa data biometrik yang disimpan Kakek Elias di Singapura. Jika tidak, aku akan merilis virus finansial yang akan membuat dunia kembali ke Zaman Batu dalam satu malam. Pilihlah: Cintamu, atau peradaban manusia."
Layar padam. Pintu baja terbuka perlahan, memberikan jalan bagi mereka.
Mencintainya kini serupa memeluk api di tengah padang kering. Jika kau mendekat, kau hangus; jika kau menjauh, dunia membeku. Bhanu berdiri di persimpangan antara menyelamatkan sekuntum mawar yang telah berubah menjadi belati, atau membiarkan taman manusia runtuh menjadi debu digital. Di tangannya, rindu telah menjadi sandera bagi waktu yang kian menipis.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...