Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — Persiapan Belanja —
Setelah berbincang dalam waktu yang lama, akhirnya satu jam telah berlalu.
[Durasi: 01:00:00]
TING!
Jam tangan kami sama-sama berbunyi pelan, tanda bahwa misinya sudah selesai.
[Sinkronisasi Harian: Berhasil!]
[Sinkronisasi Pasangan: 13% (+3%)]
[Hadiah Dasar: +50 Poin Pasangan]
[Bonus Interaksi: +24 Poin Pasangan]
[Total Hadiah: +74 Poin Pasangan]
Poin kami bertambah.
Tidak buruk, kami bisa membeli beberapa kebutuhan dengan ini. Meski sebenarnya aku masih tidak tahu berapa harga untuk barang, peralatan, atau kebutuhan di sekolah ini.
Mengingat harga satu minuman kalengan dari Miyazaki tadi, aku tetap sulit menebak harga yang lainnya sebelum datang langsung ke pusat perbelanjaan.
"Takashi-kun, mau langsung belanja malam ini?"
"Ya, boleh saja."
Karena misinya telah selesai, Miyazaki beranjak dari tatami. Dia tak lagi bersender ke sofa, melainkan berdiri tegak.
Dengan posisiku yang masih nyaman rebahan di sofa, aku mendongak untuk menatap wajahnya. Tidak perlu dijelaskan lagi seperti apa tampilannya.
"Sekarang masih pukul lima sore, masih ada beberapa jam lagi sebelum kita belanja."
"Kau mau langsung ke kamar?"
"Ya, kamarku di pintu kanan. Kau bisa pakai yang kiri."
"Oh... jadi di kanan, ya?"
"Maaf karena membuatmu tidur di sofa."
Rupanya dia sadar akan hal itu, membuatku refleks ingin tertawa.
Sementara Miyazaki, sosoknya perlahan menghilang dari pandanganku. Lalu suara langkah kaki terdengar pelan, disusul oleh suara pintu di sisi kanan.
Kini tersisa aku sendiri di ruang tengah. Patut diakui, rasanya semakin membosankan ketika Miyazaki tak lagi ada di sini. Padahal dia hanya beristirahat di tempat privasinya.
Apa boleh buat, aku juga harus mengecek keadaan kamarku. Dan ngomong-ngomong, aku tidak berharap apa-apa mengenai tempat privasiku.
Selama tempatnya bisa ditinggali dan aku bisa merasakan ketenangan sendirian, itu sudah cukup.
Aku pun beranjak dari sofa, bersiap menuju kamarku.
Penglihatanku sedikit berputar karena terlalu lama rebahan. Untungnya tidak terjadi apa-apa dan tanganku berhasil meraih gagang pintu.
Ini tidak terkunci, kan?
Ceklak!
Ternyata aman, pintunya terbuka begitu gagangnya kuputar. Padahal aku sempat mengira kalau ada misi yang harus diselesaikan lebih dulu.
Ketika masuk ke dalamnya, aku disambut oleh udara pengap yang membuat napasku sulit berhembus.
Sebenarnya, kamar ini memiliki desain rancangan yang efisien. Ada tempat tidur ukuran sedang yang dilapisi seprai putih bersih, lalu meja belajar dari logam di sisi kiri dengan lampu mini.
Tidak hanya itu, lemari penyimpanan berdiri kokoh di pojok dinding, dan ada satu jendela kecil yang menghadap ke pemandangan sekolah.
Agar udaranya mengalir lebih lancar, aku membuka satu-satunya jendela di kamar ini.
Angin segar muncul setelahnya, membuat napasku jadi lebih lega. Hidungku tak lagi sesak.
Tanpa aba-aba, aku sekali lagi merebahkan diri.
Kali ini di kasur. Dan memang benar, tidak ada yang bisa mengalahkan kenyamanan kasur ketika tubuh dibaringkan. Satu-satunya hal yang kurang adalah tidak ada bantal, dan aku akan membelinya malam ini.
Kasurnya lebih empuk dan halus ketimbang sofa di ruang tengah tadi, membuat mataku ingin segera terpejam.
Namun, aku tidak bisa melakukan itu. Ada beberapa hal yang ingin kupikirkan mumpung tubuhku bisa bergerak.
Dengan posisi terbaring, aku menyalakan jam tanganku.
[Nama: Naruse Takashi]
[Nomor Registrasi: 094-A]
[Poin Pribadi: 150 Poin]
[Poin Pasangan: 574 Poin]
[Status: Berpasangan]
[Nama Pasangan: Elena Miyazaki]
[Sinkronisasi Pasangan: 13%]
[Peringkat Individu: C]
[Peringkat Pasangan: D]
[Menu:
Aturan
Belanja Teknis
Misi
Peta
Terkunci.]
Aku menekan opsi Belanja Teknis, dan harusnya ada pilihan baru lagi mengingat aku telah menyelesaikan dua misi sebelumnya.
[Belanja Teknis:
Menghindari Duel — 50 Poin
Peningkatan Durasi Tanpa Jam Tangan — 10 Poin
Terkunci.]
"Ini kan..."
Aku bisa mengerti opsi yang kedua. Sepertinya melepas jam tangan memang dilakukan sebagai strategi. Aturan sepuluh menit pelepasan hanyalah durasi awal, dan itu bisa ditambah.
Tapi, opsi pertama ini membuatku bingung. Menghindari duel? Apa maksudnya?
Jika harganya sama seperti Peta, harusnya itu juga berguna. Maksudku bisa memberi dampak yang menguntungkan bagi penggunanya.
Ah, sial. Kepalaku jadi pusing.
Mataku terpejam sejenak, sembari jari-jari tanganku memijat pelipis dahiku dengan pelan.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk membeli opsi kedua. Harganya juga lumayan murah.
[Beli Peningkatan Durasi Tanpa Jam Tangan?]
[Ya / Tidak]
[Harga: 10 Poin Pribadi]
Jariku melayang menekan Ya.
[Selamat, Peningkatan Durasi Tanpa Jam Tangan telah dibeli!]
[Sisa Poin Pribadi: 140 Poin]
[Durasi: 20 Menit (+10 Menit)]
[Ini bisa dibeli sebanyak 4x lagi!]
Entah untuk apa aku membeli ini, dan kuharap aku tidak sedang buang-buang poin.
"Ah, langitnya mulai gelap."
Aku bergumam karena tanpa sadar, malam hari hampir tiba.
Perlahan, aku bangkit dari kasur, lalu kembali menutup jendelanya. Tidak ada gorden untuk melingkupi ini, haruskah aku membelinya nanti?
Mungkin aku akan beli yang paling murah, karena poinnya sudah banyak terpakai untuk keperluan teknis di jam tangan ini.
Aku pun bersiap-siap merapikan diri sebelum keluar kamar. Walau tidak mungkin ada yang menyadarinya, aku tetap ingin melakukannya.
Setelah menyelesaikan misi harian, kami kembali berkumpul di ruang tengah.
Aku baru saja keluar dari kamarku. Dan ternyata Miyazaki sudah muncul lebih dulu. Kali ini dia yang menguasai sofa.
"Gantian."
Begitu sadar akan keberadaanku, dia langsung berucap sesuatu.
"Ya, kau bisa pakai sepuasnya."
Setelah banyak hal yang terjadi hari ini, syukurlah tampilannya tidak banyak berubah.
Miyazaki masih mengenakan seragam sekolah seperti sebelum-sebelumnya, begitu juga denganku.
"Miyazaki-san... kau sudah siap, kan?"
"Tentu, kita bisa berangkat sekarang."
"Baiklah, ayo pergi!"
Tanpa basa-basi, kami pergi ke luar kamar untuk menuju pusat perbelanjaan.
Langkah kami lumayan pelan karena ini malam hari. Pemandangan tak lagi terlihat jelas, hanya ada lampu-lampu jalanan yang mendominasi.
Kemudian, udara malam ini terasa dingin menusuk kulit. Napasku jadi kurang stabil.
Satu hal yang pasti, aku menggunakan Peta untuk mengarahkan jalan secara akurat. Ini bisa mempersingkat waktu, karena kami tidak akan tersesat.
Di perjalanan, kami tidak bicara sepatah kata pun. Bukan karena canggung, melainkan suasananya yang begitu nyaman dinikmati dalam keadaan hening.
Setelah beberapa menit berlalu, kami tiba di salah satu gedung yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan.
Begitu masuk ke dalam, ternyata bangunan ini adalah Mall dengan gaya modern. Pencahayaan hangat dari panel LED di langit-langit membuat suasana terasa nyaman, sementara lantai yang berubin marmer memberikan kesan eksklusif.
Tidak hanya itu, etalase toko berjajar dengan rapi. Mulai dari kebutuhan harian, pakaian, hingga tempat makan mini yang berjejer seperti Food Court.
"Luas juga ternyata."
"Kau mau ke mana dulu, Miyazaki-san?"
"Mungkin ke toko pakaian."
Akhirnya kami bicara lagi.
"Baiklah, kita pergi ke sana. Dan hati-hati, jangan sampai terpisah!"
"Aku mengerti."
Yang jelas, ada begitu banyak orang di sini. Aku yakin mereka didominasi oleh para murid, dan beberapa mungkin para pekerja Mall.
Kebanyakan dari mereka berjalan berdampingan, yang berarti mereka adalah pasangan. Ada yang terlihat akrab, sementara sebagian lagi masih canggung.
Kami kemudian berjalan menuju eskalator, menyusuri lorong-lorong Mall yang tampak semakin ramai.
Miyazaki terlihat semakin kaku tiap kali langkahnya bertambah. Dia seperti sedang mewaspadai sesuatu.
Dan tiba-tiba...
Brak!
Tanpa peringatan, seseorang dari arah berlawanan menabrak bahunya cukup keras.