Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sejenak Seyra tak tahu harus merespon seperti apa lagi, alur yang dia ingat tidak seperti ini. Dalam novel tertulis jika ayahnya mengatakan bahwa dia akan melakukan perjalanan bisnis jangka panjang, dan meninggalkan Seyra seorang diri.
Tapi sekarang, tidak ada perjalanan bisnis melainkan sebuah hubungan terlarang yang baru terkuak di hadapannya.
"Papa benar-benar minta maaf, karena-"
"Nggak apa-apa, semua udah terjadi juga. Aku nggak masalah, itu keputusan Papa." Jawab Seyra.
Pada akhirnya dia memilih menerima hubungan ayahnya, karena dia tak ingin ambil pusing. Dia hanya ingin hidup tenang, dan nyaman menikmati kekayaan ayahnya.
"Sungguh? kamu nggak keberatan?"
Seyra menatap ayahnya dengan tatapan yang campur aduk. Keputusan untuk menerima kenyataan itu bukanlah hal yang mudah, tetapi dia merasa lelah untuk terus berdebat.
"Aku sudah bilang, Pa. Aku nggak mau memperumit semuanya. Lagi pula, ini hidup Papa. Aku nggak bisa mengatur pilihan-pilihan yang di ambil sama Papa."
Ayahnya terlihat ragu, seolah berat untuk melepaskan beban di pundaknya. "Tapi, Sayang, ini bukan hanya tentang Papa. Ini tentang kamu juga. Apa kamu yakin bisa menghadapi semua ini?"
"Papa sudah membuat pilihan, kan? sekarang aku hanya ingin menjalani hidupku. Bermain dengan teman-teman, dan hal-hal lain yang penting bagiku. Lagi pula kalo aku menolak apa Papa bisa menceraikan wanita itu?" Seyra berusaha tersenyum, meskipun hatinya terasa kosong.
Lewin terdiam lalu menunduk. "Maaf, Seyra... Papa nggak bisa menceraikannya."
"Ya, sudah jalani saja semua yang sudah terjadi."
Namun, di dalam pikiran Seyra, bayangan hidup tenang yang dia impikan mulai pudar. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa segalanya akan baik-baik saja, tetapi rasa sakit di dalam hati kecilnya tak bisa diabaikan.
Seyra merindukan sosok ayah yang dulu, yang selalu ada untuknya dan membela dirinya dari sikap egois sang mama, bukan seorang pria yang terjebak dalam skandal dan hubungan terlarang.
"Baiklah," ayahnya berkata pelan, "Kalau itu yang kamu inginkan. Tapi ingat, Papa selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi."
Seyra mengangguk, meski dalam hatinya, dia tahu bahwa segalanya telah berubah. Dia harus menjaga jarak, bukan hanya dari ayahnya, tetapi juga dari kenyataan pahit yang tak ingin dia hadapi.
***
Langkah Arthur terhenti begitu dia menginjakkan kaki pada anak tangga di rumahnya, Arthur baru saja tiba di rumah selepas mengantar Seyra pulang. Saat itulah suara bariton sang ayah menggema di dalam ruangan tersebut.
"Habis dari mana kamu?"
Arthur berbalik menghadap Santo, ayahnya tanpa mengeluarkan kata-kata. Tatapan pemuda itu sangat dingin, seperti bongkahan es yang membidik netra ayahnya.
"Dari mana kamu? di tanya kenapa nggak jawab?!"
Arthur masih diam, kembali tak menjawab pertanyaan ayahnya. Hal itu berhasil membuat Santo menggeram marah, dia merasa di abaikan oleh anak itu.
"Arthur!" bentak Santo kalap.
"Apa?!" bentak Ashton balik. "Papa mau pukul aku? atau mau cambuk aku? Papa mau nyakitin aku lagi? atau sekarang mau ngusir aku dari rumah ini?"
Mendengar itu, Santo berjalan mendekati putranya. Tanpa Arthur duga, ayahnya melayangkan tinjunya pada pipi kiri Arthur. Membuat wajah Arthur terempas ke samping, dengan bekas kemerahan akibat pukulan tersebut.
"Jaga bicaramu, Ar! jangan durhaka sama orang tua." Bentak Santo.
Arthur mendongak, dia tersenyum kecut. "Orang tua? aku nggak pernah merasa memiliki orang tua, Pa."
Santo tertegun sejenak, kata-kata Arthur seperti belati yang menancap di hatinya. Dia tidak pernah menyangka bahwa sakit yang dia sebabkan pada putranya bisa berujung pada penolakan yang begitu dalam. Namun, kemarahan masih menggelora di dalam dadanya.
"Jangan berlagak seolah kamu nggak tahu semua yang aku lakukan untukmu!" Santo berusaha mempertahankan suaranya, meski nada itu mulai goyah. "Aku bekerja keras, berkorban untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga ini!"
Arthur menggelengkan kepala, matanya berkilat penuh kebencian. "Keluarga? apa yang Papa sebut keluarga? cinta yang Papa berikan hanya sebatas pukulan dan teriakan."
Santo merasa terdesak. Ia melangkah mundur, mencoba mendinginkan pikirannya. "Kamu nggak mengerti, Arthur. Ini semua untuk kebaikanmu."
Arthur tertawa sinis, "Kebaikan? kebaikan itu seperti apa, Pa? ketika aku berusaha berkata jujur, Papa hanya melihatku sebagai anak durhaka. Ketika aku mencoba menjelaskan, Papa hanya mendengar apa yang ingin di dengar."
Kedua lelaki itu berdiri dalam diam yang mencekam. Suara detak jam di dinding menjadi satu-satunya saksi bisu dari pertikaian yang tak kunjung usai.
Arthur menarik napas dalam-dalam, dia berbalik kembali menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Setibanya di depan kamar, Arthur membuka pintu dan menutupnya dengan keras.
Dia memejamkan mata sejenak, ketika ingatan pahit tentang masa lalunya muncul kembali. Masa lalunya terlalu buruk, sejak kecil dia jarang mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
Dia selalu di nomor duakan, pernah kala itu Arthur terluka parah dan harus mendapat sembilan jahitan di kepalanya akibat hantaman benda tumpul dari Santo. Arthur mengusap air mata yang entah sejak kapan turun di pipinya, pemuda itu melangkah gontai menuju ranjang dan merebahkan dirinya di dalam selimut tebal.
"Gue kangen Seyra," gumamnya sendu.