Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
PERTEMUAN YANG TIDAK TERJADI
Matahari mulai menyinari langit Makassar ketika Khatulistiwa dan Ayahnya Arif Budiman siap untuk mengantarkan pesanan kukis besar ke PT Trakindo Makassar.
Mobil kecil keluarga mereka sudah dimuat penuh dengan kotak-kotak kukis yang dibungkus rapi dengan kertas kemasan berwarna merah muda bertuliskan "Rumah Kukis Senja" – pesanan khusus untuk acara ulang tahun kantor perusahaan tersebut.
"Pastikan semua kotak sudah terikat dengan baik ya, Khatu" ucap Arif sambil memeriksa tali pengikat di bagian belakang mobil. "Ada lebih dari lima puluh kotak, jadi kita harus sangat hati-hati agar tidak ada yang jatuh atau rusak di jalan."
"Sudah diperiksa berkali-kali, Ayah," jawab Khatulistiwa. "aku juga sudah menyiapkan daftar barang yang harus diberikan ke panitia acara agar tidak ada yang terlewat."
Setelah segala sesuatunya siap, mereka memulai perjalanan dari rumah yang terletak di kawasan Tamalanrea menuju kantor PT Trakindo yang berada di kawasan Industri Makassar. Jalanan pagi hari cukup ramai dengan kendaraan yang bergerak menuju kantor atau tempat kerja, namun Arif mengemudi dengan hati-hati agar pesanan yang mereka bawa tetap aman.
Sementara itu, Tenggara sedang berada di lobi kantor PT Trakindo bersama dosennya, Bapak Herman, untuk melakukan wawancara dengan manajemen perusahaan terkait penelitian tentang pengembangan sumber daya manusia di sektor industri. Dia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih yang rapi, tampak lebih dewasa dari biasanya. Saat mereka menunggu untuk diizinkan masuk ke ruang konferensi, matanya secara tidak sengaja melihat keluar melalui kaca besar lobi ke arah jalan depan.
Dia melihat sebuah mobil kecil yang sedang parkir di depan gerbang kantor. Dari dalam mobil tersebut keluar seorang ayah dan anak perempuan yang mengenakan seragam sekolah SMA dengan rompi pramuka. Tenggara merasa wajah anak perempuan tersebut sangat akrab, namun dia perlu melihat lebih jelas untuk memastikan. Ketika anak perempuan tersebut berbalik ke arah kantor sambil membawa beberapa kotak besar, dia segera menyadari bahwa itu adalah Khatulistiwa.
Tenggara ingin langsung keluar untuk menyapanya, namun dosennya sudah mulai bergerak menuju arah pintu ruang konferensi. "Tenggara, ayo kita masuk saja," ucap Bapak Herman sambil melihat ke arah arahan resepsionis. "Wawancara akan segera dimulai."
Tenggara melihat kembali ke arah luar dan melihat Khatulistiwa sedang membantu ayahnya membawa kotak-kotak kukis ke dalam gedung melalui pintu belakang. Dia merasa sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengannya, namun dia memahami bahwa dirinya juga memiliki jadwal yang tidak bisa ditinggalkan.
"Baik, Pak," jawab Tenggara sambil mengikuti dosennya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menghubungi Khatulistiwa setelah wawancaranya selesai untuk bertanya apa yang membuatnya datang ke kantor tersebut.
Sementara itu, Khatulistiwa dan Ayahnya sedang sibuk menyampaikan pesanan kukis kepada Ibu Rina, panitia acara yang sudah menunggu mereka di ruang makan kantor. Kotak-kotak kukis dengan berbagai bentuk dan rasa – mulai dari kukis mentega klasik, kukis kacang hijau, hingga kukis coklat dengan topping kacang mete – diletakkan rapi di atas meja yang sudah disiapkan.
"Wow, sekali lagi kukisnya luar biasa cantik dan harumnya sangat menggugah selera," puji Ibu Rina sambil melihat setiap kotak dengan penuh kagum. "Karyawan kita pasti akan sangat senang menikmatinya nanti. Terima kasih banyak atas kerjasamanya, Pak Arif dan Bu Khatulistiwa."
"Sama-sama, Bu Rina," jawab Arif dengan senyum ramah. "Semoga semua karyawan suka dengan kukis yang kami buat. Jika ada pesanan lagi atau ada yang ingin memesan untuk keperluan pribadi, silakan hubungi kami saja ya."
Khatulistiwa tersenyum dan memberikan kartu nama usaha kepada Ibu Rina. Ia merasa bangga bisa membantu ayahnya dalam mengelola usaha keluarga, terutama ketika melihat respon positif dari pelanggan mereka. Setelah semua pesanan disampaikan dan surat jalan ditandatangani, mereka bersiap untuk kembali ke rumah.
Saat mereka keluar dari kantor melalui pintu belakang, Khatulistiwa merasa seolah-olah ada orang yang sedang melihatnya dari arah lobi. Dia menoleh ke arah gedung utama namun tidak melihat siapapun yang dikenalnya. "Ada apa, sayang?" tanya Arif yang melihat ekspresi wajahnya yang sedikit bingung.
"Tidak apa-apa, Ayah," jawab Khatulistiwa dengan menggeleng. "Hanya saja saya merasa seolah-olah ada orang yang saya kenal di sana, tapi mungkin itu hanya ilusi saja."
Setelah mereka naik ke dalam mobil dan mulai bergerak pulang, Tenggara baru saja selesai dari wawancaranya. Dia segera berlari ke lobi dan melihat keluar, namun mobil Khatulistiwa sudah tidak terlihat lagi. Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuknya: "Halo Khatulistiwa, ini Tenggara. Tadi saya melihatmu di depan kantor PT Trakindo ketika saya sedang ada di sana untuk wawancara. Sayangnya tidak bisa bertemu ya. Apa yang membuatmu ada di sana?"
Khatulistiwa melihat pesan tersebut ketika mereka sedang berhenti di lampu merah. Wajahnya langsung bersinar dengan senyum lebar. "Ayah, ternyata benar saja saya tidak salah melihat!" ucapnya dengan penuh semangat. "Tenggara juga ada di kantor tadi, dia melihat kita tapi tidak bisa bertemu karena dia sedang ada acara."
"Kalau begitu kamu bisa balas pesannya saja ya," ucap Arif dengan senyum. "Mungkin kamu bisa mengajaknya untuk datang ke rumah kita agar bisa mencoba kukis secara langsung, seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya."
Khatulistiwa cepat menjawab pesan Tenggara: "Halo Tenggara! Tadi saya sedang mengantarkan pesanan kukis dari usaha keluarga saya ke PT Trakindo bersama Ayah saya. Sayang sekali ya tidak bisa bertemu. Mau tidak kamu datang ke rumah saya minggu depan? Kami ingin mengucapkan terima kasih dan kamu bisa mencoba kukis buatan kami secara langsung lho."
Dalam hitungan detik, balasan datang: "Itu sangat bagus! Saya sangat ingin datang. Terima kasih sudah mengundang. Akan saya konfirmasi jadwalnya ya. Sampai bertemu!"
Khatulistiwa tersenyum senang sambil menyimpan ponselnya. Meskipun mereka tidak bisa bertemu secara langsung tadi pagi, pertemuan tidak sengaja tersebut membuatnya semakin menantikan pertemuan berikutnya dengan Tenggara. Ia merasa bahwa hubungan mereka semakin erat, bukan hanya sebagai teman yang saling membantu dalam belajar, namun juga sebagai orang yang mulai saling mengenal lebih dalam tentang kehidupan masing-masing.