Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Pertengkaran Kecil Pertama
#
**Tiga bulan kemudian**
Kehidupan Zidan makin gemilang. Transaksi demi transaksi berhasil. Uangnya udah miliaran di rekening. Dia beli mobil satu lagi. Mercy E-Class warna silver buat harian. Fortuner buat weekend. Rumahnya direnovasi total. Ditambahin kolam renang kecil di belakang. Furniture diganti semua yang lebih mahal.
Ibu Siti kondisinya membaik pesat. Biaya perawatan yang mahal dari Zidan bikin dia dapat terapi terbaik. Sekarang dia udah bisa jalan pake tongkat. Bisa ngomong lebih jelas meski masih sedikit pelo. Tinggal di rumah sendiri dengan suster full time yang gajinya dibayarin Zidan.
Tapi Zidan sendiri makin jauh dari Allah. Sholat lima waktu? Jarang banget. Paling cuma Jumat doang karena malu kalau nggak ke masjid nanti diomongin tetangga. Sholat berjamaah sama Naura? Udah berbulan bulan nggak pernah.
Naura setiap hari nangis sendirian. Liat suaminya yang makin hari makin sombong. Makin angkuh. Makin jauh dari agama.
Pagi Sabtu jam sembilan. Zidan masih tidur. Kemarin malem dia pulang jam dua pagi dari pesta ulang tahun temen bisnisnya di klub malam. Naura udah bangun dari subuh. Udah sholat. Udah masak. Udah mandiin Faris.
Tiba tiba bel rumah bunyi. Naura buka pintu sambil gendong Faris.
Di depan pintu berdiri Bu Sari. Wajahnya pucat. Mata sembab. Kerudung acak acakan.
"Bu Sari? Ada apa Bu pagi pagi?"
Bu Sari langsung nangis. "Naura... maafin Ibu. Ibu... Ibu mau minta tolong sama suami kamu."
"Tolong apa Bu? Masuk dulu Bu."
Bu Sari masuk sambil nangis. Duduk di sofa sambil lap air mata pake ujung kerudung.
"Anak Ibu, Ryan, dia sakit. Usus buntu. Harus operasi secepatnya. Biayanya dua puluh juta. Ibu udah coba pinjam kesana kemari. Nggak ada yang mau pinjemin. Ibu dengerin... dengerin suami kamu sekarang sukses. Punya uang banyak. Ibu mohon... Ibu mohon pinjemin Ibu uang. Ibu janji akan bayar. Meski dicicil lama. Tapi Ibu pasti bayar."
Naura langsung kesian. "Ya Allah Bu. Kenapa nggak bilang dari kemarin? Ryan sakit parah ya?"
"Iya. Dari kemarin. Tapi Ibu malu. Ibu... Ibu dulu pernah ngehina suami kamu. Ngehina kamu. Bilang kalian pesugihan. Bilang kalian ngutang. Ibu jahat. Tapi sekarang Ibu mohon. Demi Ryan. Dia masih kecil. Masih kelas dua SD. Dia nggak boleh mati."
Bu Sari nangis makin keras sambil sujud di kaki Naura. "Tolong Naura. Tolong anak Ibu."
Naura langsung angkat Bu Sari. "Bu jangan kayak gini. Aku... aku mau bantuin. Tapi aku harus tanya suami aku dulu. Tunggu sebentar ya."
Naura masuk ke kamar sambil gendong Faris. Zidan masih tidur pules dengan bantal menutupi wajah. AC dingin banget. Selimut tebal.
"Mas. Mas bangun. Ada yang penting."
Zidan nggak gerak.
"Mas! Bangun!"
Zidan buka mata sedikit. "Apaan sih? Berisik banget dari tadi."
"Bu Sari di luar. Anaknya sakit. Butuh pinjaman buat operasi."
"Bu Sari? Yang dulu suka ngehina kita itu?"
"Iya Mas. Dia minta maaf. Dia mohon. Anaknya bahaya."
Zidan duduk pelan sambil ngusap mata. "Berapa yang dia minta?"
"Dua puluh juta Mas."
"Dua puluh juta?" Zidan ketawa sinis. "Dia pikir gue ATM berjalan apa?"
"Mas, anaknya sakit. Butuh operasi secepatnya. Kalau nggak dioperasi bisa mati."
"Terus? Gue harus peduli? Dia yang dulu ngehina gue. Bilang gue pake pesugihan. Sekarang butuh uang dateng ke gue. Muka banget."
"Mas, tapi dia udah minta maaf. Dia nyesel."
Zidan turun dari kasur. Pake sendal terus keluar kamar. Naura ikutin dari belakang.
Bu Sari langsung berdiri begitu liat Zidan. "Zidan... maafin Ibu. Ibu mohon..."
Zidan berdiri di tengah ruangan sambil lipat tangan. Ngeliatin Bu Sari dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan.
"Naura, ini bau apa kok nyengat banget... Oalah, bau miskin ternyata. Mau apa lo?"
Bu Sari shock dengerin kata kata Zidan. Naura juga melotot.
"Mas..."
"Diem lo Naura. Gue lagi ngomong sama tamu kita yang terhormat ini." Zidan jalan deket ke Bu Sari. "Jadi? Lo butuh pinjaman berapa? Dua puluh juta? Buat operasi anak lo?"
"I...iya Zidan. Ibu mohon. Ibu janji akan bayar. Berapa pun bunganya Ibu sanggup."
Zidan ketawa keras. Ketawa yang nggak ada lucunya. Ketawa yang menyakitkan.
"Lo pikir gue bank swasta apa? Pinjaman dengan bunga? Lo tau nggak gue sekarang punya berapa uang di rekening? MILIARAN! Dua puluh juta buat gue cuma recehan! Cuma uang parkir!"
"Kalau gitu... kalau gitu Ibu mohon. Pinjemin Ibu. Atau... atau kasih aja. Ibu nggak akan minta balik."
Zidan senyum sinis. "Gue akan kasih. Tapi ada satu syarat."
Bu Sari langsung semangat. "Apa? Apapun! Ibu sanggup!"
"Sujud di kaki gue. Bilang, TUAN ZIDAN MAAFIN AKU. Terus lo pergi. Hidung gue nggak kuat sama bau miskin."
Hening total.
Naura melotot nggak percaya. "MAS!"
Bu Sari mundur sedikit. Tangannya gemetar. "Zi...Zidan... jangan kayak gini. Ibu... Ibu udah minta maaf. Ibu nyesel udah ngehina kamu dulu. Tapi jangan hina Ibu kayak gini."
"Kenapa? Lo yang dulu hina gue duluan! Lo bilang gue pesugihan! Bilang gue ngutang! Sekarang lo minta tolong? Mau atau nggak? Kalau mau, sujud! Kalau nggak mau, pergi! Gampang kan?"
Bu Sari nangis keras. Kakinya gemetar. Dia liat Naura dengan tatapan memohon.
Naura nggak bisa ngomong apa apa. Hatinya hancur liat suaminya yang kayak gini.
Akhirnya Bu Sari jatuh berlutut. Terus sujud di kaki Zidan sambil nangis tersedu sedu.
"Tu...Tuan Zidan... maafin aku... maafin aku..."
Zidan senyum puas. Dia ambil dompet dari meja. Keluarin uang lima ratus ribuan. Lempar ke lantai di samping Bu Sari.
"Nih. Buat ongkos balik lo. Dua puluh juta? Gue gak bakal minjemin. Karena lo nggak bakal sanggup bayar. Sekarang pergi. Hidung gue nggak kuat."
Bu Sari ambil uang itu sambil masih nangis. Dia berdiri dengan susah payah terus langsung lari keluar rumah.
Begitu pintu tertutup, Naura langsung ngeliatin suaminya dengan mata berkaca kaca.
"Mas... kenapa Mas lakuin itu? Kenapa Mas hina dia kayak gitu?"
"Dia yang mulai duluan. Gue cuma balesin."
"Tapi Mas... anaknya sakit! Dia butuh bantuan! Kenapa Mas nggak kasih?"
"Karena gue nggak mau! Uang gue. Hak gue mau dipake buat apa!"
"Tapi Mas... Mas kan dulu janji. Janji di sajadah. Bilang kalau dikasih rezeki akan sedekah. Akan bantu orang susah. Mana buktinya Mas? Mana?"
Zidan jalan deket ke Naura. Matanya melotot. "LO MAU NGAJARIN GUE SOAL JANJI? GUE INGET! TAPI GUE BELUM SEMPET!"
"Belum sempet? Udah tiga bulan Mas! Tiga bulan Mas nggak pernah sedekah sepeser pun! Malah belanja ini itu! Mobil! Jam tangan! Baju! Pesta! Kemana uangnya Mas?"
"UANG GUE! GUE MAU PAKE BUAT APA JUGA TERSERAH GUE!"
"Tapi Mas... sholat Mas gimana? Mas jarang sholat sekarang. Mas janji akan lebih taat. Tapi kenyataannya?"
Zidan ngangkat telunjuknya ke wajah Naura. "JANGAN ATUR ATUR AKU NAURA! LO CEWEK TAU APA SOAL PEKERJAAN! GUE CAPE! GUE SIBUK! BUKAN GUE LUPA IBADAH! GUE INGET! TAPI BELUM SEMPET! LO AJA YANG IBADAH! GUE LUPA IBADAH KARENA SIBUK KERJA DEMI LO!"
Naura mundur sedikit. Shock. Pertama kalinya Zidan bentak dia setegas ini. Pertama kalinya dia bilang "lo". Pertama kalinya dia nyalahin dia buat kelalaian dia sendiri.
"Mas... aku... aku cuma ngingetin..."
"GUE NGGAK BUTUH LO NGINGETIN! GUE UDAH GEDE! GUE BISA ATUR WAKTU GUE SENDIRI!"
Faris yang di pelukan Naura langsung nangis keras. Ketakutan dengerin Ayahnya teriak.
Zidan ngeliatin Faris sekilas. Terus balik ke kamar. Banting pintu keras.
BLAM!
Naura berdiri di ruang tamu sambil gendong Faris yang nangis. Tubuhnya gemetar. Air matanya jatuh nggak berhenti.
"Ssshh Faris... nggak apa apa sayang... Ayah cuma... Ayah cuma lagi emosi..."
Tapi di dalam hatinya dia tau. Ini bukan cuma emosi. Ini perubahan permanen. Zidan udah bukan Zidan yang dulu lagi.
Dia duduk di sofa sambil gendong Faris erat. Nangis pelan sambil goyang goyang anaknya.
"Ya Allah... kenapa jadi kayak gini? Kenapa suamiku berubah sebanyak ini? Dia ngehina orang yang minta tolong. Dia bentak aku waktu aku ngingetin dia sholat. Dia lupa semua janjinya. Ya Allah... tolong kembalikan dia. Tolong..."
Sementara itu, di kamar, Zidan tidur lagi kayak nggak ada apa apa. Nggak ada rasa bersalah. Nggak ada penyesalan.
Yang ada cuma kepuasan. Puas udah bisa balesin dendam ke Bu Sari. Puas udah bisa nunjukin siapa yang berkuasa sekarang.
Dan dia tidur dengan senyum di wajah.
Senyum yang menyeramkan.
Senyum orang yang udah kehilangan hati nuraninya.
Senyum orang yang udah jatuh terlalu dalam.
Dan nggak bisa naik lagi.