Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Di atas Luka Lama
Hari yang dinantikan Bayu akhirnya tiba. Rumah baru kami, yang dibangun dari tetesan keringat dan potongan gaji yang menyiksa selama bertahun-tahun, kini disulap menjadi tempat pesta. Tenda putih berdiri tegak di halaman, bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut, dan aroma masakan katering memenuhi udara. Bayu tampak gagah dengan beskap pernikahannya, dan Ibu tidak berhenti menyeka air mata bahagia. Ayah, meski masih tampak sedikit lemah, duduk di kursi utama dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Aku mengenakan kebaya yang kupesan khusus, warna yang lembut namun menunjukkan kedewasaan. Di depan para tamu, aku adalah Maya, si adik yang sukses, wanita karier yang berhasil mengangkat derajat keluarga. Aku tersenyum, menyalami tamu satu per satu, dan memastikan semua urusan logistik berjalan lancar. Namun, jauh di lubuk hatiku, ada rasa waswas yang terus mengintai.
Kehawatiran itu menjadi nyata saat sebuah mobil tua berhenti di depan gerbang. Pintu terbuka, dan turunlah mereka tiga paman dari pihak Ayah, orang-orang yang dulu mengusir kami seperti sampah dari rumah panggung Nenek. Mereka datang tanpa undangan resmi, mengenakan batik yang tampak dipaksakan rapi, dengan raut wajah yang merupakan campuran antara rasa penasaran dan keangkuhan yang tersisa.
Suasana di kursi penerima tamu mendadak dingin. Aku bisa melihat bahu Ayah menegang. Ibu terdiam, tangannya yang sedang memegang gelas air mineral tampak gemetar. Paman tertua, yang dulu paling keras mencaci kami, melangkah maju dengan tawa yang dipaksakan.
"Wah, Mas... hebat sekali ya sekarang. Rumahnya bagus, tanahnya luas. Ternyata anak-anakmu sudah jadi orang sukses," ucapnya sambil menyalami Ayah seolah-olah tidak pernah terjadi perang darah di antara mereka.
Aku berdiri di samping Ayah, tanganku mengepal di balik kain kebayaku. Aku bisa merasakan amarah yang sudah terkubur selama bertahun-tahun kini merayap naik ke tenggorokan. Ingin rasanya aku berteriak, mengusir mereka saat itu juga di depan para tamu. Namun, aku teringat pada Bayu. Ini adalah hari bahagianya. Aku tidak ingin merusak momen sakral ini dengan keributan.
"Silakan masuk, Paman. Silakan nikmati hidangannya," ucapku dengan suara yang sangat tenang namun sedingin es. Mataku menatap langsung ke matanya, tanpa rasa takut sedikit pun. Aku bukan lagi Maya kecil yang bisa mereka cubit atau mereka bentak. Aku adalah pemilik rumah ini.
Mereka tidak hanya datang untuk makan. Saat acara mulai santai, mereka berkumpul di satu meja dan mulai mengeluarkan racun yang biasa mereka semburkan. Mereka mulai bertanya-tanya, dengan nada yang cukup keras agar terdengar oleh kerabat lain, tentang bagaimana kami bisa membangun rumah secepat ini.
"Zaman sekarang, anak muda kalau suksesnya terlalu cepat itu mencurigakan. Apalagi kalau perempuan, sendirian lagi," bisik istri paman yang juga ikut datang. "Jangan-jangan tanah ini juga statusnya belum jelas. Apa iya cicilannya lancar? Hati-hati, nanti malah disita bank."
Darahku mendidih. Aku yang sedang memegang nampan berisi minuman, berhenti tepat di belakang kursi mereka. Aku menarik napas panjang, menenangkan debaran jantungku yang tidak keruan.
"Tanah ini atas nama saya sendiri, Tante. Sertifikatnya ada di dalam, sudah dilegalisasi oleh negara. Dan cicilan banknya? Lancar karena saya dan Bayu bekerja jujur, dari pagi sampai malam, bukan dari hasil merampas hak saudara sendiri," kataku dengan suara yang cukup lantang hingga beberapa tamu di sekitar menoleh.
Wajah Tante mendadak pucat. Paman mencoba membela diri. "Kami kan cuma bertanya, May. Namanya juga keluarga, harus saling mengingatkan."
"Keluarga?" aku tertawa sinis, tawa yang penuh luka. "Keluarga itu ada saat kami diusir dari rumah Nenek. Keluarga itu ada saat Ayah kritis di rumah sakit karena tumor. Selama bertahun-tahun kami mengupas bawang dan toge, di mana kalian? Sekarang, saat tenda pesta sudah berdiri, kalian baru ingat arti kata keluarga?"
Ayah mendekat, menyentuh pundakku. "Sudah, May. Jangan diladeni."
Aku melihat Ayah. Ada sorot mata memohon di sana. Ayah tidak ingin ada keributan di hari pernikahan Bayu. Akhirnya, aku memilih untuk mundur. Aku berjalan ke area belakang rumah, tempat yang lebih sepi, menjauh dari kerumunan.
Di saat aku sedang mencoba mengatur napas dan menahan tangis kemarahan, sebuah suara yang kukenali menyapa.
"Maya? Kamu nggak apa-apa?"
Aku menoleh. Mas Aris berdiri di sana. Dia datang memenuhi undanganku, mengenakan kemeja batik yang sangat pas di tubuhnya. Dia melihat mataku yang memerah. Tanpa banyak tanya, dia menyodorkan segelas air putih.
"Keluarga besar memang terkadang menjadi ujian paling berat di hari bahagia," ucapnya pelan, seolah bisa membaca apa yang baru saja terjadi.
Aku meminum air itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Mas Aris sudah dari tadi?"
"Cukup lama untuk melihat betapa beraninya kamu membela harga diri keluargamu," jawabnya. "Maya, kamu tidak perlu merasa malu atau terganggu. Orang-orang seperti mereka hanya bisa bicara karena mereka iri melihat apa yang sudah kamu capai. Rumah ini, pesta ini... semuanya murni hasil kerja kerasmu. Itu yang paling penting."
Untuk pertama kalinya di hari itu, aku merasa benar-benar tenang. Kehadiran Aris seperti oase di tengah padang pasir kemarahanku. Kami berbicara cukup lama di sudut taman belakang. Dia bercerita tentang pengalamannya sendiri menghadapi keluarga, membuatku menyadari bahwa aku tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Namun, di tengah kenyamanan itu, rasa tidak aman itu kembali muncul. Aku melihat Aris, pria yang begitu baik dan stabil. Aku kembali bertanya-tanya, apakah pria sehebat dia bisa menerima kenyataan tentang masa laluku? Apakah dia tetap akan menatapku dengan kagum jika dia tahu tentang noda yang ditinggalkan tetangga itu di jiwaku?
Setelah tamu terakhir pulang, dan paman-pamanku pergi dengan wajah yang masih menunjukkan ketidaksukaan, rumah kembali sunyi. Bayu dan istrinya sudah masuk ke kamar mereka. Aku membantu Ibu membereskan sisa-sisa piring kotor.
"May, terima kasih ya," ucap Ibu tiba-tiba sambil memelukku dari belakang. "Ibu tahu tadi kamu sangat sabar menghadapi Pamanmu. Ayah juga bilang, dia bangga punya anak seperti kamu."
Aku terdiam dalam pelukan Ibu. Rasanya hangat, namun juga menyesakkan. Aku sudah memberikan segalanya untuk keluarga ini. Rumah, martabat, dan kebahagiaan Bayu. Tapi siapa yang akan memberikan itu semua kepadaku?
Aku masuk ke kamarku, melepas kebaya yang terasa semakin berat. Aku menatap kalender. Besok adalah hari Senin. Besok aku harus kembali ke kantor. Besok aku harus kembali menghadapi tumpukan pekerjaan dan cicilan bank yang belum usai.
Malam ini, di bawah atap rumah yang kubayar dengan harga kemerdekaan jiwaku, aku menyadari satu hal: pesta telah usai, namun peperangan di dalam diriku baru saja memasuki babak baru. Ada Aris yang mulai masuk ke hidupku, dan ada masa lalu yang terus menarikku ke belakang. Aku harus memilih, apakah akan terus berlari bersembunyi, atau mulai berani membuka pintu hati yang selama ini terkunci rapat.
Cicilan rumah masih panjang. Begitu juga dengan jalan menuju kesembuhanku. Namun setidaknya malam ini, aku tahu bahwa aku punya kekuatan untuk berkata 'tidak' pada mereka yang dulu menghancurkanku. Dan itu adalah sebuah kemenangan yang cukup untuk membuatku bisa menutup mata.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..