NovelToon NovelToon
PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

PERJALANAN SANG LEGENDA:PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:55.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.

Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.

Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.

Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?

Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Keheningan di Balik Darah

​Harimau itu menerjang, sebuah gumpalan otot dan insting yang mematikan.

Namun, di mata Tian Shan, gerakan itu terasa lambat—seperti daun yang jatuh di musim gugur.

Tidak ada adrenalin yang memacu jantungnya, tidak ada ketakutan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Hanya ada kekosongan yang dingin.

​Saat cakar tajam itu nyaris merobek udara di depannya, Tian Shan bergeser setipis rambut. Ia tidak menggunakan senjata.

Ia hanya mengepalkan tangan kanannya, memusatkan seluruh Qi yang baru saja ia himpun di Dantian menuju pusat tinjunya.

​BUM!

​Satu hantaman telak mendarat di tengkorak sang predator. Suara tulang yang hancur berderak memecah kesunyian hutan.

Harimau besar itu terhempas ke tanah, tubuhnya mengejang sejenak sebelum akhirnya diam tak bernyawa.

Cairan merah kental merembes ke tanah, membasahi dedaunan yang dulu menjadi saksi bisu pembuangannya.

​Tian Shan berdiri di depan bangkai itu. Tangannya berlumuran darah, namun wajahnya tetap datar bak permukaan telaga yang membeku.

​Ia tidak merasa bangga karena menang.

Ia tidak merasa sedih karena telah merenggut nyawa.

​"Hanya begini?" gumamnya.

​Ia menatap tangannya yang ternoda merah. Ia berharap ada percikan emosi—amarah, penyesalan, atau mungkin sedikit rasa puas—yang bisa membuktikan bahwa ia masih "hidup".

Namun, yang ia rasakan tetaplah kehampaan yang sama. Membunuh atau dibunuh, baginya, hanyalah sekadar rotasi alam yang membosankan.

​Tian Shan menarik kaki belakang harimau itu dengan satu tangan.

Meski tubuh hewan itu tiga kali lebih besar darinya, kekuatan kultivasinya membuat beban itu terasa ringan.

Ia berjalan mendaki jalan setapak menuju gubuk tua di puncak gunung, menyeret bangkai besar itu melintasi akar-akar pohon yang menonjol.

​Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah panjang di tanah. Namun, pikiran Tian Shan justru mengembara jauh. Ia teringat kata-kata Xinjiang tentang "bejana kosong".

​"Jika aku adalah bejana kosong," batinnya, "kenapa darah ini pun tidak bisa mengisiku? Kenapa kemenangan ini terasa seperti meminum air laut; semakin banyak aku melakukannya, semakin haus jiwaku akan makna."

​Sesampainya di halaman gubuk, ia melepaskan cengkeramannya. Tubuh harimau itu jatuh berdebum di depan pintu.

​Xinjiang keluar dari gubuk, aroma teh herbal tercium dari balik jubahnya.

Ia menatap bangkai harimau itu, lalu menatap tangan muridnya yang bersimbah darah.

Pria tua itu tidak terkejut melihat kekuatan fisik Tian Shan, melainkan pada sorot mata anak itu yang sama sekali tidak berubah.

​"Kau membunuhnya." ucap Xinjiang pelan.

​"Dia menghalangi jalanku, Guru," jawab Tian Shan singkat. Ia menyeka darah di pipinya dengan punggung tangan, justru meninggalkan corengan merah yang kontras dengan kulit pucatnya. "Tapi kenapa rasanya tetap tidak ada bedanya? Membunuh hewan ini rasanya sama seperti aku sedang duduk diam. Kosong."

​Xinjiang terdiam sejenak, lalu berjalan mendekat. Ia mengambil sebuah handuk kecil dan mulai membersihkan tangan Tian Shan dengan lembut.

​"Itu karena kau mencari jawaban pada hasil, Shan, bukan pada prosesnya," ujar Xinjiang dengan nada kebapakan. "Kau menganggap hidup adalah serangkaian tugas yang harus diselesaikan. Kau membunuh untuk selesai, kau berlatih untuk selesai. Padahal, kehidupan bukan tentang garis finis. Kehidupan adalah tentang rasa sakit saat kau berlari."

​Tian Shan menunduk, menatap tangan gurunya yang gemetar karena usia.

"Bagaimana jika aku tidak bisa merasakan rasa sakit itu? Bagaimana jika jiwaku memang sudah mati sejak di hutan itu dulu?"

​Xinjiang menatap dalam ke mata muridnya. "Maka tugasmu adalah terus berjalan sampai kau menemukan sesuatu yang cukup tajam untuk merobek kehampaan itu. Entah itu cinta, atau penderitaan yang lebih besar."

​Tian Shan tidak menjawab. Ia hanya melihat ke arah langit yang mulai memerah.

Di dalam hatinya, ia berjanji pada diri sendiri: ia akan terus melangkah, bukan karena ia ingin, tapi karena ia tidak punya tempat lain untuk pulang.

1
Agen One
🔥🔥
Agen One
😴😴
Agen One
Privilege handsome/Facepalm/
Agen One
💪9
Agen One
👍💪
Agen One
👍💪
Agen One
🔥🤣
Agen One
🤣🤣
Agen One
🤭🤭
Agen One
🤣🤣
Agen One
🔥🔥
Agen One
👍👍
Agen One
😴😴
Agen One
🙏🙏
Agen One
👍.
Agen One
💪.
Agen One
🤣🤣
Agen One
😴😴
Agen One
😴😴
Agen One
🤣🤣👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!