Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Tikno dan Dirno
Tedjo sedang berdiri di dekat sekat kuda betina, moncongnya menyelip di antara celah kayu, mengelus-eluskan hidung ke kuda betina cokelat muda yang tampak tidak terlalu keberatan dengan perhatian itu.
Mereka berdua mengeluarkan suara-suara pelan khas kuda yang sedang birahi.
"Tedjo!"
Kuda itu menoleh. Mata hitamnya bertemu dengan mata Arjo.
Lalu dengan gerakan yang malas, Tedjo membuang muka dan kembali sibuk dengan betinanya.
Arjo mendengkus.
"Heh, Jo-Tedjo! Pagi-pagi sudah merayu betina. Pagi-pagi itu kerja! Sudah nanti lagi. Ada misi dari Ndoro Gusti Bupati!”
Tedjo mendengus keras, suara yang terdengar seperti helaan napas malas.
Tapi kuda itu akhirnya mundur dari sekat betina, berjalan ke arah Arjo dengan langkah yang... lambat. Sangat malas.
Seperti tidak ada yang lebih menyiksa di dunia ini daripada harus meninggalkan kuda betina cantik demi tugas.
“Sudahlah nanti lagi. Ini penting!”
Arjo mengelus lehernya, merangkul kuda itu keluar ke tempat pemasangan pelana.
"Kamu itu sudah tua, mbok ya sadar diri." Arjo menggerutu sambil memasang pelana. "Kawin terus. Aku saja yang muda masih belum kawin."
Tedjo meringkik, suara yang entah bagaimana terdengar seperti tersinggung.
"Sudah, jangan banyak tingkah. Hari ini kita harus ke kadipaten. Jaga sikapmu."
Kuda itu hanya mendengus lagi, tapi tidak melawan saat tali kekang di pasang.
Mereka bertiga—Arjo, Tikno, dan Dirno—melesat keluar dari gerbang padepokan setelah berpamitan dengan Kang Guru Harjo.
Tikno dan Dirno sudah membawa perbekalan; tas kulit berisi makanan dan air, senjata cadangan, dan perlengkapan lain yang mungkin diperlukan. Seragam pengawal kadipaten mereka tampak gagah di bawah cahaya pagi.
Arjo menunggangi Tedjo di tengah, masih mengenakan pakaian bupati. Dari jauh, siluetnya persis seperti bangsawan tinggi yang sedang bepergian dengan pengawalan.
Mereka tidak mengambil jalan utama. Sebaliknya, mereka membelok ke jalur hutan dalam yang lebih gelap, jalan setapak sempit yang berkelok di antara pepohonan raksasa. Sinar matahari nyaris tidak menembus kanopi dedaunan yang rapat di atas kepala mereka.
Ini jalan rahasia. Jalan yang hanya diketahui oleh orang-orang padepokan dan beberapa pengawal kepercayaan kadipaten.
Tedjo, meski tadi tampak malas, kini bergerak dengan langkah yang lebih waspada. Telinganya tegak, mata menyisir bayangan-bayangan di antara pepohonan. Naluri kuda perang yang tidak pernah hilang meski tubuh sudah tua.
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam.
Matahari sudah cukup tinggi ketika mereka sampai di titik pertemuan.
Persimpangan jalan di tepi hutan. Tempat di mana jalur dari padepokan bertemu dengan jalan utama yang menghubungkan kadipaten ke kota-kota sekitar.
Di dekat persimpangan itu, berdiri sebatang pohon randu raksasa.
Batangnya begitu besar sampai butuh sepuluh orang bergandengan tangan untuk memeluknya. Akar-akarnya menyembul dari tanah seperti punggung naga yang tertidur, menciptakan ceruk-ceruk tersembunyi di antara lipatannya.
Tempat yang sempurna untuk bersembunyi, menunggu dan bertukar posisi tanpa terlihat mata-mata yang mungkin mengintai.
Mereka turun dari kuda, membiarkan tunggangan mereka minum di sumber mata air kecil yang mengalir di bawah pohon beringin tak jauh dari sana.
"Kita masih punya waktu sebelum kereta Ndoro Gusti Bupati sampai." Tikno melepas tas dari punggungnya. "Sarapan dulu?"
Arjo mengangguk. Perutnya memang sudah keroncongan sejak tadi, terlalu tegang untuk makan sebelum berangkat.
Mereka duduk di antara akar-akar besar pohon randu, tersembunyi dari pandangan siapapun yang melintas di jalan. Tikno membuka bungkusan daun jati yang berlapis daun pisang—bekal dari dapur padepokan.
Nasi putih mengepul hangat. Lauk telur bacem yang kecokelatan mengkilap. Ayam bakar dengan bumbu rempah yang aromanya menggoda. Daun kemangi yang wangi, dan sambal terasi yang baunya saja sudah membuat lidah bergetar.
"Mewah." Tikno berkomentar sambil mengambil sepotong ayam. "Kalau sedang misi, bekal selalu mewah."
Arjo menyuap nasi ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Yo, Tik." Suaranya sedikit teredam oleh makanan. "Mereka tahu kalau kita bisa mati sewaktu-waktu. Jadi makanan yang enak. Siapa tahu ini yang terakhir."
Dirno yang sedang mengunyah telur bacem tersedak.
"Jo! Jangan bicara begitu!"
"Memangnya salah?" Arjo mengedikkan bahu, mengambil potongan ayam bakar. "Kenyataannya memang begitu, kan?"
“Iyo, sih. Bener. Kita ini rakyat jelata, nyawa seperti tidak ada harganya. Bisa mati kapan saja, bahkan polisi tidak akan repot-repot menyelidiki kalau memang tidak ada manfaatnya untuk mereka. Tempo hari, aku melihat sendiri, Tentara Belanda merazia pedagang kecil. Hanya berbekal laporan kalau mereka pernah berhubungan dengan salah satu anggota PKI, langsung di-dor di tempat, tidak diadili lebih dulu. Coba kalau ningrat yang dicurigai, mereka tidak bisa sembarangan.”
Tikno mengangguk. “Aku juga pernah melihat beberapa petani disuruh masuk ke lubang yang mereka gali sendiri, ditembaki dari atas, langsung dikubur hanya karena mereka dicurigai anggota PKI. Kadang aku bertanya-tanya, kenapa manusia bisa dianggap lebih tinggi dari yang lain, padahal sama-sama manusia, sama-sama berdarah kalau dilukai. Darahnya juga sama-sama merah, bukan biru. Kenapa kita mendapatkan perlakuan berbeda hanya karena yang satu lahir dari keturunan raja dan yang lain dari rakyat biasa?”
Dirno menghela napas panjang. “Itu namanya nasib, Tik. Kita mbrojol, sudah seperti ini aturannya dari jaman dulu. Entah siapa yang membuat.”
Dirno memperhatikan wajah Arjo lebih saksama, masih mengagumi hasil kerja Nyi Seger.
"Jo…," Ia menyikut lengan Arjo. "Tumben kamu diam, biasanya kamu yang paling cerewet. Kenapa wajahmu muram begitu? Seharusnya kamu senang bisa keluar? Kemarin-kemarin selalu mengeluh bosan di padepokan."
Arjo tidak langsung menjawab. Ia memandang ayam bakar di tangannya, tapi pikirannya melayang ke tempat lain.
"Aku baru tahu" suaranya lebih pelan dari sebelumnya, "musuh Ndoro Gusti Bupati lebih banyak dari yang kukira."
Tikno dan Dirno bertukar pandang.
"Maksudmu?" Tikno mengerutkan dahi.
"Para demang tua yang merasa dilewati. Ningrat yang merasa punya hak lebih atas kursi bupati. Pejabat Belanda yang tidak suka dengan kebijakan Ndoro Gusti. Pengusaha yang keuntungannya terganggu. Belum lagi kelompok-kelompok rahasia yang entah siapa mereka. Yang jelas, ada banyak orang yang ingin Ndoro Gusti Bupati mati."
"Dan sekarang," ia memandang wajah teman-temannya bergantian, "aku yang akan menjadi sasaran mereka."
Hening sejenak.
Suara burung berkicau dari kejauhan. Kuda-kuda mendengus pelan di dekat sumber air.
"Kamu takut?" Dirno berbicara perlahan, masih memandang wajah Arjo yang masam.
Arjo mengangguk. "Yo iyo, lah. Aku belum bosan hidup."
Dirno terkekeh. “Jo, jo. Kamu itu masih jauh lebih enak. Biasanya sebelum menyerang bupati, yang diserang lebih dulu pengawalnya. Jadi, sebelum kamu mati, kami yang mati lebih dulu.”
Tikno menimpali. “Ya memang itu konsekuensinya hidup terjamin di bawah naungan Gusti Bupati. Ada harga yang harus dibayar. Kami sudah biasa. Tidak takut lagi. Pulang selamat ya … disyukuri, pulang tinggal badan ya … sudah, mau apa lagi. Kami sudah biasa melihat teman-teman sesama pengawal yang gugur.”
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo