Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pelukan yang tak diundang.
Haikal tidak berniat mencarinya.
Ia hanya ingin membereskan lemari kecil di ruang kerja—tempat yang selama ini jarang disentuh Lian. Lemari itu penuh tumpukan buku lama, map kuliah, dan beberapa kotak tipis yang berdebu.
Tangannya berhenti pada satu benda.
Sebuah album foto lama.
Sampulnya sederhana. Warna cokelat muda yang sudah memudar di sudut-sudutnya. Tidak ada nama di bagian depan. Tidak ada hiasan.
Haikal ragu sejenak.
Ia tahu batas.
Ia tahu tidak semua hal boleh disentuh.
Namun album itu… terselip begitu saja, seolah tidak disembunyikan, tapi juga tidak ingin ditemukan.
Ia duduk.
Membuka halaman pertama.
Foto pertama membuatnya terdiam.
Seorang gadis kecil, sekitar lima tahun.
Tubuhnya kecil. Terlalu kecil untuk piala yang ia pegang—piala emas yang hampir sebesar lengannya. Seragam putih rapi. Kerudung kecil menutup rambutnya dengan sempurna.
Namun wajah gadis itu—
Tidak tersenyum.
Tidak pula menatap kamera.
Matanya menunduk, menatap lantai.
Terlalu patuh.
Terlalu tenang.
Seperti anak yang tahu:
ia tidak boleh bergerak sembarangan.
Di samping foto itu, ada tulisan kecil, rapi, menggunakan pulpen biru:
Juara 1 Tahfiz Al-Qur’an
6 Juz
Humairah
Haikal menahan napas.
Enam juz.
Di usia lima tahun.
Ia membayangkan anak itu duduk diam berjam-jam. Mengulang ayat demi ayat. Menghafal dengan lidah kecilnya. Dengan suara yang mungkin tidak pernah dibiarkan salah.
Ia membalik halaman.
Foto berikutnya—usia tujuh tahun.
Humairah berdiri di tengah beberapa anak lain. Piala lebih banyak. Sertifikat. Medali.
Semua wajah tersenyum.
Kecuali dia.
Matanya tetap menunduk.
Tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya. Posisi anak yang tahu bagaimana harus berdiri agar tidak dimarahi.
Tulisan di sampingnya semakin banyak.
Juara 1.
Juara 2.
Tahfiz.
Pidato.
Lomba agama.
Semua rapi.
Semua sempurna.
Namun Haikal merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Foto-foto itu terlalu… sunyi.
Tidak ada foto berlari.
Tidak ada foto tertawa.
Tidak ada foto kotor karena jatuh.
Hanya anak kecil yang selalu benar.
Ia membalik halaman lagi.
Usia sepuluh tahun.
Humairah duduk di atas panggung kecil. Mikrofon di depan wajahnya. Ia membaca sesuatu—ayat, mungkin. Tangannya gemetar sedikit, terlihat dari cara jari-jarinya mencengkeram kertas.
Haikal menelusuri wajah itu dengan mata.
Ia tahu wajah ini.
Bukan wajah Lian yang ia kenal sekarang—yang tertawa lepas, berisik, berantakan.
Ini wajah seseorang yang takut salah.
Di halaman itu, tulisan tangannya sedikit berbeda. Lebih kecil. Seolah ditulis dengan hati-hati.
Bunda bilang Humairah harus selalu jadi anak baik.
Haikal menutup album itu perlahan.
Dadanya terasa penuh.
Ia akhirnya mengerti.
Mengapa nama itu menyakitkan.
Mengapa satu kata bisa membuat seseorang membeku.
Mengapa Lian memilih menjadi seseorang yang “nakal”—
mungkin bukan karena ingin melawan,
melainkan karena ingin bernapas.
Langkah kaki terdengar dari arah kamar.
Haikal menoleh.
Lian berdiri di ambang pintu.
Ia melihat album itu di tangan Haikal.
Wajahnya berubah sekejap—bukan marah, bukan panik—lebih seperti seseorang yang tahu satu pintu lama baru saja terbuka.
“Itu…” suara Lian pelan.
“Album lama,” jawab Haikal jujur. Ia tidak menutupnya dengan tergesa. “Aku menemukannya di lemari.”
Lian diam.
Beberapa detik berlalu.
“Itu aku,” katanya akhirnya. “Versi yang tidak kamu kenal.”
Haikal menggeleng pelan.
“Aku mengenalnya sekarang.”
Lian menatapnya. Matanya waspada, tapi tidak defensif.
“Namanya Humairah,” lanjut Haikal pelan. “Dan dia anak yang luar biasa.”
Lian tersenyum tipis.
“Dia anak yang capek,” katanya lirih.
Haikal tidak membantah.
Ia menutup album itu, lalu meletakkannya kembali di meja.
“Aku tidak akan menyebutmu dengan nama yang membuatmu menghilang,” katanya tenang. “Bukan di rumah ini.”
Lian menunduk.
Untuk pertama kalinya, menunduknya bukan karena takut—
melainkan karena menahan sesuatu yang hampir jatuh dari matanya.
“Aku Lian,” katanya.
Haikal mengangguk.
“Aku tahu.”
Dan untuk pertama kalinya,
nama itu tidak berisik.
Ia hanya… ada.
Lian tidak langsung bicara.
Ia berdiri beberapa langkah dari Haikal, matanya masih tertuju pada album yang kini tergeletak tertutup di meja. Tangannya menggantung di sisi tubuh, jemarinya sedikit bergetar, seolah ada keputusan besar yang sedang ia timbang di dalam dirinya.
Haikal tidak bergerak.
Ia tidak mendekat.
Tidak mengulurkan tangan.
Tidak mengatakan apa pun.
Ia tahu—
jika Lian ingin datang, ia akan datang dengan caranya sendiri.
Dan benar saja.
Langkah itu terdengar.
Pelan.
Hampir ragu.
Lian mendekat.
Tanpa sepatah kata pun, ia langsung memeluk Haikal.
Erat.
Terlalu erat untuk sekadar pelukan biasa.
Wajahnya dibenenamkan di dada Haikal, tepat di atas jantungnya. Kedua lengannya melingkar kuat di punggung Haikal, jemarinya mencengkeram kain kaus pria itu seperti seseorang yang takut terlepas.
Seperti seseorang yang sedang berpegangan pada tali terakhir
di tepi jurang yang curam.
Tubuh Lian bergetar.
Bukan karena menangis keras—
melainkan karena menahan.
Haikal terkejut sepersekian detik.
Namun refleksnya lebih cepat dari pikirannya.
Tangannya terangkat, lalu jatuh di punggung Lian.
Bukan pelukan yang menekan.
Bukan pula yang ragu.
Ia memeluknya kokoh.
Satu tangan di punggung atas.
Satu tangan lagi menahan kepala Lian, jari-jarinya menyentuh rambutnya dengan tekanan pelan—seolah berkata aku di sini tanpa suara.
Lian menghela napas panjang.
Seolah selama ini ia menahan napas bertahun-tahun,
dan baru sekarang berani melepaskannya.
Dadanya naik turun cepat.
Napasnya tercekat di dada Haikal.
“Aku capek…” suaranya hampir tak terdengar.
Haikal tidak menjawab.
Ia hanya mengeratkan pelukannya sedikit.
Cukup untuk membuat Lian tahu:
ia tidak akan jatuh.
“Aku nggak jahat,” lanjut Lian lirih. “Aku cuma… nggak mau jadi dia lagi.”
Haikal menunduk sedikit, dahinya hampir menyentuh rambut Lian.
“Aku tahu,” katanya pelan. Tegas. Tidak ragu.
Kata itu sederhana.
Namun Lian menggigil mendengarnya.
Tangannya mencengkeram lebih kuat, seolah takut jika ia melepas, semuanya akan runtuh lagi. Air matanya merembes, membasahi kaus Haikal, tapi ia tidak peduli.
Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha terlihat kuat.
Tidak berusaha terlihat santai.
Tidak berusaha bercanda.
Ia hanya… bersandar.
Haikal berdiri diam, menjadi penyangga.
Ia merasakan berat tubuh Lian, dan ia tidak mengeluh.
Ia merasakan gemetar itu, dan ia tidak meminta penjelasan.
Ia hanya menahan—
seperti seseorang yang memang seharusnya ada di sana.
“Kalau aku diam,” suara Lian nyaris hilang, “bukan karena aku nggak punya alasan.”
Haikal mengusap punggungnya pelan.
“Aku tidak butuh alasanmu sekarang,” katanya. “Aku butuh kamu berdiri.”
Lian mengangguk kecil di dadanya.
Pelukan itu berlangsung lama.
Tidak ada yang menghitung waktu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Lian tidak merasa sedang dihakimi saat ia rapuh.
Ia merasa… aman.
Ketika akhirnya pelukan itu mengendur, Lian masih tidak sepenuhnya melepaskan. Kepalanya tetap di dada Haikal, telinganya menangkap detak jantung pria itu—stabil, konsisten, nyata.
Haikal menunduk sedikit.
“Kamu tidak sendirian,” katanya pelan. “Bukan lagi.”
Lian menarik napas dalam.
Untuk pertama kalinya…
kata-kata itu tidak terdengar seperti janji kosong.
Ia terdengar seperti tempat pulang.