NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinting, Gila, dan Stress

"Bisa-bisanya gue lagi bantu orang malah tidur! Mana yang gue bantuin nggak ada akhlaknya lagi! Dia tadi nggak ngapa-apain gue kan?" gerutu Shahinaz kepada dirinya sendiri.

Mendadak dirinya dongkol setengah mati. Mengedarkan pandangannya ke sekitar, lalu menepuk jidatnya secara kasar, dirinya telah membuat kesalahan fatal, lebih fatal dari yang sebelumnya. Ingin memaki dirinya lebih lama lalu membenturkan kepalanya sendiri ke dinding, itu sepertinya ide yang cukup bagus daripada terperangkap di kamar asing ini!

"Jangan panik! Jangan panik! Jangan panik!" Shahinaz menghembuskan nafasnya berkali-kali, berharap rasa cemasnya itu bisa sedikit berkurang, "Ini pasti gue belum tidur kelamaan kan? Malu banget kalau gue yang niatnya bantuin orang, justru malah ketiduran kayak orang nggak punya dosa!"

CklekKK...

Shahinaz mendadadak mengunci bibirnya rapat-rapat. Dia ingin mengubur dirinya sekarang juga, rasanya dia sudah tidak memiliki muka saja sekarang. Mau kabur, dia juga tidak tau tata letak mansion ini. Menghafalkan jalan saja dia hanya setengah jalan juga, dia juga tidak tau letak kunci motornya dimana.

"Sorry, gue ketiduran dan jadi ngerepotin lo deh. Btw, lo udah sampai rumah kan? Lo udah ketemu banyak orang kan? Sekarang, mana kunci motor gue? Udah saatnya gue balik ke habitat gue." ucap Shahinaz secepat kilat, dia bahkan langsung berdiri karena tidak enak dengan laki-laki itu.

"Udah malam, makan dulu." elak Dreven dan enggan memberitahukan letak kunci motor Shahinaz dimana.

Shahinaz memejamkan matanya guna meredam rasa kesal yang tiba-tiba hadir, "Gue butuh balik Baginda Dreven yang terhormat. Gue udah kenyang, nggak pengin makan lagi."

"Nggak boleh pergi, makan dulu." kata Dreven lagi.

"Oke fine, tapi dimana kunci motor gue?" tanya Shahinaz tidak mau kalah.

Dreven menatap Shahinaz dengan tatapan lembut namun tegas. "Kunci motormu ada di mobil yang akan mengantarmu pulang. Sekarang, ayo kita makan dulu. Aku ingin memastikan kamu tetep baik-baik aja."

Shahinaz mendadak terbengong di tempat. Berapa kata yang Dreven sebutkan tadi? Sepertinya lebih dari sepuluh kara, dan ini adalah kalimat terpanjang Dreven yang pernah Shahinaz dengar.

Shahinaz menatap Dreven dengan mata terbuka lebar, terkejut dengan kata-kata yang barusan Dreven ucapkan. "Lo mau nganterin gue pulang gitu? Terus buat apa gue bantuin lo dan ngikut nganterin lo ke Mansion?" tanyanya, suaranya penuh dengan banyak sedikit keraguan.

"Untuk mengobati lukaku." jawab Dreven ringan, dan itu sukses membuat Shahinaz menegang di tempat.

Entah stress atau sudah gila laki-laki di depannya itu, yang jelas Shahinaz sudah tidak mengerti dengan cara berpikir Dreven, "Gue tadi nawarin lo buat telepon rumah sakit atau ajudan lo kan? Dan lo nolak. Terus sekarang gue disuruh buat obatin lo gitu. Gue nggak salah dengar?"

"Nggak salah, kamu orang yang tepat buat mengobati lukaku." balas Dreven sambil tersenyum tipis.

Shahinaz entah kenapa jadi merinding sekarang. Wajah Dreven mungkin terlihat seperti malaikat tanpa sayap, tapi dia yakin jika Dreven adalah titisan iblis yang siap menyantapnya kapan saja. Dia juga yakin jika Dreven mengincar sesuatu yang lain dari dirinya sekarang.

Shahinaz tiba-tiba menepuk kepalanya berkali-kali, dia menyadari satu hal yang hilang sekarang.

Sepertinya dia melupakan bab di mana Dreven terluka dan Dania yang akhirnya mengobati luka di perut Dreven. Dan setelah itu, Dreven memiliki obsesi besar kepada tokoh utama wanita. Jadi artinya? Sekarang Shahinaz sedang mengganti peran Dania begitu!

"Jangan lukain diri sendiri." kata Dreven menahan pergelangan tangan Shahinaz untuk tidak bertindak lebih. Meski masih menggunakan suara yang terkesan datar, di dalam sana tersirat rasa khawatir yang cukup dalam untuk gadis itu.

Shahinaz menatap Dreven dengan tubuh yang sedikit bergetar, "Ha... Harusnya adegan novelnya bukan kayak gini! Adegan ini bukan sama gue! Dan lo salah orang Dreven! Ha... Harusnya..."

Shahinaz bahkan sudah tergagap, saking tidak mampunya dia berbicara dengan normal lagi. Dreven salah orang, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ketika Shahinaz berusaha menghindar dan tidak terlibat dengan cerita, justru dia semakin terjerat ke dalam cerita itu?

"Ini salah, ini pokoknya salah, dan gue harus pulang sekarang. Gue mau minta kunci motor gue?" kekeh Shahinaz sambil menagih kunci yang disembunyikan oleh Dreven.

Dreven tampak bingung dengan reaksi Shahinaz yang tiba-tiba panik, "Shahinaz, don't panic. What's wrong with you?"

Shahinaz menggertakkan giginya, merasakan campuran rasa bingung dan frustrasi. "Gue tau apa yang terjadi di dalam novel ini, dan gue? Gue bukan bagian utama dari cerita ini. Adegan ini salah, gue harus pulang, dan gue butuh kunci motor gue sekarang!"

"Hey, Shahinaz, what's wrong with you? Please, tell me." Dreven jadi ikutan panik juga. Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu? Maksudnya apa juga Dreven tidak paham sebenarnya.

Mendadak Shahinaz tertegun dan diam ditempat. Dia jadi sedikit menyadari, kalau rasa panik yang derita setelah menginjak tubuh ini juga terlalu berlebihan rasanya. Apa dia benar-benar mengonsumsi obat anti-depresan? Lalu seberapa besar parahnya, hingga serangan panik yang dideritanya sekarang juga melukai dirinya sendiri?

Tapi, oke tenang! Shahinaz pasti bisa menangani semua ini, termasuk rasa panik dan depresi yang dirasakan oleh pemilik tubuh hingga akhirnya berimbas kepadanya! Setelah ini, dia janji akan menghilang, mengganti pemilik tubuh ini menjadi murni dirinya sendiri. Lalu dia menjadi dirinya yang normal, yang sehat, tidak ada kekurangan sedikitpun.

Wajah cantik dan glowingnya harusnya dirawat sebaik mungkin, dia sudah memiliki banyak uang, dan yang terpenting sekarang dia juga sempurna dari segi fisik ataupun aset yang dia miliki hanya seorang diri. Kekurangannya hanya satu, mentalnya jadi sedikit terganggu, apalagi memegang dua ingatan manusia sekaligus juga berimbas dengan kelemotan otaknya. Jadi yang harusnya panik biasa, dia malah terkena serangan panik luar biasa dan melukai dirinya sendiri secara tidak sadar!

"I'm okay. Sorry, mungkin gue buat lo khawatir," kata Shahinaz, berusaha untuk tetap berkepala dingin ketika berbicara. Sekarang dia harus meluruskan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, "Jadi, maksud lo apa? Kenapa gue harus nyembuhin luka lo? Gue rasa, gue nggak pernah munculin diri di depan lo dan kita juga sepertinya nggak saling kenal.

Jadi secara resmi, kita harusnya nggak ada hubungan sama sekali kan?"

Shahinaz akan meluruskan apa yang terjadi saat ini juga. Jadi untuk kedepannya, Shahinaz berharap mereka tidak saling berhubungan. Karena ini sudah cukup jauh melenceng dari cerita yang sebenarnya!

Melihat Shahinaz yang kembali normal, dan Shahinaz yang bertingkah persis sama seperti awal mereka bertemu, Dreven tiba-tiba tersenyum miring, "Kata siapa kita nggak punya hubungan?"

Shahinaz berkacak pinggang, "Lalu maksud lo, hubungan seperti apa yang lo maksud? Mari luruskan ini, biar kedepannya kita jangan saling sapa atau saling mendekat, gue nggak suka soalnya.

Mari tetap menjadi orang asing, persis sebelum lo tau gue hidup."

Dreven mengepalkan tangannya. Secara tidak langsung, Shahinaz menegaskan jika mereka hanyalah orang asing dihidup mereka masing-masing bukan? Dan Bukan ini yang Dreven mau, dia sudah menegaskan dirinya jika Shahinaz adalah pilihan terbaiknya presetan dengan banyak orang yang akan menghalanginya.

Shahinaz melanjutkan, "Prinsip gue sekarang sederhana, dan lo sama sekali nggak masuk dalam perhitungan gue Dreven. Kalau gue punya salah sama lo, gue minta maaf sebesar-besarnya, begitupun juga sebaliknya. Sekarang impas kan? Gue bisa bebas kan? Gue pergi."

Shahinaz melangkahkan kakinya hendak melewati Dreven, dia takut jika Dreven bereaksi lebih dengan perkataannya dan berefek lebih kepadanya. Lagipun ini bukan tempat yang bagus untuk berdiskusi. Ini wilayah kekuasaan Dreven, sedangkan dia tidak memiliki kekuatan di tempat ini. Jadi Shahinaz bisa dikatakan sedang menggali kuburannya sendiri sekarang.

"Kata siapa kamu boleh pergi?" tanya Dreven dengan suara datar, lebih datar dari perkataan-perkataannya sebelumnya. Dreven bahkan langsung menggebrak pintu kamarnya, mengunci pintu itu dengan cepat, lalu membuang kunci itu kesembarang arah.

Shahinaz tertawa renyah. Ingin memaki Dreven, tapi dia masih punya kendali untuk dirinya sendiri, "See? Apa yang harus diperdebatkan lagi? Kita nggak ada hubungan kan? Lo nggak ada di dalam ingatan gue. Itu tandanya lo nggak terlalu penting buat hidup gue. Hubungan apa yang lo maksud sebenarnya?"

Dreven Veir Kingsley, mungkin ini pertama kalinya dia mendapatkan penolakan keras sebesar ini. Selama ini, apapun yang dia inginkan selalu tergapai. Hanya dia yang boleh menolak, itu prinsip dia selama ini. Tapi sekarang apa?

Dreven menatap Shahinaz dengan tatapan dingin dan penuh tekad!

"Bagiku, kamu milikku." katanya, nada suaranya tegas dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.

Shahinaz menatap Dreven dengan frustrasi, "Dengarkan gue Dreven Veir Kingsley yang terhormat. Gue bukan milik siapapun, dan diri gue adalah murni milik gue sendiri."

Dreven melangkah mendekat, membuat Shahinaz merasa terancam dan memilih untuk memundurkan badannya. Tapi sial, dia sudah menyentuh tembok, dan Dreven mengukungnya dengan badan berototnya itu.

"Aku bisa ngelakuin apapun sekarang, sampai kamu mengakui kalau kamu adalah milikku, dan aku adalah milikmu. Maka setelah itu, hidup kamu akan tetap aman Shahinaz." ancam Dreven mendominasi sekarang.

Shahinaz menelan ludahnya dengan susah payah, hidupnya sedang di dalam posisi gawat darurat sekarang. Dia juga merasakan detak jantungnya yang semakin cepat berdetak saat Dreven mendekatkan wajahnya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, dan dia berusaha keras untuk tetap tenang di hadapan pria yang tampaknya tidak akan mundur dari keputusannya.

"Lo nggak bisa begitu, Dreven! Gue bukan barang yang bisa diperlakukan seperti itu, gue bukan milik siapapun!" serunya dengan nada panik, mencoba mencari cara untuk melepaskan diri dari situasi ini.

Dreven tetap bersikukuh, tatapannya keras dan penuh tekad. "Kamu harus mengerti satu hal, Shahinaz. Aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja dari sini. Aku telah memutuskan bahwa kamu adalah bagian dari hidupku, dan aku akan memastikan itu terjadi meski harus dengan cara kotor sekalipun."

Shahinaz merasakan ketegangan yang hampir membuatnya sulit bernapas saat Dreven mengancam dengan nada tegas. Wajahnya semakin mendekat, dan dia bisa merasakan panas tubuhnya yang bergetar, membuat jantungnya berdetak semakin cepat. Namun, dia harus mencari cara untuk mengatasi situasi ini tanpa membahayakan dirinya lebih jauh.

"Lo pikir lo bisa ngatur hidup gue seenaknya?" Shahinaz berusaha menenangkan suaranya, meskipun dalam hati dia merasa sangat ketakutan. "Gue bukan boneka yang bisa lo mainkan, Dreven. Lo harus paham kalau gue punya pilihan dan hak untuk menentukan hidup gue sendiri."

Dreven tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Dia semakin dekat, dan Shahinaz merasakan napasnya di wajahnya. "Aku nggak peduli dengan hakmu atau pilihanmu. Aku sudah membuat keputusan, dan kamu akan menjadi bagian dari hidupku. Aku sudah memutuskan, dan itu nggak bisa dibatalkan lagi Shahinaz!"

Shahinaz merasakan keputus asaan mulai merayap di dalam dirinya. Jika terus terjebak dalam ketegangan ini, dia mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk bebas. Menikmati hidup untuk dirinya sendiri saja belum, kenapa dia malah terjebak dengan villain ceritanya?

"Gue pokoknya nggak..." Protesan Shahinaz bahkan langsung terpotong dengan Dreven yang lagi-lagi menciumnya secara tiba-tiba. Dia bahkan lagi-lagi syok di tempat, otak dan pikirannya langsung tidak sinkron dengan apa yang harusnya dia katakan.

"Aku bisa ngelakuin lebih dari ini jika kamu tetep nggak nurut sama keputusan aku. Pada intinya kamu udah jadi milik aku sekarang." ucap laki-laki berperawakan tampan dan ideal itu dengan tegas.

Kali ini Dreven memberi kesempatan kepada Shahinaz untuk berbicara lagi. Dia ingin tau langkah apa yang dilakukan gadisnya itu selanjutnya.

Shahinaz berdecih kesal, dia sudah tidak tahan untuk memakai laki-laki itu lagi, "Lo itu harusnya suka sama Dania, rebutan Dania bareng protagonis utama, kenapa lo jadi melenceng dari cerita? Ini masih cerita yang sama, yang ditulis sama Venelattie sohib gue kan?"

Shahinaz jadi mengutuk sahabatnya sendiri sekarang. Bayangkan, tiba-tiba dirinya sedang berdiri diposisi yang tidak menguntungkan. Lebih baik dia mati dan pergi ke akhirat saja waktu itu, setidaknya dia tidak sedang berada diposisi sulit ini.

"Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Yang jelas, kamu milik aku dan ku nggak nerima penolakan. Atau mau aku hamilin sekarang juga biar kamu mengakui kalau kita memiliki hubungan spesial?" kata laki-laki itu lagi.

Bisakah Shahinaz menggerutu, dia ingin memakan manusia hidup-hidup sekarang. Ingin melawan lagi, tapi sepertinya Dreven tidak main-main dengan ancamannya. Dia harus bagaimana sekarang?

"Venelattie! Lo bikin cerita apaan sih, kenapa lo harus ngelibatin gue di dunia nggak jelas ini?!" teriak Shahinaz saking frustasinya tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Shahinaz sinting, Shahinaz gila, Shahinaz stress disaat yang bersamaan. Bisakah dia diberi kesempatan hidup ketiga jika dia mati di tempat sekarang jug? Uang 10 Milyar yang dimilikinya masih belum dia habiskan!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!