Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Menahan Ribuan Pasukan
Iblis Kelelawar terakhir menjerit saat Li Wei menggunakan tubuhnya sebagai pijakan lompatan.
"Maaf, aku sedang buru-buru."
Li Wei melontarkan dirinya dari tengah jurang, melambung tinggi melewati kabut, membentuk lengkungan di udara. Di bawahnya, Gerbang Puncak Pengobatan sedang diambang kehancuran.
Golem Darah raksasa itu baru saja menghancurkan pintu kayu tebal dengan tinjunya. Xiao Lan dan puluhan murid tabib wanita mundur ketakutan, punggung mereka menabrak dinding tebing. Tidak ada jalan lari.
Golem itu mengangkat tinjunya untuk meratakan mereka menjadi pasta daging.
"Habis sudah..." Xiao Lan memejamkan mata, memeluk seorang murid junior yang menangis.
Namun, kematian tidak datang.
Yang datang adalah suara siulan angin yang memekakkan telinga, diikuti oleh hantaman meteor.
KABOOM!
Li Wei mendarat tepat di atas kepala Golem Darah itu.
Momentum jatuh dari ketinggian lima puluh meter, berat tubuhnya dan berat tongkat 500 jin kekerasan tulang emasnya.
Kepala batu-darah Golem itu tidak sekadar pecah ia meledak menjadi debu merah. Tubuh raksasa itu runtuh seketika di bawah kaki Li Wei, menciptakan gelombang kejut yang memukul mundur pasukan Sekte Darah di belakangnya.
Debu mengepul.
Saat pandangan kembali jelas, para murid Puncak Pengobatan melihat sosok itu.
Seorang pemuda berjubah biru yang robek-robek, berdiri di atas bangkai Golem. Di bahunya, terpikul batang besi hitam berkarat yang meneteskan darah iblis.
"Li Wei!" teriak Xiao Lan, air mata kembali mengalir, tapi kali ini karena lega.
Li Wei tidak menoleh. Matanya terkunci pada lautan musuh di jembatan batu sempit di depannya.
"Xiao Lan," suara Li Wei tenang namun berwibawa, tidak membantah. "Bawa semua murid masuk ke Aula Pengobatan. Kumpulkan semua pil, herbal langka, dan tungku alkimia yang bisa dibawa. Lalu evakuasi lewat jalan rahasia belakang gunung menuju Lembah Abu."
"Lembah Abu?" Xiao Lan bingung. "Tapi jalan rahasia itu sempit dan butuh waktu untuk dibuka!"
"Itulah sebabnya aku di sini," Li Wei turun dari bangkai Golem.
Ia berjalan ke tengah gerbang batu yang sempit satu-satunya akses masuk ke Puncak Pengobatan. Lebarnya hanya cukup untuk tiga orang berjejer.
Li Wei menancapkan Tongkat Penembus Langit-nya ke tanah dengan bunyi DUNG yang berat.
"Aku akan mengulur waktu untuk kalian."
"Kau sendirian!" protes seorang murid senior Puncak Pengobatan. "Di depan sana ada ratusan murid Sekte Darah dan Klan Wang! Kau akan mati!"
Li Wei menoleh sedikit, memperlihatkan wajahnya yang keras dan penuh noda darah.
"Aku tidak akan mati," katanya dingin. "Karena jika aku mati, kalian semua mati. Dan aku benci kalah."
"PERGI!" bentak Li Wei.
Xiao Lan menggigit bibirnya hingga berdarah. Dia tahu Li Wei benar. Berdebat hanya membuang waktu yang dibeli Li Wei dengan nyawanya.
"Semuanya, ikut aku!" teriak Xiao Lan, mengambil alih komando. "Jangan sia-siakan pengorbanan Saudara Li!"
Para tabib itu berlari masuk ke dalam kompleks, meninggalkan Li Wei sendirian di gerbang.
Di seberang jembatan, pasukan gabungan Sekte Darah dan Klan Wang menatap Li Wei dengan ragu. Mereka baru saja melihat Golem Darah Lapis 6 dihancurkan dalam satu injakan.
"Hanya satu orang?" cibir seorang Kapten Sekte Darah yang memegang cambuk tulang. "Dia pikir dia siapa? Dewa Perang?"
"Dia Li Wei! Si Pematah Dantian!" teriak seorang murid Klan Wang yang mengenali wajahnya. Ada ketakutan dalam suaranya.
"Persetan dengan nama!" Kapten itu meludah. "Panah! Jadikan dia landak!"
Twang! Twang! Twang!
Puluhan anak panah yang dilapisi Qi beracun melesat ke arah Li Wei.
Li Wei tidak bergerak. Ia memutar tongkat besinya di depan tubuhnya dengan satu tangan.
Wuuuung!
Putaran tongkat itu begitu cepat hingga menciptakan perisai angin.
Ting! Ting! Ting!
Anak-anak panah itu terpental, hancur, atau berbelok arah sebelum bisa menyentuhnya. Tongkat 500 jin yang diputar dengan kecepatan tinggi adalah dinding besi yang tak tertembus.
"Maju! Serbu!" perintah Kapten itu marah.
Gelombang pertama musuh sekitar dua puluh orang berlari menyeberangi jembatan sambil berteriak.
Li Wei berhenti memutar tongkatnya. Ia memegang tongkat itu dengan kedua tangan, kuda-kudanya merendah.
Saat musuh pertama masuk jangkauan tombaknya...
"Sapu."
BUAGH!
Ayunan horizontal yang datar.
Tiga kepala melayang serentak. Tanpa jeritan.
"Hantam."
Ayunan vertikal ke bawah.
Satu murid Klan Wang terbelah dua bukan terpotong tajam, tapi hancur luluh dari kepala sampai selangkangan karena tekanan tumpul yang mengerikan.
Jembatan itu sempit. Keunggulan jumlah musuh tidak berguna di sini. Mereka hanya bisa menyerang 3 lawan 1.
Dan bagi Li Wei, itu adalah latihan target.
Mayat mulai menumpuk.
Satu menit. Sepuluh mayat. Lima menit. Tiga puluh mayat.
Li Wei berdiri di atas tumpukan mayat itu, posisinya semakin tinggi. Jubahnya sudah basah kuyup oleh darah merah, membuatnya tampak seperti iblis yang baru mandi.
Setiap kali ada yang mencoba melompat melewatinya, Li Wei akan menampar mereka jatuh ke jurang dengan sisi tongkatnya.
"Monster..." bisik seorang murid Sekte Darah, mundur dengan tangan gemetar. Pedangnya jatuh. "Dia tidak lelah! Qi nya tidak habis-habis!"
Mereka tidak tahu bahwa Li Wei tidak menggunakan Qi untuk menyerang. Dia hanya menggunakan stamina fisik. Dan dengan Tubuh Lima Elemen, staminanya hampir tak terbatas selama dia bisa bernapas.
Kapten Sekte Darah (Lapis 7) kehilangan kesabaran.
"Minggir, sampah tidak berguna!"
Kapten itu melompat maju, cambuk tulangnya bersinar ungu.
"Teknik Cambuk Ular berbisa!"
Cambuk itu bergerak aneh, melilit tongkat Li Wei seperti ular hidup, mencoba merebut senjata itu.
"Dapat!" Kapten itu menyeringai. "Tanpa tongkatmu, kau hanyalah..."
Ia menarik cambuknya sekuat tenaga, berniat melempar tongkat Li Wei ke jurang.
Namun, tongkat itu tidak bergerak satu milimeter pun.
Senyum Kapten itu hilang. Ia merasa seperti sedang mencoba menarik gunung.
Li Wei menatapnya datar. "Kau mau ini? Ambil."
Li Wei melepaskan satu tangan, lalu menarik tongkat itu kembali dengan sentakan keras.
Bukan tongkatnya yang terlepas. Tapi Kapten itu yang tertarik terbang ke arah Li Wei.
"Apa?!"
Saat tubuh Kapten itu melayang mendekat, Li Wei melepaskan tongkatnya sesaat (membiarkannya melayang di udara), lalu tinju kanannya yang dilapisi cahaya emas tulang menghantam dada Kapten itu.
KRAK!
Armor tulang Kapten itu hancur. Dadanya cekung ke dalam. Jantungnya berhenti berdetak seketika.
Li Wei menangkap kembali tongkatnya sebelum jatuh ke tanah.
Ia menendang mayat Kapten Lapis 7 itu ke arah kerumunan musuh seperti menendang bola sampah.
Bruk.
Mayat pemimpin mereka mendarat di kaki para murid.
Keheningan total.
Ratusan musuh itu berhenti. Mereka menatap Li Wei yang berdiri di gerbang, napasnya sedikit memburu, uap panas keluar dari tubuhnya yang berlumuran darah.
Di belakangnya, Xiao Lan muncul sebentar di pintu aula.
"Li Wei! Semuanya sudah dievakuasi! Jalan rahasia terbuka!" teriaknya.
Li Wei tidak menoleh, tapi bahunya sedikit rileks.
Ia mengangkat tongkat besinya, menunjuk ke arah ratusan musuh yang ragu-ragu itu.
"Siapa lagi?" tantangnya.
Tidak ada yang bergerak. Ketakutan telah merasuk ke tulang sumsum mereka. Satu orang menahan satu pasukan, membunuh Kapten Lapis 7 dengan satu pukulan.
"Mundur..." bisik seseorang. "Cari jalan lain..."
Li Wei mendengus. Ia berbalik perlahan, berjalan mundur masuk ke gerbang, tetap menjaga tatapan matanya pada musuh sampai bayangannya hilang di balik pintu.
Begitu ia hilang dari pandangan, Li Wei ambruk berlutut.
"Uhuk!"
Ia memuntahkan darah hitam. Menahan ratusan serangan fisik tanpa menggunakan Qi pelindung (untuk menghemat tenaga) telah melukai organ dalamnya. Tubuh Lima Elemen nya kuat, tapi tidak abadi.
"Bertahanlah..." bisiknya pada diri sendiri.
Ia bangkit kembali, menyeret tongkatnya, dan berlari menyusul rombongan Xiao Lan.
Puncak Pengobatan telah jatuh. Tapi jiwanya para tabib dan pengetahuannya selamat.
Dan sekarang, tujuan mereka adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa: Lembah Abu.